Kekecewaan Pemahat Batu

30 01 2009

Esmet Untung Mardiyatmo

Ketika saya masih getol-getolnya belajar bahasa Belanda di tahun 1986, saya pernah membaca bacaan yang cukup menarik untuk kita diskusikan di sini. Kalau tidak keliru judulnya adalah De Steenhauwer (pemahat batu). Judul itu merupakan salah satu bacaan yang ditulis oleh para dosen Universitas Indonesia seksi Sastra Belanda dan diterbitkan oleh PT Ichtiar Baru – Van Hoeve, Jakarta. Bukunya berwarna biru.

Begini ceriteranya: Alkisah, hiduplah seorang lelaki pemahat batu. Pekerjaannya berat dan penghasilannya sangat kecil. Ia pun mengeluh dan kemudian berdoa,”Oh betapa enaknya jadi orang kaya. Saya bisa beristirahat di atas tempat tidur indah dengan selambu dari kain sutera.”

Tiba-tiba datanglah seorang malaikat yang kemudian berkata, ”Doamu terkabulkan.” Dan jadilah ia kemudian seorang yang kaya.

Suatu hari raja lewat di depan rumahnya. Raja itu dikawal oleh pasukan berkuda yang berada di depan dan belakang kereta. Seseorang memayungi raja dengan payung dari emas. Ketika itulah ia sadar bahwa ia nasih kalah kuasa dengan kekuasaan seorang raja.

Ia kemudian kecewa dengan nasibnya. Ia kemudian berdoa agar bisa menjadi raja. Malaikat datang dan mengabulkan permintaannya. Ia menjadi raja. Kemanapun ia pergi selalu dikawal oleh pasukan berkuda dan payung emas selalu memayunginya kemanapun ia pergi.

Pada suatu musim kemarau yang panas, matahari bersinar dengan sangat kuatnya. Bumi seperti terbakar, tumbuh-tumbuhan banyak yang mati, rumput kering. Payung emasnya tak mampu menahan panasnya sinar matahari. Ia pun meratapi dan kecewa atas nasibnya. Ternyata matahari lebih kuat daripada seorang raja. Ia pun ingin menjadi matahari. Malaikat kembali mengabulkan keinginannya.

Dengan penuh suka cita kemudian ia ingin menunjukkan kekuasaannya kepada makhluk di bumi. Dia buat pohon-pohon meranggas, rumput kering, sungai dan danau kering, orang orang kepanasan dan kehausan, termasuk para raja yang senang menyombonglan kekuasaannya.

Tiba-tiba muncullah awan, yang menghalangi sinarnya ke bumi. Ia marah, tetapi awan itu tak bergeming. Ternyata awan lebih kuat daripada matahari. Kemudian iapun kecewa telah menjadi matahari, ia ingin menjadi awan. Malaikat datang dan mengabulkan permintaannya.

Untuk menunjukkan kekuasaannya ia turunkan air hujan sebanyak-banyaknya. Air sungai meluap dan banjir terjadi di mana-mana. Makhluk di bumi tak berdaya melawannya. Namun ketika hujan jatuh pada sebongkah batu besar, batu tersebut tak bergeming dan tidak tunduk oleh kekuasaan air hujan. Ia curahkan air hujan lebih deras lagi, batu itu tetap tak bergeming. Iapun kecewa dengan dirinya. Ternyata batu masih lebih kuat dibanding dirinya. Ia ingin jadi batu, dan malaikat juga mengabulkan permintaannya. Ia sekarang bisa berdiri kokoh, tegar melawan panasnya matahari dan datangnya air hujan.

Tiba-tiba datanglah seorang berkulit hitam, berbadan kurus dengan pahat dan palu di tangannya. Orang tersebut menancapkan pahat dan memukulinya dengan palu. Satu persatu kepingan-kepingan batu rontok dari bongkahan batu tersebut. Akhirnya iapun merasa bahwa pemahat batu itu lebih perkasa daripada dirinya. Dan ia inginkan agar malaikat mengembalikannya sebagai seorang pemahat batu.

Cerita di atas paling tidak memberi kita beberapa makna yang penting untuk menjalani hidup ini. Pertama, kekecewaan bisa menjadi sumber penderitaan. Kekecewaan biasanya muncul karena perbedaan antara keinginan dan kenyataan. Keinginan si tukang pemahat batu untuk menjadi yang paling berkuasa dan paling kuat ternyata tidak pernah tercapai. Ternyata semua benda-benda dan makluk di bumi ini pasti ada yang mengunggulinya. Tentu masih ada langit di atas langit, kata orang. Kita tentu akan terus kecewa bila kita mempunyai keinginan tak terbatas. Sekalipun kita mungkin sudah menjadi direktur, masih akan tetap kecewa dengan jabatan itu, karena kita menginginkan menjadi direktur utama. Ketika kita sudah menjadi direktur utama akan tetap kecewa bila kita menginginkan menjabat sebagai menteri atau presiden.

Dalam kehidupan berorganisasi, rasa kecewa seorang karyawan merupakan penyakit yang menggerogoti kinerja perusahaan. Karyawan yang kecewa punya kecenderungan mempunyai motivasi untuk berprestasi yang rendah pula. Seseorang yang kecewa sering membuat yang bersangkutan bekerja asal-asalan, dan kurang bersemangat. Dan hasil pekerjaannya tentu saja juga kurang maksimal. Rasa kecewa merupakan saudaranya iri hati. Melihat kawan seangkatan naik pangkat, sementara kita tidak, telah membuat karyawan tersebut kecewa dan produktivitas kerja jadi menurun. Kalau ia tidak mampu menghapus rasa kekecewaannya dengan segera, dan kemudian kinerjanya juga menurun, maka setelah setahun kemudian karyawan tersebut tetap tidak naik pangkat. Bahkan kenaikan berkalapun tidak. Siapa yang rugi? Bukan siapa- siapa: karyawan itu sendiri yang rugi.

Kekecewaan yang berlarut-larut tentu akan membuat kita frustrasi, depresi, mengalami insomnia (kesulitan tidur), denyut jantung tidak teratur, tekanan darah tinggi dsb. Kekebalan tubuh juga menurun. Dan berbagai penyakit tentu lebih mudah masuk ke tubuh kita. Oleh karena itu rasa kecewa tidak boleh dibiarkan berlarut-larut menggerogoti motivasi kerja.

Sebaliknya rasa kecewa kita jadikan pendorong semangat kerja. Rasa kecewa adalah sangat manusiawi. Kita boleh kecewa tetapi semangat dan motivasi harus tetap tinggi. Pencapaian tujuan yang kita capai dapat mengobati rasa kecewa yang kita alami. Kita menjadi puas atas pencapaian kita. Ditolak naskahnya berkali kali tentu membuat kecewa. Tetapi Charles Dickens, penulis terkenal Inggris tidak mengendurkan semangatnya. Ia terus menulis dan akhirnya diterima dan akhirnya ia menjadi penulis yang sangat terkenal.

Cara lain mengatasi kekecewaan adalah dengan, mengurangi perasaan kecewa itu sendiri. Caranya adalah dengan mensyukuri yang ada. Pepatah mengatakan Man proposes, God disposes (Manusia berusaha, Tuhan menentukan). Kita manusia diberi kebebasan untuk berusaha tertapi manusia tidak sepenuhnya mampu menentukan hasil akhirnya. Oleh karena itu terhadap apa yang telah terjadi saat ini kita anggap sebagai hadiah Tuhan.

Kata sekarang bisa ditjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi present. Tetapi kata present yang diucapkan sedikit berbeda bisa berarti hadiah. Artinya Tuhan memberi waktu dan hidup kepada kita semua sebagai hadiah. Hadiah harus kita sukuri dan kita rayakan dengan suka cita.Sementara masa lalu adalah history (sejarah), sejarah hidup kita. Dan masa datang adalah misteri, yang tentu saja masih menjadi rahasia Tuhan. Maka saat sekarang ini harus kita rayakan. Sebaiknya kita menyitir slogan Garda Oto (perusahaan asuransi mobil): “Don’t worry, be happy.” Dengan demikian kita menerima kejadian, situasi, konsisi yang mengenai diri kita baik senang maupun tidak senang. Tidak menerima kenyatan berarti kita menentang hukum Tuhan dan ini akan menjadikan kita frustrasi, dan memusuhi orang lain.

Dengan menerima kenyataan, maka kita sesungguhnya kita telah bertanggungjawab kepada iri kita sendiri dan tidak menyalahkan orang lain. Semua ketidakenakan yang kita alami sesungguhnya mempunyai maknanya sendiri.

Perasaan kecewa juga dapat dikendalikan dengan penentuan tujuan yang realistis. Dalam mencapai sasaran kita tentu tidak ingin dikatakan sebagai pungguk merindukan bulan. Keinginan atau target yang kita capai hendaknya memperhatikan potensi kita. Dan dalam mencapai target dan keinginan tersebut hendaknya kita lakukan dengan ikhlas dan bahagia serta tidak memaksakan diri (ngoyo).

Makna ke-dua dari ceritera di atas adalah kenyataan bahwa semua ciptaan Tuhan yang ada di bumi dan di langit selalu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sang pemahat memang selain mempunyai kekurangan seperti hanya rakyat kecil, penghasilan pas-pasan ternyata punya kuasa untuk menghancurkan batu karang yang besar. Manusia juga seperti itu. Selain punya kekurangan-kekurangan, ia mempunyai kelebihan-kelebihan yang bisa mencengangkan dunia. Karyawan akan mampu menunjukkan potensi optimalnya bila ia berada pada posisi yang tepat, memperoleh bimbingan yang tepat dan lingkungan yang tepat. Inilah yang tidak mudah. Kita sering menempatkan karyawan pada tempat yang kurang tepat, lingkungan kerja yang kurang tepat serta salah asuh. Akibatnya bisa diduga: kinerja yang amburadul.

Lalu bagaimana membangkitkan potensi karyawan tadi? Salah satu kunci adalah penempatan karyawan yang tepat. Saya mempunyai kenalan seorang karyawan yang karena stress agak sedikit kurang waras . Akibatnya semua orang dalam organisasi menolaknya sekalipun untuk dijadikan tukang sapu atau tukang kebun, karena celotehnya yang sering aneh. Seorang manajer yang mengetahui kesenangannya dan kebiasaannya menempatkan dia di bagian perawatan sepeda motor. Di tempat itulah ia bisa berkontribusi maksimal kepada perusahaan. Bila sudah berbicara masalah perawatan sepeda motor ialah jagonya. Bahkan lebih jago dari yang waras sekalipun. Ternyata ia sangat menyenangi dan membanggakan pekerjaannya tersebut.

Bila sudah menangani sepeda motor rusak, ia sangat serius dan menguasai sekali. Hanya saja karena ia sedikit agar tidak waras, iapun agak susah menerima pendapat orang lain.





Tersenyum dan Tertawalah Agar Anda Sehat

27 01 2009

Oleh : Esmet Untung Mardiyatmo*

Dalam bukunya The Happy Hyprocite Max Beerhohm menokohkan Lord George Hell seorang yang jahat dan keji yang jatuh cinta pada seorang gadis cantik dan muda. Namun, gadis itu tak akan jatuh cinta pada siapapun, apalagi terhadap George Hell yang buruk rupa seperti setan. Gadis itu bercita-cita mempunyai suami yang berwajah seorang alim dan suci. Karena cintanya yang amat sangat terhadap gadis tersebut, George membeli topeng dengan wajah yang alim dan suci. Ketika topeng itu dikenakannya tiba-tiba topeng itu bersatu dengan kulitnya dan tak bisa dilepaskan kembali.

Ketika George menemui putri pujaannya sang puteri langsung jatuh cinta. Mereka hidup bahagia di sebuah desa yang tenteram. Suatu hari, mantan kekasih Lord George marah-marah. Ia mengetahui siapa sebenarnya di balik topeng. Ia merobek-robek topeng untuk melihat wajah asli Lord George, dan Lord George juga takut kalau wajah sucinya hilang dan rusak.Namun ketika Lord George mengenakan topeng orang alim dan suci, wajahnya juga mengalami perubahan mendasar. Wajah aslinya berubah persis dengan topeng yang dikenakannya. Tentu saja setelah lama mengenakannya ia tak perlu lagi mengenakan topeng. Topeng itu telah menyatu dengan dirinya.

Meskipun hanya pura-pura pada awalnya, Lord George berubah menjadi pribadi yang baik dan makin baik sesuai wajah topeng yang dinekanannya. Tentu saja cerita ini hanya fantasi Max Beerbohm saja. Tetapi itu benar.

Bukti-bukti ilmiah kini makin menguatkan bahwa ekspresi wajah mempengaruhi hati. Seorang ahli fisiologi Perancis Israil Waynbaum mengemukakan bahwa saat otot- otot wajah digerakkan, maka mekanisme hormonal di otak akan dipengaruhi dan diaktifkan. Beberapa otot wajah wajah yang berbeda beda yang digunakan untuk tersenyum, menunjukkan kemarahan, menghina dll semuanya berhubungan dengan neurotransmitter yang berbeda-beda di otak. Transmitter itu kemudian mengirimkan sinyal-sinyal kimia ke seluruh tubuh. Waynbaum yakin bahwa tersenyum mempengaruhi hormon secara positif. Sementara ekspresi-ekspresi seperti marah, jengkel mempunyai efek yang negatif. Bahkan ekspresi wajah mempunyai pengaruh yang besar terhadap bagaimana kita berpikir dan merasakan.

Dalam sebuah penelitian, kelompok aktor disuruh untuk memperagakan berbagai ekspresi yang berkaitan dengan berbagai emosi. Mereka disuruh untuk memperagakan ekspresi bahagia, sedih, jijik dan terkejut. Ketika mereka sedang mengekspresikan diwajah mereka perasaan tersebut, beberapa instrumen dipasang untuk mengukur detak jantung, suhu kulit dan tekanan darah. Penilaian itu ternyata membuktikan bahwa ekspresi wajah mempengaruhi perubahan-perubahan fisiologis. Ketika emosi sedang negatif, semua sistim tubuh kacau. Sebaliknya ketika orang mulai tersenyum , maka detak jantung lebih lambat, tekanan darah menurun dan sistem tubuh rileks. Dengan tersenyum, banyak manfaat yang diperoleh, Sebaliknya ekspresi wajah negatif membuat tubuh bereaksi negatif. Padahal kita tahu bahwa subyek penelitian tersebut bukanlah benar-benar merasa bahagia, sedih atau jijik, tetapi mereka hanya membuat otot-otot wajah sesuai dengan emosi tersebut.

Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa tersenyum dan tertawa bukanlah pepesan kosong tanpa makna. Tertawa dan tersenyum selain membuat senang dalam pergaulan ternyata sangat bermanfaat bagi diri sendiri untuk menjaga kesehatan dan menghindari penyakit. Jika kita terus tersenyum m eskipun di dalam emosi sedang tidak karuan, kita sedang membantu sistem tubuh kita untuk tetap tenang dan rileks. Dengan tersenyum dan tertawa kita dapat mengurangi stres dan ketegangan, perusak terbesar kesehatan kita di abad 21.

Tersenyum dan tertawa berperan dalam memelihara kesehatan dan menghindari sakit. Ketika kita terus tersenyum, meskipun dalamnya runyam, akan membantu tubuh rileks dan tenang. Dan ini akan mengurangi stres dan ketegangan.

Anda tahu bedanya anak kecil dengan orang dewasa? Coba perhatikan seberapa sering mereka tersenyum atau tertawa. Kita lebih sering melihat anak kecil tersenyum dan tertawa dibanding orang dewasa. Konon menurut sebuah penelitian tentang tertawa, anak kecil bisa tertawa 300 sampai 400 sehari. Sementara orang dewasa tertawa sekitar 15 kali sehari. Padahal kita tahu bahwa banyak sekali yang bisa membuat kita tertawa: perilaku kawan, ledekan orang lain, ucapan teman, pengalaman rekan dsb.n Yang terjadi justru sebaliknya; kita menjadi marah, emosional, jengkel, tidak suka, benci terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang lain. Anehnya, meskipun kita tahu bahwa sikap tersenyum dan tertawa itu sangat positif dan bermanfaat bagi kesehatan, tidak semua orang menerapkannya dengan baik.

MANFAATNYA
Banyak orang besar menggunakan senyum dan tawa untuk menanggulangi kesulitan-kesulitan yang mereka temui dalam perjuangan mereka. Pribadi seperti Mahatma Gandhi dan Dwight Ike Eisenhower, yang sangat terkenal itupun sangat menghargai nilai humor dalam interaksi pribadi dan dalam konteks institusional. Mahatma Gandhi pernah mengatakan ,”If I had no sense of humor, I should long ago have committed suicide.” (Jika saya tidak punya rasa kepekaan terhadap humor, sejak dahulu saya bunuh diri). Sementara Eisenhower terkenal dengan pernyataannya, ”A sense of humor is part of the art of leadership, of getting along with people, of getting things done.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin juga menggunakan humor agar anak buahnya menyayanginya dan memberi dukungan. Nampaknya, kehebatan banyak orang didorong oleh sense of humor yang ada pada diri mereka. Dengan sense of humor yang mereka miliki mereka tetap sehat dan kreatif dalam menghadapi situasi yang bagi orang lain mungkin sudah sangat membuat stress.

