Ketika Wirausaha Kian Belia

7 04 2007

Di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia: pemimpi dan pengusaha. Perbedaan di antara keduanya hanya satu: aksi. Jika pemimpi berhenti sebatas angan-angan, wirausaha berusaha mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Mengapa tak memulainya sekarang juga? Awalnya adalah Sambel Tomat, warung gerobak di Jl. Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Modalnya tentu saja sangat besar. Jangan salah, maksudnya gagasan besar, kemauan keras dan semangat berkobar. Modal berupa uang tunainya sih relatif: Rp 15 juta. Dan itu bukan dari kocek satu orang. Uang sejumlah itu dihimpun dari Rene Suhardono Canoneo, Ragil Iman Wibowo, Riko Kasmanda, dan tujuh orang lainnya, masing-masing Rp 1 juta. Lantas, Rp 5 juta lainnya pinjaman dari paman Rene.

Waktu itu, 1998, mereka masih menyewa tempat di pekarangan Restoran Bakery Nila Chandra. ”Sewanya Rp 500 ribu sebulan,” ujar Rene mengenang. Kini, tak sampai sewindu kemudian, siapa menyangka warung gerobak mereka telah berubah menjadi jaringan resto. Di bawah PT Trirekan Rasa Utama yang mereka dirikan pada 2003, bernaung sejumlah resto: Dixie Easy Dining (empat di Jabotabek dan satu di Yogyakarta), Mahi-mahi (dua di Jabotabek dan satu di Yogya), RiceBar (Yogya), Warung Pasta (dua di Yogya), Ronin Bistro (Bekasi) serta Asahi Japanesse Restaurant (Jakarta). Total karyawannya kini 230 orang, bahkan akan terus meningkat karena Warung Pasta mulai dikembangkan dengan model waralaba.

Trirekan cuma salah satu dari usaha kecil dan menengah yang meraih penghargaan Enterprise 50 (E-50). Inilah upaya apresiasi bagi para wirausaha tahan banting yang diselenggarakan Majalah SWA dan Laboratorium Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, serta didukung Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. Kegiatan ini telah enam kali kami lakukan sejak 2000. Kami yakin kegiatan seperti ini penting untuk terus menggelorakan semangat kewirausahaan di semua kalangan.

Perbedaan antara wirausaha dan pemimpi memang sangat tipis, hanya satu langkah. Keduanya sama-sama mengangankan dan menginginkan sesuatu. Namun, pemimpi berhenti sebatas angan-angan, sedangkan wirausaha berusaha mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan.

Modal utama pengusaha bukanlah uang atau koneksi, melainkan kreativitas dan keuletan, semangat pantang menyerah. Banyak penelitian yang mengungkapkan, lebih dari separuh wirausaha rontok sebelum mencapai usia tiga tahun. Ada banyak alasannya, termasuk kehabisan modal. Akan tetapi sesungguhnya, faktor yang lebih menentukan adalah kehabisan semangat dan kreativitas. Mereka yang memiliki semangat pantang menyerah memandang kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Meski terantuk dan terjatuh, mereka akan bangkit kembali dengan gagah.

Pepatah mengatakan, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Ini memang pepatah djadoel alias djaman doeloe, tetapi masih tetap relevan di era sekarang. Lihat saja buktinya: begitu beragam bidang yang digeluti para penerima penghargaan E-50 untuk mencetak keberhasilan. Mulai dari industri resto hingga jasa keamanan, dari fashion hingga peralatan kantor, dari peranti keras hingga peranti lunak. Skala bisnisnya pun bervariasi, mulai dari yang beromset di bawah Rp 5 miliar/tahun hingga Rp 100 miliar/tahun.

Dengan begitu beragamnya tingkatan peserta ini, agar penilaian menjadi lebih adil, kami mengelompokkan peserta berdasarkan omsetnya: perusahaan dengan omset per tahun > Rp 5-10 miliar, Rp 10-50 miliar, dan di atas Rp 50-100 miliar. Lalu, ada pula kategori Start-up untuk perusahaan yang beroperasi kurang dari tiga tahun dan/atau pengusahanya berusia kurang dari 30 tahun. Selain itu, juga ada penghargaan khusus, yaitu The Most Established Company, The Best in Branding serta The Most Innovative Company.

Di antara para wirausaha tahan banting ini, tak sedikit yang memulai usahanya dengan modal terbatas, seperti Trirekan tadi. Namun, dengan kreativitas dan passion – perpaduan antara semangat dan kecintaan pada bidang yang digeluti – semua kesulitan tadi bisa diatasi. Kreativitas merupakan salah satu sifat yang sangat dibutuhkan dan menentukan keberhasilan seorang wirausaha.

Orang kreatif tak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Mereka akan mengubahnya menjadi peluang. Ini berarti harus ada keberanian mengambil risiko, baik risiko bisnis setiap kali menangani suatu proyek maupun risiko menyeberang kuadran, dari karyawan menjadi usahawan. Namun, berani mengambil risiko bukan berarti nekat dan asal tubruk ketika melihat peluang. Naluri saja tidak cukup, perhitungan matang tetap harus dilakukan. Ini berarti seorang wirausaha harus mampu memadukan hati dengan kalkulasi.

Syukurlah, kemampuan tersebut sudah dimiliki sebagian wirausaha kita – paling tidak mereka yang terpilih sebagai penerima penghargaan E-50 ini. Sektor bisnis yang digeluti pun tak semata sektor tradisional lagi. Banyak juga yang menggarap sektor masa depan seperti sektor teknologi informasi –misalnya, pembuatan peranti lunak.

Yang lebih menarik lagi, kini semakin banyak saja wirausaha yang merintis bisnisnya sejak usia awal 20-an tahun. Ada Andy Bogel, pemilik Distro Insomania yang berusia 22 tahun, juga Sujianto (pemilik kursus bahasa Mandarin), artis Irgi Fahrezi yang semuanya masih kinyis-kinyis. Harimin, pemilik Multiplus, jaringan bisnis layanan kantor, pun memulai bisnisnya ketika berusia 22 tahun, begitu lulus dari Universitas Bina Nusantara. Kini Multiplus tumbuh menjadi 88 gerai yang tersebar di 14 kota dan akan segera merangsek ke Singapura dan Cina. Lewat konsep waralaba yang diterapkannya, bisa dipastikan pertumbuhan bisnisnya akan kian meroket. Bahkan, Asosiasi Franchise Indonesia menganugerahkan Indonesia Franchise Gold 2006 kepadanya. Fenomena kian mudanya entrepreneur fresh from the oven ini menarik dicermati. Pasalnya, hingga beberapa tahun lalu, tak sedikit yang memilih baru terjun setelah usia 40-an tahun. Alasannya, agar bisa menimba ilmu dulu dengan menjadi profesional di bisnis orang lain sebagai fondasi sekaligus pemanasan untuk berkiprah di bisnis sendiri. Sepak terjang para usahawan belia ini pun tak kalah gesit, sehingga kami merasa perlu menampilkan mereka dalam daftar Entrepreneur to Watch.

Kian maraknya orang yang memilih menjadi wirausaha ini patut disambut gembira dan didukung penuh. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi makro suatu negara berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi mikronya. Banyaknya dunia usaha akan menciptakan banyaknya lapangan pekerjaan, yang tentunya meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga masyarakat memiliki daya beli dan mampu berbelanja. Begitu terus, sehingga roda ekonomi pun bisa terus berputar.

Tulisan oleh : Teguh Poeradisastra
Enterprise 50
kiriman abu ‘memet’ farros


Actions

Information

3 responses

7 11 2009
mumuh muhtadin

boleh dong dikasih tahu caranya memulai bisnis distro. kalau boleh sealian sama maste plan dari persiapan (tempat, product,harga, promosi, estimasi keuntungan ).mohon dibalas trims

12 03 2010
orchi
27 09 2013
dedi supriyanto

Sy slah satu mantan karyawan trirekan merasa bangga akan pencapaian yg dii hasilakan mas ragil dkk…mereka tak perlu diragukan lg…sy pernah merasakanya selama 7thn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: