Catatan kecil untuk para Trainer: Melatih dengan Hati

7 08 2008

Pernahkah Anda, sebagai trainer, mendapatkan kritik baik selama maupun pasca memberikan training? Jika jawabannya ya, beruntunglah Anda! Karena feedback, baik itu positif maupun negatif, menggambarkan tingkat kepedulian dan apresiatif peserta. Jika jawabannya tidak, justru para trainer patut bertanya dan mengkoreksi diri dan tanya kenapa.

Dalam setiap training, apalagi public training, sangatlah penting bagi trainer untuk mengenali kapasitas peserta dan menyesuaikan diri bagaimana trainer beraksi dan berinteraksi dalam menanggapi dinamika intelektual dan psikis peserta. Sebab tidak jarang trainer terjebak dalam dinamika aksi psikis yang subjektif menurutnya sendiri baik, tapi ’tidak berkenan’ dan ’mengganggu’ peserta, terutama bagi mereka yang cukup paham akan pentingnya ’bahasa hati’ kendati mereka menghargai sepenuhnya kualitas intelektual trainer.

Soal kualitas intelektual trainer, hampir semua trainer, terutama yang telah berani masuk dalam percaturan public trainer tentu tidak perlu diragukan lagi. Kapasitas intelektual pribadi, kekayaan pengalaman dan berbagai persiapan cukuplah membuat para trainer siap berinteraksi aktif dan meyakinkan di hadapan peserta. Tapi soal ’bahasa hati’, tidak jarang sebagai trainer kita terjebak dalam bahasa tubuh yang berkesan ’tidaktulus’, sekurangnya di mata peserta yang cukup matang memahami bahasa non-kata, non verbal.

Dalam hal ini peringatan Mehrabian bahwa non-verbal memiliki pengaruh dominan, yaitu di atas 50%, menjadi penting untuk diangkat ke permukaan. Maka dalam tulisan ini, sebagai sesama trainer, saya menghimbau agar para trainer untuk memperhatikan bahasa tubuh, non-verbal, sebagai langkah menghadirkan bahasa hati dalam setiap training yang kita bawakan.

Perhatikan non verbal Anda.

Selain sebagai public trainer beberapa kali saya mengikuti publik training dan menjadi peserta. Saya ingin mendapatkan masukan dan penyegaran untuk training-training saya bahkan saya sangat merindukan pengkayaan dengan mengikutinya. Tapi sekian kali mengamati, spontan saya terperanjat, atau tepatnya, terganggu dengan bahasa tubuh para trainer. Ungkapan non-verbal ini membuat saya tidak nyaman, padahal saya menikmati pengayaan intelektual, materi dan metode yang disampaikan selama interaksi training. Saya sangat menghargai kekhasan metode dan inovasi materi maupun pendekatan para trainer dalam setiap training dan public training yang saya ikuti. Tapi pada saat yang sama sekaligus saya terganggu dengan komunikasi non-verbal para trainer selama interaksi pelatihan dan di sela-sela jeda jam santai bersama peserta.

Ada trainer sambil berkomentar betapa bagus dan hebatnya pengalaman peserta sambil menggosok telinga, atau, mata atau hidung tanpa terkontrol. Memang komunikasi non verbal itu muncul saat peserta bercerita agak panjang dan/atau beruntun tentang permasalahan perusahaan atau pengalaman pribadi yang relevan dengan training itu. Di sisi lain, ada pula trainer yang cukup pandai mengontrol non-verbal tapi tetap nampak dipaksakan atau gagal atau terkesan ’tidak tulus’ dalam menyampaikan beberapa pesan sebagai berikut:

– Saya jujur, terbuka, dan terus terang tentang hebatnya kapasitas dan keahlian saya di bidang ini dan itu.

  • Saya lebih tahu daripada anda atau saya lebih tahu dari apa yang anda bayangkan.
  • Pendapat Saya pasti benar tentang Anda dan persoalan Anda.
  • Saya bisa menjawab setiap persoalan Anda.
  • Persoalan Anda dengan mudah akan saya tuntaskan dengan jawaban simple.
  • Keahlian saya adalah jawaban atas semua persoalan yang Anda hadapi.
  • Dan pesan-pesan lain yang serupa…

Di satu sisi memang perlulah meyakinkan peserta dengan berbagai potensi yang kita miliki sebagai trainer, problem solver, dan penasihat yang berpengalaman. Tapi di sisi lain, penting juga memahami intisari persoalan secara benar dan proporsional secara empatik; sama pentingnya memakai ’bahasa hati’ dalam berinteraksi dan bereaksi terhadap ungkapan, keluhan, dan opini para peserta yang khas dan bahkan termasuk yang kadang ’tidak berkenan’ bagi trainer atau yang tanpa disengaja seolah ’mengancam’ otoritas para trainer.

Mengapa bahasa hati penting diterapkan dalam setiap training yang kita bawakan?

Hati adalah intisari dari kehidupan dan sentral manusiawi. Hampir semua orang memakai hatinya untuk menjalani hidupnya, untuk menilai persoalan, untuk mengukur orang lain bahkan untuk memutuskan sesuatu yang cukup sulit dan crusial. Ketika problem merumit dan dilema meruncing, hatilah sumber jawaban dan ’pelabuhan terakhir’. Dengan hatinya pula orang memahami diri sendiri dan orang lain, juga untuk menghargai relasi dan mengevaluasi hasil-hasil dialog, yang nota bena adalah pertemuan dua hati yang berbeda.

Jika kita semua percaya dan meyakini semua itu, mengapa justru kita mengabaikan ’bahasa hati’ ketika berdialog dengan orang lain? Mengapa pula ’bahasa hati’ kita abaikan ketika berusaha memahami dan mencarikan solusi atas persoalan peserta? Atau ketika mendelivery training? Bahkan ketika mengevaluasi training-training kita?

Memang bahasa hati dan bahasa tubuh tidaklah identik. Tapi justru lewat ekspresi bahasa tubuh nampaklah di mata peserta bahwa kita, para trainer, memakai bahasa hati secara tulus atau tidak. Kita satu bahasa atau tidak dengan mereka ketika memahami, menilai, dan menanggapi ungkapan masalah dan memahami kerinduan mereka. Itulah inti masalahnya.

Persoalan mendasar dalam setiap training adalah menyelaraskan bahasa hati melalui ketulusan bahasa tubuh dalam berinteraksi dengan peserta. Sebab kepercayaan akan kekayaan intelektual, kualitas pengalaman dan superioritas para trainer sudah diandaikan diakui bahkan sebelum training berlangsung. Maka yang kurang dan perlu ditekankan adalah pentingnya bahasa hati. Persoalannya kemudian berkembang ke arah bagaimana implemenasinya.

Bagaimana menerapkan bahasa hati dalam setiap training kita?

Untuk mempermudah, pertanyaan bisa diformat ulang dengan pertanyaan berikut: bagaimana menyelaraskan bahasa hati melalui ketulusan bahasa tubuh dalam berinteraksi dengan peserta?

Jika kita dan ketika kita bisa menjawab pertanyaan di atas, persoalan sebenarnya sudah terjawab dan masalah terselesaikan. Namun untuk melengkapi tulisan ini saya merasa perlu menghimbau para trainer tentang beberapa prinsip berikut ini perlu dicermati dan dicermati ulang:

1.Bangunlah ketulusan sebagai dasar bangunan kompetensi sebagai trainer

Otoritas trainer sebenarnya bekal utama untuk berintegritas. Himbauan ini untuk memngantisipasi jangan sampai para trainer justru terjebak dalam dua kutub ekstrem: terlalu pede sehingga terkesan menafikkan atau meremehkan peserta. Atau terlalu ’grogi’ dan kurang pede sehingga berujung sama: ditutupi dengan kesombongan berlebihan. Keduanya ’mengurangi’ ketulusan dan jauh dari prinsip bahasa hati. Padahal justru ketulusan itulah yang menjadi bangunan utama kompetensi kita sebagai trainer selain kompetensi-kompetensi lainnya.

Dalam situasi modern yang serba pamrih dan serba tidak tulus, bukankah kita akan menjadi oase dan role model ketika kita berupaya menghadirkan bahasa hati dengan mengedepankan ketulusan?

2.Memformat ulang disposisi trainer dan perjelas batas-batasnya

Dalam konteks panggilan (vocation) sebagai trainer, sangatlah perlu kita memformat dan memformat ulang disposisi dasar sebagai trainer. Sebab dari disposisi atau sikap dasar inilah muncul berbagai manifestasi, yang bisa muncul kapan saja dan pada kondisi tertentu tak terkontrol. Bagaimana caranya?

Kita bisa bertanya, misalnya, manakah peran yang kupilih sebagai trainer? Seperti apa peran sejati yang ingin kupilih-terapkan sebagai trainer?

Perbedaan-perbedaan akan muncul sesuai dengan peran, pendekatan, dan metode yang dipilih oleh trainer dalam mendelivey training. Pendekatan dosen berbeda dengan pendekatan pembimbing, posisi helper berbeda dengan posisi solver, dan seterusnya.

Jika kondisi menuntut kita untuk memformat dan mereformat disposisi kita sebagai trainer, apa salahnya jika kita mulai dari sekarang?
3.Tekankan dengan bukti, bukan dengan klaim untuk menunjukkan kualitas trainer dan training Anda

Ujian sebagai trainer sebenarnya bukan hanya saat ’jam tayang’ (show time), ketika kita melakukan publik speaking saja, melainkan juga dalam kesempatan break-time (coffe break, tea time, makan siang atau waktu jeda lainnya) ketika peserta berkerumum mencecar trainer dengan pertanyaan protes, debat, dan berbagai bentuk tanggapan lainnya. Dalam konteks inilah trainer harus menunjukkan kualitasnya, terutama kualitas bahasa hatinya.

Namun kualitas itu tidak boleh hanya diungkapkan dengan klaim semata, seyogyanya kualitas jawaban, respon dan feedback kita lengkapi juga dengan bukti-bukti pendukung. Mengajukan bukti jangan ragu untuk mencantumkan sumber jika memang itu bukan bersumber dari pengalaman dan pengetahuan dan riset yang kita miliki. Mencantumkan keterangan sumber justru mengangkat martabat kita selain bisa juga sebagai bentuk pertanggungjwaban intelektual kita bahwa kita juga menghargai karya dan hasil jerih payah orang lain.

Ide dasar semua ini adalah dari model pendidikan jawa kuno, yang diistilahkan dengan ”nyantrik”. Ketika nyantrik (bukan nyentrik lo!), seorang murid belajar dari gurunya bukan hanya apa yang diucapkan saja melainkan juga dan terutama mengafirmasikannya dengan tindakan dan hidup nyata dalam keseharian. Para cantrik belajar dari totalitas dan integritas gurunya.

Pola yang sama terjadi dalam setiap training, dan setiap hubungan trainer dan peserta. Ingin bukti? Setelah dan di luar training, masih ada beberapa peserta yang berhubungan secara intensif dengan para trainernya kan?

4.Sesuaikan dan Kembangkan kompetensi trainer menurut dinamika kebutuhan peserta

Tidak jarang bahasa tubuh yang tidak tulus muncul karena trainer berusaha menutupi ketidakmampuannya. Untuk itu perlulah trainer setiap kali mengevaluasi dan mengantisipasi kesesuaian delivery training yang dibawakan dengan kebutuhan peserta. Jika kebingungan amati aja bahasa tubuhnya. Pesan yang kaya dan intens terungkap semua dari bahasa tubuh peserta, tinggal kita sebagai trainer cukup jeli dan peduli atau tidak dengan semua itu.

5.Saran terakhir, last but not least, kembangkan kompetensi Anda tentang apapun dan lewat media apapun.

Salah satunya: Belajarlah dan berlatihlah mengontrol bahasa tubuh Anda. Niscaya training kita makin mantap dan kompetensi kita sebagai trainer makin kredibel.

Sekian saja. Semoga berguna. Viva Trainer! Salam sukses Selalu!

Sumber: Yohanes Bosco Hariyono – Training Ass & People Dev. Manager Sun Motor Group

Kiriman Memetz


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: