4 (Empat) Pelajaran Manajemen

29 05 2007

1) Pelajaran pertama

Seekor gagak sedang bertengger di sebuah pohon, diam saja seharian. Seekor kelinci kecil melihat gagak itu dan bertanya,” Bolehkah saya duduk juga seperti kamu dan diam saja seharian?” Si gagak menjawab,” Tentu, kenapa tidak.” Maka, si kelinci duduk di tanah di bawah si gagak, dan beristirahat. Tiba-tiba, seekor rubah muncul, menerkam s kelinci dan memakannya.
Pelajaran manajemen: kalau anda ingin duduk dan diam saja, anda harus duduk di tempat yang sangat-sangat tinggi.

2) Pelajaran Kedua

Seekor kalkun sedang ngobrol dengan seekor kerbau. “Saya ingin sekali bisa mencapat puncak pohon itu,” teriak si kalkun,” tapi saya tidak kuat. ”Kalau begitu, kenapa tidak kamu kunyah saja sedikit kotoranku?” jawab si kerbau. ”Kotoranku mengandung banyak gizi.” Si kalkun memakan gundukan kotoran itu dan merasakan energi yang cukup untuk mencapai cabang pertama pohon. Besoknya, setelah memakan sedikit kotoran lagi, dia mencapai cabang kedua. Akhirnya setelah semalaman, s kalkun dengan bangga bertengger di atas puncak pohon. Segera saja dia dilihat oleh seorang petani, yang menembaknya sehingga jatuh dari pohon.
Pelajaran Manajemen: Kotoran kerbau mungkin membawa anda ke puncak, namun tidak akan membuat anda bertahan lama di sana.

3) Pelajaran ketiga

Saat tubuh diciptakan untuk pertama kalinya, semua organ tubuh ingin menjadi Bos. Otak berkata, ”Saya harus jadi Bos sebab saya mengendalikan seluruh respon dan fungsi tubuh.” Kaki berkata, ”Kami harus jadi Bos sebab kamilah yang membawa otak kemanapun yang dia inginkan.” Tangan berkata, ”Kami harus jadi Bos sebab kamilah yang mengerjakan semuanya dan mendapat semua uang.” Dan begitu pula yang dikatakan oleh hati, paru-paru dan mata hingga akhirnya pantat berbicara lantang. Semua organ tubuh yang lain menertawakan keinginan pantat menjadi Bos. Maka pantat mogok, menutup dirinya sendiri dan menolak bekerja. Hanya sebentar saja mata menjadi berkunang-kunang, tangan kaku, kaki gemetar, hati dan paru-paru panik dan otak demam. Akhirnya mereka semua memutuskan bahwa si pantat yang harus menjadi Bos, sehingga keluarlah yang harus dikeluarkan. Semua organ tubuh lain bekerja sedangkan Bos tinggal duduk dan buang kotoran!
Pelajaran manajemen: Anda tidak butuh otak untuk menjadi Bos, pantatpun bisa !

4) Pelajaran Keempat

Seekor burung kecil terbang ke selatan menuju musim dingin. Dingin sekali sehingga si burung menggigil dan jatuh ke tanah pada padang yang luas. Saat dia berbaring di sana, datanglah seekor sapi dan buang kotoran di atasnya. Saat burung yang menggigil itu berbaring di dalam tumpukan kotoran sapi itu, dia merasakan betapa hangatnya kotoran itu. Kotoran itu benar-benar nyaman ! Dia berbaring di sana merasakan hangatnya dan bergembira, lalu dia bernyanyi dengan senang. Mengikuti asal suara nyanyian itu, seekor kucing menemukan burung itu di bawah tumpukan kotoran sapi, dan langsung mengangkatnya keluar dan memakannya !
Pelajaran manajemen:
1. belum tentu setiap orang yang membuang kotoran di atas anda adalah musuh anda
2. belum tentu setiap orang yang mengangkat anda dari kotoran adalah teman anda
3. saat anda berada jauh di dalam kotoran, diamlah !

Anam


Actions

Information

One response

5 06 2007
kit

Selamat Pagi, Burung Beo
Jumat, 24 Februari 2006
Oleh : Gede Prama

Di salah satu pojokan kehidupannya, pernah terjadi Nasruddin harus naik perahu. Dalam perbincangan mengisi kekosongan waktu, pemilik perahu bertanya, Nasruddin bisa berenang ataukah tidak. Dengan enteng, ia menjawab, “Bisa”. Ia bahkan menambahkan, hampir semua buku tentang berenang telah dibaca, sambil mengajari teknik-teknik berenang kepada tukang perahu. Si tukang perahu pun mengangguk-angguk heran sekaligus kagum.

Entah karena apa, tiba-tiba perahu berguncang dan kemudian terbalik. Dengan menangis serta memelas Nasruddin berteriak, ”Tolong, tolong, tolong selamatkan saya!” Lagi-lagi tukang perahu mengangguk-angguk heran dan kagum.

Ini memang hanya sekelumit cerita canda. Bunga tawa sekaligus bahan merenda makna. Dan kejadian-kejadian yang serupa dengan Nasruddin memang ada di sekitar kita. Atau, malah terjadi pada diri kita. Seorang sahabat menyebut kisah-kisah manusia yang banyak belajar tetapi tanpa bukti bisa melaksanakan pelajarannya sebagai “pengetahuan tanpa pencapaian”.

Berpengetahuan tentu baik. Memiliki wawasan tentu suatu kelebihan. Lebih-lebih mau berbagi dengan orang lain. Namun, berhenti memahami pengetahuan di tingkat kepala, tanpa pernah membadankannya ke dalam tindakan keseharian, tentu sulit bisa diharapkan munculnya cahaya karisma dalam berkarya. Sebutlah tokoh karismatik bernama Gandhi. Ia karismatik karena membadankan idenya tentang antikekerasan dalam totalitas perjuangannya. Berapa kali pun ada godaan melakukan kekerasan — termasuk ketika badannya ditembak, ia tetap membadankan antikekerasan dalam hidupnya.

Lihat bagaimana Ibu Teresa demikian berwibawa ketika bertutur tentang cinta, karena keseharian tokoh ini tidak punya warna lain selain cinta. Memberi, membantu, mengobati, menyelamatkan dan menyembuhkan warga miskin di Calcutta, itulah kesehariannya. Bahkan, ketika sebagian dunia menyebutnya keras kepala, Bunda Teresa tetap dengan karya-karya cintanya.

Cermati karisma Dalai Lama tatkala bercerita tentang welas asih. Ia bercahaya jauh melebar di luar agama yang dianutnya, karena kesehariannya penuh welas asih. Kendati berpuluh-puluh tahun negaranya diambil alih Cina dan jutaan warga Tibet menderita — ia sendiri harus mengungsi lebih dari 40 tahun, ia tetap mengisi keseharian dengan welas asih. Bahkan, ketika ada kesempatan menceritakan penderitaan dirinya dan penderitaan Tibet di forum amat terhormat yang mungkin bisa membantuya, ia tidak melakukannya karena welas asihnya pada orang lain.

Sekarang bandingkan cerita-cerita seperti ini dengan kisah Ramayana. Rahwana dikenal sebagai pemuja berat Tuhan dan bahkan sangat serius belajar buku-buku suci. Namun sebagaimana diketahui, hidupnya hancur lebur karena memenuhi tuntutan hawa nafsu dengan melarikan istri orang. Adiknya, Wibisana, berulang kali menasihatinya, bahwa jalan menuju Tuhan lebih mungkin berhasil dengan pengetahuan yang dilaksanakan, bukan pengetahuan tanpa komitmen tindakan.

Dalam kisah Mahabarata dituturkan, Durna adalah seorang mahaguru yang menguasai berbagai macam ilmu perang. Bisma lebih-lebih lagi. Namun, keduanya harus berakhir tragis karena gagal melaksanakan apa yang diajarkan.

Inti semua cerita itu sebenarnya sederhana: pengetahuan tanpa kemampuan menundukkan hawa nafsu menjadi pengetahuan yang tanpa pencapaian. Jangan tanya wibawa, jangan tanya karisma, apalagi berharap ada cahaya berkarya dari sana. Menurut seorang guru yang terbiasa menggunakan kata-kata keras dalam mendidik muridnya (kepada sahabat yang kurang berkenan, maafkan kata-katanya), manusia berpengetahuan tanpa komitmen pelaksanaan serupa dengan babi yang menggendong buku ke mana-mana. Babi yang menggendong buku masih lebih baik, karena tidak menggunakan buku yang digendongnya sebagai sarana menyerang dan menyakiti orang.

Sekali lagi, maafkanlah kata-kata guru ini. Akan lebih bermanfaat kalau terfokus pada bimbingannya. Bukan pada kata-kata kasarnya. Ini serupa dengan cerita seorang sahabat yang memelihara sekaligus amat mencintai burung beo. Suatu hari burung beonya batuk-batuk, suaranya persis sama dengan batuk-batuk pemiliknya. Dikira batuk karena asap rokok, pemilik ini berhenti merokok, dan ternyata batuk-batuk burung beonya hilang. Sahabat ini berpikir, burung beonya batuk karena asap rokok, padahal ia hanya menirukan batuk-batuk tuannya.

Terlihat jelas dari sini, burung beo memiliki sifat meniru dan tidak mengerti apa yang ia tiru. Coba ucapkan “selamat pagi” pada burung beo secara berulang-ulang, suatu waktu ia akan menirunya dengan ucapan yang sama. Ketika ditanya, kenapa mengucapkan “selamat pagi”, ia pun menimpali lagi-lagi dengan “selamat pagi”.

Tentu, kualitas “selamat pagi”-nya teramat berbeda dari “selamat pagi” seorang manusia yang diucapkan sambil merunduk tersenyum, lebih-lebih bila dibimbing spirit dalam menghormati orang kita menghormati Tuhan. Sedikit peniruan di sana, yang ada hanya pemahaman dengan komitmen pelaksanaan yang mengagumkan.

Kualitas inilah yang ada di balik manusia-manusia mengagumkan seperti Nelson Mandela: pengetahuan dengan pencapaian. Ini juga yang menyebabkan sejumlah penekun spiritual berhenti belajar pengetahuan spiritual, kemudian tekun dengan tindakan memproduksi pencapaian spiritual.

Ijazah, gelar, penghargaan, bacaan, kualitas kata-kata yang muncul dari mulut dan memori yang tersimpan di kepala memang masuk dalam kelompok pengetahuan spiritual. Dan keseharian yang tenang, sabar, pemaaf, bersahabat, membantu sampai tidak menyakiti pihak lain merupakan sebagian pencapaian spiritual. Maafkan tulisan ini, kalau harus berakhir begini.

Selamat pagi burung beo! Izinkan tulisan ini lewat sebentar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: