5 Tahap Perencanaan Keuangan [bagian 2]

4 02 2008

Dalam posting sebelumnya, saya telah membahas bahwa dalam proses perencanaan keuangan, kita perlu melalui 5 tahap penting, yaitu:

  • Menentukan Tujuan Keuangan.
  • Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.
  • Membuat Rencana Keuangan.
  • Melakukan Implementasi Dari Rencana Keuangan.
  • Monitor dan Evaluasi Berkala.

Dalam kesempatan ini, saya akan membahas tahap kedua dari perencanaan keuangan, yaitu Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.

Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang

Pernahkah Anda melihat denah informasi di pusat perbelanjaan? Biasanya denah ini menggambarkan struktur dari bangunan yang bersangkutan beserta daftar nama toko yang beroperasi di pusat perbelanjaan tersebut.

Nah, tahukah Anda apa salah satu unsur dari denah tersebut yang paling penting buat Anda?

Setiap kali Anda melihat denah, Anda harus mencari tanda “ANDA SEDANG BERADA DISINI”. Dengan adanya tanda tersebut, maka Anda dapat mengetahui posisi Anda dalam denah tersebut. Tanpa ada tanda “ANDA SEDANG BERADA DISINI”, denah ini tidak akan berguna buat Anda walaupun Anda menghafal mati isi denah tersebut.

Sama halnya dengan keuangan. Setelah merumuskan tujuan keuangan yang ingin Anda capai, Anda harus mengetahui dimana posisi keuangan Anda pada saat ini.

Setelah mengetahui posisi keuangan sekarang, dan mengetahui tujuan yang hendak kita tuju, barulah kita bisa membuat rencana untuk kehidupan finansial kita.

Bagaimana cara mengetahui posisi keuangan kita pada saat ini? Nah, untuk mengetahui posisi keuangan untuk pribadi atau keluarga dengan bantuan 2 laporan, yaitu laporan kekayaan bersih (neraca) dan laporan arus kas.

  • Laporan Kekayaan Bersih (Neraca)

“Lahan tetangga kelihatan lebih hijau”. Istilah ini pasti sudah sering terdengar dalam pergaulan kita. Apa maksudnya? Misalkan saja begini. Anda melihat ke salah satu tetangga Anda. Rumahnya sangat besar. Ada kolah renang di dalamnya. Mobil koleksinya saja ada 5, semuanya merk terkenal. Wuah, dalam pikiran Anda, orang ini PASTI ORANG KAYA.

Padahal, disini Anda hanya melihat tetangga Anda dari sisi harta saja. Sebenarnya tetangga ini belum tentu lebih kaya dari Anda. “Bagimana mungkin orang yang memiliki harta sebanyak itu BUKAN ORANG KAYA?” Eits, jangan salah!

Di jaman yang serba canggih ini, segalanya bisa dibayar secara kredit. Rumah bisa dibeli pakai kredit, mobil juga. Bahkan kebutuhan sehari-hari saja bisa hutang dulu melalui kartu kredit.

Kemudahan kredit ada dimana-mana. Nah, untuk melihat apakah seseorang itu benar-benar kaya atau tidak, kita harus menghitung jumlah hartanya dikurangi dengan jumlah hutangnya.

Misalkan Mr. X memiliki mobil Kijang yang nilainya sekitar Rp. 150.000.000, -. Mobil ini dibelinya secara kredit, dengan sisa angsuran Rp. 8.000.000,- sebanyak 10 kali.

Jadi kekayaan Mr.X yang sebenarnya dari mobil Kijangnya adalah: = Rp. 150.000.000, – – (10 x Rp. 8.000.000,-) = Rp. 70.000.000,-

Nilai ini biasanya disebut dengan nama kekayaan bersih. Kekayaan bersih menggambarkan nilai kekayaan yang sebenarnya dari seseorang. Cara menghitungnya cukup sederhana, jumlahkan semua harta Anda lalu kurangi dengan jumlah seluruh hutang Anda.

Laporan Kekayaan Bersih merupakan potret dari kondisi keuangan Anda pada saat itu. Dalam kondisi normal, nilai kekayaan bersih seseorang adalah: = Usia x penghasilan tahunan / 10

Misalkan
Mr. X berpenghasilan Rp. 60.000.000,- per tahun, sementara umurnya adalah 30 tahun,
maka seharusnya nilai kekayaan bersih Mr.X adalah: = 30 x Rp. 60.000.000,- / 10 = Rp. 180.000.000, –

Apabila setelah dihitung-hitung, ternyata nilai kekayaan bersih pada laporan Mr.X berada dibawah Rp. 180.000.000, -, berarti Mr. X tidak dapat mengelola keuangan pribadinya dengan baik.

Disarankan Mr. X menghubungi perencana keuangan untuk mendapatkan konsultasi mengenai cara-cara mengelola keuangan.

  • Laporan Arus Kas

Kalau kita hendak membicarakan arus kas, kita mesti membayangkan sebuah ember yang bagian bawahnya penuh dengan lubang. Kemudian bayangkan apabila ada air yang dituangkan dari atas ember. Apa yang terjadi? Untuk sementara ember akan menampung air tersebut, namun hal ini tidak berlangsung lama. Dalam waktu singkat, air akan keluar melalui lubang-lubang pada bagian bawah ember.

Nah, dalam perumpamaan ini, kita adalah ember yang bocor. Sementara air adalah uang. Setiap bulan kita menerima gaji. Dalam perumpamaannya, setiap bulan ember diisikan dengan air. Namun, karena embernya bocor, perlahan-lahan air keluar dari lubang-lubang bagian bawahnya.

Begitu juga dengan kita. Uang akan keluar dari kantong kita melalui pos-pos pengeluaran, seperti untuk makanan, biaya perumahan, transportasi, pendidikan, kesehatan, hiburan, dan lain-lain.

Sekarang pertanyaannya berapa lama uang akan mengendap dalam kantong kita? Lubang pengeluaran mana yang paling banyak menghabiskan uang kita? Seberapa banyak dari uang kita yang sanggup kita tabung atau investasikan untuk keperluan di masa depan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanya an seperti inilah, maka kita membuat laporan arus kas. Secara umum laporan arus kas terdiri dari 2 bagian, yaitu Arus Kas Masuk (pendapatan) , dan Arus Kas Keluar (pengeluaran).

Pada bagian Arus Kas Masuk, kita menuliskan pendapatan-pendapatan kita seperti gaji, tunjangan, bonus, atau mungkin ada pendapatan dari pekerjaan sampingan.

Sementara pada Arus Kas Keluar terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama adalah pengeluaran untuk tabungan atau investasi. Bagian keduanya adalah pengeluaran untuk biaya tetap (biaya yang setiap bulan harus kita bayar dalam nilai yang sama), misalnya KPR, KPM, iuran TV, Premi Asuransi, dan lain-lain. Sementara bagian ketiga adalah pos-pos pengeluaran kita seperti makanan, pakaian, transportasi, hiburan, kesehatan, pendidikan, pembayaran kartu kredit dan lain-lain. Ingat, prinsip dasar dari keuangan adalah “Pendapatan harus lebih besar daripada pengeluaran”.

Apakah hal ini benar-benar terjadi pada arus kas Anda? Rasio Keuangan Setelah membuat kedua jenis laporan diatas, kita dapat melakukan analisa terhadap kondisi keuangan kita melalui rasio-rasio keuangan.

Ada 8 buah rasio yang lazim digunakan dalam menganalisa keuangan pribadi ataupun keluarga, yaitu:

  • – Rasio Likuiditas
  • – Rasio Aset Likuid terhadap Kekayaan Bersih
  • – Rasio Tabungan
  • – Rasio Perbandingan Nilai Bersih Aset Investasi terhadap Nilai Bersih Kekayaan
  • – Rasio Perbandingan Hutang Terhadap Asset
  • – Rasio Rasio Kemampuan Pelunasan Hutang
  • – Rasio Rasio Kemampuan Pelunasan Hutang Non Hipotek
  • – Rasio Solvabilitas

Rasio-rasio ini dapat mendeteksi penyakit-penyakit finansial seperti:

  • – Resiko kekurangan uang kas
  • – Terlalu banyak hutang
  • – Terlalu boros atau terlalu pelit
  • – Gejala kebangkrutan

Dalam kesempatan ini saya tidak sempat membahas kedelapan rasio yang ada, namun sebagai contoh mari kita ambil salah satu rasio yang mudah dan menarik, yaitu rasio tabungan.

Rasio tabungan menunjukan seberapa banyak dari pendapatan Anda yang dapat Anda tabung atau investasikan.
Cara menghitungnya cukup sederhana, yaitu bagikan jumlah uang yang berhasil Anda tabung dengan total pendapatan Anda.

Sebagai contoh, misalkan Mr.X mendapatkan gaji sebesar Rp. 6.000.000,-.

Dalam bulan tersebut, Mr.X menabung sebesar Rp. 300.000,-.

Maka rasio tabungan Mr.X adalah: = Rp. 300.000,- / Rp. 6.000.000,- *100% = 5%

Angka yang normal untuk rasio tabungan adalah 10%-30%. Rasio Mr.X berada dibawah normal, artinya Mr.X tidak pandai menabung alias terlalu boros.

Dengan menyadari bahwa rasio tabungannnya terlalu rendah, diharapkan Mr.X dapat lebih berhati-hati dalam berbelanja di bulan berikutnya sehingga lebih banyak uang yang bisa ditabung.

Yang menarik juga dari rasio tabungan adalah, ternyata ada orang-orang yang menabung lebih besar dari 30% total pendapatannya. Dan yang lebih menariknya lagi, ternyata dalam ilmu keuangan, orang-orang seperti ini ternyata tidak sehat secara finansial. Mengapa? Karena terlalu hemat, hingga akhirnya malah menjadi terlalu pelit.

Orang-orang seperti ini tidak pernah menikmati uang yang telah secara susah payah dikumpulkan olehnya. Jadi disini yang perlu Anda ingat adalah bahwa dalam mengelola keuangan, Anda harus bisa menyisihkan sebagian pendapatan Anda untuk digunakan di masa depan.

Minimal adalah 10%. Namun, disisi lain, Anda juga harus bisa menikmati uang yang telah berhasil Anda dapatkan. Jangan semuanya disimpan buat masa depan. Jadi nilai maksimal yang sebaiknya ditabung adalah 30% dari total pendapatan Anda. Oke sukses selalu

kiriman Jerri Irgo | sumber inspirasi : David Chiang & Dr. D Agus Harjito


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: