4 (Empat) Pelajaran Manajemen

29 05 2007

1) Pelajaran pertama

Seekor gagak sedang bertengger di sebuah pohon, diam saja seharian. Seekor kelinci kecil melihat gagak itu dan bertanya,” Bolehkah saya duduk juga seperti kamu dan diam saja seharian?” Si gagak menjawab,” Tentu, kenapa tidak.” Maka, si kelinci duduk di tanah di bawah si gagak, dan beristirahat. Tiba-tiba, seekor rubah muncul, menerkam s kelinci dan memakannya.
Pelajaran manajemen: kalau anda ingin duduk dan diam saja, anda harus duduk di tempat yang sangat-sangat tinggi.

2) Pelajaran Kedua

Seekor kalkun sedang ngobrol dengan seekor kerbau. “Saya ingin sekali bisa mencapat puncak pohon itu,” teriak si kalkun,” tapi saya tidak kuat. ”Kalau begitu, kenapa tidak kamu kunyah saja sedikit kotoranku?” jawab si kerbau. ”Kotoranku mengandung banyak gizi.” Si kalkun memakan gundukan kotoran itu dan merasakan energi yang cukup untuk mencapai cabang pertama pohon. Besoknya, setelah memakan sedikit kotoran lagi, dia mencapai cabang kedua. Akhirnya setelah semalaman, s kalkun dengan bangga bertengger di atas puncak pohon. Segera saja dia dilihat oleh seorang petani, yang menembaknya sehingga jatuh dari pohon.
Pelajaran Manajemen: Kotoran kerbau mungkin membawa anda ke puncak, namun tidak akan membuat anda bertahan lama di sana.

3) Pelajaran ketiga

Saat tubuh diciptakan untuk pertama kalinya, semua organ tubuh ingin menjadi Bos. Otak berkata, ”Saya harus jadi Bos sebab saya mengendalikan seluruh respon dan fungsi tubuh.” Kaki berkata, ”Kami harus jadi Bos sebab kamilah yang membawa otak kemanapun yang dia inginkan.” Tangan berkata, ”Kami harus jadi Bos sebab kamilah yang mengerjakan semuanya dan mendapat semua uang.” Dan begitu pula yang dikatakan oleh hati, paru-paru dan mata hingga akhirnya pantat berbicara lantang. Semua organ tubuh yang lain menertawakan keinginan pantat menjadi Bos. Maka pantat mogok, menutup dirinya sendiri dan menolak bekerja. Hanya sebentar saja mata menjadi berkunang-kunang, tangan kaku, kaki gemetar, hati dan paru-paru panik dan otak demam. Akhirnya mereka semua memutuskan bahwa si pantat yang harus menjadi Bos, sehingga keluarlah yang harus dikeluarkan. Semua organ tubuh lain bekerja sedangkan Bos tinggal duduk dan buang kotoran!
Pelajaran manajemen: Anda tidak butuh otak untuk menjadi Bos, pantatpun bisa !

4) Pelajaran Keempat

Seekor burung kecil terbang ke selatan menuju musim dingin. Dingin sekali sehingga si burung menggigil dan jatuh ke tanah pada padang yang luas. Saat dia berbaring di sana, datanglah seekor sapi dan buang kotoran di atasnya. Saat burung yang menggigil itu berbaring di dalam tumpukan kotoran sapi itu, dia merasakan betapa hangatnya kotoran itu. Kotoran itu benar-benar nyaman ! Dia berbaring di sana merasakan hangatnya dan bergembira, lalu dia bernyanyi dengan senang. Mengikuti asal suara nyanyian itu, seekor kucing menemukan burung itu di bawah tumpukan kotoran sapi, dan langsung mengangkatnya keluar dan memakannya !
Pelajaran manajemen:
1. belum tentu setiap orang yang membuang kotoran di atas anda adalah musuh anda
2. belum tentu setiap orang yang mengangkat anda dari kotoran adalah teman anda
3. saat anda berada jauh di dalam kotoran, diamlah !

Anam





Cara Praktis Mendongkrak EQ

12 05 2007

EQ bukan warisan genetis semata. Ia bisa dipelajari, ditingkatkan dan dimantapkan melalui pelatihan. Tapi hati-hati, jangan sampai salah melatih otak.

Sejak dulu orang sudah berdebat, pemimpin itu dilahirkan atau diciptakan? EQ demikian juga, apakah orang dilahirkan dengan tingkat empati tertentu atau mereka jadi memiliki empati karena pengalaman hidup? Jawabannya keduanya. Penelitian membuktikan ada komponen EQ yang diturunkan, tetapi penelitian lain menunjukkan bagaimanana seseorang dibesarkan berperan penting pada pembentukan EQ-nya. Jadi EQ bisa dipelajari.

Yang pasti EQ meningkat sesuai usia. Istilah yang biasa dipakai untuk fenomena ini adalah kematangan. Tetapi meskipun dikategorikan sudah matang, sebagian orang tetap perlu pelatihan untuk meningkatkan EQ-nya. Celakanya, banyak program pelatihan kepemimpinan cuma memboroskan energi, waktu dan uang, karena terfokus pada bagian otak yang salah.

EQ berada dalam sistem otak kanan manusia, yang mengatur perasaan, impuls dan dorongan-dorongan (emosional). Penelitian membuktikan sistem pembelajaran yang cocok untuk otak kanan adalah motivasi, praktek-praktek dan umpan balik, sedangkan otak kiri kemampuan analisa dan teknis, seperti bagaimana menggunakan komputer atau melakukan penjualan. Makanya salah sekali bila pelatihan EQ difokuskan pada otak kiri. Kinerja bisa negatif.

Pelatihan EQ tidak gampang. Waktunya juga lebih panjang dibanding program pelatihan konvensional, dan menuntut penanganan individual. Peserta program harus membuang kebiasaan lama dan menetapkan kebiasaan baru. Proses ini tidak bisa selesai di ruang kelas saja, tetapi harus berlanjut dalam praktek keseharian. Contoh, seorang eksekutif peserta program yang dikenal kurang bisa berempati. Dia tidak bisa dan tidak biasa mendengarkan, suka interupsi dan memotong pembicaraan, serta tidak memberikan perhatian penuh pada apa yang dikatakan orang lain. Agar pelatihan EQ-nya efektif, pembimbing harus selalu mengingatkan, misalnya dengan menepuk bahu atau mengerdipkan mata, bila empatinya tidak muncul atau melemah. Dia harus didorong terus-menerus agar berubah, mempraktekkan apa yang sudah dipelajari dan mendapatkan umpan balik dari pembimbing atau rekan-rekannya, yang terlibat dalam pelatihan tersebut. Selanjutnya dibutuhkan pengulangan di mana respons-nya harus lebih baik, ia diminta mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyerap pembicaraan. Kalau perlu mengobservasi eksekutif lain, yang mampu mendengar dengan baik, dan menirunya.

Dengan ketekunan, pelatihan semacam itu bisa menghasilkan kualitas EQ yang abadi. Ini sudah dibuktikan oleh seorang eksekutif Wall Street. Sebelum pelatihan ia terkenal tak menyenangkan. Bawahan takut bekerja dengannya. Mereka juga selalu menyembunyikan berita buruk, karena ngeri terhadap kemarahannya. Fakta ini mengagetkan eksekutif tersebut. Ia berusaha mengubah citra itu dengan meningkatkan empati, terutama dalam membaca reaksi dan memahami pandangan orang lain. Pembimbing menyarankannya libur di negara berbahasa beda. Di sana reaksinya dimonitor dan dievaluasi dari waktu ke waktu. Setelah kembali bekerja, ia masih dipantau selama beberapa jam sehari. Hasilnya eksekutif tersebut menjadi lebih rendah hati, bersedia mendengarkan ide-ide berbeda, bahkan merekam pertemuan-pertemuan di mana bawahan bebas mengritik kemampuannya dalam mengenal dan memahami perasaan orang lain. Program ini berlangsung selama beberapa bulan dan menghasilkan eksekutif baru ber-EQ prima, sebagaimana tercermin dalam kinerja keseluruhan.

Semangat dan Usaha
Meskipun bisa dipelajari, peningkatan EQ tak akan berhasil tanpa semangat, ketulusan dan usaha bersama. Seminar pun tak bakal membantu. “Tujuan besar tak akan tercapai tanpa antusiasme”. Bila goal Anda pemimpin sukses, peribahasa di atas bisa jadi pegangan.

Nancy Natapura, Staf Senior Lembaga Manajemen PPM.
Dari Majalah Manajemen





Teka-teki Kehidupan Sang Maharaja

12 05 2007

[Buat Yang Lagi Kurang Kerjaan]

Di zaman yang tak bisa disebutkan kapannya, ada Maharaja Yang Sangat Kaya Raya. Saking kaya rayanya, si Maharaja menjadi gundah gulana dengan semua kekayaannya. Baginya, semua kekayaan itu nampak menjadi tidak berharga. Kadang-kadang, ia malah mencium bau tak enak dari semua bentuk kekayaannya itu. Mulai dari bau ee, bau amis ikan, bau minyak si nyong-nyong, sampai bau-bauan yang nggak jelas juntrungannya.

Iapun akhirnya menjadi nampak bete sekali. Dalam kebeteannya itulah ia tiba-tiba mempunyai gagasan yang nyleneh untuk membuat suatu teka teki (TKTQ) Tentang kehidupan. TKTQ itu ia buat sedemikian rupa sehingga bagi yang akan mampu memecahkannya akan menemukan Nama Keseratus dari Nama Yang Maha Tinggi yang hanya bisa diucapkan dengan kesucimurnian dari akal pikiran dan hati dari yang memecahkan teka teki itu.

Dengan Nama Yang Maha Tinggi itu maka siapapun yang menyebutkan NamaNya dengan benar akan memperoleh baroqah yang nilainya setara dengan Harta Kekayaan Sang Maharaja.

Selain itu, bagi siapapun yang mampu memecahkan TKTQ itu maka ia secara otomatis akan melompat ke alam yang tak terbayangkan, alam dimensi 11 yang sampai hari inipun masih dicari-cari oleh orang-orang pandai di seluruh penjuru jagat raya dengan harapan bisa masuk kesana. Tanpa pikir panjang, dengan Pena Ajaibnya yang diberi gelar “Light Sabre”, Sang Maharaja pun menuliskan TKTQ nya yang diberinya Judul “Teka Teki Kehidupan”. Begini teka tekinya:
Sebuah rumah mempunyai empat buah kamar dengan sepuluh pintu. Empat pintu menghubungkan bagian dalam ruang di dalam rumah, enam pintu menghubungkan bagian luar rumah dengan bagian dalamnya.

  • Bagaimanakah cara membuat denah rumah itu dengan jumlah kamar ada empat dan jumlah pintu ada sepuluh buah?
  • Bagaimanakah caranya seseorang dapat melalui kesepuluh pintu itu dengan hanya melalui satu kali untuk setiap pintu yang ada dalam sekali jalan, mulai dari pintu masuk sampai pintu keluar?
  • Berapa sebenarnya jalan yang bisa dilalui oleh seseorang untuk melewati ke sepuluh pintu itu dengan hanya sekali jalan saja untuk setiap pintu?
  • Sebutkan urutan nomor pintu yang harus dilalui mulai dari pintu masuk sampai pintu keluar?
  • Berapa banyak jalan yang mungkin dilalui selain jalan yang disebutkan dari pertanyaan kedua?
  • Sebenarnya berapakah jumlah pintunya?
  • Dimanakah sebenarnya lokasi rumah itu?
  • Apa nama rumah itu?
  • Lantas, siapakah pemilik rumah itu?
  • Dan terakhir, siapakah penghuninya?

Selama beribu-ribu tahun, TKTQ Sang Maharaja mendapatkan berbagai tanggapan dari berbagai makhluk yang ada di kerajaan Si Maharaja. Peserta TKTQ pun bermacam-macam mulai dari makhluk berjenis cahaya, api, air, tanah, udara, gas berbau maupun yang tidak berbau, maupun makhluk campuran yang asal muasalnya dari tanah liat yang digarang oleh api. Dari yang mulai dinamai sebagai malaikat, iblis, setan, wewe gombel, kolong wewe, merkayangan, kadal, naga, komodo, ular, laba-laba, lebah, laler ijo, babi, anjing, kecoa, kutu busuk, kutu buku, dan berbagai binatang lainnya sampai manusia dengan berbagai rupa warna kulit dan bentuk tubuh mulai dari phytecanthrpus erectus, manusia neanderthal, hominid, manusia flores, manusia mdoern, baik yang kaya, miskin, lelaki, wanita, anak-anak, dewasa, kakek kakek, nenek-nenek, bencong, homoseks, lesbian, filsuf, kaum arifin, ilmuwan, sastrawan, prajurit, pahlawan, dukun, tukang sihir, tukang tenung, tukang tipu, pendongeng, koruptor, maling, copet, bajak laut, petani, nelayan, pedagang, ahli bangunan, nakoda kapal, budak, tuan, majikan, pembantu, yang biasa saja, yang indigo, yang cerdas, yang jenius, dan berbagai rupa manusia lainnya dari berbagai latar belakang karakter, profesi maupun bangsa. Bahkan, tidak jarang hanya karena ngotot mencari jawaban teka teki itu, berbagai makhluk telah melakukan perdamaian, percintaan, peperangan, penipuan, penyalahgunaan wewenang, dan tingkah polah terpuji maupun tercela lainnya, yang korbannya kalau dikalkulasikan di masa kini benar-benar sangat buanyakk sekali. Meskipun dampaknya nampak mengerikan bagi manusia, bagi Si Maharaja semua itu tidak ada harganya. Lha, wong yang jadi peserta adalah para penghuni kerajaannya sendiri, yang berhutang semua kepadanya. Baginya, semuanya hanya test case untuk melihat Kemahaagungan dan Kemahaindahannya Sendiri. Sifat dan karakter Si Maharaja memang misterius. Sama misteriusnya dengan semua penghuni kerajaannya yang luasnya tak terhitung itu.

Namun, sepanjang sejarah yang telah dikenal oleh penghuni kerajaan Si Maharaja, baru dua makhluk saja yang dapat menjawab TKTQ Maharaja dengan mendekati kebenaran.

Makhluk pertama berasal dari kalangan manusia. Namanya pun sangat aneh yaitu TABIBA JUHA (TABIB IDIOT), seseorang yang sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang muncul di kalangan kaumnya. Namun, lama kelamaan, karena karakter si Tabib yang rada aneh, namanya pun seringkali membuat orang keliru menilai dirinya karena dikiranya ia Tabib yang Idiot, padahal ia Tabib yang mengobati orang-orang idiot. Begitulah, namanya juga nama-nama dan kata-kata yang suka diucapkan dengan lidah tak bertulang, orang pun seringkali salah menyebutkan namanya maupun salah mengartikan dirinya, apalagi memahami karakternya yang eksentrik.

Makhluk kedua berasal dari kelompok binatang yang mempunyai ketangguhan untuk menempuh perjalanan panjang di kawasan yang panas terik dan berpasir, namanya UNTA. Akan tetapi, kedua tokoh yang pernah mendekati kebenaran menjawab TKTQ Maharaja ini malah tidak mau ketika ditawarkan kepadanya untuk menyebutkan Nama Yang Maha Tinggi yang bisa membuat si Tabib dan Si Unta ini Kayaraya, bahkan dibolehkan untuk memiliki Kerajaan Si Maharaja sebagai hadiah.

Entah kenapa, si Tabib lebih memilih cara hidupnya sendiri dan si Unta juga demikian. Walhasil, karena Kemahapemurahan Sang Maharaja, maka kedua tokoh inipun akhirnya dipindahkan ke wilayah dalam. Selain itu, kedua tokoh itu bebas keluar masuk seluruh wilayah kerajaan tanpa perlu pemeriksaan lagi, termasuk memasuki Wilayah Terlarang yaitu alam dimensi 11 yang misterius.

Nah, tugas Anda, para pembaca yang tertarik dengan TKTQ diatas adalah menjawab pertanyaan TKTQ Kehidupan dari Si Maharaja yang masih menggantung sampai hari ini. Hadiah dari Si maharaja sampai hari ini masih berlaku. Siapapun yang bisa menjawab sepuluh pertanyaan diatas dengan mendekati kebenaran, baik teknis maupun maknanya, logika maupun ungkapannya akan bisa menyebutkan Nama Yang Maha Tinggi, yang sejauh ini masih terlarang untuk diucapkan oleh orang yang bukan penjawab Teka-teki Kehidupan diatas. (KIT – Solo).





Apa Ciri Khas Bisnis Masa Kini?

12 05 2007

Apa yang sebenarnya jadi pemicu bagi perusahaan-perusahaan hebat? Di jaman dan lingkungan yang kadang tidak dapat diduga kompleksitasnya, serangkaian penjelasan berikut preskripsi tradisional tidaklah lagi memadai. Kini, untuk menjadi bisnis berkinerja tinggi, diperlukan suatu kerangka kerja pemahaman dan satu set perangkat praktis yang berisi kemampuan memberi beragam solusi.

Sewaktu menyatakan bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari — bukan sebaliknya, Copernicus dan Galileo tidak meminta peneliti sejawat memperhatikan data baru. Yang mereka usulkan adalah melihat dari kerangka kerja yang berbeda dalam memahami informasi yang telah dianut berabad-abad sebelumnya.

Hipotesis mereka bertujuan mengganti pandangan kuno dan terhormat tentang dunia. Walau dihadang para antiperubahan, teori baru ini akhirnya menang karena memberi penjelasan yang lebih baik atas fenomena yang terjadi.

Ditarik ke masa sekarang, tepatnya masa booming ekonomi global, kondisinya tak berbeda: banyak pengamat menganggap dirinya telah menemukan kerangka kerja yang baru untuk memahami perubahaan bisnis.
Asumsi-asumsi dasar tentang revolusi e-commerce yang mereka sarankan merupakan paradigma yang bukan saja terhitung anyar, tapi juga lebih baik untuk memahami bisnis-bisnis berkinerja tinggi. Namun, saat ini, mungkin saja para pencetus ide kepercayaan baru tersebut berbalik arah karena menyadari bahwa kesuksesan perusahaan merupakan hasil dari faktor-faktor yang selama ini dipergunakan. Apa artinya? Perusahaan harus selalu mampu menangkap perubahan-perubahan yang bakal terjadi, atau paling tidak yang sedang terjadi. Pernyataan klise, memang, tapi apakah orang-orang tersebut memahami?

Berdasarkan pengamatan, Accenture menemukan bahwa perubahan telah terjadi tetapi bukan melalui penjelasan tradisional ataupun pandangan-pandangan e-revolusi yang mendasari pemahaman bisnis masa kini. Kita tidak melihat bahwa situasi bisnis akan kembali seperti kondisi pra-booming; kondisi masa kini terdiri dari lingkungan struktur operasional yang sama sekali berbeda dari konsekuensi jangka panjang yang sulit diprediksi perusahaan global. Di samping itu, kita juga melihat absennya kerangka kerja praktis berorientasi pada solusi untuk membantu perusahaan-perusahaan mengarah pada kinerja tinggi di era yang kompleks ini.

Lingkungan Berubah Dramatis.
Berdasarkan penelitian, Accenture mengidentifikasi sejumlah ciri yang mendasari era bisnis global terkini:

  • Skala dan kompleksitas organisasi yang meningkat, dengan pelepasan aset secara besar-besaran, struktur pelaporan yang semakin kompleks (coba pikirkan: berapa atasan langsung Anda sekarang?), dan meningkatnya tegangan antara pengendalian dan fleksibilitas.
  • Merebaknya teknologi berbiaya rendah yang menciptakan kesempatan bagi lingkungan teknologi yang selalu hidup, selalu aktif dan selalu sadar.
  • Munculnya kembali geopolitik yang termanifestasi dalam bentuk tindakan-tindakan antiglobalisasi yang berdampak signifikan pada strategi bisnis global.
  • Peningkatan ketidakpastian dari akselerasi keuangan, siklus teknologi, dan juga dari kejadian-kejadian tak terprediksi seperti terorisme.
  • Pengawasan yang ketat dari pasar keuangan, badan regulasi dan publik yang mengamati dengan seksama setiap aspek kinerja keuangan dan operasional perusahaan.
  • Peranan baru untuk pengetahuan dan aset nonfisik (intangible) yang berasal dari era ekonomi baru di mana merek, kekayaan intelektual, reputasi, loyalitas dan, mungkin yang terpenting, komitmen terhadap inovasi menjadi senjata inti daya kompetitif perusahaan.
  • Perubahan alami para pekerja dengan pengembangan kapabilitas baru, juga tantangan motivasional dan retensi bagi pemberi kerja.

Walau belum tentu setiap perusahaan mengalami perubahan di atas, paling tidak mereka merasakan bahwa beberapa ciri di atas terefleksi di dalam kehidupan organisasi.

Kode Genetik Kinerja Tinggi.
Kode Genetik Kinerja Tinggi merupakan istilah Accenture untuk karakteristik- karakteristik budaya perusahaan yang memberi kemampuan superior untuk:

  • Mengantisipasi dan membentuk perubahan nilai-nilai pelanggan. Sentralitas pelanggan di dalam operasionalisasi kode genetik berkinerja tinggi sangat eksplisit. Kode genetik ini menciptakan budaya kedekatan dengan pelanggan yang sangat responsif dan aktif.
  • Mengakselerasi insight menjadi tindakan. Perusahaan berkinerja tinggi menggunakan insight yang muncul dari keterkaitan bisnis dengan pelanggan. Percampuran insight yang mereka miliki merupakan kombinasi antara informasi nyata dan inteligensia yang telah dipilah dan diinterpretasi. Aplikasinya, mereka memiliki struktur-struktur pembuat keputusan yang baik, selalu ingin bertindak dan memiliki rasa ketepatan waktu. Wewenang mengeksekusi sangat terdistribusi. Mereka merangkul “deliberate stretch“ mau menjangkau lebih jauh, dengan penekanan pada eksperimentasi dan belajar dari pengalaman.
  • Memberdayakan kekuatan dan kapabilitas kolektif organisasi. Perusahaan berkinerja tinggi menyusun kepemimpinan efektif secara mendalam. Mereka memiliki strategi yang jelas dan teknologi untuk memaksimalkan produktivitas tenaga kerja. Mereka juga memiliki catatan mengelola perubahan skala besar dengan sukses.
  • Mengelola masa kini dan mendatang. Fokus berganda pada 5 kuartal dan 5-7 tahun hasil keuangan membuat organisasi tetap menapak pada realitas masa kini. Membuat investasi untuk bisnis masa depan memberi peluang mengubah nilai-nilai yang tidak lagi seiring dengan tuntutan zaman.

Dengan kemampuan memahami perubahan situasi bisnis dan mementingkan dualitas pada masa kini dan mendatang, perusahaan akan memahami potensi menghasilkan kinerja tinggi.

Inge Linggo, Associate Partner, industri produk dari Accenture — konsultan manajemen dan teknologi serta pengelola alih daya. (swa)





Tips Tidur Sehat

12 05 2007

Kualitas tidur merupakan sumber kesegaran, tenaga, dan vitalitas yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan produktivitas keesokan harinya. Kualitas tidur adalah kebutuhan mutlak yang sama pentingnya dengan makanan bergizi dan olah raga. Jika setiap hari kamu mengalami insomnia, apa kamu yakin keesokan harinya kamu bisa lebih fresh. Mulai sekarang mulailah pola tidur sehat.

1. Disiplin

Selalu tidur pada waktunya. Agar jam biologis tubuh kamu tetap, bangunlah pada waktu yang sama. Tidak peduli apakah kamu merasa cukup tidur atau tidak. Usahakan untuk menjaga keteraturan tidur dan bangun pagi baik hari kerja maupun hari libur.

2. Olah Raga Teratur

Olah raga teratur adalah obat mujarab untuk menetralisir ketegangan fisik dan fikiran kamu. Hal ini sedikit banyak membantu meningkatkan kualitas tidur kamu. Jangan terlambat olah raga. Cukup lakukan sedikit olah raga ringan. Waktu paling ideal untuk berolahraga adalah pagi atau sore hari atau maksimum menjelang petang.

3. Suasana dan Ritual

Ciptakan suasana yang nyaman. Jaga kelembaban dan suhu udara kamar tidurmu. Usahakan sedemikian rupa begitu pagi datang, matahari akan masuk ke kamarmu. Sebalum tidur, usahakan relaks. Tidak perlu terlalu banyak berfikir. Lakukan ritual tidur yang menyenangkan seperti mendengarkan musik lembut sambil membaca bacaan ringan. Sesuaikan juga penerangan ruang tidur kamu.

4. Kualitas, Bukan Kuantitas

Yang penting kualitas bukan kuantitas. Tak masalah jika kamu hanya bisa tidur selama 5 jam saja tapi kamu merasa segar. Jika merasa sudah cukup tidur, lebih baik gunakan waktumu untuk melaksanakan kegiatan lain.

5. Jangan Tidur dalam Keadaan Lapar atau Kekenyangan

Semaksimal mungkin kamu harus bisa menghindari tidur karena kelelahan dan bukan pada jam tidur kamu. Jangan tidur dalam keadaan lapar atau malah kekenyangan. Hindari kacang-kacangan atau buah-buahan yang mengandung gas seperti durian. Hindari juga ngemil dengan kandungan lemak tinggi karena membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Kalau lagi diet, jangan pernah tidur dalam keadaan lapar. Lebih baik makanlah buah-buahan rendah kalori seperti pisang atau apel.

Semoga Bermanfaat.

Susan





Obrolan Ibu-Ibu tentang IPDN

12 05 2007

Suatu sore di sebuah kampung di bilangan Jatinegara, sekelompok ibu- ibu berkerumun sedang belanja sayur sambil ngobrol seru, nampak wajah mereka sangat serius.

Asyik sekali.. pikir saya pasti sedang ngegosipin artis sinetron. Namun dilihat dari raut mukanya tampaknya mereka kesal sekali, diam-diam saya mendekat bukan maksud mau nguping tetapi penasaran aja dengan tema yang sedang dibicarakan.

Ooh.. aku baru tau nampaknya mereka sedang ngobrolin tayangan berita sebuah stasiun TV tentang kasus penganiayaan di IPDN. Berikut sedikit petikan pembicaraan yang seru dan meledak-ledak dari para “pengamat berita” ini….

” tuh kan apa gue bilang IPDN itu, Institut Penganiayaan Dalam Negeri… !” masak anak orang dihabisin hanya gara-gara telat datang ke acara yang nggak jelas, dasar gak tau diri !”.

” Bukan nyak tapi IPDN itu, Institut Pembantaian Dalam Negeri..!” sahut ibu penjual sayur tak mau kalah.

“Kalo nurut saya sih masih jadi pelajar aja kayak gitu ntar kalo udah jadi pejabat pasti jadi diktator, makanya IPDN itu, Institut Pengkaderan Diktator Negara..!” seru ibu yang sedari tadi bolak balikin sayur bayam. ”

“Betul juga jeng Neni tapi saya paling gak suka sama kelakuan mereka yang suka maen keroyok kalo berani kenapa gak satu lawan satu tuh kayak di pilem koboy makanya dinamain aja IPDN, Institut Paling Demen Ngeroyok..!!” seru ibu gendut itu gemas sambil membanting labu siam diantara sayur yang makin berserakan.

“Iya betul tuh sekalian aja dinamain IPDN, Ikatan Praja Doyan Nonjok …!” sambar bu RT sambil bersungut-sungut.

“IPDN, Injak Pukul Dorong Nah … mati..!! celetuk ibu bertubuh kerempeng itu sambil praktekkan gaya silatnya. “Inginnya Pendidikan Dapetnya Nisan nah itulah IPDN kasihan orang tua yang udah susah payah kirim anaknya kesana pulang-pulang bikin batu nisan… !!” tukas bu Neni makin kesal.

“Yang kayak gini neh pasti kerjaan para pejabat yang gak punya tanggung jawab dan wawasan kebangsaan, mestinya kan mereka sebagai pengontrol dan pengawas tetapi kenapa korban udah berjatuhan kayak gini kok didiemiin aja dari dulu, kayaknya sih sengaja biar budaya pejabat junior harus takut dengan senior tetap hidup, kan ntar gampang diajak kongkalikong kali ya ? namanya juga IPDN, Ideologi Pejabat Durjana Negara”, sahut ibu setengah baya berkerudung itu.

“Yah IPDN, Inilah Pendidikan Dalam Negeri kita.. pantas aja korupsi gak habis-habis wong mentalnya aja udah kayak mafia.

Tiba-tiba nenek tua yang sedari tadi diam saja tergopoh-gopoh keluar dari kerumunan menuju kearah rumah bu RT, sambil iseng saya pun bertanya, “nek kalo menurut nenek IPDN itu apa ?”. Nenek itu melotot kesal kearahku sambil berteriak, “Ingin Pipis Dulu Nak …!!”. Ups..! wajahku memerah sambil nyengir gue ngaciir….

BANDUNG, DEDE SUJANA





Kewirausahaan dalam Berbagai Perspektif

2 05 2007

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) diberbagai negara industri maju seperti Jepang dan Amerika terbukti menjadi pilar kuat dalam perekonomian makro nasional. Peranan atau kontribusi UKM dalam perekenomian cukup besar terutama dalam menyerap tenaga kerja. Peranan lain yang menonjol UMKM menjadi subsistem dari korporasi besar. Dalam hal ini UMKM menjadi supply chain atau rantai pemasok bahan mentah dan setengah jadi untuk berbagai produk manufaktur besar. Harmonisasi telah terjadi dalam interaksi bisnis dalam tempo yang tidak sebentar, kesejajaran dalam pemahaman bisnis menjadi kunci suksesnya hubungan bisnis. Walaupun kecil dari segi skala ekonomi (small scale firm) dengan kelincahan dalam bergerak, UMKM dinegara-negara industri maju memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menangkap dan memanfaatkan semua peluang pasar. Fenomena perkembangan perekonomian Negara China dengan PDB tumbuh diatas 10%, tidak luput dari perkembangan UMKM yang ada dinegara tersebut. Negara China akan menjadi raksasa ekonomi dalam satu dekade kedepan. Demikian juga kalau kita mengamati perkembangan perekonomian India, pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat sebagai hasil dari kombinasi bisnis antara UMKM dan korporasi yang sama-sama mampu memanfaatkan penguasaan Teknologi Informasi secara maksimal.
Kemampuan berbisnis suatu UMKM tidak timbul dengan sendirinya, selain karena pendiri atau pemilik usaha yang telah memiliki talenta atau bakat usaha, mereka juga terus menerus mengembangkan sistem dan model bisnis. Termasuk didalamnya usaha penyempurnaan terus menerus (continous improvement) pengelolaan produk dan jasa sehingga dapat memberikan kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan adalah hasil dari penerimaan nilai (value) oleh pelanggan atas pengorbanan atau harga yang dibayar yang melebihi ekspektasi pelanggan tersebut.
Tulisan kali ini ditujukan untuk memberikan wawasan umum tentang kewirausahaan dengan perspektif historis, penilaiai diri, proses, karakteristik dan latar belakang pelaku kewirausahaan.

Perspektif Historis Perkembangan Kewirausahaan
Tidak ada bisnis yang menjadi besar secara langsung, hanya dengan disertai visi dan kemampuan mengelola, suatu bisnis dapat berkembang menjadi besar. Di Indonesia banyak bisnis berkembang mulai dari kecil hingga menjadi besar, contohnya pada skala nasional Jamu Air Mancur, ES Teller 77, Jaringan Kursus dan Bimbel Primagama, Blue Bird Taxi, Angkutan Bis (antara lain Putra Remaja, Lorena, ALS, Kramat Jati, Arimbi, Puspa Jaya, Gumarang Jaya), Wings Group, Indofood, Garuda Food, Astra Group, Sinar Mas, Lippo Group, Maspion Group, Ciputra Group, Rokok Sampoerna, Rokok Gudang Garam, Rokok Jarum Kudus, Rokok Bentoel, dll. Contoh pada skala daerah Lampung antara lain mulai dari skala kecil seperti bakso Sony Haji Sonhaji, Kripik Pisang Suseno, usaha menengah Candra Supermarket, hingga yang besar seperti Sungai Budi Group.
Dari perspektif kewirausahaan (entrepreneurship), perkembangan usaha-usaha diatas dientaskan oleh tangan-tangan dingin pebisnis unggul secara konsisten, persisten dan pantang menyerah dalam menghadapi situasi sulit, dan menjalankan rencana dengan penuh determinasi agar tercapai tujuan visioner yang dicita-citakan. Faktor pendukung keberhasilan bisnis yang dilkelola antara lain kemampuan berinovasi, keberanian mengambil resiko yang terhitung sebelumnya (calculated risk).
Perkembangan kewirausahaan secara historis telah dimulai dari sejak berabad-abad sebelum masehi. Dengan kemampuan wirausaha dalam arti kemampuan dalam pengambilan resiko, berinovasi, menerapkan sistematika kerja bangsa mesir dapat membangun piramida, bangsa Cina dapat membangun tembok raksasa, dan Kerajaan Mataram Kuno dapat membangun Candi Borobudur. Kemudian pada abad pertengahan, VOC, perusahaan perniagaan Belanda, menjadi sistem pegumpul bahan mentah rempah-rempah dari Nusantara untuk kepentingan memasok pasar Eropa adalah contoh usaha yang beresiko. Dimana sebelumnya telah dirintis pencarian rute ke timur jauh oleh Marcopolo.

Perkembangan konsep kewirausahaan
Perkembangan konsep kewirausahaan pada abad pertengahan, digambarkan sebagai seorang yang berani mengambil resiko akan keberanian mengelola proyek dengan kontrak pada harga yang ditetapkan diawal. Pada abad ke 17, konsep kewirausahaan kemudian berkembang dengan menitikberatkan pada konsep resiko. Contoh tokoh wirausaha pada saat itu adalah John Law seorang banker dari Perancis yang membuka perjanjian waralaba perdagangan di daerah (dunia) baru Amerika – perusahaannya disebut dengan Mississippi Company. Perjanjian ini berakhir dengan kerugian, tujuan awal untuk mendongkrak harga saham diperusahaan inti tidak tercapai, yang terjadi perusahaan utama di Perancis mengalami kolaps. Dengan melihat kegagalan Law, Richard Cantillon (ekonom abad 18) memperbaiki cara pandang tentang teori kewirausahaan. Cantillon mendifinisikan wirausahawan adalah seorang pengambil resiko, dicontohkan pada petani, pedagang, pengrajin dan pemilik usaha lainnya yang “berani membeli produk baku pada harga tertentu dan menjualnya pada harga yang belum ditentukan sebelumnya, oleh karena itu orang-orang ini bekerja pada situasi dan kondisi beresiko”.
Kemudian pada abad 18 berkembang pandangan bahwa wirausaha adalah seseorang yang memiliki hasil inovasi dikembangkan bisnisnya dengan menggunakan modal dari pihak lain. Contohnya pada penemuan bola boklam listrik oleh Thomas Edison, bisnis bidang kelistrikan oleh Edison dikembangkan dengan mendirikan General Electric, kini GE merupakan salah satu perusahaan terbesar di Amerika dan dunia. Ketika memasuki akhir abad 19 dan abad 20, perubahan konsep kewirausahaan ditandai dengan pemisahan antara peran manajer dengan wirausaha. Wirausaha mengorganisir dan mengoperasikan usaha untuk keuntungan pribadi. Dia menggunakan inisiatif, ketrampilan, dan kepiawaiannya dalam merencanakan, mengorganisir dan mengadministrasikan perusahaan. Kerugian dan keuntungan merupakan konsekwensi dari kemampuan melihat dan mengontrol keadaan lingkungan bisnis. Carnegie dipertengahan abad 20 menekankan bahwa wirausahawan adalah seorang innovator. Oleh karenanya wirausahawan akan mereformasi atau merevolusi kondisi yang tidak menguntungkan menjadi lebih menguntungkan, dengan mengekploitasi segala penemuan dan kemungkinan pemanfaat teknologi untuk menggantikan cara lama dalam mengoperasikan bisnis.
Definisi yang terakhir berkembang kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda secara nilai melalui pengorbanan waktu dan upaya, yang mengandung resiko finansial, psikologis dan sosial, dengan harapan menerima hasil penghargaan secara moneter dan kepuasan pribadi si wirausahawan.

Latar belakang keputusan memulai usaha
Seseorang menjadi wirausaha dapat disebabkan oleh ketidakpuasan atas pekerjaan yang dia jalani, tekanan lingkungan dan tekanan hidup (pensiun dari pekerjaan sebelumnya). Untuk memulai usaha seseorang dipengaruhi oleh desirability atau minat dan possibility atau kemungkinan. Minat muncul karena budaya, subkultur, keluarga, guru dan teman sejawat. Budaya yang menghargai keberhasilan seseorang dalam menciptakan pendapatan adalah faktor pendorong seseorang untuk berwirausaha. Subkultur dari lokalitas atau kedaerahan dapat juga mendorong, contohnya situasi di Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia memaksa orang untuk bertahan dan mengembangkan hidup. Oleh karenanya banyak yang memanfaatkan peluang dari kemajuan bisnis yang berkembang ditempat dimana dia tinggal. Fenomena ini banyak terjadi dikota besar dan ditempat dimana industri berkembang dengan baik. Keluarga yang memiliki tradisi niaga biasanya menularkan kemampuan niaganya kepada semua anggota keluarga. Guru dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengembangkan bisnis, karena guru dapat menjadi sumber inspirasi. Teman sejawat sebagai sumber informasi dapat memperjelas peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan.
Kemungkinan lain untuk munculnya usaha baru adalah kebijakan pemerintah, dalam hal ini pengembangan infrastruktur ekonomi akan memacu berkembangnya peluang usaha baru dan ekspansi usaha yang telah ada. Eksploitasi peluang pemasaran, dari pengembangan pasar baru untuk produk dan jasa yang ada (market development) atau intensifikasi pasar yang ada dengan produk dan jasa yang baru (product development). Ketersediaan dana untuk investasi dan modal kerja dapat mendorong terbentuknya usaha baru. Kemudian role model atau contoh sukses dari pelaku usaha atau wirausaha yang sudah berhasil akan mendorong yang lain untuk masuk kedalam bisnis yang sama sepanjang potensi pasar masih besar.

Kategorisasi usaha baru
Menurut Hisrich & Peters (1989) usaha baru dapat dikategorikan kedalam usaha: perusahaan gaya hidup (life style firm), perusahaan fondasi (foundation company), dan usaha berpotensi tinggi (high potential venture). Perusahaan gaya hidup biasa dikelola secara pribadi dengan pertumbuhan yang sedang dengan melibatkan uang yang relatif sedikit untuk riset dan pengembangan. Perusahaan fondasi diciptakan dari riset dan pengembangan untuk berkembangnya industri baru. Perkembangan perusahaan jenis ini lebih pesat bisa tumbuh dalam kurun 5 sampai 10 tahun, dengan jumlah pegawai dari 40 hingga menjadi 400 orang, dan dengan perkembangan penjualan dari Rp. 100 juta hingga menjadi Rp. 30 milyaran pertahunnya. Perusahaan jenis terakhir adalah perusahaan yang berbasis riset dan pengembangan dengan pertumbuhan yang tinggi dan diminati oleh investor publik. Jumlah pegawai dan penjualan jauh diatas jenis perusahaan kedua.
Dalam konteks Indonesia, perkembangan perusahaan dimulai dari usaha mikro, berkembang menjadi usaha kecil, kemudian menengah dan besar. Pentahapan dan karakteristik hampir mirip dengan yang diuraikan diatas.

Penilaian Diri (Self Assessment) dan Proses Kewirausahaan
Pertanyaan yang sulit untuk dijawab: “haruskah saya memulai usaha sendiri?” sering berkecamuk dibanyak orang. Dalam suatu penelitian menunjukan ketika jawaban ya, alasan yang muncul untuk memulai bisnis sendiri karena adanya keinginan menjadi “bos” dan lebih independen. Kemudian untuk menilai kesiapan seseorang menjadi wirausaha dapat diajukan pertanyaan “apakah saya memiliki semua persyaratan untuk menjadi seorang wirausaha?”
Dari hasil penelitian ditemukan, seseorang menjadi wirausaha ada kencendrungan sebagai anak tertua dalam keluarga, sudah menikah, laki-laki, diatas 30 tahun usianya, dimana pada usia belasan sudah muncul jiwa wirausahanya, pernah mengecap pendidikan, memiliki sifat yang ingin independen, sifat pekerja, pengambil resiko, selalu senang dengan ide-ide baru dan memiliki hubungan emosional yang kuat dengan ayah. Disamping memiliki sifat kerja keras, uang dan ide cemerlang, keberuntungan menyertai dia juga.
Proses kewirausahaan berjalan melalui beberapa tahapan antara lain identifikasi dan evaluasi peluang usaha, pengembangan rencana bisnis, memobilisasi dan alokasi sumber daya yang diperlukan, dan melakukan pengelolaan perusahaan.

Karakteristik dan Latar Belakang Wirausahawan
Karakteristik wirausaha dapat dilihat dari locus of control atau pengendalian diri atas dimensi internal dan eksternal. Pengaruh dimensi eksternal atau internal sesorang akan menentukan bagaimana sesorang wirausaha mengelola perusahaannya. Pengaruh eksternal antara lain kekuatan lingkungan luar perusahaan sangat dominan, keberhasilan semata karena kemujuran, bisnis yang dilakukan karena keharusan dari apa yang dibaca, dan pengaruh anggota keluarga lebih menentukan keberhasilan. Pengaruh internal antara lain kenyakinan bahwa keputusan harus diambil oleh diri sendiri, kemauan untuk mencoba yang baru walaupun ada kekawatiran beratnya konsekwensi yang akan diterima, kepuasan akan keberhasilan pekerjaan, dan berupaya segera memperoleh sesuatu yang diinginkan.
Secara internal locus of control dapat dilihat dari sudut, sejauhmana seseorang memiliki keteguhan hati untuk mengatasi kemandekan dalam membentuk usaha baru, juga sejauhmana seseorang memiliki keinginan yang kuat untuk mengelola usaha baru dan menumbuhkannya. Dimensi eksternal dan internal tidaklah menjadi patokan seseorang akan berhasil, kombinasi yang optimal diantara keduanya dapat membantu pengelolaan usaha dengan berhasil.
Selain locus of control, kebebasan, kemauan mengambil resiko dan kebutuhan akan berprestasi (need for achievement) merupakan karakteritik lain dari seorang wirausaha. Umumnya, ketiga sifat terakhir sangat menonjol dalam watak seorang wirausaha berhasil.
Latar belakang wirausaha dapat dilihat dari lingkungan keluarga semasa kanak-kanak, riwayat pendidikan, nilai pribadi (personal value), usia, sejarah pekerjaan, dan motivasi. Urutan kelahiran akan mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi wirausaha, umunya anak tertua menjadi pengambil tanggungjawab, karena itu anak tertua lebih dapat menjadi wirausaha. Pendidikan dalam banyak penelitian menunjukan berperan secara positif dalam mengembangkan usaha. Nilai kepribadian seperti pendukung, agresif, pemurah, penyesuai diri, kreatif, kejujuran dan pencari sumberdaya, sangat memberikan pola pada usaha yang dikelola. Usia umumnya berkisar 20 – 50 tahun sebagai usia produktif dalam mengelola usaha. Pengalaman kerja akan memberikan dukungan pada usaha yang dikembangkan sepanjang itu relevan. Motivasi utama seseorang mengembangkan usaha baru adalah independensi dalam mengelola usaha.

Simpulan
Usaha atau bisnis akan maju jika ada kemauan dari pemulai untuk meletakan dasar atau visi yang jelas dan dapat dilaksanakan. Tidak ada usaha maju yang secara fundamental kuat tumbuh dengan sendirinya. Usaha yang baik akan muncul jika seseorang pengelolanya mau mengambil resiko, selalu berinovasi, mengelola rencana, dan mengevaluasi usaha yang sudah berjalan. Independensi dalam pengambilan keputusan sangat penting dalam wirausaha. Seorang wirausahawan akan selalu mencari ide-ide baru untuk perbaikan kinerja bisnis yang telah dicapai, kegiatan ini disebut dengan inovasi manajemen.
Kewirausahaan sebenarnya dapat muncul bukan saja dari pribadi yang dilatarbelakangi oleh keluarga niaga, namun dapat juga muncul dari inspirasi dan pengetahuan dari guru, dorongan dari kolega atau teman, adanya budaya yang mendorong tumbuhnya bisnis, peluang pemasaran, ketersediaan modal, dan contoh sukses (role model). Tidak seperti negara maju dimana budaya menghargai prestasi sangat dijunjung tinggi, budaya apresiasi berbisnis di Indonesia harus dirubah dengan cara memberikan contoh apresiasi dari pemegang otoritas yakni pemerintah dengan memberikan penghargaan bagi usahawan UMKM yang sukses.

Ayi Ahadiat, MBA
ayi_ahadiat@yahoo.com