Prinsip Kualatisme dalam Bisnis

3 04 2007

Esmet Untung Mardiyatmo, LPP Kampus Yogyakarta

Untuk menjelaskan fenomena kuwalat (bahasa jawa) atau kawalat (bahasa Sunda) atau prinsip siapa menanam akan menuai, saya lebih suka menggunakan anekdot. Selain membuat konsep sulit menjadi terasa sederhana dan mudah, sifat anekdot yang sarat humor biasanya membuat orang tertawa. Selain itu anekdot bisa membumikan sebuah konsep atau teori. Dan karena sifatnya yang ringan justru mudah diingat orang. Sayang karena kelucuannya sering anekdot mengalahkan makna yang dibalik cerita itu.

Begini ceriteranya. Hiduplah seorang suami isteri di kota besar. Secara lahiriah, keduanya tampak bahagia. Selain dikaruniai dua anak yang sudah beranjak dewasa, satu perempuan dan satu laki-laki, mereka adalah orang yang sukses di bidang masing-masing. Sang suami pada usianya yang 45 tahun, sudah menduduki posisi manajer menengah di sebuah perusahaan yang bonafid. Isterinya adalah seorang –pegawai negeri yang dipercaya sebagai seorang pimpinan proyek yang tentu saja tempat yang basah.Banyak ceperan atau bledugnya, kata sementara banyak orang. Keduanya sama-sama sibuk. Sang bapak pergi ke kantor dengan menyetiri sendiri mobilnya yang kinclong. Sementara sang isteri ke kantor dengan diantar sopir keluarga dengan mobil Honda Accordnya.Mereka meninggalkan rumah pada pagi hari dan pulang ketika petang sudah menjelang.

Muncullah riak- riak kecil dalam keluarga itu sejak direkrutnya seorang pembantu yang cukup rupawan dari pedalaman. Pembantu yang punya bakat jadi pembandu ndoromas. Artinya kalau ada isteri dan anak-anak, dia menyebut ndoro, dan bila tidak ada bisa menyebut mas kepada tuannya. Sang bapak tergiur. Saat kedua anaknya ke sekolah dan sang isteri ke kantor, ia diam-diam pulang ke rumah. Yang terjadi kemudian lebih baik tidak usah diceriterakan di sini. Singkatnya, telah terjadi perselingkuhan antara tuan dan pembantunya.

Penasaran ingin mengetahui seberapa besar cintanya sang Bapak akhirnya pembantu itu mengajukan pertanyaan, “Terus terang saja ya pak, sebenarnya hot mana sih saya dibanding ibu?”.Sang Bapak menjawab,” Ya jelas hot kamu tho Yem. Kamu kan jauh lebih muda dari pada ibu. Kamu juga lebih asli, hanya sedikit polesan. Kalau si ibu kan sudah banyak dempulannya di sana- sini. “

“ Tapi… mohon maaf ya pak. Kata pak sopir, ibu itu lebih hot daripada saya,” ujar pembantu polos.

Sang bapak menjadi cukup shock dan stress. Ternyata skornya fifty-fifty melawan isterinya. Dalam hal yang satu itu iapun ternyata kalah dengan sang sopir keluarga itu. Biasanya setelah saya selesai menceriterakan anekdot itu kelas menjadi riuh rendah. Banyak orang tertawa karena akhir cerita yang begitu tak terduga dan tiba-tiba. Tetapi bukanlah maksud saya yang sebenarnya untuk membuat mereka tertawa.

Ada makna yang cukup baik dalam peristiwa perselingkuhan di atas. Sang bapak telah berselingkuh. Eeee….. ternyata sang isteri juga berselingkuh. Inilah yang dinamakan kuwalat. Orang berbuat jelek akan mendapat balasan yang jelek pula. Covey dalam bukunya the Seven Habits of Highly Effective People menyebut sebagai prinsip Siapa menanam akan menuai. Barang siapa berbuat baik, kelak akan memperoleh kebaikan pula. Khasanah budaya Jawa kita telah lebih dahulu mengenal ungkapan Sapa nandur bakal ngunduh atau Sapa ngawe bakal nganggo ( Siapa membuat kelak dia akan mengenakannya). Prinsip seperti ini sebenarnya sudah menjadi hukum Tuhan (sunnatulloh).Dan hukum Tuhan tidak bisa dipungkiri. Kalau anda menanam mangga tentu akan berbuah mangga – tak mungkin berbuah jeruk. Sebaliknya kalau anda menanam jeruk tak mungkin berbuah mangga. Dunia memang diatur sempurna oleh Nya.

Perjalanan bisnis pun demikian pula. Keberhasilan bisnis tak mungkin terjadi demikian saja. Ia perlu proses. Seperti halnya tanaman dan organisme hidup lainnya, organisasi mengalami proses seperti organisme pada umumnya. Berkembang atau matinya organisasi sangat tergantung pula bagaimana organisasi tersebut memelihara dirinya sendiri dan bagaimana organisasi tersebut mendapatkan akibat dari perbuatan atau tindakannya.

Organiswasi yang dipenuhi dengan kebohongan, kelicikan, keserakahan, kedzaliman tak akan survive dalam kurun waktu yang panjang. Contohnya cukup banyak. Organisasi tersebut hancur karena melanggar prinsip-prinsip agung sang Maha Pencipta. Di Indonesia ada Bank Harapan Santosa, PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) di Sukabumi, yang runtuh karena kuwalat. Di tingkat dunia terdapat Enron, Woldcom, Tyco, Arthur Andersen yang rontok dan mendapat hukuman dari yang Maha Kuasa. Padahal kita tahu bahwa perusahaan seperti Enron pada tahun 2001 saja masih tercatat sebagai perusahaan pencetak laba no. 6 di Amerika Serikat.

Kasus QSAR jelas. Pimpinan perusahaan itu Ramly Araby telah menipu banyak orang. Untuk mendapatkan citra yang baik di mata publik ia telah menipu banyak investor, dengan mengundang orang-orang tenar untuk berkunjung di perusahaan agribisnisnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa orang-orang yang menginvestasikan uangnya di PT QSAR adalah mereka yang kuwalat pula. Mereka mungkin dihinggapi semacam keserakahan untuk mendapatkan margin yang sebesar-besarnya, sehingga terlena oleh rayuan. Bayangkan pada usaha agrobisnis yang biasanya returnnya rendah, mereka tergiur dengan iming-iming Ramly Araby yang berjanji memberi return lebih dari 30 %. Pada awalnya return diberikan sesuai kesepakatan. Tetapi lama kelamaan janji tinggal janji. Para investor menuntut dan akhirnya Ramly Araby harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di Penjara. Ia telah kuwalat. Tuhan tidak membiarkan umat menipu dan mengelabuhi umat lainnya.

Hal yang lebih melegenda, adalah kasus Enron dan Arthur Andersen. Dunia terkesima saat Enron mencatatkan dirinya sebagai perusahaan no. 7 terbesar di Amerika Serikat. Perusahaannya ada di mana-mana. Sumbangan pada keselamatan lingkungan juga cukup besar. Tetapi kemudian sejarah mencatat bahwa itu hanya kamuflase saja, untuk menutupi keborokan-kebobrokan yang terjadi di dalamnya. Dengan akal-akalan para pimpinan perusahaan berhasil meningkatkan harga sahamnya. Sehingga orang awam berebut membeli saham perusahaan ini. Namun begitu publik tahu kecurangan kecurangan yang terjadi. Akibatnya, harga saham yang semula berharga sekitar USD 30.00 dalam beberapa hari terus anjlog sampai nilai nol. Dan tamatlah riwayat Enron. Enron telah kuwalat mengkhianati trust (kepercayaan) para stakeholdernya. Sekali perusahaan kehilangan kepercayaan, hampir dipastikan, perusahaan tersebut akan ditinggalkan kastemernya.

Kalau kita berkaca ke masa lalu, maka kitapun bisa mencari jawaban kepada permasalahan gula kita sekarang ini. Kemalangan yang membuat gula…. gepan (susah bernapas), sebenarnya bermula dari ketidakpercayaan para stakeholder perusahaan gula kita. Karena petani tidak lagi percaya kepada kita, maka mereka jadi enggan menanam tebu. Keenggaanan mereka menanam tebu membuat target pasokan tebu tak tercapai. Biaya jadi tinggi dan akhirnya Pabrik Gula Merugi.

Keengganan petani menanam tebu di wilayah Jawa Tengah misalnya, tak bisa terlepas dari perbuatan kita di masa lalu. Beberapa PG pun rontok dan tidak beroperasi lagi.Kita tentu masih ingat ketika PG sedang jaya-jayanya, ketika PG masih mengalami jaman kencana rukminya. Sebelum UU tentang budidaya tanaman tahun 1992 diberlakukan, bukankah petani bisa dipaksa untuk tanam tebu. Penghasilan dari tebu jauh dibandingkan dengan budidaya tanaman lain seperti padi. Petani merasa dizalimi. Tetapi karena mereka takut dengan represi pemerintah, takut dicap sebagai pembangkang, PKI dsb, secara lahiriah mereka pun menurut; tetapi dalam hati mereka tidak merelakannya. Padahal kita tahu bahwa doa orang yang tertindas itu sangat mujarab. Kita telah kuwalat. Pohon kebaikan berbuah kebaikan dan pohon kejahatan akan berbuah kejahatan. Itu telah menjadi sabda alam.

Bila kita melihat hamparan tanaman tebu di lahan sawah, kok kemudian batangnya kecil- kecil, mestinya kita selalu bertanya apanya yang salah. Karena bagaimanapun juga potensi tebu untuk tumbuh lebih besar daripada rumput gajah. Kalau akhirnya pertumbuhan tebu hanya sebesar rumput gajah, kita sebenarnya tahu apa yang kita lakukan kepada tanaman tebu. Tak usah heran bila kemudian jumlah kuintal tebu per hektar, hablur per hektar, rendemen yang diperoleh juga jauh dari harapan. Kesalahan tentu bukan pada tebunya. Meskipun memang ada tebu yang berpotensi produksi tinggi dan berproduksi sebaliknya. Kalau demikian halnya, tentu ada kesalahan pada proses pembuatan atau pengembangan tanaman tebu. Mungkin ia tidak ditanam dan dipelihara dengan benar. Mungkin tebu tersebut kurang diperhatikan, kurang perawatan, kurang diberi pupuk, tidak dijaga kesehatannya dan sebagainya. Hukum alam dan sabda alam itu jelas. Siapa menamam kebaikan akan memperoleh kebaikan. Kalau produksi tebu turun, tentu saja disebabkan karena kita tidak menamam kebaikan terhadap tanaman tersebut.

Bila yang terjadi kemudian adalah tanaman yang kurus, sakit-sakitan dan kurang menghasilkan tentu disebabkan kekurangseriusan kita dalam memelihara. Bila kemudian secara administratif telah dikeluarkan berbagai biaya untuk perawatan dan pemupukan serta tanaman tetap saja kurus kecil- kecil, tentu ada factor ketidakjujuran yang berperan. Bagaimana mungkin kita bisa menghasilkan panen yang berlimpah, sementara kita tidak memberikan yang terbaik buat tanaman. Tanaman tak mungkin berdusta. Manusialah yang berdusta. Tak mungkin tanaman bisa berkata,” Saya sudah dirawat dengan baik”. Ia juga tak mungkin mengumpat umpat kepada kita karena segala kebutuhannya tidak kita berikan. Hukum alam sebenarnya sangat sederhana dan mudah dipahami. Apa yang kita lakukan dan berikan kepada tanaman tebu sebenarnya dengan sangat mudah dapat kita ketahui. Kalau kita memberi perhatian yang cukup, memenuhi kebutuhan mereka akan makanan dan unsur hara lainnya dan memeliharanya dengan sepenuh hati, saya yakin tentu tak akan ada tanaman tebu yang batang-batangnya kelewat kecil. Tak ada hamparan tebu dengan jumlah tegakan tebu per hektar yang rendah, juga tak ada ceriteranya lahan tebu di tanah sawah dengan produktivitas yang sangat rendah. Jauh lebih rendah dari potensinya. Kita sebagai orang pergulaan tak bisa menyalahkan tanaman. Kitalah yang bersalah. Tebu , seperti makluk hidup ciptaaan Tuhan yang lain selalu mengkuti hukum alam. Kalau kita telah memberikan yang terbaik, tebu tentu akan memberikan yang terbaik pula. Bukankah siapa menanam akan menuai. Siapa berbuat akan bertanggung- jawab?

Tidak akan bijaksana ,bila kita habiskan waktu kita untuk menyalahkan masa lalu kita. Yang sudah ya biarlah berlalu. Biarlah itu semua sebagai catatan sejarah di hati kita masing masing. Untuk memperoleh kembali kepercayaan petani yang menipis akhir- akhir ini kita perlu menyetor kebaikan- kebaikan kepada mereka. Kita harus mempunyai tabungan yang berupa rekening bank emosi yang cukup terhadap mereka. Caranya tentu saja dengan berbuat baik, menghormati, mendorong, berlaku ramah tamah, rendah hati, menepati janji, memenuhi harapan mereka, bertindak jujur, meminta maaf dengan segera bila kita salah dsb. Dengan penyetoran rekening bank emosi, maka pelan- pelan kepercayaan petani pasti akan kembali. Komunikasi dengan petani tentu akan menjadi lebih baik dan lebih efektif. Sebaliknya, kita perlu menghindari perbuatan-perbuatan yang mengikis kepercayaan seperti ingkar janji, tidak sopan, angkuh, tidak jujur, pengkhianatan dan lain lain.

Hal ini memang mudah diucapkan. Tetapi pada tahap implementasinya perlu kejujuran, kerendahan hati dan sifat melayani yang luar biasa. Demikian pula sebaiknya tindakan kita pada tanaman tebu, apabila kita ingin mereka membalas perbuatan baik kita. Bukankah tanaman tak pernah berdusta! Manusialah yang berdosa.

 


Actions

Information

One response

3 04 2007
KIT

Manusia modern, pada umumnya mengandalkan diri sendiri, mengandalkan prestasi dan kemampuan diri, mengandalkan amaliyahnya dalam soal ruhani dan spiritualnya, mengandalkan nama besar dan masa lalunya. Begitu berbuat salah, ia terpuruk dalam pesimisme terhadap rahmat Allah, dan bahkan harapannya kepada Allah surut seketika, karena kesalahan dan dosa dianggapnya sebagai ancaman terbesar atas kecelakaan dunia akhiratnya.
Ia seperti terancam masa depannya, rizkinya, pengkabulan doanya, bahkan merasa terancam ketika kesalahan dan dosanya diketahui oleh sesama. Inil semua gara-gara mereka lebih suka mengatur Tuhannya dibanding diatur oleh Allah. Ia lebih memilih seleranya dibanding Kehendak Allah. Mereka lebih bergembira jika sukses itu sebagai bentuk keridloan Allah, dan gagal itu sebagai takdir ketidak relaan Allah padanya. Mereka bahkan menganggap ambisinya sama dengan kehendak Allah.
Saya sadur ini dari M.Luqman Hakim semoga dapat menjadi pembelajaran kita semua, Thanks pa EUM, always KIT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: