Salty Coffee

18 08 2007

Laki-laki itu datang ke sebuah pesta. Meskipun penampilannya tidak jauh berbeda dengan penampilan laki-laki lain yang datang, namun kelihatannya tidak seorangpun yang tertarik padanya. Ia lalu memperhatikan seorang gadis yang dari tadi dikelilingi banyak orang. Di akhir pesta itu, ia memberanikan diri mengundang gadis itu untuk menemaninya minum kopi.

Karena kelihatannya laki-laki itu menunjukkan sikap yang sopan, gadis itupun memenuhi undangannya. Mereka berdua kini duduk di sebuah warung kopi. Begitu gugupnya laki-laki itu hingga ia tidak tahu bagaimana harus memulai sebuah percakapan.

Tiba-tiba ia berkata kepada pelayan, “Dapatkah engkau memberiku sedikit garam untuk kopiku?” Setiap orang yang ada di sekitar mereka memandang lelaki itu keheranan. Wajahnya memerah seketika, tetapi ia tetap memasukkan garam itu ke dalam kopinya lalu kemudian meminumnya.

Penuh rasa ingin tahu, gadis yang duduk di depannya bertanya, “Bagaimana kau bisa mempunyai hobi yang aneh ini?” Laki-laki itupun menjawab, “Ketika aku masih kecil, aku hidup di dekat laut, aku suka bermain-main di laut”.

Jadi aku tahu rasanya air laut, asin seperti rasa kopi asin ini. Sekarang, setiap kali aku meminum kopi asin ini, aku terkenang akan masa kecilku, tentang kampung halamanku, aku sangat merindukan kampung halamanku, aku merindukan orang tuaku yang tetap hidup di sana.”Ia mengatakan itu sambil berurai air mata, kelihatannya ia sangat
tersentuh”.

Gadis itu berpikir, “Apa yang diceritakan oleh laki-laki tersebut adalah ungkapan isi hatinya yang terdalam. Orang yang mau menceritakan tentang kerinduannya akan rumahnya adalah orang yang setia, peduli dengan rumah dan bertanggung jawab terhadap seisi rumahnya”. Maka gadis itupun mulai bercerita tentang kampung halamannya yang jauh, masa kecilnya dan keluarganya.

Merekapun sepakat berpacaran. Gadis iu menemukan semua yang dia inginkan di dalam diri laki-laki tersebut. Laki-laki itu begitu toleransi, baik hati, hangat dan penuh perhatian. Ia adalah laki-laki yang sangat baik, sehingga ia selalu merindukannya.

Singkat cerita, merekapun menikah dan hidup bahagia. Setiap kali, ia selalu membuatkan kopi asin bagi suaminya karena ia tahu suaminya sangat menyukai kopi asin.

Sesudah empat puluh tahun menikah, meninggallah suaminya. Ia meninggalkan surat kepada istrinya, “Sayangku, maafkan aku, maafkan kebohonganku selama aku hidup. Inilah satu-satunya kebohonganku padamu, yaitu tentang “kopi asin”.

Ingatkah engkau pertama kali kita bertemu dan berpacaran? Saat itu aku begitu gugup untuk memulai percakapan kita. Karena kegugupanku, aku akhirnya meminta garam padahal yang aku maksudkan adalah gula.

Selama hidupku banyak kali aku mencoba untuk mengatakan kepadamu hal yang sebenarnya, sebagaimana aku telah berjanji bahwa aku tidak akan pernah berbohong kepadamu untuk apapun juga. Tetapi aku tidak sanggup mengatakannya. Kini aku sudah mati, aku tidak takut lagi, maka aku memutuskan untuk mengatakan kebenaran ini kepadamu bahwa aku tidak suka kopi asin.

Rasanya aneh dan tidak enak. Selama hidupku aku baru meminum kopi asin sejak aku mengenalmu. Meski begitu, aku tidak pernah menyesal untuk apapun yang aku lakukan untukmu. Memiliki engkau merupakan kebahagiaan terbesar yang pernah aku miliki selama hidupku. Jika aku dapat hidup untuk kedua kalinya, aku tetap ingin mengenalmu dan memilikimu selamanya, meskipun aku harus meminum kopi asin lagi”.

Air mata wanita itu membasahi surat yang dibacanya. Suatu hari seseorang bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya kopi asin itu?” “Sangat enak”,jawabnya.

ach ini hanya pesan moral aja :
Kita selalu berpikir bahwa kita sudah mengenal pasangan kita lebih dari orang lain mengenal mereka. Tetapi mungkin saja ada hal-hal tertentu yang tidak kita ketahui di mana pasangan kita telah rela meminum “kopi asin” [salty coffee] dengan membuang ego, kesombongan, kesenangan dan hobinya untuk menjaga keharmonisan hubungan kita dengannya.

Ya, begitulah caranya mengasihi dan mencintai. Bukan menuntut, tetapi berkorban. “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”. Membuang kebencian dan mengasihi lebih lagi, menyebabkan rasa garam lebih enak dari pada rasa gula.

Salam

Jerri Irgo
ehm.. ma kasih ya sdri Intan Wahyu Widyaningrum, untuk ide ceritanya

Advertisements




Hidup Berawal dari Mimpi

18 08 2007

Bondan Prakoso featuring Fade 2 Black

Yo.. kujelang matahari dengan segelas teh panas
di pagi ini ku bebas karena nggak ada kelas
di luar mata ini kamar ini serasa luas
letih dan lelah juga lambat-lambat terkuras
teh sudah habis kerongkonganku pun puas
mulai kutulis semua kehidupan di kertas
hari-hari yang keras kisah cinta yang pedas
perasaan yang was-was dan gerakku yang terbatas

cinta yang keluar dari dalam pena
pergi ramah dengan apa yang kurasa
dalam hati ini ingin kuubah semua kehidupan monoton penuh luka putus asa

* tinggalkanlah gengsi hidup berawal dari mimpi

gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi
rasakan semua, peduli tuk ironi tragedi
senang bahagia hingga kelak kau mati…
Yo.. dunia memang tak selebar daun kelor
akal dan pikiranku pun tak selamanya kotor
membuka mata hati demi sebuah cita-cita
melangkah pasti pena dan tinta berbicara
tetapkan pilihan tuk satu kemungkinan
sebagai bintang hiburan dan terus melayang
tak heran ragaku terbalut lebel mewah
cerminan seorang raja dalam crita sinderela
ini bukan mimpi atau halusinasi
sebuah anugerah yang kan kunikmati nanti
hasil kerja keras kupun terbayar lunas tuntas
melakoni jati diri sampai puas

*

jalan sedikit tersungkur terjungkir terbalik
melangkah menuju titik lakukan yang terbaik
kugetarkan tekad dan niat agar melesat
sperti rudal squad mimpi kan kudapat
mencari tepuk tangan atas karya keringatku
bukan satu yang ingin aku tuju
naik atas pentas agar orang puas
dapat aplaus cek out kaupun buang kertas
cari sensasi atau kontroversi
bukan caraku agar hidup kurekonstruksi
dari mimpi semua hal dapat terjadi
maka lebarkan sayap dan terbanglah yang tinggi

*

agar semua terjadi
….
hingga kelak kau mati…





Perhitungan Optimis dan Pesimis dalam Anggaran

18 08 2007

Dalam buku “Millionare Next Door“, Danko dan Stanley telah menyatakan bahwa hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa orang kaya meluangkan waktunya untuk membuat dan memeriksa anggaran dua kali lebih banyak daripada orang biasa. Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan anggaran keuangan untuk pribadi ataupun keluarga merupakan salah satu proses yang penting dalam mengelola keuangan kita.

Namun, karena dalam pembuatan anggaran kita mesti memperkirakan masa depan, terkadang kita tidak tahu pasti berapa pendapatan ataupun berapa pengeluaran untuk salah satu bidang. Terkadang kita hanya bisa memperkirakan dalam satu rentangan nilai.

Misalkan saja kita tidak tahu harga pasti dari Paket Liburan yang hendak kita beli untuk liburan Desember nanti. Namun kita bisa memperkirakan bahwa harganya sekitar Rp. 2.000.000 – Rp. 3.000.000 per orang.

Nah, dalam artikel kali ini, kita mempelajari mengenai cara untuk memasukan nilai-nilai seperti ini ke dalam anggaran kita.

Misalkan saja Bu Tika bekerja sebagai designer part time dari perusahaan baju. Bayarannya dihitung berdasarkan jumlah desain yang diterima. Untuk setiap desain, Bu Tika menerima sekitar Rp. 100.000,-. Setiap minggu Bu Tika rata-rata membuat 10 desain, dan biasanya perusahaannya menerima sekitar 30%-50% dari desain Bu Tika.

Sekarang mari kita hitung perkiraan pendapatan Bu Tika per bulan. Setiap minggu Bu Tika membuat 10 desain, kita asumsikan dalam sebulan terdapat 4 minggu, jadi per bulan Bu Tika membuat 40 desain. Perusahaan menerima sekitar 30% hingga 50% dari desain Bu Tika, dengan kata lain jumlah desain yang diterima adalah sekitar 12 hingga 20 desain. Dengan dikalikan Rp. 100.000,- nilai per desain, maka kita mendapatkan bahwa perkiraan penghasilan bulanan Bu Tika adalah Rp. 1.200.000,- hingga Rp. 2.000.000,- dalam satu bulan.

Nah, dalam membuat anggaran untuk pendapatan seperti ini, Bu Tika harus mempergunakan perhitungan pesimis. Artinya? Dalam rentangan hasil perhitungan (Rp. 1.200.000,- hingga Rp. 2.000.000), Bu Tika mengambil angka yang paling KECIL untuk dimasukkan ke dalam anggarannya. Dalam hal ini, dalam anggaran Bu Tika tercantum bahwa pendapatan bulanannya adalah Rp. 1.200.000.

Mengapa kita mengambil angka yang paling kecil dalam anggaran pendapatan kita? Tujuannya adalah agar dalam merencanakan belanja, kita membuat rencana yang tidak membelanjakan lebih dari Rp. 1.200.000.

Bagaimana kalau ternyata pendapatan bulan ini adalah Rp. 2.000.000? Sementara kita hanya membuat rencana belanja Rp. 1.200.000? Nah, kalau ini sampai terjadi artinya Bu Tika memiliki uang lebih sebanyak Rp. 800.000. Uang ini bisa ditabung atau digunakan untuk keperluan lain misalnya untuk modal pengembangan usaha.

Di sisi lain, apabila Bu Tika menuliskan pendapatan Rp. 2.000.000 pada anggarannya, dan membuat anggaran belanja sebesar Rp. 2.000.000,- juga. Bu Tika akan kelabakan apabila ternyata penghasilannya pada saat itu Rp. 1.200.000,-. Terjadi kekurangan uang sebesar Rp. 800.000,-. Dan kalau kekurangan ini terjadi pada pos pengeluaran yang penting, maka mau gak mau Bu Tika harus berhutang atau menjual asetnya untuk menutupi biaya tersebut.

Jadi dalam pembuatan anggaran pendapatan dan pengeluaran pribadi ataupun keluarga, kita perlu menyadari bahwa prinsipnya lebih baik terjadi kelebihan uang daripada kekurangan uang. Untuk mencegah agar tidak terjadi kekurangan uang, maka untuk memperkirakan pendapatan kita menggunakan perhitungan pesimis. Ambilah angka yang paling kecil.

Perhitungan Optimis Digunakan Untuk Anggaran Biaya
Biaya masuk Universitas X didasarkan pada nilai yang diperoleh calon mahasiswa pada saat ujian masuk. Untuk Grade A, biaya masuknya adalah Rp. 5.000.000, untuk Grade B, biaya masuknya adalah Rp. 7.000.000,-, untuk Grade C biaya masuknya adalah Rp. 9.000.000,- sementara untuk Grade D biaya masuknya adalah Rp. 11.000.000,- .

Anak dari Pak Hasan akan memasuki Universitas X pada tahun mendatang. Berapakah jumlah uang yang harus disiapkan oleh Pak Hasan dengan asumsi tidak ada peningkatan biaya masuk Universitas X?

Nah, kebalikan dari anggaran pendapatan, untuk memperkirakan biaya kita harus mempergunakan perhitungan optimis. Ambilah nilai yang paling BESAR. Dalam kasus diatas, jawabannya sederhana. Pak Hasan harus menyediakan uang sebesar Rp. 11.000.000,- untuk uang masuk ke Universitas X.
Sekarang pertanyaannya, apabila Pak Hasan sudah menyediakan uang sebesar Rp. 11.000.000,- , dan ternyata anaknya lulus ujian masuk dengan grade A. Apa yang terjadi? Tidak ada masalah. Sang anak berhasil menghemat biaya masuk kuliah sebesar Rp. 6.000.000,-. Uang ini bisa dialokasikan untuk keperluan lainnya. Pak Hasan bisa saja membelikan hadiah sebagai reward kepintaran anaknya.

Di sisi lain, bagaimana jika Pak Hasan hanya menyediakan uang sebesar Rp. 5.000.000,- lalu ternyata anaknya hanya mendapat Grade D dalam ujian masuk Universitas X? Disini baru terjadi masalah. Uang Pak Hasan tidak cukup untuk membayar uang masuk universitas. Biasanya masalah seperti ini diselesaikan dengan cara berhutang, menjual asset, atau mencari universitas lain. Dalam kasus terburuk, sang anak tidak jadi kuliah. Kasihan.

Kembali ke prinsip pembuatan anggaran tadi, lebih baik terjadi kelebihan uang daripada kekurangan uang. Dalam perhitungan biaya atau pengeluaran kita harus menggunakan cara optimis. Ambilah perkiraan biaya yang paling tinggi.

Dengan cara seperti ini kita akan terhindar dari masalah keuangan.
Sekian posting dari saya untuk kesempatan kali ini. Semoga dapat berguna untuk pengelolaan keuangan Saudara.

Regards,
Jerri Irgo