WC-ne Mat Pithi: Guyonan Suroboyoan

29 02 2008

Sori ini harus pake boso Suroboyoan.. kalau gak gitu lucunya kurang 

Mat Pithi lagek pisan-pisan iki numpak montor mabur katene budal nang New York oleh undangan saka kancane. Antara stress amergo bingung durung tau numpak montor mabur
ketambahan stress mikiri bahasa inggrise sing gak patek gablek sidane wenenge munek-munek… mules wis.

Pas transit rodok suwe nang Changi, Mat Pithi mlayu nang WC. Ndilalah nepaki WC-ne rodok sepi.

Durung ae sak menit Mat Pithi olehe lungguh, wis onok suoro saka WC sebelah sing dempet-dempetan: “Piye dik? Apik-apik ae tah?”

Mat Pithi rodok nggumun, bathine: “Lho wong iki koq weruh nek aku saka Indonesia yo?”

Sidane Mat Pithi njawab ambek setengah gelagapan: “Eh… apik… apik”

Gak let suwe, wong sebelah ngomong maneh: “Wis krasa lega durung?”

“Lumayan” jarene Mat Pithi ambek garuk-garuk dengkule.

“Wah podo.. cuma aku saiki onok masalah titik…”

“Masalah opo yo pak?” jawab Mat Pithi.

“Iki lho.. onok wong gendeng ndik sebelah WC-ku sing melok-melok njawab omonganku.. yok opo nek engkok diluk engkas peno tak telpon maneh?”

Salam, Anam, entah dari mana bisa dapet ini.

Advertisements




Kaya karena Sederhana

29 02 2008

Menjadi orang kaya, itulah cita-cita banyak sekali orang. Hal yang sama juga pernah melanda saya. Dulu, ketika masih duduk di bangku SMA, kemudian menyaksikan ada rumah indah dan besar, dan di depannya duduk sepasang orang tua lagi menikmati keindahan rumahnya, sering saya bertanya ke diri sendiri: Akankah saya bisa sampai di sana? Sekian tahun setelah semua ini berlalu, setelah berkenalan dengan beberapa orang pengusaha yang kekayaan perusahaannya bernilai triliunan rupiah, duduk di kursi tertinggi perusahaan, atau menjadi penasehat tidak sedikit orang kaya, wajah-wajah hidup yang kaya sudah tidak semenarik dan seseksi bayangan dulu.

Penyelaman saya secara lebih mendalam bahkan menghasilkan sejumlah ketakutan untuk menjadi kaya. Ada orang kaya yang memiliki putera-puteri yang bermata kosong melompong sebagai tanda hidup yang kering. Ada pengusaha yang menatap semua orang baru dengan tatapan curiga karena sering ditipu orang, untuk kemudian sedikit-sedikit marah dan memaki. Ada sahabat yang berganti mobil termewah dalam ukuran bulanan, namun harus meminum pil tidur kalau ingin tidur nyenyak. Ada yang memiliki anak tanpa Ibu karena bercerai, dan masih banyak lagi wajah-wajah kekayaan yang membuat saya jadi takut pada kekayaan materi.

Dalam tataran pencaharian seperti ini, tiba-tiba saja saya membaca karya Shakti Gawain dalam jurnal Personal Excellence edisi September 2001 yang menulis :

‘If we have too many things we don’t truly need or want, our live become overly complicated’.

“Siapa saja yang memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul dibutuhkan, kehidupannya akan berwajah sangat rumit dan kompleks.”

Rupanya saya tidak sendiri dalam hal ketakutan bertemu hidup yang amat rumit karena memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul diperlukan. Shakti Gawain juga serupa. Lebih dari sekadar takut, pada tingkatan material yang amat berlebihan, ketakutan, kecemasan, dan bahkan keterikatan berlebihan mulai muncul.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana tidur saya amat terganggu di hari pertama ketika baru bisa membeli mobil. Sebentar-sebentar bangun sambil melihat garasi. Demikian juga ketika baru duduk di kursi orang nomer satu di perusahaan. Keterikatan agar duduk di sana selamanya membuat saya hampir jadi paranoid. Setiap orang datang dipandang oleh mata secara mencurigakan. Benang merahnya, kekayaan materi memang menghadirkan kegembiraan (kendati hanya sesaat), namun sulit diingkari kalau ia juga menghadirkan keterikatan, ketakutan dan kekhawatiran. Kemerdekaan, kebebasan, keheningan semuanya diperkosa habis oleh kekayaan materi.

Disamping merampok kebebasan dan keheningan, kekayaan materi juga menghasilkan harapan-harapan baru yang bergerak maju. Lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Demikianlah kekayaan dengan amat rajin mendorong manusia untuk memproduksi harapan (sekaligus angan-angan) yang lebih tinggi. Tidak ada yang salah dengan memiliki harapan yang lebih tinggi, sejauh seseorang bisa menyeimbangkannya dengan rasa syukur. Apa lagi kalau harapan bisa mendorong orang bekerja amat keras, plus keikhlasan untuk bersyukur pada Sang Hidup. Celakanya, dalam banyak hal terjadi, harapan ini terbang dan berlari liar. Dan kemudian membuat kehidupan berlari seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri.

Berefleksi dan bercermin dari sinilah, saya sudah teramat lama meninggalkan kehidupan yang demikian ngotot mengejar kekayaan materi. Demikian tidak ngototnya, sampai-sampai ada rekan yang menyebut saya bodoh, tidak mengerti bisnis, malah ada yang menyebut teramat lugu. Untungnya, badan kehidupan saya sudah demikian licin oleh sebutan-sebutan. Sehingga setiap sebutan, lewat saja tanpa memberikan bekas yang berarti.

Ada sahabat yang bertanya, bagaimana saya bisa sampai di sana? Entah benar entah tidak, dalam banyak keadaan terbukti kalau saya bisa berada di waktu yang tepat, tempat yang tepat, dengan kemampuan yang tepat. Ketika ada perusahaan yang membutuhkan seseorang sebagai pemimpin yang cinta kedamaian, saya ada di sana. Tatkala banyak perusahaan kehilangan orientasi untuk kemudian mencari bahasa-bahasa hati, pada saat yang sama saya suka sekali berbicara dan menulis dengan bahasa-bahasa hati. Di kala sejumlah kalangan di pemerintahan mencari-cari orang muda yang siap untuk diajak bekerja dengan kejujuran, mereka mengenal dan mengingat nama saya. Sebagai akibatnya, terbanglah kehidupan saya dengan tenang dan ringan. Herannya, bisa sampai di situ dengan energi kengototan yang di bawah rata-rata kebanyakan orang. Mungkin tepat apa yang pernah ditulis Rabin Dranath Tagore dalam The Heart of God

‘let this be my last word, that I trust in Your Love’.

Keyakinan dan keikhlasan di depan Tuhan, mungkin itu yang menjadi kendaraan kehidupan yang paling banyak membantu hidup saya.

Karena keyakinan seperti inilah, maka dalam setiap doa saya senantiasa memohon agar seluruh permohonan saya dalam doa diganti dengan keikhlasan, keikhlasan dan hanya keikhlasan. Tidak hanya dalam doa, dalam keseharian hidup juga demikian. Ada yang mau menggeser dan memberhentikan, saya tidak melawan. Ada yang mengancam dengan kata-kata kasar, saya imbangi secukupnya saja. Ada sahabat yang menyebut kehidupan demikian sebagai kehidupan yang terlalu sederhana dan jauh dari kerumitan. Namun saya meyakini, dengan cara demikian kita bisa kaya dengan jalan sederhana.

Gede Prama, 2002





Anggaran yang Visioner

18 02 2008

Tanggal 25 bagi kebanyakan orang ibarat angin segar yang membawa udara bersih di tengah-tengah polusi. Sehabis gajian atau tiap kali mendapat penghasilan orang bisa bernafas lega, pada saat ini siapapun boleh membayangkan dalam benaknya mau digunakan untuk apa saja uang tersebut.

Beberapa orang memilih untuk membeli aset yang akan membuat mereka bertambah kaya, sebagian yang lain bergegas ke toko membeli barang yang membuat penampilannya makin keren. Sisanya sedang berpikir keras mencari penjelasan yang masuk akal mengapa tagihan bulan ini telat lagi.

Hati-hati, jangan sampai Anda masuk ke dalam kategori mereka yang bergaji 10, (sepuluh koma) – maksudnya belum tanggal sepuluh sudah koma!

Itulah mengapa menerima aliran uang masuk walaupun menyenangkan tetapi bukannya tanpa konsekuensi.

Anda boleh saja menghabiskannya sekarang atau menyimpannya. Ada pendapat mengatakan bahwa yang penting bukan berapa jumlah penghasilan seseorang tetapi berapa yang bisa disimpan dari penghasilan itu.

Saya agak kurang sependapat dengan rumusan anggaran seperti itu, sebab hanya menitikberatkan pada ‘berapa’nya saja. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa untuk mengelola keuangan Anda butuh uang, tanpa uang Anda tidak bisa mengelola keuangan.

Coba kita perhatikan, jika penghasilan seseorang sama atau lebih kecil dari pengeluarannya, maka secara riil orang tersebut tidak punya uang bukan? Karena itu sebuah pengelolaan keuangan keluarga sebaiknya tidak bertumpu hanya pada ‘berapa’nya tetapi mengikuti kaidah anggaran ‘Darimana – kemana – berapa dan apa hasilnya.’ Mari kita bahas bagimana aplikasi perencanaan keuangan rumah tangga dengan pendekatan ini

Visioner

Merencanakan keuangan selalu melibatkan anggaran dalam tiap aspeknya. Istilah anggaran sendiri mempunyai arti berbeda bagi tiap orang. Dalam Kamus Istilah Keuangan & Investasi versi John Downes & Jordan Elliot Goodman, memahami anggaran dalam definisi berikut ‘Anggaran adalah perkiraan dari pemasukan dan pengeluaran untuk suatu periode yang telah ditentukan. Dari sekian banyak anggaran, anggaran kas menunjukkan arus kas, anggaran pengeluaran memperlihatkan pengeluaran yang diproyeksikan dan anggaran modal memperlihatkan pengeluaran yang diperkirakan.’ Istilah ini menunjukkan pada suatu rencana pendahuluan.

Orang yang gajinya tinggi dengan yang bergaji rendah, keduanya bisa sama-sama malas mengelola keuangan alasannya karena tidak ada lagi uang yang bisa dikelola. Apapun problema keuangannya jawabannya adalah tanggal gajian berikutnya. Sementara orang-orang yang kelebihan uang makin malas mengelola keuangannya karena tidak punya masalah kekurangan uang. Apapun problema keuangannya jawabannya adalah selalu ada uang untuk menyelesaikannya.

Ketika hanya mengandalkan jumlah ‘berapa’ maka kita memutuskan tidak bisa melakukan atau tidak mau melakukan perencanaan keuangan, selalu berdasarkan ada tidak adanya atau sedikit banyaknya uang.

Padahal secara alamiah orang ingin lebih baik dan lebih lagi baik lagi, begitupula secara keuangan orang ingin punya lebih banyak uang lagi. Konsep ‘berapa’ membatasi kemampuan kita pada jumlah yang ada, sementara konsep darimana saja datangnya, mendorong kita memproyeksikan berbagai macam potensi pemasukan yang sudah kita bahas pada tulisan saya sebelumnya.

Pemasukan itu antara lain (a) pemasukan insidentil; (b) pemasukan pekerjaan; (c) pemasukan investasi; dan (d) pemasukan bisnis. Dengan sebuah rencana pendahuluan seperti ini maka Anda mempunyai panduan dalam mendapatkan berbagai macam pemasukan sebelum benar-benar mengalokasikannya ke berbagai pengeluaran.

Lagipula dalam anggaran, kedua kolom berisi pemasukan dan pengeluaran tidak sekalipun mensyaratkan uang dalam jumlah tertentu. Anda boleh menaruh berapa pengeluaran dan penghasilan anda sesuai dengan kenyataan, yang bisa disebut anggaran realitas.

Namun boleh juga menaruh berapapun yang Anda inginkan yang bisa disebut anggaran visioner. Hal itu dimungkinkan sebab anggaran adalah proyeksi atau suatu rencana pendahuluan, dengan demikian sebuah visi keuangan akan dipandu untuk menjadi kenyataan. Hasilnya Anda tidak hanya memiliki ‘berapa’ tetapi ‘beberapa’.

Darimana – Kemana

Tadi kita sudah mengenal dua buah pendekatan dalam melakukan anggaran, yaitu anggaran realitas untuk mengelola apa yang biasanya ada dan anggaran visioner untuk mewujudkan apa yang belum ada. Dalam praktek sehari-hari pendekatan anggaran realitas umumnya menghasilkan tiga tipe pengguna anggaran, yaitu:

  1. Tipe sisa yang fokus pada menyimpan. Mereka menganggarkan pengeluaran lebih kecil dari pemasukan dengan tujuan berapapun penghasilannya yang penting adalah berapa yang bisa disimpan
  2. Tipe habis yang fokus pada kebutuhan. Mereka menganggarkan pengeluaran sama dengan pemasukan dengan tujuan berapapun penghasilannya , yang penting berapa yang bisa dihabiskan untuk kebutuhan
  3. Tipe defisit yang fokus pada kekurangan. Mereka menganggarkan pengeluaran lebih besar dari pemasukan sehingga berapapun jumlah penghasilannya yang penting berapa yang digunakan untuk menutup kekurangan tersebut walau dengan utang sekalipun.

Anggaran realitas menitikberatkan pada berapa jumlah pemasukan yang bisa menjadi uang kembali. Kelemahannya dia membutuhkan uang untuk mendapatkan uang. Akibatnya, jika jumlah pemasukan sedikit maka sedikit pula uang yang bisa dihasilkan dari situ.

Sementara anggaran visioner mempunyai kecenderungan menghasilkan tipe efektif, yaitu mereka yang menganggarkan berbagai jenis potensi pemasukan (darimana) untuk pengeluaran-pengeluaran (kemana) yang dialokasikan dalam jumlah (berapa) yang bertujuan meningkatkan pemasukan (hasil).

Disini Anda tidak hanya didorong untuk mengelola uang, namun juga waktu, tenaga, pikiran dan network untuk bisa menciptakan berbagai macam jenis pemasukan.

Dengan cara ini selain ‘berapa’nya lebih besar, Anda juga tidak perlu tergantung dari satu penghasilan saja bukan?

oleh : Mike R. Sutikno

-Jens Lehmann Inc.-

kiriman anam[at]mhmmd.net | contact: +62 (0) 818 255 907 | entergizer

http://entergizer.wordpress.com





5 Langkah Perencanaan Keuangan [bagian 3b]

4 02 2008

Mari kita lanjutan ya…untuk berhasil melaksanakan langkah pertama untuk menjadi kaya seperti yang disebutkan oleh Tung Desem Waringin, Anda harus bisa menyisihkan minimal 10% dari pendapatan Anda untuk ditabung.

Nantinya tabungan inilah yang akan kita gunakan untuk langkah kedua, berinvestasi dengan konsep compound interest.

Apa itu konsep compound interest? Albert Einstein, ilmuwan paling jenius di dunia, mengatakan bahwa salah satu keajaiban dunia adalah compound interest. Wah, kenapa dapat dikatakan begitu?

Asumsi sekarang kita memiliki uang menganggur sebesar Rp. 1.000.000. Uang ini kita tabung dengan bunga sebesar 6% per tahun. Di tahun mendatang, kita mendapatkan bunga sebesar:

Bunga = Rp. 1.000.000 * 6% = Rp. 60.000

Nah, bunga ini kita masukan kembali ke dalam tabungan sehingga turut berbunga. Pada tahun kedua, bunga kita menjadi :

Bunga = Rp. 1.060.000 * 6% = Rp. 63.600

Perhatikan bahwa bunga yang kita dapatkan pada tahun pertama, kita investasikan ulang ke tabungan kita. Jadi bunga kita akan turut berbunga, sehingga terjadi pertambahan bunga sebesar Rp. 3.600,-.

Ajaibnya, bunga yang turut berbunga ini akan menyebabkan pertumbuhan yang luar biasa pada tabungan kita.

Dalam waktu 12 tahun, tabungan kita akan menjadi Rp. 2.012.196,- atau menjadi 2 kali lipat jumlah awal. Dan kalau dibiarkan 12 tahun lagi, maka tabungan ini akan berkembang menjadi 2 kali lipat lagi, alias Rp. 4.048.934,-. Pertumbuhan investasi seperti inilah yang disebut dengan “compound interest“. Ingat, bunga yang kita dapat harus diinvestasikan kembali.

Konsep compound interest inilah yang akan kita gunakan dalam menyusun rencana keuangan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah kita tetapkan sebelumnya.

Sebagai contoh, misalkan Mbak Peni hendak membuat rencana keuangan untuk mendanai studi anaknya. Untuk membayar uang masuk studi anaknya, Mbak Peni membutuhkan uang sebesar Rp. 20.000.000,- . Berapakah jumlah uang yang harus disisihkan oleh Mbak Peni setiap bulannya?

NB: Untuk menyederhanakan perhitungan dalam contoh, kita menganggap bahwa uang masuk studi tidak mengalami inflasi. Perhitungan compound interest sangat rumit. Di saat studi, biasanya kita diajarkan untuk melakukan perhitungan dengan cara menggunakan tabel.

Di dunia bisnis, biasanya orang membeli kalkulator finansial, yang memiliki fungsi-fungsi khusus untuk melakukan perhitungan compound interest.

Bagi Anda yang memiliki komputer, Anda beruntung! Komputer Anda dapat melakukan perhitungan compound interest dengan cepat dan mudah! Caranya? Gunakan aplikasi spreadsheet seperti Microsoft Excel.

Untuk menjawab pertanyaan Mbak Peni, kita memerlukan 2 buah data lagi yaitu:

  1. Berapa lama waktu yang dimiliki oleh Mbak Peni?
  2. Apakah produk investasi yang digunakan? Berapa tingkat return/bunganya?

Biasanya seorang anak akan memasuki studi [S1] pada usia 18 tahun. Jadi andaikata sekarang anak Mbak Peni berusia 10 tahun, maka Mbak Peni masih memiliki waktu sebanyak 8 tahun untuk berinvestasi.

Sekarang kita lihat dalam worksheet. Data jumlah uang yang perlu ditabung oleh Mbak Peni, apabila jangka waktu menabungnya adalah 8 tahun :

  • Apabila Mbak Peni menggunakan produk deposito dengan tingkat suku bunga sekitar 5% per tahun, maka Mbak Peni harus menabung sebesar Rp. 169.865 per bulannya.
  • Apabila Mbak Peni menggunakan produk reksa dana pasar uang dengan tingkat return sekitar 8% per tahun, maka Mbak Peni harus menabung sebesar Rp. 149.400 per bulan.
  • Apabila Mbak Peni menggunakan produk reksa dana saham dengan tingkat return sekitar 20% per tahun, maka Mbak Peni harus menabung sebesar Rp. 85.731 per bulan.

Apakah kesimpulan yang dapat Anda tarik dari data yang ditunjukan oleh worksheet diatas? Bahwa, SEMAKIN TINGGI TINGKAT SUKU BUNGA, maka jumlah uang yang perlu ditabung per bulannya menjadi SEMAKIN KECIL.

Perlu diingat disini bahwa produk investasi yang tingkat suku bunganya tinggi biasanya diikuti dengan tingkat resiko yang tinggi juga. Apakah Anda siap untuk menanggung resiko investasi?

Nah sekarang, bagaimana jika ceritanya Mbak Peni menunda investasi untuk dana studi anaknya?

Katakanlah tabungan untuk pendidikan ini ditunda selama 3 tahun. Sekarang Mbak Peni hanya memiliki waktu 5 tahun untuk menyiapkan dana pendidikan anaknya. Berapakah jumlah uang yang perlu ditabung per bulannya?

Jawabannya :

  • Apabila Mbak Peni menggunakan produk deposito dengan tingkat suku bunga sekitar 5% per tahun, maka Mbak Peni harus menabung sebesar Rp. 294.091 per bulannya.
  • Apabila Mbak Peni menggunakan produk reksa dana pasar uang dengan tingkat return sekitar 8% per tahun, maka Mbak Peni harus menabung sebesar Rp. 272.195 per bulan.
  • Apabila Mbak Peni menggunakan produk reksa dana saham dengan tingkat return sekitar 20% per tahun, maka Mbak Peni harus menabung sebesar Rp. 196.544 per bulan.

Sekarang kita analisa kembali jawaban yang sekarang dengan jawaban sebelumnya.

Untuk tingkat suku bunga yang sama-sama 5% per tahun,apabila jangka waktu yang tersedia 8 tahun, maka jumlah yang harus ditabung adalah Rp. 169.865,- per bulan.

Namun apabila jangka waktu yang tersedia hanya 5 tahun, maka jumlah yang harus ditabung meningkat menjadi Rp. 294.091,-. Jumlah yang harus Mbak Peni bayar hampir 2 kali lebih mahal.

Artinya? Setiap penundaan terhadap investasi, menyebabkan Anda harus membayar LEBIH MAHAL untuk mencapai tujuan Anda. Perlu diingat bahwa dalam investasi, WAKTU ADALAH TEMAN ANDA. Semakin lama jangka waktu Anda berinvestasi, maka beban yang harus Anda tanggung akan menjadi semakin ringan.

Mulailah berinvestasi sekarang juga dan buatlah sendiri rencana keuangan pribadi anda

Jasa konsultasi perencana keuangan untuk merancang rencana keuangan sangatlah mahal. [relatif ding!]

“Terus bagaimana donk cara saya merencanakan keuangan saya?”

Jangan khawatir. saya tidak tarik biaya kok, mari kita berbagai ilmu, menurut tips David Ciang, buatlah rencana keuangan dengan cara membuat berbagai macam rencana keuangan dengan menggunakan rumus-rumus yang telah tersedia pada program komputer Microfot Excel.

Siapkan worksheet, antara lain :

  • – Menghitung nilai tabungan di masa depan.
  • – Rencana pensiun.
  • – Rencana dana pendidikan anak.
  • – Perhitungan bunga hutang.
  • – Perhitungan investasi obligasi.
  • – dan masih banyak lagi.

Kita dapat melakukan perhitungan untuk rencana keuangan kita secara gampang dan hanya dalam hitungan detik! Sipp!!

Oke, Sukses Selalu

Thanks buat Mbak Peni Solo, koreksinya kalo ada yang salah itung..he..he. .

Respectfully yours

Jerri Irgo…





5 Langkah Perencanaan Keuangan [bagian 3a]

4 02 2008

Kembali ke topik 5 Langkah Perencanaan Keuangan, dalam posting sebelumnya saya sudah menyebutkan bahwa untuk melakukan perencanaan keuangan pribadi ataupun keluarga, kita harus melalui 5 tahap besar, yaitu:

  1. Menentukan Tujuan Keuangan.
  2. Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.
  3. Membuat Rencana Keuangan.
  4. Melakukan Implementasi Dari Rencana Keuangan.
  5. Monitor dan Evaluasi Berkala.

Dalam 2 postingan saya sebelum ini dengan topik yang sama, saya sudah menjelaskan mengenai tahap pertama dan tahap kedua. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas secara detil mengenai tahap ketiga, yaitu

Membuat Rencana Keuangan.

Secara sederhana agar bisa menjadi kaya, apa yang harus kita lakukan? Menurut Tung Desem Waringin, dalam seminarnya Financial Revolution mengatakan bahwa :

  1. Mengeluarkan lebih sedikit dari yang diterima (alias pengeluaran harus lebih sedikit daripada pendapatan)
  2. Menginvestasikan selisihnya dan menginvestasikan ulang hasilnya untuk pertumbuhan bunga berbunga (compound interest)

Jadi disini kita melihat bahwa ada 2 langkah. Langkah pertama bisa dibantu dengan cara membuat Anggaran Pendapatan Pengeluaran Pribadi/Keluarga. Sementara untuk langkah kedua, kita akan membuat rencana keuangan untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan yang telah kita rumuskan sebelumnya [Baca email saya yang berjudul 5 Langkah Perencanaan Keuangan [bagian 1] untuk menentukan tujuan keuangan Anda].

Membuat Anggaran Pendapatan Pengeluaran Pribadi/Keluarga.

Di tanggal tua seringkali kita mendengar keluhan bahwa uang sudah habis. Mesti menunggu gajian. Dan lucunya lagi, apabila kita tanyakan kenapa uangnya bisa habis? Bulan ini belanja apa saja? Kebanyakan orang tidak bisa menjawab. Mengapa? Karena pengeluaran tidak terkendali. Agar problem seperti ini tidak terjadi untuk keuangan kita, kita perlu alat bantu untuk mengontrol pengeluaran. Salah satunya adalah Anggaran Pendapatan Pengeluaran Pribadi/Keluarga.

Bagaimana cara membuat Anggaran? Gampang. Secara umum anggaran terbagi 2 bagian, yaitu PENDAPATAN dan PENGELUARAN. Pada bagian pendapatan, kita membuat daftar sumber-sumber penghasilan kita, beserta jumlahnya. Misalkan saja untuk keluarga Pak Budi adalah keluarga yang suami dan istrinya bekerja, ada 2 jenis pendapatan yaitu gaji saya dan gaji pasangan.

PENDAPATAN

Gaji Saya                         Rp. 4.000.000

Gaji Pasangan                 Rp. 3.000.000

—————————————-

Total Pendapatan          Rp. 7.000.000

Nah, dari pendapatan ini, kita memberi jatah pengeluaran untuk masing-masing pos. Ada 12 pos pengeluaran yang lazim digunakan yaitu tabungan, makanan/kebutuhan harian, pakaian, pendidikan, kesehatan, transportasi, telekomunikasi, asuransi, pembayaran kredit, dan lain-lain.

Sebagai contoh:

PENGELUARAN:

Tabungan                                            Rp. 700.000

Makanan/Kebutuhan Harian           Rp. 1.500.000

Pakaian                                               Rp. 400.000

Pendidikan                                         Rp. 700.000

Kesehatan                                           Rp. 450.000

Rekreasi                                             Rp. 1.000.000

Transportasi                                      Rp. 400.000

Telekomunikasi                                Rp. 450.000

Asuransi                                            Rp. 500.000

Pembayaran Kredit                        Rp. 400.000

Lain-lain                                           Rp. 500.000

————————————————-

Total Pengeluaran                          Rp. 7.000.000

Ini adalah pengeluaran yang anda RENCANAKAN. Nantinya, pengeluaran yang sebenarnya akan berbeda dari rencana Anda.

Tugas Anda setelah ini adalah secara berkala mengawasi pengeluaran untuk masing-masing pos, agar tidak melenceng jauh dari rencana. Misalkan saja Anda merencanakan Rp. 1.000.000,- untuk pos pengeluaran rekreasi Anda.

Pada tanggal 20, total pengeluaran Anda untuk rekreasi sudah mencapai Rp. 900.000, maka Anda harus mengurangi kegiatan rekreasi Anda atau setidaknya mencari kegiatan rekreasi yang tidak terlalu banyak menghabiskan uang. Sehingga Anda hanya menghabiskan Rp. 100.000 untuk kegiatan rekreasi hingga akhir bulan. Jadi disini pengeluaran untuk pos rekreasi akan sesuai dengan anggaran Anda.

Perlu diingat bahwa dalam membuat anggaran, taruhlah TABUNGAN pada pengeluaran paling atas. Mengapa? Sebab pengeluaran manusia itu sifatnya flexible, bisa diperbesar maupun diperkecil. Namun, ada kecenderungan untuk menghabiskan seluruh uang yang ada. Oleh karena itu, sejak awal berilah jatah pada tabungan. Setelah itu baru lakukan perhitungan untuk pos pos pengeluaran lainnya. Begitu gajian, langsung pindahkan jatah tabungan Anda ke sebuah rekening yang khusus tabungan. Rekening tabungan ini tidak boleh ditarik lagi kecuali keadaan darurat.

Best Regards

Jerri Irgo





5 Tahap Perencanaan Keuangan [bagian 2]

4 02 2008

Dalam posting sebelumnya, saya telah membahas bahwa dalam proses perencanaan keuangan, kita perlu melalui 5 tahap penting, yaitu:

  • Menentukan Tujuan Keuangan.
  • Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.
  • Membuat Rencana Keuangan.
  • Melakukan Implementasi Dari Rencana Keuangan.
  • Monitor dan Evaluasi Berkala.

Dalam kesempatan ini, saya akan membahas tahap kedua dari perencanaan keuangan, yaitu Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.

Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang

Pernahkah Anda melihat denah informasi di pusat perbelanjaan? Biasanya denah ini menggambarkan struktur dari bangunan yang bersangkutan beserta daftar nama toko yang beroperasi di pusat perbelanjaan tersebut.

Nah, tahukah Anda apa salah satu unsur dari denah tersebut yang paling penting buat Anda?

Setiap kali Anda melihat denah, Anda harus mencari tanda “ANDA SEDANG BERADA DISINI”. Dengan adanya tanda tersebut, maka Anda dapat mengetahui posisi Anda dalam denah tersebut. Tanpa ada tanda “ANDA SEDANG BERADA DISINI”, denah ini tidak akan berguna buat Anda walaupun Anda menghafal mati isi denah tersebut.

Sama halnya dengan keuangan. Setelah merumuskan tujuan keuangan yang ingin Anda capai, Anda harus mengetahui dimana posisi keuangan Anda pada saat ini.

Setelah mengetahui posisi keuangan sekarang, dan mengetahui tujuan yang hendak kita tuju, barulah kita bisa membuat rencana untuk kehidupan finansial kita.

Bagaimana cara mengetahui posisi keuangan kita pada saat ini? Nah, untuk mengetahui posisi keuangan untuk pribadi atau keluarga dengan bantuan 2 laporan, yaitu laporan kekayaan bersih (neraca) dan laporan arus kas.

  • Laporan Kekayaan Bersih (Neraca)

“Lahan tetangga kelihatan lebih hijau”. Istilah ini pasti sudah sering terdengar dalam pergaulan kita. Apa maksudnya? Misalkan saja begini. Anda melihat ke salah satu tetangga Anda. Rumahnya sangat besar. Ada kolah renang di dalamnya. Mobil koleksinya saja ada 5, semuanya merk terkenal. Wuah, dalam pikiran Anda, orang ini PASTI ORANG KAYA.

Padahal, disini Anda hanya melihat tetangga Anda dari sisi harta saja. Sebenarnya tetangga ini belum tentu lebih kaya dari Anda. “Bagimana mungkin orang yang memiliki harta sebanyak itu BUKAN ORANG KAYA?” Eits, jangan salah!

Di jaman yang serba canggih ini, segalanya bisa dibayar secara kredit. Rumah bisa dibeli pakai kredit, mobil juga. Bahkan kebutuhan sehari-hari saja bisa hutang dulu melalui kartu kredit.

Kemudahan kredit ada dimana-mana. Nah, untuk melihat apakah seseorang itu benar-benar kaya atau tidak, kita harus menghitung jumlah hartanya dikurangi dengan jumlah hutangnya.

Misalkan Mr. X memiliki mobil Kijang yang nilainya sekitar Rp. 150.000.000, -. Mobil ini dibelinya secara kredit, dengan sisa angsuran Rp. 8.000.000,- sebanyak 10 kali.

Jadi kekayaan Mr.X yang sebenarnya dari mobil Kijangnya adalah: = Rp. 150.000.000, – – (10 x Rp. 8.000.000,-) = Rp. 70.000.000,-

Nilai ini biasanya disebut dengan nama kekayaan bersih. Kekayaan bersih menggambarkan nilai kekayaan yang sebenarnya dari seseorang. Cara menghitungnya cukup sederhana, jumlahkan semua harta Anda lalu kurangi dengan jumlah seluruh hutang Anda.

Laporan Kekayaan Bersih merupakan potret dari kondisi keuangan Anda pada saat itu. Dalam kondisi normal, nilai kekayaan bersih seseorang adalah: = Usia x penghasilan tahunan / 10

Misalkan
Mr. X berpenghasilan Rp. 60.000.000,- per tahun, sementara umurnya adalah 30 tahun,
maka seharusnya nilai kekayaan bersih Mr.X adalah: = 30 x Rp. 60.000.000,- / 10 = Rp. 180.000.000, –

Apabila setelah dihitung-hitung, ternyata nilai kekayaan bersih pada laporan Mr.X berada dibawah Rp. 180.000.000, -, berarti Mr. X tidak dapat mengelola keuangan pribadinya dengan baik.

Disarankan Mr. X menghubungi perencana keuangan untuk mendapatkan konsultasi mengenai cara-cara mengelola keuangan.

  • Laporan Arus Kas

Kalau kita hendak membicarakan arus kas, kita mesti membayangkan sebuah ember yang bagian bawahnya penuh dengan lubang. Kemudian bayangkan apabila ada air yang dituangkan dari atas ember. Apa yang terjadi? Untuk sementara ember akan menampung air tersebut, namun hal ini tidak berlangsung lama. Dalam waktu singkat, air akan keluar melalui lubang-lubang pada bagian bawah ember.

Nah, dalam perumpamaan ini, kita adalah ember yang bocor. Sementara air adalah uang. Setiap bulan kita menerima gaji. Dalam perumpamaannya, setiap bulan ember diisikan dengan air. Namun, karena embernya bocor, perlahan-lahan air keluar dari lubang-lubang bagian bawahnya.

Begitu juga dengan kita. Uang akan keluar dari kantong kita melalui pos-pos pengeluaran, seperti untuk makanan, biaya perumahan, transportasi, pendidikan, kesehatan, hiburan, dan lain-lain.

Sekarang pertanyaannya berapa lama uang akan mengendap dalam kantong kita? Lubang pengeluaran mana yang paling banyak menghabiskan uang kita? Seberapa banyak dari uang kita yang sanggup kita tabung atau investasikan untuk keperluan di masa depan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanya an seperti inilah, maka kita membuat laporan arus kas. Secara umum laporan arus kas terdiri dari 2 bagian, yaitu Arus Kas Masuk (pendapatan) , dan Arus Kas Keluar (pengeluaran).

Pada bagian Arus Kas Masuk, kita menuliskan pendapatan-pendapatan kita seperti gaji, tunjangan, bonus, atau mungkin ada pendapatan dari pekerjaan sampingan.

Sementara pada Arus Kas Keluar terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama adalah pengeluaran untuk tabungan atau investasi. Bagian keduanya adalah pengeluaran untuk biaya tetap (biaya yang setiap bulan harus kita bayar dalam nilai yang sama), misalnya KPR, KPM, iuran TV, Premi Asuransi, dan lain-lain. Sementara bagian ketiga adalah pos-pos pengeluaran kita seperti makanan, pakaian, transportasi, hiburan, kesehatan, pendidikan, pembayaran kartu kredit dan lain-lain. Ingat, prinsip dasar dari keuangan adalah “Pendapatan harus lebih besar daripada pengeluaran”.

Apakah hal ini benar-benar terjadi pada arus kas Anda? Rasio Keuangan Setelah membuat kedua jenis laporan diatas, kita dapat melakukan analisa terhadap kondisi keuangan kita melalui rasio-rasio keuangan.

Ada 8 buah rasio yang lazim digunakan dalam menganalisa keuangan pribadi ataupun keluarga, yaitu:

  • – Rasio Likuiditas
  • – Rasio Aset Likuid terhadap Kekayaan Bersih
  • – Rasio Tabungan
  • – Rasio Perbandingan Nilai Bersih Aset Investasi terhadap Nilai Bersih Kekayaan
  • – Rasio Perbandingan Hutang Terhadap Asset
  • – Rasio Rasio Kemampuan Pelunasan Hutang
  • – Rasio Rasio Kemampuan Pelunasan Hutang Non Hipotek
  • – Rasio Solvabilitas

Rasio-rasio ini dapat mendeteksi penyakit-penyakit finansial seperti:

  • – Resiko kekurangan uang kas
  • – Terlalu banyak hutang
  • – Terlalu boros atau terlalu pelit
  • – Gejala kebangkrutan

Dalam kesempatan ini saya tidak sempat membahas kedelapan rasio yang ada, namun sebagai contoh mari kita ambil salah satu rasio yang mudah dan menarik, yaitu rasio tabungan.

Rasio tabungan menunjukan seberapa banyak dari pendapatan Anda yang dapat Anda tabung atau investasikan.
Cara menghitungnya cukup sederhana, yaitu bagikan jumlah uang yang berhasil Anda tabung dengan total pendapatan Anda.

Sebagai contoh, misalkan Mr.X mendapatkan gaji sebesar Rp. 6.000.000,-.

Dalam bulan tersebut, Mr.X menabung sebesar Rp. 300.000,-.

Maka rasio tabungan Mr.X adalah: = Rp. 300.000,- / Rp. 6.000.000,- *100% = 5%

Angka yang normal untuk rasio tabungan adalah 10%-30%. Rasio Mr.X berada dibawah normal, artinya Mr.X tidak pandai menabung alias terlalu boros.

Dengan menyadari bahwa rasio tabungannnya terlalu rendah, diharapkan Mr.X dapat lebih berhati-hati dalam berbelanja di bulan berikutnya sehingga lebih banyak uang yang bisa ditabung.

Yang menarik juga dari rasio tabungan adalah, ternyata ada orang-orang yang menabung lebih besar dari 30% total pendapatannya. Dan yang lebih menariknya lagi, ternyata dalam ilmu keuangan, orang-orang seperti ini ternyata tidak sehat secara finansial. Mengapa? Karena terlalu hemat, hingga akhirnya malah menjadi terlalu pelit.

Orang-orang seperti ini tidak pernah menikmati uang yang telah secara susah payah dikumpulkan olehnya. Jadi disini yang perlu Anda ingat adalah bahwa dalam mengelola keuangan, Anda harus bisa menyisihkan sebagian pendapatan Anda untuk digunakan di masa depan.

Minimal adalah 10%. Namun, disisi lain, Anda juga harus bisa menikmati uang yang telah berhasil Anda dapatkan. Jangan semuanya disimpan buat masa depan. Jadi nilai maksimal yang sebaiknya ditabung adalah 30% dari total pendapatan Anda. Oke sukses selalu

kiriman Jerri Irgo | sumber inspirasi : David Chiang & Dr. D Agus Harjito





5 Tahap Perencanaan Keuangan (Bag. 1)

4 02 2008

Siapa sih yang tidak mau hidup sejahtera, terbebas dari masalah keuangan? Hal ini dapat Anda capai melalui perencanaan keuangan. Bagaimana caranya?

Ada 5 [lima] tahap penting yang perlu Anda lakukan dalam perencanaan keuangan, yaitu:

  1. Menentukan Tujuan Keuangan.
  2. Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.
  3. Membuat Rencana Keuangan.
  4. Melakukan Implementasi Dari Rencana Keuangan.
  5. Monitor dan Evaluasi Berkala.

Masing-masing tahap akan saya bahas dalam posting yang terpisah. Dalam posting kali ini saya akan membahas secara detail mengenai tahap pertama.

Menentukan Tujuan Keuangan.

Dalam buku “7 Habits of Highly Efective People”, Steven R. Covey menyebutkan bahwa salah satu kebiasaan orang yang efektif adalah “Memulai dari Akhir“. Kebiasaan ini juga kita terapkan untuk perencaaan keuangan kita. Sejak tahap pertama kali merencanakan keuangan, kita harus menentukan apa sih tujuan terakhir yang kita inginkan dari uang kita.

Mengapa harus memulai dari tujuan? Analoginya adalah seperti ini. Bayangkan bila kebetulan Anda memiliki waktu luang di hari Minggu, dan Anda hendak menghabiskannya di luar rumah.

Awalnya Anda masih tidak memiliki tujuan yang jelas, yang penting bagi Anda adalah jalan-jalan di luar rumah saja. Jadi Anda keluar dari rumah, mengendarai mobil Anda tanpa arah yang pasti. Nah, di tengah jalan tiba-tiba baru Anda kepikir, oh iya minggu lalu saya ingin ke Mall A untuk membeli sesuatu. Namun karena Anda sudah menghabiskan banyak waktu untuk jalan-jalan tanpa tujuan, apalagi kalau posisi Anda sekarang justru lebih jauh dari Mall A, Anda akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menuju Mall A.

Lain ceritanya bila sejak awal Anda masuk ke mobil, Anda sudah memiliki tujuan. “Saya ingin ke Mall A”. Pada saat itu juga Anda akan merencanakan” jalan mana yang paling cepat untuk menuju ke Mall A. Anda akan tiba ke Mall A jauh lebih cepat daripada cerita sebelumnya.

Begitu pula ceritanya dengan keuangan kita. Apabila sejak awal kita sudah menentukan apa saja sih tujuan yang ingin kita capai dengan uang yang kita miliki, kita dapat membuat rencana keuangan yang sesuai, mengimplementasikan nya sehingga akhirnya tujuan kita bisa tercapai dalam waktu yang lebih cepat.

Apa saja sih tujuan keuangan? Berikut adalah tujuan-tujuan keuangan jangka panjang:

  1. Dana untuk membiayai pensiun dengan gaya hidup yang diinginkan.
  2. Dana untuk membiayai pendidikan anak.
  3. Perlindungan keluarga dari resiko finansial.
  4. Warisan untuk anak.
  5. Penghematan pajak.

Selain itu, juga ada tujuan-tujuan keuangan untuk jangka pendek, seperti:

  1. Membeli asset seperti rumah, mobil, elektronik, dan lain-lain.
  2. Rencana liburan akhir tahun.

Ingat, kita harus SMART dalam menentukan tujuan keuangan kita. Specifics, Measurable (Terukur), Achievable (Bisa dicapai), Realistic (Sesuai kemampuan) dan Time-Frame (Ada batasan waktu yang jelas).

  1. Specifics artinya kita harus dapat membayangkan tujuan kita secara detail. Misalkan untuk dana pendidikan anak, kita harus sudah dapat memperkirakan ke universitas mana anak kita akan mengambil gelar sarjana. Untuk dana pensiun kita harus sudah dapat membayangkan bagaimana kehidupan yang kita inginkan pada saat kita tua nanti.
  2. Measurable artinya dapat diukur, dalam hal ini alat ukurnya adalah mata uang. Misalkan saja kita ingin membuat rencana untuk liburan akhir tahun, kita harus memperkirakan berapa banyak uang yang akan dibutuhkan untuk liburan kita nanti.
  3. Achievable berarti dapat kita capai. Agar tidak menjadi pungguk yang merindukan bulan, sebaiknya tujuan keuangan disesuaikan dengan kemampuan keuangan kita.
  4. Realistic berarti tujuan kita masuk akal, bukan merupakan khayalan yang tidak dapat diwujudkan dalam dunia nyata.
  5. Time Frame berarti kita harus memiliki jangka waktu yang jelas untuk mencapainya. Misalkan saja untuk dana pendidikan anak, kita harus tahu jelas kapan sang anak akan masuk ke universitas. Untuk rencana pensiun kita harus tahu pada umur berapa kita akan pensiun.

Tuliskanlah tujuan-tujuan keuangan yang Anda inginkan pada kertas, dan kemudian baca kembali tulisan Anda. Beri nomor urut pada tujuan-tujuan tersebut berdasarkan hal mana yang paling penting untuk Anda. Misalkan Anda menganggap anak Anda paling berharga untuk Anda, mungkin saja Anda memberikan nomor satu untuk dana pendidikan anak, kemudian nomor dua untuk perlindungan keluarga dari resiko finansial.

Mengapa perlu memberi nomor urut pada tujuan finansial? Karena keterbatasan pendapatan, ada kemungkinan kita TIDAK BISA mewujudkan seluruh tujuan finansial kita. Jadi kita hanya bisa memilih tujuan mana yang paling penting untuk kita. Untuk itulah gunanya nomor urut. Nantinya dalam membuat rencana, kita akan memulai dari tujuan yang paling penting. Tujuan dengan nomor urut satu. Setelah rencana untuk tujuan pertama ini bisa tercapai, dan masih ada uang tersisa, baru kita membuat rencana untuk tujuan kedua. Dan begitu seterusnya.

—bersambung—

Jerri Irgo www.galuh.org