Perhitungan Optimis dan Pesimis dalam Anggaran

18 08 2007

Dalam buku “Millionare Next Door“, Danko dan Stanley telah menyatakan bahwa hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa orang kaya meluangkan waktunya untuk membuat dan memeriksa anggaran dua kali lebih banyak daripada orang biasa. Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan anggaran keuangan untuk pribadi ataupun keluarga merupakan salah satu proses yang penting dalam mengelola keuangan kita.

Namun, karena dalam pembuatan anggaran kita mesti memperkirakan masa depan, terkadang kita tidak tahu pasti berapa pendapatan ataupun berapa pengeluaran untuk salah satu bidang. Terkadang kita hanya bisa memperkirakan dalam satu rentangan nilai.

Misalkan saja kita tidak tahu harga pasti dari Paket Liburan yang hendak kita beli untuk liburan Desember nanti. Namun kita bisa memperkirakan bahwa harganya sekitar Rp. 2.000.000 – Rp. 3.000.000 per orang.

Nah, dalam artikel kali ini, kita mempelajari mengenai cara untuk memasukan nilai-nilai seperti ini ke dalam anggaran kita.

Misalkan saja Bu Tika bekerja sebagai designer part time dari perusahaan baju. Bayarannya dihitung berdasarkan jumlah desain yang diterima. Untuk setiap desain, Bu Tika menerima sekitar Rp. 100.000,-. Setiap minggu Bu Tika rata-rata membuat 10 desain, dan biasanya perusahaannya menerima sekitar 30%-50% dari desain Bu Tika.

Sekarang mari kita hitung perkiraan pendapatan Bu Tika per bulan. Setiap minggu Bu Tika membuat 10 desain, kita asumsikan dalam sebulan terdapat 4 minggu, jadi per bulan Bu Tika membuat 40 desain. Perusahaan menerima sekitar 30% hingga 50% dari desain Bu Tika, dengan kata lain jumlah desain yang diterima adalah sekitar 12 hingga 20 desain. Dengan dikalikan Rp. 100.000,- nilai per desain, maka kita mendapatkan bahwa perkiraan penghasilan bulanan Bu Tika adalah Rp. 1.200.000,- hingga Rp. 2.000.000,- dalam satu bulan.

Nah, dalam membuat anggaran untuk pendapatan seperti ini, Bu Tika harus mempergunakan perhitungan pesimis. Artinya? Dalam rentangan hasil perhitungan (Rp. 1.200.000,- hingga Rp. 2.000.000), Bu Tika mengambil angka yang paling KECIL untuk dimasukkan ke dalam anggarannya. Dalam hal ini, dalam anggaran Bu Tika tercantum bahwa pendapatan bulanannya adalah Rp. 1.200.000.

Mengapa kita mengambil angka yang paling kecil dalam anggaran pendapatan kita? Tujuannya adalah agar dalam merencanakan belanja, kita membuat rencana yang tidak membelanjakan lebih dari Rp. 1.200.000.

Bagaimana kalau ternyata pendapatan bulan ini adalah Rp. 2.000.000? Sementara kita hanya membuat rencana belanja Rp. 1.200.000? Nah, kalau ini sampai terjadi artinya Bu Tika memiliki uang lebih sebanyak Rp. 800.000. Uang ini bisa ditabung atau digunakan untuk keperluan lain misalnya untuk modal pengembangan usaha.

Di sisi lain, apabila Bu Tika menuliskan pendapatan Rp. 2.000.000 pada anggarannya, dan membuat anggaran belanja sebesar Rp. 2.000.000,- juga. Bu Tika akan kelabakan apabila ternyata penghasilannya pada saat itu Rp. 1.200.000,-. Terjadi kekurangan uang sebesar Rp. 800.000,-. Dan kalau kekurangan ini terjadi pada pos pengeluaran yang penting, maka mau gak mau Bu Tika harus berhutang atau menjual asetnya untuk menutupi biaya tersebut.

Jadi dalam pembuatan anggaran pendapatan dan pengeluaran pribadi ataupun keluarga, kita perlu menyadari bahwa prinsipnya lebih baik terjadi kelebihan uang daripada kekurangan uang. Untuk mencegah agar tidak terjadi kekurangan uang, maka untuk memperkirakan pendapatan kita menggunakan perhitungan pesimis. Ambilah angka yang paling kecil.

Perhitungan Optimis Digunakan Untuk Anggaran Biaya
Biaya masuk Universitas X didasarkan pada nilai yang diperoleh calon mahasiswa pada saat ujian masuk. Untuk Grade A, biaya masuknya adalah Rp. 5.000.000, untuk Grade B, biaya masuknya adalah Rp. 7.000.000,-, untuk Grade C biaya masuknya adalah Rp. 9.000.000,- sementara untuk Grade D biaya masuknya adalah Rp. 11.000.000,- .

Anak dari Pak Hasan akan memasuki Universitas X pada tahun mendatang. Berapakah jumlah uang yang harus disiapkan oleh Pak Hasan dengan asumsi tidak ada peningkatan biaya masuk Universitas X?

Nah, kebalikan dari anggaran pendapatan, untuk memperkirakan biaya kita harus mempergunakan perhitungan optimis. Ambilah nilai yang paling BESAR. Dalam kasus diatas, jawabannya sederhana. Pak Hasan harus menyediakan uang sebesar Rp. 11.000.000,- untuk uang masuk ke Universitas X.
Sekarang pertanyaannya, apabila Pak Hasan sudah menyediakan uang sebesar Rp. 11.000.000,- , dan ternyata anaknya lulus ujian masuk dengan grade A. Apa yang terjadi? Tidak ada masalah. Sang anak berhasil menghemat biaya masuk kuliah sebesar Rp. 6.000.000,-. Uang ini bisa dialokasikan untuk keperluan lainnya. Pak Hasan bisa saja membelikan hadiah sebagai reward kepintaran anaknya.

Di sisi lain, bagaimana jika Pak Hasan hanya menyediakan uang sebesar Rp. 5.000.000,- lalu ternyata anaknya hanya mendapat Grade D dalam ujian masuk Universitas X? Disini baru terjadi masalah. Uang Pak Hasan tidak cukup untuk membayar uang masuk universitas. Biasanya masalah seperti ini diselesaikan dengan cara berhutang, menjual asset, atau mencari universitas lain. Dalam kasus terburuk, sang anak tidak jadi kuliah. Kasihan.

Kembali ke prinsip pembuatan anggaran tadi, lebih baik terjadi kelebihan uang daripada kekurangan uang. Dalam perhitungan biaya atau pengeluaran kita harus menggunakan cara optimis. Ambilah perkiraan biaya yang paling tinggi.

Dengan cara seperti ini kita akan terhindar dari masalah keuangan.
Sekian posting dari saya untuk kesempatan kali ini. Semoga dapat berguna untuk pengelolaan keuangan Saudara.

Regards,
Jerri Irgo


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: