Tujuh Hambatan Usaha Kecil

10 04 2007

oleh Yanto Sidik Pratiknyo

Pengusaha kecil dalam menjalankan operasinya banyak menghadapi permasalahan berupa penyakit yang menyerang usahanya. Penyakit ini terkadang dianggap sepele, tetapi banyak yang menyebabkan matinya usaha. Meskipun ada pengusaha kecil yang menderita penyakit ini tetapi dapat besar dan sukses, namun umumnya mangalami banyak permasalahan.

Ada tujuh penyakit yang banyak diderita oleh pengusaha kecil :

  1. Tuli, kurang dapat menerima informasi. Bila sudah mendengar satu informasi ia tidak dapat mendengar / tidak mau mendengar informasi baru. Penyakit ini dapat mematikan usaha.
  2. Muntah, mengeluarkan sesuatu dari mulut yang seharusnya diprosesdalam perut. Meskipun penyakit ini sederhana tetapi membuat hidup pengusaha kecil semakin susah saja.
  3. Mencret, penyakit yang diakibatkan kecerobohan dan kurang hati-hati. Penyakit yang sederhana ini juga dapat mematikan.
  4. Kurap, penyakit sederhana yang sering diabaikan tetapi lama kelamaan dapat mematikan.
  5. Batuk, juga banyak penyakit yang banyak diderita pengusaha kecil dan penyakit batuk menahun sangat berbahaya.
  6. Kutil, penyakit lain yang lama kelamaan juga membahayakan pengusaha karena biasanya akan mengecewakan orang lain.
  7. Campak, penyakit terakhir yang paling berbahaya dan kebanyakan tidak dapat diobati. Hanya dengan kesadaran yang kuat penyakit ini dapat disembuhkan.

Kebanyakan pengusaha yang menderita penyakit dapat mengalami kematian usaha.

7 HAMBATAN
Tujuh penyakit di atas sebetulnya berkaitan dengan masalah yang dijumpai dan dihadapi oleh pengusaha kecil yaitu dapat digolongkan berdasarkan fungsi-fungsi manajemen dikatagorikan sebagai berikut :

Masalah Pemasaran (Tuli, mencret, muntah)
Masalah Produksi ( Kurap dan batuk)
Masalah organisasi ( Kutil)
Masalah keuangan ( Campak)
Penjelasan berbagai masalah ini adalah sebagai berikut :

TULI,
yang dimaksud tuli adalah “Satu Pembeli”. Mungkin hal ini sangat janggal, mengapa ada pengusaha yang hanya memiliki satu atau dua pembeli saja. Untuk lebih jelasnya diberikan contoh-contoh di bawah :

  • Pada kontraktor, perusahaan kecil biasanya hanya mampu mengerjakan proyek kecil saja. Setelah mengerjakan proyek tersebut, seluruh kapasitasnya habis terkuras. Proyek lain tidak ada lagi, sehingga pembelinya hanya satu, itupun untuk dapat satu proyek harus berusaha dan bekerja dengan susah payah.
  • Catering juga mengalami hal yang sama, setelah menerima order, misalnya selama tiga bulan, suatu kantor atau pabrik, sudah sukar untuk jualan lagi di akntor lain karena kapasitasnya sudah habis.
  • Kadang kala dalam kasus subcontractor, produsen hanya satu perusahaan besar lain, dan sudah habis tenaganya.

Dan masih banyak lagi contoh lain, kelemahan utama dari penyakit ini adalah :

  • Harga jual dikuasai oleh pembeli, pengusaha kecil tidak berani menawar, takut kalau batal ordernya, yang berarti perusahaan tidak dapat penghasilan karena tidak memiliki pembeli lain.
  • Sering order yang diperoleh tidak kontinyu, karena pengusaha jenis ini banyak yang mengantri pekerjaan, sehingga diterapkan asas giliran atau arisan pekerjaan.
  • Bila satu-satunya pembeli tidak membeli perusahaan akan bangkrut.

Kadang kala ada perusahaan yang menderita penyakit ini tapi tetap sukses, tetapi tidak banyak, dan biasanya mereka memiliki suatu hubungan yang khusus dengan pembeli, tetapi hubungan ini putus setelah perusahaan menderita/ mengalami masalah.

MENCRET
yang dimaksud mencret adalah ” Menjual ceroboh dan Teledor”. Pengusaha sering kurang perhatian terhadap pembelinya, pelayanan yang tidak baik, sering “Mengecewakan Pembeli” dapat menyebabkan pembeli lari ke tempat lain . Diberikan beberapa contoh di bawah ini :

  • Seorang calon pembeli menanyakan harga produk yang ditawarkan, tetapi salesman tidak dapat menjawab dan mempersilahkan pembelinya langsung telepon ke pemilik perusahaan karena masalah harga menjadi wewenang pemilik. Calon pembeli marah dan berkata, kalau jualan tidak tahu harga produkmaka jangan jualan, pemiliknya saja yang disuruh menjadi salesman. Kamu duduk-duduk dikantor saja, ini pemilik tidak mau sampai anak buahnya berhasil menjual, karena dapat merongrong kewibawaan, meskipun karyawan ikut memajukan perusahaan.
  • Seseorang menjahitkan setelan jas untuk resepsi, setelah disepakati tentang lama pemesanan (order), pemesan datang lagi pada hari yang ditentukan. Ternyata jasnya belum selesai, sedangkan jas tersebut harus segera dipakai untuk pertunangan, tentu hal ini akan membuat keributan.
  • Penjual selalu memberikan kembali dengan permen. Oleh seorang pembeli permen tersebut dikumpulkan lalu dipakai untuk membeli ditempat penjual tersebut. Penjual marah : yang benar saja beli pakai permen, memang toko bapakmu.
  • Ukuran kaki ibu terlalu besar, silahkan saja pergi ke rak sepatu basket pria, disana banyak yang cocok.

Masalah yang dapat timbul adalah :
Ø Penjual sering menyinggung perasaan pembeli.
Ø Penjual tidak memahami kebutuhan dari pembeli.
Ø Pembeli tidak datang lagi karena kecewa, sehingga lama kelamaan pembeli habis tidak ada yang berkunjung.

MUNTAH,
Yang dimaksud dengan muntah adalah ” Menjual Mentah”. Pengusaha sebagai penjual tidak melakukan nilai tambah apa-apa, barang yang dijual persis seperti yang dibeli. Untuk jelasnya diberikan contoh di bawah :

Ø Penjual cabe, hanya menjual cabe saja tanpa proses. Waktu produksi sedikit, harga jual baik, tetapi harga beli cabenya juga naik, waktu kelebuhan produksi harga jual, pengusaha menderita kerugian.

Masalah yang dihadapi oleh pengusaha ini antara lain adalah :
Ø Laba yang diperoleh tidak banyak, karena pengusaha tidak melakukan proses tambahan.
Ø Karena tidak diproses maka produknyya bersifat umum dan biasa, sehingga mudah direbut pesaing.
Ø Harga tidak stabil cenderung merugikan pengusaha.

KURAP,
penyakit kurap adalah “Kurang Pemasok/suplier” , Banyak perusahaan hanya memiliki satu pemasok. Karena mereka menganggap pemasok tersebut sebagai langganan, mereka percaya penuh, sehingga tidak pernah membandingkan dengan pemasok lain, sedangkan pemasok lain harganya dan syaratnya bisa lebih baik. Akibat pengusaha tidak memiliki hubungan dengan pemasok lain, sehingga kalau terjadi masalah dengan pemasok tersebut, maka pengusaha akan menghadapi masalah besar. Bahkan banyak pengusaha hanya memiliki satu pemasok bahan baku sekaligus pemasok tersebut menjadi satu-satunya pembeli. Contohnya sebagai berikut : Seorang pengusaha sepatu membeli kulit dari pemasok kulit, yang ternyata adalah sekaligus juga pembeli dari seluruh produk sepatu.

Masalah yang dihadapi oleh pengusaha ini adalah :
Ø Harga beli dikuasai oleh pemasok.
Ø Bila pasokan berhenti maka perusahaan dalam masalah karena tidak ada alternatif dari pemasok lain.
Ø Akan muncul masalah komplek yang lain.

BATUK,
Penyakit batuk adalah “Barang Tunggal dan Ketinggalan Model”, juga sering dijumpai diberbagai pengusaha. Sampai pengusaha itu akan bangkrut namun tetap mampertahankan produk yang dihasilkan walaupun sudah tidak sesuai lagi dengan selera pasardan tidak melakukan diversifikasi produk usahanya.. contoh yang dapat diberikan :

Ø Pengrajin lurik dengan ATBM (Alat Tenun Bukam Mesin) banyak yang bangkrut di daerah Delanggu, Pengrajin gerabah yang memproduksi kendi, celengan sederhana yang mengalami gulung tikar karena tidak mencoba melakukan diversifikasi usaha dan menuruti selera pasar konsumen yang berkembang.

Masalah yang dijumpai oleh pengusaha yang hanya memiliki satu output produk antara lain :

  • Perusahaan yang hanya memiliki output satu produk mudah disaingi oleh kompetitor lain, karena tidak memiliki produk potensial yang lain.
  • Perusahaan yang hanya memiliki satu output produk bisa mengalami bangkrut, karena produk yang dihasilkan memiliki usia kejenuhan suatu produk dan apabila sudah tidak laku pengusaha tidak dapat menyesuaikan diri untuk beralih ke produk lain.
  • Pengusaha yang demikian biasanya tidak memiliki daya kreatif dan tidak mau diberi saran.

KUTIL,
yang dimaksud adalah “Kurang Terampil”. Banyak pengusaha memasuki bisnis tanpa memiliki ketrampilan yang baik dan hal ini tetap terus dipertahankan selama usaha. Pengusaha enggan untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan, lebih-lebih untuk meningkatkan kemampuan bawahannya, karena dianggap hanya akan menambah biaya operasional perusahaan. Contoh sebagai berikut :

  • Pengusaha mebel, yang tidak pernah meningkatkan ketrampilannya untuk dapat membuat mebel knock down. Pengusaha ini secara perlahan-lahan akan mengalami kehabisan pasar alias tidak ada pembeli yang ingin membeli produknya.
  • Pengrajin kompor, selalu mempertahankan tehnologinya meskipun sudah banyak keluhan dari pembeli kalau kompor tersebut sering meledak saat digunakan.

Masalah yang sering dijumpai oleh pengusaha tersebut antara lain :

  • Pengusaha tidak mau meningkatkan kemampuan untuk perkembangan usahanya.
  • Pengusaha tidak mau meningkatkan kemampuan bawahannya, sehingga mutu/kualitas produknya kurang sesuai dengan keinginan konsumen.

CAMPAK,
yang dimaksud adalah “Campuran Usaha dan Keluarga”. Penyakit ini adalah penyakit yang paling parah dan paling banyak dijumpai oleh pengusaha kecil. Memang dalam usaha kecil, usaha dan keluarga tercampur, tetapi kalau hal ini terus dilestarikan, banyak pengusaha kecil justru tidak berkembang atau mengalami kebangkrutan. Faktor yang tercampur biasanya meliputi keuangan yaitu membeli keperluan keluarga yang dibebankan pada perusahan dan masalah keputusan, dimana istri dan anak yang tidak memiliki keahlian ikut campur dalam keputusan perusahaan yang berarti. Perusahaan seperti ini dalam perkembangannya justru semakin menyempit, dimana yang berperan dalam perusahaan adalah anggota keluarga dan orang luar disingkirkan. Sebenarnya dibandingkan dengan penyakit sebelumnya, penyakit ini merupakan penyakit yan dibuat sendiri. Pada aspek pasar, masalah dikendalikan oleh pembeli, pada aspek produksi dikendalikan oleh pemasok dan aspek organisasi masalah ditentukan oleh kayawan. Dalam aspek keuangan terjadinya masalah karena muncul dari diri pengusaha sendiri. Karena pengusaha sering tidak dapat mengontrol diri sendiri, maka banyak masalah timbul. Contohnya adalah :

Ø Seorang pengusaha berfoya-foya ketika perusahaanya untung dengan menggunakan uangnya secara konsumtif untuk keperluan keluarga, kayawan tidak ikut menikmati, bahkan uang lembur diberikan terlambat.

Masalah yang dijumpai dalam hal ini adalah :
Ø Sulit melakukan kontrol keuangan, karena pengusaha kecil memang tidak mau keadaan kas keuangannya terkontrol.
Ø Pengeluaran keluarga sring dijumpai jauh lebih besar dari pengeluaran perusahaannya.
Ø Tidak memberikan teladan yang baik pada karyawan, karena karyawan dapat ikut-ikutan merusak perusahaan.

ALTERNATIF PENGOBATAN

Alternatif pengobatan yang bisa dilakukan oleh pengusaha

  1. Tuli (Satu Pembeli) dapat diobati dengan “PERMEN” yang dimaksud adalah “Pengecer atau Multi Konsumen”. Pengusaha sebaiknya menjadi pengecer yang melayani partai kecil atau eceran, bukan grosir, yang hanya menjual partai besar. Menjadi grosir dimungkinkan apabila pembelinya tetap banyak. Contoh pada sentra sepatu Cibaduyut, sentra jeans di Cihampelas, sentra gerabah di kasongan Yogya dan sebagainya.
  2. Muntah (Menjual Mentah) dapat diobati dengan “PROMAH’, yang dimaksud adalah “Proses dan Nilai Tambah”. Pengusaha harus memberi nilai tambah dengan alternatif cara dalam pemprosesan produksi.
  3. Mencret (Menjual ceroboh dan Teledor) dapat diobati dengan ” KEMENYAN”, yang dimaksud adalah “Ketrampilan Menjual dan Ramah”, diperlukan peningkatan ketrampilan penjualan, terutama dalam mengatasi keberatan pelanggan secara bijaksana.
  4. Kurap (Kurang Pemasok) dapat diobati dengan “Surbek T” yang dimaksud adalah “Survey ke banyak Pemasok dan Tempat Lain”. Meskipun membeli dalam jumlah sedikit, perlu kita membeli barang ke berbagai pemasok agar dapat mengetahui perkembangan dan dapat membandingi harga antar pemasok juga penting untuk membina hubungan. Memang tidak selalu satu pemasok itu buruk untuk usaha kita.
  5. Batuk (Barang Tunggal dan Ketinggalan Model) dapat diobati dengan “Diatab” yang dimaksud adalah “Diversifikasi Produk dan Tambah Barang “. diversifikasi dijalankan dengan produk yang sejenis atau yang mendukung, jangan yang berbeda jenis, kemungkinan pengusaha mengalami kesulitan. Pada periode-periode tertentu perlu dilakukan perubahan mode sekaligus mengamati perkembangan selera pasar.
  6. Kutil (Kurang Teliti) dapat diobati dengan “Kurma” yang dimaksud adalah “Kursus dan Magang”. Mengikuti baik pelatihan ketrampilan teknis maupun manajerial dan juga perlu mengikuti program pemagangan. Pengusaha juga harus bersedia mengirimkan bawahannya mungkin sampai berbulan-bulan untuk magang tanpa menghasilkan apa-apa.
  7. Campak (Campuran Usaha dan Keluarga) dapat diobati dengan “Oralit” yang dimaksud adalah “Moral dan Itikad”. Obat utama dari penyakit ini adalah moral, etika dan nilai yang baik, tidak hanya dipahami tetapi juga diterapkan. Tanpa hal ini, banyak perusahaan tidak berkembang bahkana mengalami banyak masalah. Tanpa didasari moral yang baik, maka pelatihan manajemen keuangan, harga pokok produksi, pembukuan sederhana, tidak ada manfaatnya sama sekali.Pengontrolan hanya bisa dilakukan dengan moral yang baik dan kuat. Bila pemilik sudah tertutup dan tidak dapat mengontrol dirinya, maka perusahaan trerus menerus dalam kesulitan.

PENUTUP
Pada saat ini, suatu saat kita suka atau tidak suka akan segera menghadapi masa era globalisasi perdagangan bebas, sehingga pengusaha dituntut untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan (penyakit) perusahaannya secara menyeluruh. Alternatif pengobatan/pemecahan masalah yang diuraikan diatas mungkin dapat menjadi acuan bagi para pengusaha, namun hal yang lebih penting adalah kemauan dan kerja keras pengusaha kecil untuk meningkatkan serta mengembangkan usahanya, karena masa depan suatu usaha sangatlah ditentukan oleh pengusaha kecil itu sendiri. Dunia entrepreneur adalah dunia yang sangat menarik serta penuh tantangan. Masa depan dunia entrepreneur adalah juga masa depan perekonomian Indonesia.

Yanto Sidik Pratiknyo, Ir., MBA

Yanto Sidik Pratiknyo, Ir., MBA is an International Expert on Entrepreneurship from GTZ (Deutsche Gesselschaft Fuer Technische Zusammenarbeit), Germany. Please search on http://www.cefe.net in international expert for yanto sidik pratiknyo. He is a Founding Members of International CEFE Association for Entrepreneurship (Competency based Economies, through Formation of Entrepreneurs), Frankfurt, Germany. Holding a Permanent License of International CEFE Trainer to teach CEFE Entrepreneurship training from GTZ, Germany. He has an expertise to use Structured Learning Experiences method in training.
He graduated from Electrical Engineering, University of Gajah Mada, Yogyakarta (1979) and Master of Arts in Entrepreneurship, the Ohio State University, Columbus, USA (1988), sponsored by USAID. His international trainings, seminars, and activities are Cooperative Management MATCOM-TOT (Material Training for Cooperative Management), Turino, Italy (1983), sponsored by The Asia Foundation, Advanced Cooperative Management, Gandhi Labor Institute, Ahmedabad, India (1985), sponsored by Italian Government, Entrepreneurship course of CEFE-TOT (Competency based Economies through Formation of Entrepreneurs), Bangkok, Thailand (1990), sponsored by Deutsche Gesselschaft fuer Technische Zusammenarbeit/GTZ Germany, Moderator on International Convention Quality Control Circle, Bali, Indonesia (November 1991), APEC SME College for Management Capacity Building, Kuala Lumpur, Malaysia (1999), sponsored by Asia Overseas Training Services /AOTS & The Ministry of International Trade & Industry Japan, and Millennium Expo 2000, Sun Tech City, Singapore (January 2000).
His articles have been published in Gelora Mahasiswa UGM, Manajemen PPM, Usahawan UI, Journal Manajemen Prasetya Mulya, Brainstorm GTZ Germany, Buletin Yayasan Dharma Bhakti Astra, Buletin Unilever etc. Please search yanto sidik pratiknyo in http://www.google .com and http://www.yahoo.com





Ketika Wirausaha Kian Belia

7 04 2007

Di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia: pemimpi dan pengusaha. Perbedaan di antara keduanya hanya satu: aksi. Jika pemimpi berhenti sebatas angan-angan, wirausaha berusaha mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Mengapa tak memulainya sekarang juga? Awalnya adalah Sambel Tomat, warung gerobak di Jl. Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Modalnya tentu saja sangat besar. Jangan salah, maksudnya gagasan besar, kemauan keras dan semangat berkobar. Modal berupa uang tunainya sih relatif: Rp 15 juta. Dan itu bukan dari kocek satu orang. Uang sejumlah itu dihimpun dari Rene Suhardono Canoneo, Ragil Iman Wibowo, Riko Kasmanda, dan tujuh orang lainnya, masing-masing Rp 1 juta. Lantas, Rp 5 juta lainnya pinjaman dari paman Rene.

Waktu itu, 1998, mereka masih menyewa tempat di pekarangan Restoran Bakery Nila Chandra. ”Sewanya Rp 500 ribu sebulan,” ujar Rene mengenang. Kini, tak sampai sewindu kemudian, siapa menyangka warung gerobak mereka telah berubah menjadi jaringan resto. Di bawah PT Trirekan Rasa Utama yang mereka dirikan pada 2003, bernaung sejumlah resto: Dixie Easy Dining (empat di Jabotabek dan satu di Yogyakarta), Mahi-mahi (dua di Jabotabek dan satu di Yogya), RiceBar (Yogya), Warung Pasta (dua di Yogya), Ronin Bistro (Bekasi) serta Asahi Japanesse Restaurant (Jakarta). Total karyawannya kini 230 orang, bahkan akan terus meningkat karena Warung Pasta mulai dikembangkan dengan model waralaba.

Trirekan cuma salah satu dari usaha kecil dan menengah yang meraih penghargaan Enterprise 50 (E-50). Inilah upaya apresiasi bagi para wirausaha tahan banting yang diselenggarakan Majalah SWA dan Laboratorium Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, serta didukung Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. Kegiatan ini telah enam kali kami lakukan sejak 2000. Kami yakin kegiatan seperti ini penting untuk terus menggelorakan semangat kewirausahaan di semua kalangan.

Perbedaan antara wirausaha dan pemimpi memang sangat tipis, hanya satu langkah. Keduanya sama-sama mengangankan dan menginginkan sesuatu. Namun, pemimpi berhenti sebatas angan-angan, sedangkan wirausaha berusaha mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan.

Modal utama pengusaha bukanlah uang atau koneksi, melainkan kreativitas dan keuletan, semangat pantang menyerah. Banyak penelitian yang mengungkapkan, lebih dari separuh wirausaha rontok sebelum mencapai usia tiga tahun. Ada banyak alasannya, termasuk kehabisan modal. Akan tetapi sesungguhnya, faktor yang lebih menentukan adalah kehabisan semangat dan kreativitas. Mereka yang memiliki semangat pantang menyerah memandang kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Meski terantuk dan terjatuh, mereka akan bangkit kembali dengan gagah.

Pepatah mengatakan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Ini memang pepatah djadoel alias djaman doeloe, tetapi masih tetap relevan di era sekarang. Lihat saja buktinya: begitu beragam bidang yang digeluti para penerima penghargaan E-50 untuk mencetak keberhasilan. Mulai dari industri resto hingga jasa keamanan, dari fashion hingga peralatan kantor, dari peranti keras hingga peranti lunak. Skala bisnisnya pun bervariasi, mulai dari yang beromset di bawah Rp 5 miliar/tahun hingga Rp 100 miliar/tahun.

Dengan begitu beragamnya tingkatan peserta ini, agar penilaian menjadi lebih adil, kami mengelompokkan peserta berdasarkan omsetnya: perusahaan dengan omset per tahun > Rp 5-10 miliar, Rp 10-50 miliar, dan di atas Rp 50-100 miliar. Lalu, ada pula kategori Start-up untuk perusahaan yang beroperasi kurang dari tiga tahun dan/atau pengusahanya berusia kurang dari 30 tahun. Selain itu, juga ada penghargaan khusus, yaitu The Most Established Company, The Best in Branding serta The Most Innovative Company.

Di antara para wirausaha tahan banting ini, tak sedikit yang memulai usahanya dengan modal terbatas, seperti Trirekan tadi. Namun, dengan kreativitas dan passion – perpaduan antara semangat dan kecintaan pada bidang yang digeluti – semua kesulitan tadi bisa diatasi. Kreativitas merupakan salah satu sifat yang sangat dibutuhkan dan menentukan keberhasilan seorang wirausaha.

Orang kreatif tak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Mereka akan mengubahnya menjadi peluang. Ini berarti harus ada keberanian mengambil risiko, baik risiko bisnis setiap kali menangani suatu proyek maupun risiko menyeberang kuadran, dari karyawan menjadi usahawan. Namun, berani mengambil risiko bukan berarti nekat dan asal tubruk ketika melihat peluang. Naluri saja tidak cukup, perhitungan matang tetap harus dilakukan. Ini berarti seorang wirausaha harus mampu memadukan hati dengan kalkulasi.

Syukurlah, kemampuan tersebut sudah dimiliki sebagian wirausaha kita – paling tidak mereka yang terpilih sebagai penerima penghargaan E-50 ini. Sektor bisnis yang digeluti pun tak semata sektor tradisional lagi. Banyak juga yang menggarap sektor masa depan seperti sektor teknologi informasi –misalnya, pembuatan peranti lunak.

Yang lebih menarik lagi, kini semakin banyak saja wirausaha yang merintis bisnisnya sejak usia awal 20-an tahun. Ada Andy Bogel, pemilik Distro Insomania yang berusia 22 tahun, juga Sujianto (pemilik kursus bahasa Mandarin), artis Irgi Fahrezi yang semuanya masih kinyis-kinyis. Harimin, pemilik Multiplus, jaringan bisnis layanan kantor, pun memulai bisnisnya ketika berusia 22 tahun, begitu lulus dari Universitas Bina Nusantara. Kini Multiplus tumbuh menjadi 88 gerai yang tersebar di 14 kota dan akan segera merangsek ke Singapura dan Cina. Lewat konsep waralaba yang diterapkannya, bisa dipastikan pertumbuhan bisnisnya akan kian meroket. Bahkan, Asosiasi Franchise Indonesia menganugerahkan Indonesia Franchise Gold 2006 kepadanya. Fenomena kian mudanya entrepreneur fresh from the oven ini menarik dicermati. Pasalnya, hingga beberapa tahun lalu, tak sedikit yang memilih baru terjun setelah usia 40-an tahun. Alasannya, agar bisa menimba ilmu dulu dengan menjadi profesional di bisnis orang lain sebagai fondasi sekaligus pemanasan untuk berkiprah di bisnis sendiri. Sepak terjang para usahawan belia ini pun tak kalah gesit, sehingga kami merasa perlu menampilkan mereka dalam daftar Entrepreneur to Watch.

Kian maraknya orang yang memilih menjadi wirausaha ini patut disambut gembira dan didukung penuh. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi makro suatu negara berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi mikronya. Banyaknya dunia usaha akan menciptakan banyaknya lapangan pekerjaan, yang tentunya meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga masyarakat memiliki daya beli dan mampu berbelanja. Begitu terus, sehingga roda ekonomi pun bisa terus berputar.

Tulisan oleh : Teguh Poeradisastra
Enterprise 50
kiriman abu ‘memet’ farros





Brainteaser & Dynamic

5 04 2007

Orang Jepang suka sekali makan ikan segar (sushi). Ikan segar dari laut ini betul-betul segar, dan dimakan mentah-mentah. Tetapi kehidupan industrial perkotaan Jepang yang super-super sibuk menjadikan mencari ikan segar yang betul-betul segar sangatlah langka. Kalaupun ada ikan laut, biasanya sudah mati dan dieskan. Sehingga tidak segar lagi. Sebuah toko ikan berusaha menyajikan ikan segar dengan akuarium dengan isi air laut, sehingga ikan tetap hidup… tapi air menggenang dalam akuarium yang terbatas, menjadikan ikan kurang segar juga.

Kapal-kapal penangkap ikan akhirnya berusaha membuat kolam di dalam kapal dan membawa air di dalamnya, dan bukan es. Alhasil ikan tangkapan tetap hidup hingga dibawa ke darat, dan ditempatkan dalam akuarium-akuarium untuk dijual hidup-hidup. Tetapi seperti dikatakan di depan, kenyataan air yang menggenang menjadikan kesegaran ikan berkurang. Berbeda dengan air laut itu sendiri… yang segar dan selalu dinamis, bergerak bergelombang pindah dari sisi satu ke sisi yang lain, dari tekanan kuat ke tekanan rendah, berputar-putar, terkena matahari dan kadang terkena rembulan, terkadang pasang terkadang surut. Air laut yang dinamis menjadikan ikan yang tinggal di dalamnya tetap segar. Ikan segar inilah yang menjadi santapan sushi paling lezat dan bergizi protein sangat-sangat tinggi.

Tetapi semakin hari ikan segar semakin langka… karena setelah ditangkap dari laut dia harus mati dan dieskan. Kalaupun hidup… dia kehilangan dinamitas dan kesegaran. Di antara teman pernah mengalami atau mendengar cerita ini. Saya ingin bertanya pada teman-tema, bagaimana jika anda menjadi penangkap ikan dan ingin menyajikan ikan yang paling segar untuk warga Jepang… atau warga Indonesia… Kira-kira kiat apa yang akan anda lakukan untuk menyajikan ikan sushi paling segar dan berprotein tinggi. Saya tunggu!

Anam





Break The Limit …

3 04 2007

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan memberikan training di Bandung. Karena acara dimulai jam 13.00 maka saya berangkat dari Jakarta pukul 9.30. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan

kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak. Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.

Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ada mobil lain di tol, kecuali mobil
tersebut dan mobil saya, mobil hitam tersebut menambah kecepatannya. Karena sedang membututi, tanpa sadar saya ikut menambah kecepatan mobil saya. Ketika saya melihat panel kecepatan, menunjukkan angka 160 km/jam. Padahal selama ini, kecepatan tercepat yang pernah saya tempuh adalah 140 km/jam, saya tidak berani melaju di atas itu. Tapi
dengan adanya mobil yang saya ikuti, saya bisa tembus rekor kecepatan mobil saya. Sesuatu yang sulit saya lakukan jika tidak ada sparringnya.

Karena saya berhenti di suatu tempat, saya kehilangan mobil hitam tersebut. Ketika saya mulai memacu kendaraan lagi, saya coba untuk berlari 160 km/jam lagi. Saya berhasil mencapai kecepatan tersebut tetapi tidak berani terlalu lama karena belum terbiasa. Ketika kemudian ada mobil lain lagi yang melaju dengan kecepatan tinggi dan saya buntuti, saya bisa masuk lagi ke 160 km/jam dengan durasi yang cukup lama.

Sama seperti kehidupan ini, seringkali kita merasa sudah maksimal melakukan sesuatu. Kita merasa tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Namun kalau kita mempunyai sparring partner yang lebih hebat dari kita, entah itu seorang atasan, seorang coach, seorang mentor, role model atau apapun, maka kita bisa terpacu untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

Jika kita belum matang belajar dari sparring partner kita dan mencoba untuk mandiri, mungkin agak sulit bagi kita untuk terus berada di kondisi sama seperti ketika ada sparring partner. Nantinya jika kita sudah mempunyai pola dan terbiasa, barulah kita mulai bisa mandiri.

Robert Kiyosaki mengatakan bahwa penghasilan seseorang ditentukan 5 orang terdekatnya. Ilustrasi saya mengenai kecepatan mobil bias menjelaskan pernyataan dari Robert Kiyosaki tersebut. Jika orang-orang di dekat kita hanya biasa-biasa saja, maka sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Namun kalau kita biasa tetapi di sekelilingnya luar biasa, maka kita akan terpacu untuk juga menjadi luar biasa.

Apakah ada penjelasannya secara Science? Ternyata ada. Di dalam otak manusia ada sekumpulan sel syaraf yang disebut Mirror Neuron, yang bertugas meniru apa yang dilakukan oleh orang lain. Jika di sekelilingnya orang hebat atau luar biasa, maka Mirror Neuron kita akan meniru mereka sehingga menjadikan kita juga hebat dan luar biasa.
Kalau sebaliknya, maka Mirror Neuron-pun juga akan meniru yang sebaliknya.

 

  • Siapa mobil hitam yang akan anda ikuti agar bisa menembus kecepatan anda selama ini?
  • Siapa orang hebat dan luar biasa yang akan anda ikuti agar bisa menembus batas yang selama ini membatasi hidup anda?

Temukan orang tersebut, ikuti dan pelajari bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana keyakinan dan nilai-nilai kehidupan yang ia pegang, bagaimana ia membangun kapabilitasnya, bagaimana tingkah lakunya, maka anda akan mendobrak batas yang selama ini membatasi hidup anda.

Step Up, Live Life to the Max and Make Your Dreams Come True!

Norman Firman, MM., MBA., CBA, Science for Success Expert

Kiriman Anam





Bekerja sebagai Freelance Consultant

3 04 2007

Dari dulu telah dikenal berbagai peluang bisnis dalam bidang konsultan. Di luar negeri, hal ini sudah tidak asing lagi. Bahkan beberapa konsultan kelas dunia termasuk yang beromset amat besar.

Majalah SWA pada waktu meriset tentang peluang bisnis di masa krisis, beberapa tahun yang lalu pernah menyebutkan setidaknya ada 18 peluang bisnis yang baik dalam masa krisis, dan salah satunya adalah bekerja sebagai konsultan. Lebih lanjut, majalah tersebut mengungkapkan bahwa untuk membuka bisnis konsultansi dibutuhkan modal Rp. 15 juta sampai dengan Rp. 100 juta, dan diperkirakan omzetnya Rp. 50 juta sampai dengan Rp. 200 juta per bulan dengan tingkat laba 60% sampai dengan 70%. Peluang untuk bisnis ini masih besar terutama untuk konsultan sumber daya manusia, ekspor-impor, dan agrobisnis. Uang yang beredar pada bisnis ini saat ini diperkirakan Rp. 3,75 miliar. Menarik bukan?

Namun demikian, apa yang dipaparkan oleh majalah tersebut adalah peluang bisnis konsultansi dengan mendirikan semacam consulting firm, dengan tenaga kerja berkisar 5 sampai 25 orang. Bagaimana jika tidak memiliki modal sejumlah yang diungkapkan di atas? Di sinilah kreativitas mulai berbicara dengan mencari berbagai alternatif. Alternatifnya adalah, mengapa tidak mencoba bekerja sebagai konsultan lepas atau sangat dikenal dengan istilah freelance consultant? Pada saat saya akan mengikuti program Magister Manajemen Eksekutif di Sekolah Tinggi Manajemen PPM, saya memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai seorang staf konsultan pada sebuah consulting firm yang cukup ternama di Jakarta. Saat itulah saya mencoba untuk bekerja sebagai freelance consultant dan ternyata tidak sukses, dan akhirnya setahun kemudian bergabung dengan Lembaga Manajemen PPM sebagai staf profesional. Nah, belajar dari ketidak-suksesan tersebut, saya mencoba untuk berbagi pengalaman dan pendapat dengan para pembaca.Apakah freelance consultant atau konsultan lepas? Mungkin inilah yang sering diplesetkan sebagai "gelandangan intelektual", bahkan ada pendapat yang lebih nyeleneh yang mengatakan seorang freelance consultant adalah seseorang yang dirinya merasa tahu segalanya tetapi tidak diterima bekerja di mana pun. Baiklah, kita tinggalkan semua pendapat "miring" tersebut. Marilah kita lihat kemungkinan serta hal-hal yang harus diperhatikan jika ingin bekerja sebagai freelance consultant. Freelance consultant secara definisi adalah konsultan yang bekerja sendiri dan tidak berafiliasi dengan consulting firm mana pun. Keadaannya mirip dengan dokter yang membuka praktek sendiri, tidak berafiliasi dengan rumah sakit tertentu, dan juga tidak bermitra dengan dokter-dokter yang lain untuk membuka praktek bersama.

Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa tidak begitu mudah untuk menjadi seorang freelance consultant, dan bahkan risiko untuk gagal juga besar. Tetapi jika tetap ingin mencoba, tidak ada salahnya untuk memperhatikan beberapa hal berikut ini.

Pertama, tentu harus profesional. Kami di Lembaga Manajemen PPM sering menggunakan definisi yang diberikan oleh International Labour Office (ILO) mengenai konsultansi manajemen. Nah, dengan sedikit modifikasi dan generalisasi, maka definisi konsultan secara umum adalah seseorang yang yang memiliki kualifikasi tertentu di bidang keahliannya, mampu mengidentifikasi dan menginvestigasi persoalan yang muncul pada kliennya sesuai dengan bidang keahliannya, mampu merekomendasikan berbagai tindakan yang relevan, serta mampu membantu klien mengimplementasikan rekomendasi tersebut. Kualifikasi tersebut akan lebih baik lagi jika dibuktikan dengan memiliki sertifikasi keahlian tertentu, seperti Certified Microsoft Engineer di bidang komputer, Sertifikasi Akuntan Publik yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, dan berbagai jenis sertifikasi lainnya.

Walaupun demikian, yang terpenting bukanlah sertifikasi tersebut, melainkan keahlian dan sikap profesional. Sikap profesional juga berarti menjaga komitmen dengan waktu, menjaga rahasia klien, menjaga hubungan baik, memahami ruang lingkup dan beban kerja yang diberikan, dan sebagainya.

Kedua, tentukanlah secara jelas, jasa apa yang dapat diberikan. Seorang freelance consultant tidak mungkin mengatakan kepada calon klien bahwa dia adalah konsultan di semua bidang. Jasa yang ditawarkan harus spesifik dan jelas seperti menyusun system akuntansi untuk perusahaan, mengembangkan perangkat lunak komputer, membuat suatu studi kelayakan, dan sebagainya. Tentu saja seorang freelance consultant dapat menawarkan lebih dari satu jenis jasa layanan konsultansi selama hal tersebut berada dalam satu rumpun keahlian yang dikuasainya. Ingatlah, seorang freelance consultant akan bekerja sendiri dan tidak ada dukungan dari rekan-rekan kerja yang lain yang berbeda keahlian. Inilah yang membedakan antara freelance consultant dengan konsultan yang berafiliasi dengan sebuah consulting firm.

Ketiga, tentukanlah secara jelas, siapa yang bakal menggunakan jasa konsultansi yang diberikan. Apakah perusahaan besar, perusahaan kecil, organisasi sosial, lembaga swadaya masyarakat, perorangan, dan sebagainya, serta perusahaan-perusahaan dalam industri apa. Ini perlu dilakukan oleh seorang freelance consultant supaya dapat mempromosikan dirinya secara fokus. Tentu saja seorang freelance consultant dapat mentargetkan lebih dari satu segmen pengguna jasa, tetapi yang terpenting adalah, seorang konsultan harus mengetahui dengan persis bisnis atau kegiatan si kliennya.

Keempat, membangun dan menjaga jejaring (network) dengan berbagai pihak. Mirip dengan seorang dokter, seorang konsultan akan dikenal oleh kliennya karena keahliannya. Seorang dokter yang ahli akan secara tidak sengaja dipromosikan dan direkomendasikan oleh para pasiennya sendiri kepada berbagai pihak lain. Demikian pula seorang konsultan yang handal, promosi dan rekomendasi yang demikian jauh lebih efektif daripada memasang iklan di media massa. Untuk dapat mencapai hal itu, seorang freelance consultant wajib hukumnya untuk membangun dan menjaga jejaring dengan berbagai pihak. Membangun jejaring ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain
dengan mengikuti seminar, menulis artikel di media massa, menjadi anggota asosiasi profesi, menjadi anggota suatu perkumpulan hobi, mengikuti mailing list atau newsgroup di internet, dan sebagainya. Proyek-proyek konsultansi sering diperoleh dari kegiatan-kegiatan di atas. Yang perlu diperhatikan adalah, seorang freelance consultant
tidak memiliki customer service serta public relations yang mendukungnya. Hampir semuanya dikerjakan sendiri.

Kelima, tentukanlah tarif dengan cermat. Tarif seorang freelance consultant tidak mungkin lebih tinggi daripada tarif yang ditetapkan oleh consulting firm untuk jenis dan beban penugasan yang sama. Malahan, tarif sering menjadi senjata para freelance consultant bila harus berhadapan dengan konsultan yang berafiliasi dengan sebuah consulting firm saat bersaing untuk mendapatkan klien, terutama yang masih price sensitive.

Keenam, siapkan senjata utama promosi, yaitu kartu nama. Mengapa? Seperti yang disinggung sebelumnya, seorang freelance consultant tidak memiliki customer service atau public relations yang mendukungnya, sehingga dia harus mempromosikan dirinya sendiri pada setiap kesempatan seperti seminar, asosiasi profesi, bahkan dalam suasana santai seperti ngobrol di kafe dan sebagainya. Dengan demikian, kartu nama adalah senjata utama. Nah, dengan demikian kartu nama harus representatif, informatif, dan dirancang supaya menarik untuk dilihat. Memang ada pepatah yang mengatakan jangan menilai suatu buku dari kulitnya, tetapi di sisi lain sering orang justru melihat penampilan fisik terlebih dahulu dalam memilih jodoh. Jadi, penampilan tetap harus diperhatikan, termasuk penampilan kartu nama.

Ketujuh dan terakhir, kelihatannya sepele, tetapi sangat penting, yaitu siapkan fasilitas untuk kontak. Fasilitas untuk kontak ini harus dapat segera dihubungi seperti handphone, e-mail, dan sebagainya. Telepon rumah? Boleh juga, asalkan dilengkapi dengan mesin penjawab yang mampu menyimpan pesan. Calon klien akan frustrasi jika tidak dapat mengontak si konsultan dalam waktu cepat, dan dampaknya proyek pun melayang, dan reputasi pun menurun.

Nah, apakah Anda tertantang untuk bekerja sebagai freelance consultant ? Jika jawabannya ya, silakan memperhatikan tujuh hal yang diungkapkan dalam artikel ini. Semoga sukses. Salam.

kiriman memet
Sumber

Riri Satria, S.Komp. MM Staf Pengajar – Sekolah Tinggi Manajemen PPM; Staf Profesional – Lembaga Manajemen PPM; Konsultan – PT. Binaman Utama





Kebodohan,..Penyakit yang Membinasakan

3 04 2007

Bodoh adalah salah satu penyakit hati yang sangat membahayakan dan sangat mengerikan akibatnya. Akan tetapi sering dan mayoritas penderitanya tidak merasa kalau dirinya sedang terjangkit penyakit berbahaya ini. Dan karena penyakit bodoh inilah muncul penyakit-penyakit hati yang lain seperti iri, dengki, riya, sombong, ujub (membanggakan diri) dan lainnya.

Karena kebodohan ini adalah sumber segala penyakit hati dan sumber segala kejahatan. Kebodohan ini penyakit hati yang berbahaya lebih dahsyat dibanding penyakit badan. Karena puncak dari penyakit badan berakhir dengan kematian, adapun penyakit hati akan mengantarkan penderitanya kepada kesengsaraan dan kebinasaan yang kekal. Manusia yang terkena penyakit ini hidupnya hina dan sengsara di dunia maupun di akherat.

Allah Taala banyak menyebutkan dalam Al-Quran tentang tercelanya dan hinanya serta balasan dan akibat bagi orang-orang yang bodoh yang tidak mau tahu tentang ilmu agama di dunia dan akherat. Diantaranya Allah menyatakan dalam surat Al-Furqon: 44 Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memahami ?. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya. Di dalam ayat ini, Allah Taala menyerupakan orang-orang bodoh yang tidak mau tahu ilmu agama seperi binatang ternak bahkan lebih sesat dan jelek.

Di dalam surat Al-Anfal: 22. Allah juga menyatakan:

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling jelek di sisi Allah adalah orang yang bisu dan tuli yang tidak mau mengerti apapun (tidak mau mendengar dan memahami kebenaran).”

Dalam ayat ini Allah memberitakan bahwa orang-orang bodoh yang tidak mau memahami kebenaran adalah binatang yang paling jelek di antara seluruh binatang-binatang melata seperti keledai, binatang buas, serangga, anjing dan seluruh binatang yang lain. Maka orang-orang bodoh yang tidak mau kebenaran lebih jahat dan lebih jelek dari seluruh binatang.

Kemudian Allah Taala juga menyatakan bahwa orang-orang yang bodoh seperti orang-orang yang buta yang tidak bisa melihat sebagaimana dalam surat Ar Ro’du: 19. Allah berfirman:

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sama dengan orang yang buta ?”

Dan sungguh Allah Taala banyak mensifati orang-orang yang jahil itu dengan bisu, buta dan tuli. Kemudian keberadaan orang-orang yang jahil terhadap dakwahnya para Rosul sejak Rosul yang pertama sampai Rosul yang terakhir, mereka adalah musuh yang paling berbahaya bahkan musuh para Rosul yang sebenarnya. Hingga Musa ‘alaihissalam berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang yang jahil, sebagaimana dalam surat Al-Baqoroh: 67

“Aku berlindung kepada Alloh agar tidak menjadi orang yang jahil.”

Dan Allah juga memerintahkan kepada Nabi-Nya shollallaahu alaihi wassalam untuk berpaling dari orang yang jahil.

“Dan berpalinglah engkau dari orang-orang yang jahil !”

Kemudian Allah Taala juga menyerupakan orang jahil yang tidak menerima dakwah rasul seperti orang yang mati dan telah terkubur, walau jasad mereka hidup. Karena dakwah rasul itu ilmu dan iman. Ilmu dan iman inilah yang menjadikan hati itu hidup, kalau ilmu dan iman tidak terdapat di hati orang maka orang itu menjadi bodoh. Dan orang yang bodoh matilah hatinya.

Akibat dari kebodohan inilah maka kehidupan dia di dunia seperti orang buta tidak bisa melihat kebenaran. Siapa yang tidak mengerti kebenaran maka dia sesat dan menjalani hidup ini tanpa arah.

Orang yang buta mata hatinya akibat kebodohannya, nanti akan dibangkitkan dalam keadaan buta. Dan tempatnya adalah neraka jahannam. Sebagaimana firman Allah Taala dalam surat Al-Isra: 72 dan 97

“Barang siapa di dunia ini buta mata hatinya maka dia di akherat lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar Dan kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat diseret atas muka mereka di seret dalam keadaan buta, bisu dan pekak, tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam.”

Demikianlah akibat dan balasan bagi orang-orang yang bodoh yang tidak mau tahu ilmu agama ini. Karena memang demikianlah keadaan mereka di dunia. Dan manusia dibangkitkan sesuai dengan keadaan hatinya. Kebodohan juga salah satu sifat dari sifat-sifat penduduk neraka sebagaimana Allah menyatakan dalam surat Al-A’raf: 179

“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka punya hati tapi tidak digunakan untuk melihat dan mereka punya telinga tapi tapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan tentang sifat-sifat penduduk neraka jahanam yaitu orang-orang yang tidak memperoleh ilmu karena tidak mau menggunakan sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu yaitu: akal, pendengaran, dan pengelihatan sehingga mereka menjadi orang-orang yang bodoh.

Ini semua adalah menunjukkan tentang jeleknya kebodohan itu dan tercelanya, orang yang jahil di dunia dan di akherat. Betapa bahayanya dan mengerikannya kalau kebodohan itu menimpa seseorang, dia akan menerima akibatnya yang membinasakannya.

Padahal kalau kita melihat keadaan kaum muslimin sekarang ini yang ada di sekitar kita, sungguh mereka telah dilanda penyakit yang mengerikan ini. Kalau kita tahu sedikit saja tentang agama ini dan berusaha untuk mengamalkan maka kita akan tahu kenyataan yang menyedihkan, kebodohan telah merata baik secara individu, keluarga, masyarakat dan negara. Namun mereka tidak merasa kalau mereka sedang dijangkit penyakit berbahaya yang akan membinasakan dirinya. Mereka tertawa dan terlena dengan kegemilangan dunia, tidak sadar kalau mereka di atas kesesatan bahkan di dalam kekafiran, kebidahan dan kemaksiatan.

Namun karena kebodohan, mereka tidak merasa, bahkan merasa di atas kebenaran dan ketaatan. Tatkala disampaikan Al-Haq, mereka merasa resah dan tertuduh sesat. Kenyataan ini melanda mayoritas kaum muslim, orang mudanya, orang tuanya, rakyatnya dan pimpinannya. Sungguh menyedihkan kenyataan ini.

Maka bagaimana kalau hal ini terus berlarut-larut dibiarkan ?

Semoga tulisan singkat ini menjadikan peringatan bagi kita semua, sehingga kita semua tersadar untuk merubah keadaan yang berbahaya dan mengerikan ini untuk kemudian untuk meraih kehidupan yang diridloi oleh Allah Taala yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, di dunia maupun di akherat. Dan keadaan seperti ini tidak akan ada jalan lain untuk merubahnya kecuali dengan bekal ilmu yang bermanfaat. Karena kebodohan adalah penyakit hati yang tidak ada obatnya kecuali dengan ilmu. Sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam :

“Tidak lain obatnya kebodohan selain bertanya”

(HR. Ibnu Majjah, Ahmad dan yang lainnya).

Oleh karena inilah Allah menamakan Al-Quran sebagai obat bagi segala penyakit hati. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Yunus: 57

“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Karena inilah kedudukan ulama seperti dokter, yakni dokter hati. Maka butuhnya hati terhadap ilmu seperti butuhnya nafas terhadap udara bahkan lebih besar.

Ilmu itu bagi hati laksan air bagi ikan, apabila hilang air maka matilah ikan.

Jadi kedudukan ilmu bagi hati laksana cahaya bagi mata, laksana mendengarnya telinga terhadap ucapan lisan, apabila semua ini hilang maka hati itu laksana mata yang buta, telinga yang tuli dan lisan yang bisu.

Wallahu taala a’lam

abu farros ‘memet’





Personal Branding?

3 04 2007

Sebagian dari kita masih asing [mungkin] dengan istilah diatas, dan apa hubungannya dengan marketing bagi diri sendiri?

Di era branding saat ini, kita pun sudah perlu sekali untuk dibungkus oleh brand.

Ada banyak keuntungan yang kita dapatkan jika kita sukses membangun personal branding, bukan hanya dalam rangka mendapatkan kesempatan karir, namun juga sebagai penunjang pergaulan.

Mengapa Perlu Personal Branding?

Banyak orang berpendapat, bahwa kunci sukses seseorang bukanlah semata pada kemampuan intelektual tapi juga EQ-nya. ketika diterjemahkan dalam praktek, maka menjadi kemampuan kita dalam menjalin relasi atau networking.

Nah itulah salah satu kunci sukses.

Jika kita konsisten dengan brand atau image yang kita tampilkan kepada relasi, niscaya orang lain lebih mengenal kita dan kita akan mudah dikenal orang

Ok Sukses selalu

Respectfully yours,

Jerri Irgo