Brainteaser & Dynamic

5 04 2007

Orang Jepang suka sekali makan ikan segar (sushi). Ikan segar dari laut ini betul-betul segar, dan dimakan mentah-mentah. Tetapi kehidupan industrial perkotaan Jepang yang super-super sibuk menjadikan mencari ikan segar yang betul-betul segar sangatlah langka. Kalaupun ada ikan laut, biasanya sudah mati dan dieskan. Sehingga tidak segar lagi. Sebuah toko ikan berusaha menyajikan ikan segar dengan akuarium dengan isi air laut, sehingga ikan tetap hidup… tapi air menggenang dalam akuarium yang terbatas, menjadikan ikan kurang segar juga.

Kapal-kapal penangkap ikan akhirnya berusaha membuat kolam di dalam kapal dan membawa air di dalamnya, dan bukan es. Alhasil ikan tangkapan tetap hidup hingga dibawa ke darat, dan ditempatkan dalam akuarium-akuarium untuk dijual hidup-hidup. Tetapi seperti dikatakan di depan, kenyataan air yang menggenang menjadikan kesegaran ikan berkurang. Berbeda dengan air laut itu sendiri… yang segar dan selalu dinamis, bergerak bergelombang pindah dari sisi satu ke sisi yang lain, dari tekanan kuat ke tekanan rendah, berputar-putar, terkena matahari dan kadang terkena rembulan, terkadang pasang terkadang surut. Air laut yang dinamis menjadikan ikan yang tinggal di dalamnya tetap segar. Ikan segar inilah yang menjadi santapan sushi paling lezat dan bergizi protein sangat-sangat tinggi.

Tetapi semakin hari ikan segar semakin langka… karena setelah ditangkap dari laut dia harus mati dan dieskan. Kalaupun hidup… dia kehilangan dinamitas dan kesegaran. Di antara teman pernah mengalami atau mendengar cerita ini. Saya ingin bertanya pada teman-tema, bagaimana jika anda menjadi penangkap ikan dan ingin menyajikan ikan yang paling segar untuk warga Jepang… atau warga Indonesia… Kira-kira kiat apa yang akan anda lakukan untuk menyajikan ikan sushi paling segar dan berprotein tinggi. Saya tunggu!

Anam


Actions

Information

5 responses

5 04 2007
Ed Canela

Wow…terima kasih…harap satu artikel baru per bulan…ayuh mari kita kontribusi supaya kita bisa mengompulkan satu koleksi. Makasi!!!!

6 04 2007
memetjogja

Maka beberapa perusahaan perikanan Jepang memasang tangki-tangki penyimpanan ikan pada kapal-kapal mereka. Para nelayan akan menangkap ikan dan langsung menjejalkan ikan dalam tangki-tangki, sehingga ikan-ikan hasil tangkapan mereka saling berhimpitan, saling bertabrakan, setelah kelelahan dan lemas ikan-ikan tersebut akhirnya berhenti bergerak walaupun tetap hidup. Namun orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya. Karena ikan-ikan itu tidak bergerak selama beberapa hari sehingga menghilangkan rasa ikan segarnya, orang Jepang menghendaki rasa ikan yang lincah bukan ikan yang kelelahan dan lemas.
Bagaimana perusahaan perikanan Jepang mengatasi masalah ini ?
Bagaimana mereka membawa ikan-ikan segar ke Jepang ?
Jika kita menjadi konsultan pada perusahaan perikanan Jepang, apa yang akan kita rekomendasikan kapada mereka ?
Hal yang sama dapat kita lihat dalam kehidupan kita. Begitu kita mencapai tujuan-tujuan kita seperti mendapatkan jodoh, memulai perusahan yang kecil kemudian sukses dan menjadi perusahaan yang besar, mendapatkan IPK tinggi atau bahkan mendapat gelar cum laude dan sebagainya. Kita dapat kehilangan gairah untuk terus maju. Kita tak perlu lagi bekerja keras karena tujuan kita telah tercapai. Sama seperti para pemenang lotre yang sibuk menghabiskan uang mereka, pewaris kekayaan yang tidak pernah tumbuh dewasa karena mereka berpikir buat apa bekerja keras, “ toh…. dari lahir gue udah kaya raya”, dan para ibu rumah tangga yang kecanduan obat-obatan resep makanan sehingga tak pernah mencoba resepnya sendiri.
Seperti masalah ikan di Jepang tadi, solusi terbaiknya adalah “SEDERHANA”. Orang yang berkembang anehnya hanya terjadi dalam kondisi lingkungan yang menantang. Keuntungan dari sebuah tantangan adalah semakin cerdas, tabah, lincah dan kompeten dalam diri kita. Semakin kita menikmati masalah yang rumit dan terus berusaha menaklukkan tantangan tersebut, kita akan memikirkan tantangan-tantangan tersebut dan merasa sangat bersemangat. Kita tertarik untuk mencoba dan menemukan solusi-solusi baru, jika itu berhasil maka kita akan menemukan kabahagian dan menunggu tantangan berikutnya, itulah HIDUP.
Kembali ke permasalahan, Bagaimana perusahaan perikanan menyedikan ikan yang tetap segar ?
Untuk menjaga agar rasa ikan tersebut tetap segar, perusahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan-ikan tangkapannya dalan tangki. Tetapi mereka kini memasukan seekor ikan hiu yang berukuran kecil ke dalam tangki-tangki penyimpanan ikan, Memang ikan hiu itu memburu dan mamakan ikan hasil tangkapan mereka dengan prosentase yang kecil, tetapi kebanyakan ikan sampai ke daratan Jepang dalam kondisi yang “SANGAT HIDUP”, dikarenakan ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan itu terus bergerak untuk menghindari dari perburuan ikan hiu. Ikan-ikan itu terus TERTANTANG!!!.
Untuk sekedar renungan, janganlah kita menghindari tantangan. Melompatlah ke dalamnya dan taklukkan. Nikmati permainanya, jika tantangan kita terlalu besar, rumit, dan banyak, jangan pernah menyerah. Kegagalan jangan sampai membuat kita lelah karena kagagalan adalah awal dari kesuksesan. Kita atur kembali strategi. Pahami permasalahan. Temukan lebih banyak kateguhan, pengetahuan dan bantuan. Jika kita mencapai tujuan kita, rencanakan tujuanyang lebih besar lagi. Jangan pernah ciptakan kesuksesan dan kita tertidur di dalamnya. Kita memiliki sumber daya, keahlian, dan kemampuan untuk membuat perubahan, drngan niat luhur dan iklas, kita maksimalkan seluruh potensi yang kita miliki dan yang ada disekitar kita

21 05 2007
kit

Setuju pak Memet, kita hanyalah musafir, untuk pulang. “Ngolek padange dalan balik.”

22 05 2007
anam

jazakallah… emang pertanyaannya tuh mancing aja. jadi oke deh

28 05 2007
KIT

Kamis, 08 Februari 2007
Oleh : Paulus Bambang W.S.
Pemenang dan Pecundang

Akhir tahun sering dipenuhi dengan perasaan waswas. Penilaian kinerja segera dilaksanakan. Bagai palu godam, hasilnya hendak meluluhlantakkan si pecundang. Jangankan bonus yang cukup untuk tamasya ke mancanegara, untuk ongkos fiskalnya pun kadang tak mencukupi. Sebaliknya, bagi pemenang, selain bonus besar, juga jaminan kenaikan gaji yang lumayan di tahun depan. Ini adalah siklus yang terus terjadi tahun demi tahun. Tak ada hal yang baru. Namun kenyataannya, gejolaknya masih dirasakan dramatis bagi banyak orang.

Si pecundang akan memainkan trik tertentu untuk memperoleh penilaian yang lebih besar dari yang seharusnya ia terima. Beribu alasan dan excuse terus dilontarkan. Industri sedang meradang, kompetisi bertambah berat, pesaing meluncurkan produk baru, prinsipal tidak mendukung, persaingan yang tak wajar, pesaing banting harga – itu adalah alasan basi yang terus dikumandangkan. Si pecundang selalu akan menunjuk hidung orang lain sebagai biang keladi kekalahan. Lagu kata ”andaikan” terus dimainkan. Andaikan bagian produksi meluncurkan produknya tahun ini; andaikan bagian keuangan menyetujui down payment split; andaikan bagian support melakukan factory campaign. Tunjuk hidung, bukan tunjuk dada. Kesalahan bukan ditudingkan pada dirinya sendiri.

Kalau pun 8 dari 10 target tidak tercapai, si pecundang masih bisa menunjukkan bahwa dua target itu sebenarnya sangat besar implikasinya dibandingkan dengan yang 8. Pecundang memang tak pernah lelah mengibarkan kesuksesannya, walaupun bagai setitik nila di antara sebelangga susu. Ia berusaha menjadi pemenang bagi dirinya sendiri. Sebuah penyangkalan fakta yang teramat naif.

Lain halnya dengan si pemenang, apalagi yang mendapat kategori istimewa, biasanya tak menduga mendapat predikat itu. Ia pikir biasa-biasa saja. Ia hanya berpikir yang terbaik saat ini. Kalau sang bos melihat ia memiliki prestasi prima, baginya itu sebuah pecutan untuk lari lebih cepat lagi. Penilaian akhir tahun adalah sebuah jeda bagi si pemenang untuk mengambil ancang-ancang etape berikutnya.

Piala akhir tahun yang ia peroleh, bonus dan kenaikan gaji atau promosi, selalu beriringan dengan prestasi seluruh anggota kelompoknya. Pemenang selalu dikelilingi oleh para juara. Ia tidak pemain tunggal yang berdiri sendiri di puncak. Melainkan, ia adalah pemain kelompok yang berada di belakang sebuah kelompok juara yang saling mendukung. Pemenang tidak pernah merasa kesepian seperti pecundang. Pemenang selalu berbagi tawa dengan kelompoknya. Pemenang memiliki pendukung pemenang juga, yang pada saatnya bakal menggantikannya sebagai pemenang baru.

Pemenang selalu merujuk pada rekan sekerja untuk menunjukkan pemenang sebenarnya. Tidak menunjuk pada dirinya sendiri. Atau meminjam teori kodok yang perlu menekan ke bawah supaya ia dapat terangkat tinggi. Hanya soal waktu, pemenang macam beginilah yang dapat bertahan. Sayangnya, banyak yang mengabaikan hukum alam ini.

Saya teringat pada sebuah cerita yang pernah saya kliping 8 tahun silam, ditulis oleh sahabat saya, Debora. Ia berujar tentang pemenang yang menang justru dalam sebuah kekalahan. Bukan menang tanpo ngasorake, melainkan menang tanpa sebuah kemenangan. Pemenang yang sejati bukan ditentukan oleh sebuah piala, atau rekor, atau medali fisik, melainkan ditentukan pula oleh sikapnya sebagai pemenang tatkala medali dan piala itu justru ia berikan kepada orang lain. Ia bisa dan mampu meraihnya, tetapi ia sadar bahwa medali ini sebaiknya diserahkan kepada orang lain agar mereka menikmati kemenangan. Ia sendiri larut dalam kenikmatan kemenangan orang lain.

Begini ceritanya. Kim Peek, seorang anak yang menderita kerusakan otak, ikut dalam lomba lari 50 meter di olimpiade khusus kaum cacat tahun 1968. Sebagai atlet yang mewakili negaranya, Kim berharap membawa pulang medali karena ia memiliki rekor lari dengan kursi roda yang fantastis. Ia menanti hari pertandingan dengan antusias persis seperti atlet normal lainnya.

Saat pertandingan tiba, Kim dan kedua peserta lain memasuki arena pertandingan yang kala itu sudah di babak final. Kim bergerak cepat mendahului kedua lawannya ketika pistol berbunyi tanda perlombaan dimulai. Dia berada 20 meter di depan dan 10 meter dari garis akhir pada saat ia mendengar bunyi benda yang tertubruk di belakangnya. Ia memperlambat laju kursi rodanya. Ia melihat ke belakang.

Ia melihat seorang lawannya, anak perempuan, terbentur dinding. Kursi rodanya berbalik arah dan ia kesulitan untuk mengembalikan ke arah semula. Kim melihat, peserta lainnya – anak laki-laki – berusaha mendorong kursi roda si anak perempuan untuk kembali pada arah yang tepat.

Kim berhenti. Lalu ia pun berbalik dan menolong si anak perempuan sehingga kembali seperti semula. Bukan hanya itu. Dengan segenap kekuatannya, ia mendorong kursi roda si anak perempuan sampai ke garis akhir. Anak laki-laki yang sempat berbalik arah tadi memenangi perlombaan itu; sementara si anak perempuan meraih juara kedua; sedangkan Kim kalah.

Benarkah Kim kalah? Para penonton berdiri memberi tepuk tangan meriah untuk Kim. Mereka tidak berpikir bahwa Kim kalah. Kim tersenyum, ia merangkul si anak perempuan dan si anak laki-laki yang menjadi lawannya. Kim memang kehilangan medali emas, tetapi ia puas.

Kim adalah pemenang sejati. Sejatinya ia tidak merasa kehilangan medali. Ia tidak merasa kalah. Ia adalah sosok pemenang yang dibutuhkan bangsa ini untuk maju. Memberi jalan agar yang lain berada di karpet merah kemenangan. Ia tersenyum bangga, bahwa ia telah melahirkan jawara baru. Ia adalah jawara sejati. Kapan kita bisa seperti Kim?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: