Bekerja sebagai Freelance Consultant

3 04 2007

Dari dulu telah dikenal berbagai peluang bisnis dalam bidang konsultan. Di luar negeri, hal ini sudah tidak asing lagi. Bahkan beberapa konsultan kelas dunia termasuk yang beromset amat besar.

Majalah SWA pada waktu meriset tentang peluang bisnis di masa krisis, beberapa tahun yang lalu pernah menyebutkan setidaknya ada 18 peluang bisnis yang baik dalam masa krisis, dan salah satunya adalah bekerja sebagai konsultan. Lebih lanjut, majalah tersebut mengungkapkan bahwa untuk membuka bisnis konsultansi dibutuhkan modal Rp. 15 juta sampai dengan Rp. 100 juta, dan diperkirakan omzetnya Rp. 50 juta sampai dengan Rp. 200 juta per bulan dengan tingkat laba 60% sampai dengan 70%. Peluang untuk bisnis ini masih besar terutama untuk konsultan sumber daya manusia, ekspor-impor, dan agrobisnis. Uang yang beredar pada bisnis ini saat ini diperkirakan Rp. 3,75 miliar. Menarik bukan?

Namun demikian, apa yang dipaparkan oleh majalah tersebut adalah peluang bisnis konsultansi dengan mendirikan semacam consulting firm, dengan tenaga kerja berkisar 5 sampai 25 orang. Bagaimana jika tidak memiliki modal sejumlah yang diungkapkan di atas? Di sinilah kreativitas mulai berbicara dengan mencari berbagai alternatif. Alternatifnya adalah, mengapa tidak mencoba bekerja sebagai konsultan lepas atau sangat dikenal dengan istilah freelance consultant? Pada saat saya akan mengikuti program Magister Manajemen Eksekutif di Sekolah Tinggi Manajemen PPM, saya memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai seorang staf konsultan pada sebuah consulting firm yang cukup ternama di Jakarta. Saat itulah saya mencoba untuk bekerja sebagai freelance consultant dan ternyata tidak sukses, dan akhirnya setahun kemudian bergabung dengan Lembaga Manajemen PPM sebagai staf profesional. Nah, belajar dari ketidak-suksesan tersebut, saya mencoba untuk berbagi pengalaman dan pendapat dengan para pembaca.Apakah freelance consultant atau konsultan lepas? Mungkin inilah yang sering diplesetkan sebagai "gelandangan intelektual", bahkan ada pendapat yang lebih nyeleneh yang mengatakan seorang freelance consultant adalah seseorang yang dirinya merasa tahu segalanya tetapi tidak diterima bekerja di mana pun. Baiklah, kita tinggalkan semua pendapat "miring" tersebut. Marilah kita lihat kemungkinan serta hal-hal yang harus diperhatikan jika ingin bekerja sebagai freelance consultant. Freelance consultant secara definisi adalah konsultan yang bekerja sendiri dan tidak berafiliasi dengan consulting firm mana pun. Keadaannya mirip dengan dokter yang membuka praktek sendiri, tidak berafiliasi dengan rumah sakit tertentu, dan juga tidak bermitra dengan dokter-dokter yang lain untuk membuka praktek bersama.

Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa tidak begitu mudah untuk menjadi seorang freelance consultant, dan bahkan risiko untuk gagal juga besar. Tetapi jika tetap ingin mencoba, tidak ada salahnya untuk memperhatikan beberapa hal berikut ini.

Pertama, tentu harus profesional. Kami di Lembaga Manajemen PPM sering menggunakan definisi yang diberikan oleh International Labour Office (ILO) mengenai konsultansi manajemen. Nah, dengan sedikit modifikasi dan generalisasi, maka definisi konsultan secara umum adalah seseorang yang yang memiliki kualifikasi tertentu di bidang keahliannya, mampu mengidentifikasi dan menginvestigasi persoalan yang muncul pada kliennya sesuai dengan bidang keahliannya, mampu merekomendasikan berbagai tindakan yang relevan, serta mampu membantu klien mengimplementasikan rekomendasi tersebut. Kualifikasi tersebut akan lebih baik lagi jika dibuktikan dengan memiliki sertifikasi keahlian tertentu, seperti Certified Microsoft Engineer di bidang komputer, Sertifikasi Akuntan Publik yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, dan berbagai jenis sertifikasi lainnya.

Walaupun demikian, yang terpenting bukanlah sertifikasi tersebut, melainkan keahlian dan sikap profesional. Sikap profesional juga berarti menjaga komitmen dengan waktu, menjaga rahasia klien, menjaga hubungan baik, memahami ruang lingkup dan beban kerja yang diberikan, dan sebagainya.

Kedua, tentukanlah secara jelas, jasa apa yang dapat diberikan. Seorang freelance consultant tidak mungkin mengatakan kepada calon klien bahwa dia adalah konsultan di semua bidang. Jasa yang ditawarkan harus spesifik dan jelas seperti menyusun system akuntansi untuk perusahaan, mengembangkan perangkat lunak komputer, membuat suatu studi kelayakan, dan sebagainya. Tentu saja seorang freelance consultant dapat menawarkan lebih dari satu jenis jasa layanan konsultansi selama hal tersebut berada dalam satu rumpun keahlian yang dikuasainya. Ingatlah, seorang freelance consultant akan bekerja sendiri dan tidak ada dukungan dari rekan-rekan kerja yang lain yang berbeda keahlian. Inilah yang membedakan antara freelance consultant dengan konsultan yang berafiliasi dengan sebuah consulting firm.

Ketiga, tentukanlah secara jelas, siapa yang bakal menggunakan jasa konsultansi yang diberikan. Apakah perusahaan besar, perusahaan kecil, organisasi sosial, lembaga swadaya masyarakat, perorangan, dan sebagainya, serta perusahaan-perusahaan dalam industri apa. Ini perlu dilakukan oleh seorang freelance consultant supaya dapat mempromosikan dirinya secara fokus. Tentu saja seorang freelance consultant dapat mentargetkan lebih dari satu segmen pengguna jasa, tetapi yang terpenting adalah, seorang konsultan harus mengetahui dengan persis bisnis atau kegiatan si kliennya.

Keempat, membangun dan menjaga jejaring (network) dengan berbagai pihak. Mirip dengan seorang dokter, seorang konsultan akan dikenal oleh kliennya karena keahliannya. Seorang dokter yang ahli akan secara tidak sengaja dipromosikan dan direkomendasikan oleh para pasiennya sendiri kepada berbagai pihak lain. Demikian pula seorang konsultan yang handal, promosi dan rekomendasi yang demikian jauh lebih efektif daripada memasang iklan di media massa. Untuk dapat mencapai hal itu, seorang freelance consultant wajib hukumnya untuk membangun dan menjaga jejaring dengan berbagai pihak. Membangun jejaring ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain
dengan mengikuti seminar, menulis artikel di media massa, menjadi anggota asosiasi profesi, menjadi anggota suatu perkumpulan hobi, mengikuti mailing list atau newsgroup di internet, dan sebagainya. Proyek-proyek konsultansi sering diperoleh dari kegiatan-kegiatan di atas. Yang perlu diperhatikan adalah, seorang freelance consultant
tidak memiliki customer service serta public relations yang mendukungnya. Hampir semuanya dikerjakan sendiri.

Kelima, tentukanlah tarif dengan cermat. Tarif seorang freelance consultant tidak mungkin lebih tinggi daripada tarif yang ditetapkan oleh consulting firm untuk jenis dan beban penugasan yang sama. Malahan, tarif sering menjadi senjata para freelance consultant bila harus berhadapan dengan konsultan yang berafiliasi dengan sebuah consulting firm saat bersaing untuk mendapatkan klien, terutama yang masih price sensitive.

Keenam, siapkan senjata utama promosi, yaitu kartu nama. Mengapa? Seperti yang disinggung sebelumnya, seorang freelance consultant tidak memiliki customer service atau public relations yang mendukungnya, sehingga dia harus mempromosikan dirinya sendiri pada setiap kesempatan seperti seminar, asosiasi profesi, bahkan dalam suasana santai seperti ngobrol di kafe dan sebagainya. Dengan demikian, kartu nama adalah senjata utama. Nah, dengan demikian kartu nama harus representatif, informatif, dan dirancang supaya menarik untuk dilihat. Memang ada pepatah yang mengatakan jangan menilai suatu buku dari kulitnya, tetapi di sisi lain sering orang justru melihat penampilan fisik terlebih dahulu dalam memilih jodoh. Jadi, penampilan tetap harus diperhatikan, termasuk penampilan kartu nama.

Ketujuh dan terakhir, kelihatannya sepele, tetapi sangat penting, yaitu siapkan fasilitas untuk kontak. Fasilitas untuk kontak ini harus dapat segera dihubungi seperti handphone, e-mail, dan sebagainya. Telepon rumah? Boleh juga, asalkan dilengkapi dengan mesin penjawab yang mampu menyimpan pesan. Calon klien akan frustrasi jika tidak dapat mengontak si konsultan dalam waktu cepat, dan dampaknya proyek pun melayang, dan reputasi pun menurun.

Nah, apakah Anda tertantang untuk bekerja sebagai freelance consultant ? Jika jawabannya ya, silakan memperhatikan tujuh hal yang diungkapkan dalam artikel ini. Semoga sukses. Salam.

kiriman memet
Sumber

Riri Satria, S.Komp. MM Staf Pengajar – Sekolah Tinggi Manajemen PPM; Staf Profesional – Lembaga Manajemen PPM; Konsultan – PT. Binaman Utama


Actions

Information

6 responses

10 10 2007
rAIzIDaN

Menarik !,
tapi biasanya perusahaan lebih memilih berhubungan dengan consulting firm yang jelas bentuk usaha dan manajemennya dari pada berurusan dengan perorangan/freelance, itu tantangan yang perlu dicari jalan keluarnya. Kalau freelance consultant dijadikan sebagai side-job dari professional yang masih bekerja ada “saksi hidup” atau “pelaku” yang mau sharing?

15 10 2007
Riri Satria

Wah, ternyata saya nemu tulisan ku di sini … terima kasih karena telah memuatnya di sini .. well, tulisan di atas saya buat pada tahun 1999, wow, 8 tahun yang lalu …

Pengalaman saya menunjukkan bahwa sebenarnya profesi freelance consultant ini sangat ditakuti oleh para consulting firm besar, dengan syarat para freelance consultant ini memiliki kompetensi yang memadai serta network yang luas. Jika ada proyek yang besar, mereka bisa membangun network yang kuat dan melakukan aliansi sesama freelance consultant. Konsep seperti ini sudah menjadi trend di dunia konsultansi saat ini.

Pada tahun 2005, saya mulai menjalankan apa yang saya tulis itu dan menjadi freelance consultant. Jujur saya, saya tidak kekurangan proyek konsultansi deh … bahkan sok banget nolak-nolak beberapa … Dan akhirnya bersama beberapa freelancer yang lain, tahun ini kami membangun consulting firm sendiri, kecil aja, tapi lumayan kok … he he he …

So guys, the market is there … nah, tergantung kita lah selanjutnya …

Salam sukses selalu
Riri ( http://www.ririsatria.net )

1 03 2008
erik

ternyata bekerja sebagai freence consultan susah-susah gampang.. menarik penuh tantangan.. aq jg baru blajar bisnis di internet dan stelah bmbaca artikel ini smakin terbuka wawasanku tentang peluang2 yang ada

23 12 2009
yudi

terima kasih atas artikel yang di tulis ini,karena saya jadi lebih memahami arti dari freeland consultan,saat ini saya salah satu freeland consultan untuk F&B dan alhamdullilah saya sudah lumayan banyak project yang sudah saya tangani,walaupun hanya sekelas cafe/coffee shop dan semua itu benar2 saya jalani sendiri dari A – Z dan sampai saat ini semua clien saya puas.

12 10 2010
siti saadah

wah memang menyenangkan baru denger aja udah seru asyik banget dech

24 05 2011
hafiz

bagus ni infonya ,makasih ,ni ada lagi banyak mengenai freelance ,odesk juga termasuk di sini , kunjungi http://design-programming.blogspot.com untuk mengetahui tentang freelance, desainer maupun programmer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: