Tujuh Dosa Trainer

26 07 2012

Sahabat trainer,
Seberapapun mumpuninya kita sebagai seorang trainer dengan jam terbang yang cukup tinggi, kesalahan bisa terjadi baik disengaja ataupun tidak. Sebagai trainer, sudah selayaknya kita selalu mencari dan menerima feedback and membenahi diri. Semoga pendapat sederhana dibawah ini tidak menyentil Anda dengan cara yang menyakitkan, karena bukanlah itu tujuannya. Tulisan ini hanya sebagai pengingat bagi kita, para trainer untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan diri.

Nah, inilah 7 dosa kecil kita sebagai trainer:

  • Lupa membawa prinsip ‘memberi contoh’.

Trainer tidak hanya menyampaikan tapi juga harus mencontohkan. Yang saya maksudkan disini bukan cuma mencontohkan suatu kasus atau peristiwa. Misalnya memberi training tentang manajemen waktu, tetapi tidak mengakhiri rangkaian training tepat waktu malah molor tanpa mengindahkan masukan dari peserta.

Contoh lainnya, kita menyampaikan training ketrampilan berkomunikasi dan berpresentasi tapi gaya presentasi kita membosankan. Nah, bagaimana profesi kita sebagai trainer akan sustain dan berkembang? Apakah kita akan di hire lagi? Kesempatan memberikan training bukan hanya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga kesempatan untuk merekatkan prestasi, dan reputasi. Masa depan keberlangsungan kita sebagai trainer juga ditentukan dari kepuasan para peserta terhadap fasilitasi yang kita berikan.

  • Lupa prinsip WII-FM (What’s In It For Me)- the audience, pada saat mempersiapkan dan memfasilitasi training.

Tugas kita adalah membantu peserta untuk empower dan re-discover potensi mereka. Training bukanlah ajang mempamerkan kehebatan dan kepintaran kita. Think of audience every time, sehingga kita tak terpeleset pada ‘Me Time’ disaat memberikan fasilitasi. Para peserta tak perlu mengetahui daftar riwayat hidup kita, atau daftar kehebatan kita sebagai trainer. Boleh saja sampaikan beberapa cerita pengalaman sendiri selama berkaitan dengan isi training, sehingga kita bisa terhubung dengan audiens. Tapi semestinya yang tepat takaran.

  • Dismissive (cuek, masa bodoh) terhadap respon, komen, pertanyaan dan pernyataan peserta.

Mungkin kita tak menyadarinya. Kita bisa saja menyatakan ‘saya terbuka jika ada pertanyaan, atau komen’, tapi begitu peserta membuka mulut, bahasa non-verbal kita mesti kompak dengan pernyataan kita. Sikap, bahasa tubuh, bisa menghianati pernyataan kita. Bisa menunjukkan perasaan tak sabar melalui kegelisahan sikap, memotong pernyataan peserta, menyindir dan lainnya. Peserta bisa merasakan energi seperti ini dan membaca bahasa non-verbal kita yang tidak simpatik. Berhati hatilah.

  • Tidak customize training untuk peserta di kelas itu pada hari itu.

Penting untuk mengetahui sedikit latar belakang para peserta sebelum training dimulai. Bisa juga dengan mengirimkan email dahulu untuk membuka salam, bertanya objektif mereka mengikuti training, atau memberikan pernyataan selamat datang. Bila tak ada respond dan tak ada kesempatan untuk mengetahui jauh hari sebelum training, setidaknya kita sudah harus mengetahui sedikit demography dan psychography dari training form yang diisi oleh para peserta.

  • Kemampuan berpresentasi dan berkomunikasi yang kurang memadai.

Tidak peduli kita ahlinya di suatu bidang khusus, sebagai seorang trainer, salah satu keahlian kunci yang harus kita miliki adalah menyampaikan secara baik , mengikat audience, mempesona mereka, membantu mereka menggali potensi mereka, dan menciptakan ruang dan suasana kelas yang asyik. Sebagai trainer kita harus humble dan memberikan ruang untuk peningkatan, tidak malu belajar lagi, bukan hanya dari buku, tapi juga sebagai trainee di kelas. Ikutilah kursus-kursus untuk lebih mengasah keterampilan Anda contohnya misalnya menggunakan trik multimedia, menggunakan humor dalam presentasi, bagaimana menggunakan props secara effective, dan belajar komunikasi interpersonal skill.

  • Pelit memberi.

Contohnya memberi jawaban yang seadanya kepada peserta, enggan membagi sumber dan referensi training. Hidup di dunia dimana segala macam informasi bisa didapat dengan mudah dan murah, tidak selayaknya kita pelit dalam memberi. Jangan lupa prinsip ‘abundance’ =keberlimpahan. Apa yang kita berikan, terutama ilmu, akan kembali ke kita berlipat lipat ganda.

  • Membuat para peserta training dongkol dan berkhayal mencekik Anda.

Pasalnya Anda mencoba membunuh mereka pelan pelan karena bosan dengan presentasi Anda baik isi dan gaya.
Sahabat trainers, untuk mengajar kita mesti belajar. Apakah kita termasuk pengajar yang mau, rela dan berhasrat untuk terus belajar? Bagaimana caranya meningkatkan kemampuan diri, ketrampilan dan profesionalisme trainer? Evaluasi dan testimoni dari peserta training saja, belum jaminan kualitas performance kita. Seberapa sering kita meminta evaluasi dari trainer lain pada saat training berlangsung? Beranikah kita mengundang trainer lain untuk duduk di training kita dan menerima kritik yang paling pedas sekalipun, demi peningkatan kompetensi kita?

Sahabat trainers, rasanya masih banyak lagi dosa dosa kecil kita sebagai trainer. Silakan carilah sendiri dan jika mungkin, berbagi disini. ***

7 DOSA KECIL PARA TRAINER ditulis oleh: Imung Hikmah





Being Spaces

2 03 2012

With face-to-face communication being rapidly replaced by email and chat, goods and services being purchased online, and big city apartments shrinking year by year, urban dwellers are trading their lonely, cramped living rooms for the real-life buzz of BEING SPACES: commercial living-room-like settings, where catering and entertainment aren’t just the main attraction, but are there to facilitate small office/living room activities like watching a movie, reading a book, meeting friends and colleagues, or doing your admin.

Starbucks is a great example on a global scale, while many companies in Japan, China and South-Korea offer deluxe gaming and manga-reading facilities, as well as semi-private DVD booths.

BEING SPACES charge us for eating, drinking, playing, listening, surfing, working, or meeting, just as we would at home or in the office, while successfully reintegrating us into city life. >> Email this trend to a friend.

________________

MAY 2003 | Commercial living-room-like settings that facilitate small office/living room activities like reading a book, checking email, meeting friends, or doing your admin. Oh, and have a coffee of course! Starbucks remains the leader in this field, having teamed up with T-Mobile to introduce WiFi (wireless internet access) in most of its US outlets.

Now other BEING SPACES are following suite: Borders Bookstores (who already operate café-style reading spaces in their superstores) signed a deal with T-Mobile to incorporate hot spots (WiFi-access points) in its 400 bookstores in the US, and Kinko’s, king of small business BEING SPACES, just signed a deal to have T-Mobile unwire 1,000 Kinko’s locations across the US. Whether you’re in B2C or B2B, it’s time to examine which of your products and services deserve a comfy (and profitable) cameo in a BEING SPACE near you (HP printers in Starbucks would come in handy!)

P.S. One more Starbucks observation: newspaper ads for ‘The Benton’ apartment building in Fremont, California prominently feature the built-in Starbucks outlet; the ads even included the Starbucks logo in the real estate agent’s contact details section. Will the scent of freshly brewed coffee and a downstairs BEING SPACE add a premium to the rent?😉





Membeli Emas dan Perak: Mengapa, Bagaimana dan Berapa banyak?

22 03 2011

inspirasi dari: Buying Gold and Silver:  Why, How, and How Much?

Dalam pandangan saya, kita saat ini berada pada masa yang mengerikan dalam investasi. Mengapa demikian, pertama karena saya membedakan antara investasi dengan spekulasi. Dan ini memang saat paling menggembirakan bagi spekulator, bukan investor.

Apakah bedanya? Seorang investor melakukan penelitian, melakukan penelitian mendalam sendiri, dan berhati-hati dalam mengambil resiko dan keuntungan sebelum menginvestasikan uangnya. Seorang spekulator hanya menaruh uangnya, menyilangkan jari-jarinya, dan berharap semoga hasilnya bagus. Ciri khas dari spekulator adalah mereka berharap dapat menjual  ‘investasi’ mereka kepada orang lain kemudian hari demi uang lebih, atau cara yang disebut ‘greater fool investing theory’.

Ketika artikel ini pertama kali ditulis (Desember 2007), sudah sangat banyak uang ‘palsu’ yang membanjiri sistem seperti surat utang yang beredar lebih sedikit daripada rate inflasi yang diumumkan (which itself is fraudulently low), utility stocks are yielding ~2%, and some companies like Google are sporting a total capitalization value in excess of $200 billion and a p/e in excess of 50(!!). These are signs of excess, or distress, not health.

 

So what’s a person to do under these circumstances? What if a person’s primary goal is to avoid losing money? What if someone does not wish to speculate? Unfortunately, the options are not very attractive at the moment.

Money is supposed to be a store of energy, specifically human labor. This concept of money being a store of wealth is weakened when money is printed out of thin air, but not necessarily so. It is at least theoretically possible for fiat money systems to be managed both responsibly and fairly. In reality, they never are.

 

This dynamic is captured beautifully in this snippet from a recent Bank Credit Analyst article:

The authorities are caught in a trap: they can’t let the system implode, and the only solution is to encourage more excesses that will cause greater problems later on.

 

There is a school of thought that the authorities should stop pushing the inevitable adjustments into the future and take the pain now. But no government or central bank would condone such an idea. The time horizon of most politicians is dictated by the election cycle. There is little appeal in creating a grim near-term economic environment that would push current politicians out of power, and only potentially benefit the politicians of tomorrow.

 

From the perspective of central bankers, the problem is the threat of a catastrophic deflationary slump. Even though the Fed and other central banks eased aggressively, after the tech bubble burst, there was a deflationary scare in 2003. The experience of Japan shows what can happen if a deflation is allowed to take hold. That economy has performed poorly for more than a decade, and the Topix (Japanese) index is still down 45% from its peak of 18 years ago. That must constitute the worst performance of any major equity market since the 1930s. Such wealth destruction in the US would have cataclysmic effects.

In sum, there is no way to have a cleaning of balance sheet excesses without running enormous risks with the economy and possibly the entire financial system itself. So policy makers feel  they have no option other than to keep easing, regardless of future consequences.

 

All of the above is a slightly roundabout way of saying that policy makers always prefer to put off for tomorrow that which might cause some pain today and, further, that postponement usually makes things worse, not better. Said another way, we can probably count on our authorities countering the problems that sprang from cheap money by issuing an even larger flood of even cheaper money. If you want to know how this story goes, just ask a still-living heroin addict (the rest are unavailable for comment). A little bit of cheap money requires an even larger dose, and then larger and larger doses to achieve even a little bit of relief. In money terms, this means you can expect inflation, and lots of it.

 

But there is one way for the common man to protect what they have, at least if history is any guide, and that involves holding gold and silver.

 

OK, so you’ve finally decided to buy some gold and or silver. Now what?

Here’s a primer to get you started.

 

There are three ‘flavors’ of gold and silver:

  1. Rare coins (a.k.a. numismatic). Much, if not most, of the value in this investment class is contained within the rarity of the object itself, not in the intrinsic gold/silver content. Rare coins can exhibit the most marked increases in value during times of relatively stable inflation
  2. Jewelry & silverware. Ditto above. The value is embodied in the artistry/rarity of the object, not in the gold/silver content. Nuggets and so-called ‘native silver’ also fall in this category, as they are typically purchased for their rarity and not their intrinsic metal content. Silverware is sometimes the exception, if you have a sharp eye at tag sales, flea markets, and antique stores.
  3. Bullion. This refers to gold/silver that derives the vast bulk of its value from the metal content alone, typically over 95%. The various forms are:

Bullion Types:

  1. Bars. Ranging in size from ½ ounce to 5,000 ounces for both silver and gold.
  2. Coins. Gold examples would be Kruggerands, American Eagles, Pandas, Philharmonics, and Maple Leafs are all examples of gold bullion coins. Each is officially minted by a specific country. They range in size from 1/10 ounce to 1 ounce. Silver examples would be pre-1964 American dimes, quarters, half dollars, and dollars (a.k.a. junk silver). Also, the US Mint puts out a 1-ounce (.999 fine) coin called the Walking Liberty, while numerous private mints issue 1-ounce silver ’rounds,’ which are 0.999 fine and are stamped with their private marks.

What should I buy?

Assuming your intent in purchasing gold/silver is to hedge against paper money devaluation (inflation) or a potential paper money crisis, then I would only buy bullion (1 & 2 above) and nothing else. I personally hold both bars and coins.

Within this, there are several factors to consider.

  1. What are you planning to do with the coins and bars? If your answer is “to hold them for a while within the US and then sell them,” then besides getting the best purchase and sales prices, there’s not much of a distinction between and among your choices. However, if you think you might want to transport gold to, say, Canada for any reason, be advised that Canada currently assesses a fairly hefty GST import tax on any gold that is less than .999 fine. Many types of gold come in 0.999 fineness, including (ta da!) the Canadian Maple Leaf. However, Kruggerands and American Eagles are alloyed to less than 0.950 purity to increase their hardness, which is great if you want to handle them more often, but is lousy if you want to bring them into Canada.
  2. If you think there may come a time when you might be using gold/silver directly as a medium of exchange (i.e., as money), then you want to consider three things. (1) Make sure you have pieces that are of a useful size. 1 ounce gold coins and 1000 Oz bars of silver might be just a tad too big.  (2) Be sure they are immediately recognizable and/or have the purity and amount clearly listed on the item itself. Ethiopian coins may be pretty exotic and cool now, but they may be frowned upon later.  (3) .999 gold is extremely soft and would make a terrible circulating currency.
  3. What about the silver and gold ETFs (Exchange Traded Funds)? You can participate in ‘buying’ gold and silver in numerous ways, ranging from COMEX futures contracts, to mining shares (stocks), to the new ETFs where your money goes towards a secured amount of gold or silver in a warehouse somewhere. All of these represent paper claims on gold/silver and are not equivalent to owning it in physical form. As with any paper claim, they can vanish at the speed of electrons or with the stroke of a pen.
  4. What about online gold companies such as Bullion Vault?  After you’ve got a core position in physical gold/silver in your possession, I do recommend BullionVault.comas a simple, easy, and transparent way for people to maintain a gold position.  It is simple, secure and low cost.

How much should I buy?

I think a prudent investment portfolio should have a minimum of 5% to 10% exposure of the total net worth devoted to physical precious metals. Mine? It’s well over 50%, but that’s me.

 

A strong case can be made for even higher exposures. However, it is up to each person to decide for himself or herself what makes sense.

 

In any case, you should not be buying any if you think you might need to regularly dip in and out of the holding. Precious metals should only be bought as a long-term hedge, or investment, that you can safely put aside for a future date. As I mentioned before, that date for me is when I can exchange an ounce of gold for an acre of productive land.  I consider my holdings to be property I will pass along to my children someday.

 

What buying strategy makes sense?

Whatever your investment percentage, once you have made the choice to allocate to gold and/or silver, a prudent buying strategy would be to “dollar cost average” your purchases over 6-12 months.

 

For example, if you decided to invest $12,000 in gold, I would recommend buying $1,000 to $2,000 worth every month or two until you hit your target.

 

Like anything and everything, gold and silver will go up in price and they will go down in price. Trying to picks the tops and the bottoms is a nearly impossible task that eludes even the most seasoned professionals.

Just buy it and don’t sweat it. I have never looked back on my own purchases and sleep like a baby as a result.

 

The cost of buying.

You’ll quickly figure out that there are two prices for gold and silver:  the oft-quoted spot price that you’ll see on TeeVee or in the newspaper, and the price you’ll pay to receive some physical in your actual possession. The spot price is the price for a pretty big slab of metal that you would have to buy directly from the Comex exchange in NYC. If you’d like to own a large-ish slab of metal, you can always pay spot, drive down to NYC and pick it up. However, for smaller, more convenient amounts, the price is usually spot plus 4% (but as much as 8% if you are a sloppy shopper) for both gold & silver, which accounts for the cost of fabricating a coin or small bar, plus the dealer costs to handle, store, and transport the coins & small bars. On the other hand, when you sell, you will also receive a bit more than spot, so it balances out somewhat.

 

For example, below are some current buy/sell quotes (as of 12/04/07). Gold is currently $802.50, so we can see that the buy premium is 4.1% ($836) while the sell premium is 2.3% ($821). Thus, the ‘trading friction’ to you is actually 1.8% (not including your storage and return mailing costs, should you decide to do business through the mail).

 

 

 

 

 

Where should I buy it?

There are lots and lots of potential sources. Go comparison-shopping and get the best price you can. A couple of good sites are:

  1. APMEX.com
  2. Colorado Gold
  3. The Tulving Company
  4. Certified Mint Investment
  5. California Numismatic Investment

But there are many more out there as well.  Consider also your local coin shops, which have the advantage of enabling you to more easily participate in smaller purchases and preserve your anonymity, should that be important to you.

Again, after you have your core position in physical gold, and especially for those with significant wealth to protect, I recommend both BullionVault (low cost, easy) and Anglo Far East (discrete, allocated, jurisdictional breadth).

 

Where should I store it?

Lots of options exist. Safe deposit boxes, secure locations that you trust…people have been known to bury the stuff.

For now, I prefer safe deposit boxes, but there has been some concern (and more than a few rumors floating around) about federal authorities preventing access to safety deposit boxes again as they did in the 1930’s. I do not fret about this too much, since I am confident in my ability to remain aware of and stay a step or two ahead of such seizure attempts.

 

How should I get started?

Here’s my preferred ‘starter set,’ steering towards a 1/3 silver to 2/3 gold ratio.

  1. Pre-1964 quarters (sold by the ‘bag’, or $1,000 of legal tender face value, running at ~ 715 ounces of silver)
  2. Gold, split into 25% (by cost) allotments as follows:
    1. ½ ounce eagles
    2. 1 ounce eagles
    3. ½ ounce Maple leafs
    4. 1 ounce Maple leafs

After this basic allocation, I would move on to expand my holdings of junk silver so that I had some dimes and half dollars in my collection.

 

The gold should just be expanded in proportion as you go, although I would lean more heavily towards the one-ounce units as your collection builds.

 

Why? The one-ounce coins have a lower ‘premium’ (that is, price over the quoted daily ‘spot’ price for gold), so you are getting a better deal. Also, I cannot imagine ever having to do much direct trading with gold, so having a few pieces in the sub-one-ounce range should be sufficient.

 

Of course, and as always, do what seems best to you.

 

All the best,

Chris Martenson, PhD

 

http://www.chrismartenson.com/buying_gold

Copyright, Chris Martenson, 2006-2010

Disclaimer: Chris Martenson has no financial interest in any companies mentioned herein, will accept no remuneration for the basic information presented above, and makes no claims about whether or not buying gold & silver makes sense for you. The above should not be construed as financial advice, only some organized thinking around a very common subject. Do your own due diligence and make your own decisions.

 





Selamat Tahun Baru 2011

2 01 2011

Ucapan Selamat Tahun Baru dari Managing Direktur CEFE International
29.12.2010

Dear Teman2 CEFE,

Sejak CEFE International di outsourcing pada tahun 2008, kami telah mengamati peningkatan yang terus menerus dalam jaringan CEFE.Terutama tahun ini, jumlah relawan dan mitra telah meningkat secara positif. Kita telah membangun jaringan yang kuat di Amerika Latin.

Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada mitra regional kami di Chili – TPH dan Plataforma Aurea – untuk upaya terus-menerus mereka untuk tetap bekerja dalam jaringan. Kami juga menyambut duta besar baru kami di Peru, Bolivia dan Nikaragua. Tapi tidak hanya Amerika Latin saja, kami juga dengan hati terbuka menyambut duta besar baru kami di Botswana, Nigeria dan Cina. Di Asia, kami secara khusus ingin berterima kasih kepada Ed Canela untuk motivasi dan inovasi untuk membantu CEFE Internasional dengan cara apa pun dan Jim Tomecko untuk konsep2nya dan saran2 dibalik layar.

Selain itu untuk perpanjangan relawan dan mitra kita, CEFE International sedang menjalankan beberapa proyek untuk membantu untuk memperkuat jaringan Pelatih CEFE/ Trainers. Proyek kami di Nigeria dan Ghana telah membentuk barisan Pelatih baru CEFE yang dilatih dengan standar CEFE International. Evaluasi BDS dan kertas konsep atas nama SECO – Swiss – memberi kami beberapa kesimpulan yang berharga bagi pekerjaan kita sendiri sebagai organisasi fasilitator global CEFE. Dan kami menuntaskan toolbox untuk konteks proyek ‘Migrasi dan Pembangunan’ dengan kontribusi inovatif dari beberapa CEFEistas.

Last but not least, kami mengucapkan terima kasih InWent untuk memungkinkan pengembangan CEFEpedia sebagai masa depan yang dinamis, web 2 kompilasi CEFE experiensial. Dengan pendanaan mereka dan dana cadangan kelembagaan kita mampu membuka platform CEFEpedia dengan 40 latihan, tiga modul, dll pada awal tahun depan. Namun, kerja sama akan sangat dibutuhkan dalam hal ini. CEFE International akan berhubungan erat dengan Kampus Global InWEnt, platform global yang sangat besar untuk belajar dan kerjasama. Dalam CEFEpedia, kita masih dan terus mencari baru, modul latihan dan manual. Pikirkan tentang pengalaman Anda, berbagi dan menjadi terlihat sebagai penasihat CEFE berpengetahuan. Kami dapat menawarkan hingga 300 US $ untuk setiap pelatihan yang dipublikasikan.

Jaringan global CEFE berkembang juga menghasilkan banyak sekali kegiatan. Kami menangani sekitar 7.000 email selama tahun ini, penuh pertanyaan, ide, saran dan keinginan. Hal ini tidak mudah untuk menangani dalam organisasi non-profit tanpa anggaran dari luar. Tapi kita memang mengarah pada keberlanjutan. Dan kami berharap bahwa Anda sebagai pengguna akan bergeser secara bertahap dari email
korespondensi untuk menggunakan alat komunikasi dalam kita CEFEport (http://cefeport.cefe.net/). Anda menemukan peluang yang tak terhitung jumlahnya ke tempat posting blog, upload foto, berpartisipasi dalam forum, chat, kunjungi jam konsultasi kami (setiap Selasa), secara langsung berkomunikasi dengan mitra regional, atau membuat halaman Anda sendiri.

Untuk tahun depan kami berharap dapat memperluas jaringan di Afrika Selatan dan wilayah Asia Tenggara. Pada tahun 2010, kami mengadakan konferensi CEFE regional di Balkan dan memberikan kontribusi kepada konferensi-UKM di Chile. Pada tahun 2011, kami berharap dapat menemukan mitra untuk konferensi lebih atau pertemuan CEFE, terutama di Asia dan Afrika.

CEFE International adalah lebih dari pelatihan CEFE yang murni. Ini adalah cara CEFEistas yang berkomunikasi satu sama lain di seluruh dunia. Mari kita berkembang menjadi jaringan yang hidup. Ini termasuk yang dapat Anda upload ide-ide Anda, kontribusi, foto, apa pun, dalam beberapa menit dan semudah di facebook. Hal ini juga melibatkan peluang bisnis di mana kita dapat membuktikan bahwa kita tidak pelatih kewirausahaan saja, tetapi juga pengusaha.

CEFE International dan relawan berharap semua tahun cefeistic dengan banyak aksi, jaringan, menyenangkan dan kepuasan profesional.

Selamat… Eberhard Baerenz

Beberapa komentar teman CEFE

‘Nuestros mayores deseos de amor, abundancia y aprendizajes para la comunidad mundial de Cefistas. Que este año más y más personas se vean tocadas por la magia de Cefe.’

Pablo Reyes, Plataforma Áurea, Chile

 

‘Maligayang Pasko at Manigong Bagong Taon! Hugs’

Ed Canela, Philippines

 

’สุขสันต์วันปีใหม่สำหรับชาว CEFE ทุกท่าน’

Widhoon Chiamchittrong, ECDA, Thailand

 

‘I would also like to express my wishes to all CEFEistas a happy New Year like” 祝大家新 年快乐”!’

Guo Zhonghua, China

 

‘We salute all of una we dey train people how to get money for dis we side. We wish una plenty plenty things for the year wey dey come.’

Ibrahim Aliu, Nigeria

 

Selamat Tahun Baru, Sugeng Tanggap Warso Enggal, Rahayu…

Khaerul Anam, Indonesia

 





Lima Faktor untuk Berinvestasi dengan Perak

15 10 2010

oleh Robert T. Kyosaki
diterjemahkan dari: http://finance.yahoo.com/expert/article/richricher/4027

Salah satu alasan begitu banyak orang “terbakar” di pasar adalah karena mereka mulai membeli ketika melihat harga-harga naik. Sebagian besar dari kita ingat akan kegilaan gelembung bisnis dot-com pada akhir tahun 1990-an. Kemudian dari tahun 2000 dan 2005, itu muncul gelembung bisnis properti (real estate). Hari ini seperti yang saya tulis, itu minyak, gas, emas, dan perak. Ketika harga emas telah melewati $ 600 per ounce dan perak mencapai $ 10 per ounce, banyak di antara teman saya mendatangi saya dan berkata, “Oh, sekarang aku mengerti apa yang kaukatakan tentang emas dan perak.

Katakan padaku di mana saya bisa membeli beberapa (emas dan perak itu).  “Aku khawatir jangan-jangan satu-satunya hal yang mereka pahami adalah bahwa harga dua logam tersebut naik – dan sebagai investor terkenal Warren Buffett pernah mengatakan, “Adalah alasan sangat bodoh di dunia ini untuk membeli [saham atau  emas, perak, minyak, boneka Barbie, atau kartu Mickey Mantle] karena harganya akan naik. ”

Mengerti atau Pergi Saja
Salah satu kata kunci yang Buffett sering gunakan adalah kata “mengerti”: “Investasi haruslah rasional Jika Anda tidak bisa memahaminya, sebaiknya tidak usah melakukannya..”

Saat ini, saya telah merekomendasikan bahwa orang melihat pada minyak, gas, emas dan perak. Saya sangat antusias tentang perak karena saat saya menulis, itu relatif murah. Saya juga senang tentang perak karena – tidak seperti properti, yang memerlukan banyak uang, kemampuan membiayai, banyak due diligence dan kecakapan manajemen properti untuk melakukannya dengan baik – perak terjangkau oleh orang banyak, dan membutuhkan keterampilan manajemen yang minimum. Hanya membeli beberapa perak, taruh dalam kotak safety deposit di bank, dan mimpi buruk manajemen Anda sudah berakhir.

Saat ini, kurang dari $ 20, siapapun bisa masuk ke permainan spekulasi perak. Di atas itu, perak mudah untuk membeli dan relatif liquid. Yang harus Anda lakukan adalah menemukan lingkungan dealer koin (pembuat koin) dan perdagangan mulai.

Pertanyaan saya adalah: Apakah Anda memahami perak? Apakah Anda tahu mengapa perak adalah investasi yang baik? Apakah Anda juga tahu mengapa ini adalah investasi yang buruk? Jika Anda tidak tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, saya akan merekomendasikan bahwa Anda tetap bertahan dengan apa yang Anda mengerti (artinya tidak usah berinvestasi pada perak).

Meskipun saya bukan ahli perak, saya akan berbagi dengan Anda alasan mengapa saya bullish pada aset ini:

  1. Perak adalah logam mulia yang liquid. Tidak seperti emas yang ditimbun, perak ini digunakan dalam industri. Selama bertahun-tahun, sebelum fotografi digital, itu digunakan dalam film untuk kamera dan film. Saat ini, perak digunakan secara luas dalam bidang elektronik. Alasan ini merupakan alasan mendasar yang baik untuk masuk ke logam saat ini adalah karena stok perak berkurang, sehingga harganya didorong oleh permintaan dan penawaran.
  2. Ini adalah logam mulia. Perak telah digunakan sebagai uang nyata selama berabad-abad. Kita manusia memiliki daya tarik kuno dengan logam ini, seperti yang kita lakukan dengan emas. Selama bertahun-tahun, saya telah mengunjungi lokasi pertambangan emas dan perak di seluruh dunia. Itu sesuatu yang selalu kagum saya, terlepas dari apakah saya berada di Cina, Amerika Selatan, Meksiko, Afrika, atau Kanada. Saya masih ingat berdiri di puncak gunung di Peru, melakukan due diligence di tambang emas dan melihat gua-gua kecil digali ke sisi gunung. Gua itu adalah tambang Inca kuno yang sedang mencari emas, jauh sebelum orang-orang Spanyol datang dan mencuri kekayaan mereka dan negara dari mereka. Berdiri di atas 14.000 kaki gunung, di mana saya hampir tidak bisa bernapas, aku bertanya-tanya apa yang memotivasi mereka dahulu hidup di lingkungan yang kering dan bermusuhan dan menggali untuk emas. Lalu aku sadar aku berada di sana untuk alasan yang sama, hanya beberapa abad kemudian.
  3. Alasan utama saya di real estate, minyak, emas, dan perak adalah karena dolar AS telah menjadi peso dunia. Ini menjadi lebih kentara lagi karena Amerika Serikat adalah negara pengutang terbesar di dunia. Bagaimana buruknya pinjaman uang AS? Menurut Departemen Keuangan, Amerika dari 42 Presiden pertama (dari George Washington sampai Bill Clinton) meminjam total gabungan $ 1010000000000 (1789-2000), Antara tahun 2000 dan 2005, Presiden George W. Bush telah meminjam $ 1050000000000 – dan dia masih memiliki tambahan utang lagi tersisa sebelum pergi. Saya tidak yakin bahwa para pemimpin politik kita punya nyali untuk melakukan apa yang diminta untuk menempatkan AS kembali pada pijakan ekonomi yang sehat. Ini bukan untuk menyalahkan baik Republik atau Demokrat. Aku menyalahkan Amerika karena mereka menginginkan kue Social Security dan es krim perawatan kesehatan. Ini adalah mentalitas meminta hak yang melanda Amerika Serikat, dari Presiden ke bawah, yang perlu diubah. Terlalu banyak orang Amerika yang datang untuk mengharapkan pemerintah untuk memecahkan masalah pribadi kita. Jadi jika Anda berpikir bahwa politisi Amerika dan warga bersedia untuk membuat perubahan yang diperlukan agar memperkuat dolar AS, maka sebaiknya jangan membeli perak. Tetapi jika Anda seperti saya dan tidak mengharapkan kita, sebagai bangsa, untuk mengambil obat bagi kami sendiri, maka kurangi dolar – dan cara Anda mengurangi mata uang tersebut adalah dengan pergi membeli emas dan perak.
  4. Ekuitas (saham) dan komoditas (emas, tembaga, minyak, dan perak) adalah kontra-siklus. Rata-rata, harga ekuitas naik untuk periode 20-tahun, dan komoditas turun.Kemudian mereka terbalik arah. Melihat ke masa lalu, ekuitas (saham) mulai mereka berjalan-naik pada tahun 1980 dan meledak tahun 2000. Pada tahun 2000, komoditas mulai menjalankan mereka-naik, dan ekuitas menuju ke bawah. Dengan kata lain, sekitar 2016-2020, mulai mendapatkan kembali ke saham dan keluar dari komoditas. Dana pertukaran perak diperdagangkan (SLV) diluncurkan pada 28 April. Itu berarti perak, komoditas, dapat diperdagangkan sebagai aset kertas. Hal ini membuat perak mudah bagi rakyat untuk membeli. Mereka tidak harus mengambil pengiriman dari logam fisik. Jutaan dana pensiun sekarang dapat berupa perak sebagai aset kertas. ETF harus benar-benar membeli perak dan menyimpannya untuk investor. Ini harus menambah kelangkaan akan logam, sehingga mengurangi penawaran dan meningkatkan harga.

Jadi itu adalah penjelasan sederhana tentang apa yang saya pahami tentang perak – dan mengapa aku bullish. Saya tidak membeli perak karena harga akan naik, saya membelinya karena saya percaya saya mengerti mengapa harganya naik.
Saya juga bisa saja salah – tetapi pada bawah $ 20 per ounce, perak adalah membeli yang baik, menurut pendapat saya. Saya percaya ini investasi terjangkau terakhir besar bagi masyarakat. Dan ketika masyarakat mengetahui, gelembung lain akan mengembang dan, tentu saja, di beberapa titik akan meledak.





Five Factors for Favoring Silver

15 10 2010

Five Factors for Favoring Silver

by Robert T. Kyosaki

Posted on Monday, May 1, 2006, 12:00AM

URL: http://finance.yahoo.com/expert/article/richricher/4027

bunch of silver coin, collected by me

One of the reasons so many people get burned in the market is because they start buying as they see prices going up. Most of us remember the insanity of the dot-com bubble in the late 1990s. From 2000 and 2005, it was the real estate bubble. Today as I write, it’s oil, gas, gold, and silver.Once gold passed $600 an ounce and silver broke $10 an ounce, many of my friends came to me and said, “Oh, now I understand what you’ve been saying about gold and silver.

Tell me where I can buy some.” I’m afraid the only thing they understand is that the metals’ prices are going up — and as famed investor Warren Buffett says, “The dumbest reason in the world to buy a stock [or gold, silver, oil, Barbie dolls, or Mickey Mantle cards] is because the price is going up.”

Understand or Walk Away

One of the key words Buffett often uses is the word understand: “Investment must be rational. If you can’t understand it, don’t do it.”

Currently, I’ve been recommending that people look at oil, gas, gold, and silver (see “Investing: Go for Gold and Silver, Not Green” and “The Coming Oil Crisis“). I’m excited about silver because as I write, it’s relatively inexpensive. I’m also excited about silver because — unlike real estate, which can require a lot of money, some finance skills, lots of due diligence and property management skills to do well — silver is affordable to the masses, and management skills are minimum. Just buy some silver, put it in a safety deposit box at a bank, and your management nightmares are over.

Today, for less than $20, anyone can get into the silver speculation game. On top of that, silver is easy to buy and somewhat liquid. All you have to do is find your neighborhood coin dealer and start trading.

My question is: Do you understand silver? Do you know why silver is a good investment? Do you also know why it’s a bad investment? If you don’t know the answers to these questions, I would recommend that you stick with what you understand.

Although not a silver expert, I’ll share with you the reasons why I’m bullish on the asset:

  1. Silver is a consumable precious metal. Unlike gold, which is hoarded, silver is used industrially. For years, before digital photography, it was used in film for cameras and movies. Today, silver is used extensively in electronics. The reason this is a good fundamental reason to get into the metal today is because silver stockpiles are dwindling, so its price is driven by supply and demand.
  2. It’s a precious metal. Silver has been used as real money for centuries. We humans have an ancient fascination with this metal, as we do with gold. For years, I have visited gold and silver mining sites all over the world. That’s something that has always amazed me, regardless of whether I was in China, South America, Mexico, Africa, or Canada. I still remember standing on a mountaintop in Peru, doing my due diligence on a gold mine and looking at tiny caves dug into the side of a mountain. The caves were the mines of ancient Incas who were seeking gold, long before the Spaniards came and stole their wealth and country from them. Standing on a 14,000-foot mountain, where I could hardly breathe, I wondered what motivated those ancients to live in such an arid and hostile environment and delve for gold. Then I realized I was there for the same reason, only centuries later.
  3. The primary reason I’m in real estate, oil, gold, and silver is because the U.S. dollar has become the peso the world. It’s becoming more and more worthless as the U.S. is the world’s biggest debtor nation. Just how badly is the U.S. borrowing money? According to the Treasury Department, America’s first 42 Presidents (from George Washington to Bill Clinton) borrowed a combined total of $1.01 trillion from 1789 to 2000, Between 2000 and 2005, President George W. Bush has borrowed $1.05 trillion — and he’s got a few more years left to go. I’m not confident that our political leaders have the guts to do what’s required to put the U.S. back on a sound economic footing. This is not to blame either Republicans or Democrats. I blame Americans for wanting their Social Security cake and Medicare ice cream, too. It’s the entitlement mentality that grips the U.S., from the President on down, that needs to be changed. Too many Americans have come to expect the government to solve our personal problems (see “Why Many Aren’t Securing Their Financial Future“). So if you think America’s politicians and citizens are willing to make the changes necessary to strengthen the U.S. dollar, then don’t buy silver. But if you’re like me and don’t expect us, as a nation, to take our medicine, then short the dollar — and the way you short the currency is by going long on gold and silver.
  4. Equities (stocks) and commodities (gold, copper, oil, and silver) are counter-cyclical. On average, equity prices go up for 20-year periods, and commodities go down. Then they reverse directions. Looking back in time, equities (stocks) began their run-up in 1980 and imploded in 2000. In 2000, commodities began their run-up, and equities headed down. In other words, around 2016 to 2020, start getting back into stocks and out of commodities. A silver exchange traded fund (SLV) was launched on Apr. 28. That means silver, the commodity, can be traded as a paper asset. This makes silver easier for the masses to buy. They don’t have to take delivery of the physical metal. Millions of pensions can now hold silver as a paper asset. The ETF will have to actually buy the silver and store it for the investor. This should add to the scarcity of the metal, which should reduce supply and increase prices.

So that’s a simple explanation of what I understand about silver — and why I’m bullish. I’m not buying silver because the price is going up, I’m buying it because I believe I understand why its price is rising.

I could also be wrong — but at under $20 an ounce, silver is a good buy, in my opinion. I believe it’s the last great affordable investment for the masses. And when the masses find out, another bubble will inflate and, of course, at some point burst.

 





Kekecewaan Pemahat Batu

30 01 2009

Esmet Untung Mardiyatmo

Ketika saya masih getol-getolnya belajar bahasa Belanda di tahun 1986, saya pernah membaca bacaan yang cukup menarik untuk kita diskusikan di sini. Kalau tidak keliru judulnya adalah De Steenhauwer (pemahat batu). Judul itu merupakan salah satu bacaan yang ditulis oleh para dosen Universitas Indonesia seksi Sastra Belanda dan diterbitkan oleh PT Ichtiar Baru – Van Hoeve, Jakarta. Bukunya berwarna biru.

Begini ceriteranya: Alkisah, hiduplah seorang lelaki pemahat batu. Pekerjaannya berat dan penghasilannya sangat kecil. Ia pun mengeluh dan kemudian berdoa,”Oh betapa enaknya jadi orang kaya. Saya bisa beristirahat di atas tempat tidur indah dengan selambu dari kain sutera.”

Tiba-tiba datanglah seorang malaikat yang kemudian berkata, ”Doamu terkabulkan.” Dan jadilah ia kemudian seorang yang kaya.

Suatu hari raja lewat di depan rumahnya. Raja itu dikawal oleh pasukan berkuda yang berada di depan dan belakang kereta. Seseorang memayungi raja dengan payung dari emas. Ketika itulah ia sadar bahwa ia nasih kalah kuasa dengan kekuasaan seorang raja.

Ia kemudian kecewa dengan nasibnya. Ia kemudian berdoa agar bisa menjadi raja. Malaikat datang dan mengabulkan permintaannya. Ia menjadi raja. Kemanapun ia pergi selalu dikawal oleh pasukan berkuda dan payung emas selalu memayunginya kemanapun ia pergi.

Pada suatu musim kemarau yang panas, matahari bersinar dengan sangat kuatnya. Bumi seperti terbakar, tumbuh-tumbuhan banyak yang mati, rumput kering. Payung emasnya tak mampu menahan panasnya sinar matahari. Ia pun meratapi dan kecewa atas nasibnya. Ternyata matahari lebih kuat daripada seorang raja. Ia pun ingin menjadi matahari. Malaikat kembali mengabulkan keinginannya.

Dengan penuh suka cita kemudian ia ingin menunjukkan kekuasaannya kepada makhluk di bumi. Dia buat pohon-pohon meranggas, rumput kering, sungai dan danau kering, orang orang kepanasan dan kehausan, termasuk para raja yang senang menyombonglan kekuasaannya.

Tiba-tiba muncullah awan, yang menghalangi sinarnya ke bumi. Ia marah, tetapi awan itu tak bergeming. Ternyata awan lebih kuat daripada matahari. Kemudian iapun kecewa telah menjadi matahari, ia ingin menjadi awan. Malaikat datang dan mengabulkan permintaannya.

Untuk menunjukkan kekuasaannya ia turunkan air hujan sebanyak-banyaknya. Air sungai meluap dan banjir terjadi di mana-mana. Makhluk di bumi tak berdaya melawannya. Namun ketika hujan jatuh pada sebongkah batu besar, batu tersebut tak bergeming dan tidak tunduk oleh kekuasaan air hujan. Ia curahkan air hujan lebih deras lagi, batu itu tetap tak bergeming. Iapun kecewa dengan dirinya. Ternyata batu masih lebih kuat dibanding dirinya. Ia ingin jadi batu, dan malaikat juga mengabulkan permintaannya. Ia sekarang bisa berdiri kokoh, tegar melawan panasnya matahari dan datangnya air hujan.

Tiba-tiba datanglah seorang berkulit hitam, berbadan kurus dengan pahat dan palu di tangannya. Orang tersebut menancapkan pahat dan memukulinya dengan palu. Satu persatu kepingan-kepingan batu rontok dari bongkahan batu tersebut. Akhirnya iapun merasa bahwa pemahat batu itu lebih perkasa daripada dirinya. Dan ia inginkan agar malaikat mengembalikannya sebagai seorang pemahat batu.

Cerita di atas paling tidak memberi kita beberapa makna yang penting untuk menjalani hidup ini. Pertama, kekecewaan bisa menjadi sumber penderitaan. Kekecewaan biasanya muncul karena perbedaan antara keinginan dan kenyataan. Keinginan si tukang pemahat batu untuk menjadi yang paling berkuasa dan paling kuat ternyata tidak pernah tercapai. Ternyata semua benda-benda dan makluk di bumi ini pasti ada yang mengunggulinya. Tentu masih ada langit di atas langit, kata orang. Kita tentu akan terus kecewa bila kita mempunyai keinginan tak terbatas. Sekalipun kita mungkin sudah menjadi direktur, masih akan tetap kecewa dengan jabatan itu, karena kita menginginkan menjadi direktur utama. Ketika kita sudah menjadi direktur utama akan tetap kecewa bila kita menginginkan menjabat sebagai menteri atau presiden.

Dalam kehidupan berorganisasi, rasa kecewa seorang karyawan merupakan penyakit yang menggerogoti kinerja perusahaan. Karyawan yang kecewa punya kecenderungan mempunyai motivasi untuk berprestasi yang rendah pula. Seseorang yang kecewa sering membuat yang bersangkutan bekerja asal-asalan, dan kurang bersemangat. Dan hasil pekerjaannya tentu saja juga kurang maksimal. Rasa kecewa merupakan saudaranya iri hati. Melihat kawan seangkatan naik pangkat, sementara kita tidak, telah membuat karyawan tersebut kecewa dan produktivitas kerja jadi menurun. Kalau ia tidak mampu menghapus rasa kekecewaannya dengan segera, dan kemudian kinerjanya juga menurun, maka setelah setahun kemudian karyawan tersebut tetap tidak naik pangkat. Bahkan kenaikan berkalapun tidak. Siapa yang rugi? Bukan siapa- siapa: karyawan itu sendiri yang rugi.

Kekecewaan yang berlarut-larut tentu akan membuat kita frustrasi, depresi, mengalami insomnia (kesulitan tidur), denyut jantung tidak teratur, tekanan darah tinggi dsb. Kekebalan tubuh juga menurun. Dan berbagai penyakit tentu lebih mudah masuk ke tubuh kita. Oleh karena itu rasa kecewa tidak boleh dibiarkan berlarut-larut menggerogoti motivasi kerja.

Sebaliknya rasa kecewa kita jadikan pendorong semangat kerja. Rasa kecewa adalah sangat manusiawi. Kita boleh kecewa tetapi semangat dan motivasi harus tetap tinggi. Pencapaian tujuan yang kita capai dapat mengobati rasa kecewa yang kita alami. Kita menjadi puas atas pencapaian kita. Ditolak naskahnya berkali kali tentu membuat kecewa. Tetapi Charles Dickens, penulis terkenal Inggris tidak mengendurkan semangatnya. Ia terus menulis dan akhirnya diterima dan akhirnya ia menjadi penulis yang sangat terkenal.

Cara lain mengatasi kekecewaan adalah dengan, mengurangi perasaan kecewa itu sendiri. Caranya adalah dengan mensyukuri yang ada. Pepatah mengatakan Man proposes, God disposes (Manusia berusaha, Tuhan menentukan). Kita manusia diberi kebebasan untuk berusaha tertapi manusia tidak sepenuhnya mampu menentukan hasil akhirnya. Oleh karena itu terhadap apa yang telah terjadi saat ini kita anggap sebagai hadiah Tuhan.

Kata sekarang bisa ditjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi present. Tetapi kata present yang diucapkan sedikit berbeda bisa berarti hadiah. Artinya Tuhan memberi waktu dan hidup kepada kita semua sebagai hadiah. Hadiah harus kita sukuri dan kita rayakan dengan suka cita.Sementara masa lalu adalah history (sejarah), sejarah hidup kita. Dan masa datang adalah misteri, yang tentu saja masih menjadi rahasia Tuhan. Maka saat sekarang ini harus kita rayakan. Sebaiknya kita menyitir slogan Garda Oto (perusahaan asuransi mobil): “Don’t worry, be happy.” Dengan demikian kita menerima kejadian, situasi, konsisi yang mengenai diri kita baik senang maupun tidak senang. Tidak menerima kenyatan berarti kita menentang hukum Tuhan dan ini akan menjadikan kita frustrasi, dan memusuhi orang lain.

Dengan menerima kenyataan, maka kita sesungguhnya kita telah bertanggungjawab kepada iri kita sendiri dan tidak menyalahkan orang lain. Semua ketidakenakan yang kita alami sesungguhnya mempunyai maknanya sendiri.

Perasaan kecewa juga dapat dikendalikan dengan penentuan tujuan yang realistis. Dalam mencapai sasaran kita tentu tidak ingin dikatakan sebagai pungguk merindukan bulan. Keinginan atau target yang kita capai hendaknya memperhatikan potensi kita. Dan dalam mencapai target dan keinginan tersebut hendaknya kita lakukan dengan ikhlas dan bahagia serta tidak memaksakan diri (ngoyo).

Makna ke-dua dari ceritera di atas adalah kenyataan bahwa semua ciptaan Tuhan yang ada di bumi dan di langit selalu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sang pemahat memang selain mempunyai kekurangan seperti hanya rakyat kecil, penghasilan pas-pasan ternyata punya kuasa untuk menghancurkan batu karang yang besar. Manusia juga seperti itu. Selain punya kekurangan-kekurangan, ia mempunyai kelebihan-kelebihan yang bisa mencengangkan dunia. Karyawan akan mampu menunjukkan potensi optimalnya bila ia berada pada posisi yang tepat, memperoleh bimbingan yang tepat dan lingkungan yang tepat. Inilah yang tidak mudah. Kita sering menempatkan karyawan pada tempat yang kurang tepat, lingkungan kerja yang kurang tepat serta salah asuh. Akibatnya bisa diduga: kinerja yang amburadul.

Lalu bagaimana membangkitkan potensi karyawan tadi? Salah satu kunci adalah penempatan karyawan yang tepat. Saya mempunyai kenalan seorang karyawan yang karena stress agak sedikit kurang waras . Akibatnya semua orang dalam organisasi menolaknya sekalipun untuk dijadikan tukang sapu atau tukang kebun, karena celotehnya yang sering aneh. Seorang manajer yang mengetahui kesenangannya dan kebiasaannya menempatkan dia di bagian perawatan sepeda motor. Di tempat itulah ia bisa berkontribusi maksimal kepada perusahaan. Bila sudah berbicara masalah perawatan sepeda motor ialah jagonya. Bahkan lebih jago dari yang waras sekalipun. Ternyata ia sangat menyenangi dan membanggakan pekerjaannya tersebut.

Bila sudah menangani sepeda motor rusak, ia sangat serius dan menguasai sekali. Hanya saja karena ia sedikit agar tidak waras, iapun agak susah menerima pendapat orang lain.