Tidak semua orang dapat mengamati, merasakan atau mengungkapkan humor dengan tersenyum dan tertawa. Hanya orang yang punya kepekaan terhadap humor saja yang mampu menghasilkan humor segar. Bagi yang tidak cukup peka, maka kejadian apapun tidak menyebabkan kesan lucu. Kemungkinan individu tersebut diam saja atau bahkan menjadi marah. Ketiadaan senyum dan tawa merupakan tanda-tanda kepribadian yang belum matang. Bila ada individu tidak mampu mentertawakan diri sendiri yang mengalami peristiwa lucu, adalah merupakan tanda bahwa individu tersebut mengalami gangguana kepribadian.

Laughter is the best medicine, adalah salah satu rubrik dalam majalah bulanan berbahasa Inggris Readers’ Digest. Paling tidak redaksi majalah tersebut meyakini dan menyadari akan kehebatan terapi ketawa. Meski demikian, belum semua keyakinan itu mampu meyakinkan dokter yang tetap saja mengandalkan pil, operasi dan kemoterapi untuk mengatasi sakit. Tetapi akhir-akhir ini kesadaran untuk menuju kesehatan holistik yang mempertimbangkan pengaruh pikiran tubuh makin kental. Banyak orang percaya bahwa terapi tertawa mampu membantu pasien sembuh lebih cepat. Sebaliknya wajah yang murung, berkelam durja hanya akan memperpanjang lama seseorang dirawat di rumh sakit.

Ketika orang tersenyum dan tertawa sebenarnya menandakan bahwa mereka tidak takut. Kita tertawa bila merasa enak dan rileks. Sekarang ini banyak penyakit degeneratif yang dipicu adanya stres. Stres mengganggu keseimbangan tubuh dan dapat membuat sakit. Ketika hormon stres diproduksi secara besar-besaran, maka sistem kekebalan tidak berjalan. Segala kuman dan penyakit lebih mudah menginveksi tubuh kita. Tersenyum dan tertawa adalah senjata yang sangat bagus untuk menghentikan perkembangan penyakit menuju ke tingkat yang membahayakan. Ketika orang tersenyum dan tertawa, otak akan memerintahkan tubuh untuk melepasklan hormon sehat. Tertawa atau tersenyum setiap hari sama pentingnya dengan mengkonsumsi apel setiap hari.

Diyakini bahwa orang yang lebih bahagia lebih jarang terkena penyakit daripada yang tidak. Mereka yang tetap optimis jarang sakit yang disebabkan oleh kekacauan stres. Mereka yang senang tersenyum membantu diri mereka sendiri untuk tetap tenang dan rileks. Hebatnya lagi, tertawa ini bisa menular. Tersenyum juga menular, hal itu akan mudah m enyebar ke semua orang. Tetapi sebaliknya, rasa panik, takut dsb juga membuat orang lain merasakan hal yang sama.

Tersenyum, tertawa banyak bermanfaat bagi individu yang bersangkutan dan orang lain. Bagi individu sendiri mereka biasanya mempunyai penafsiran dan perspektif yang baik tentang diri mereka. Mereka juga lebih mudah menciptakan ide-ide baru, terhindar dari kecemasan dan dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Individu yang demikian juga terhindar dari pikiran-pikiran negatif terhadap orang lain.

Penelitian yang dilakukan oleh Vachet dan diumumkan oleh Hudgkinson menjelaskan manfaat tertawa. Tertawa dapat mengakibatkan pengiriman oksigen ke paru-paru lebih banyak, memperlebar pembuluh darah, mempercepat penyembuhan penyakit, menstabilkan fungsi-fungsi tubuh, membantu tubuh lebih kuat menghadapi infeksi, dan mengirimkan darah lebih cepat ke organ kaki dan tangan. Manafaat yang disebut terakhir ini sering dimanfaatkan oleh para pendaki gunung. Kala mereka diserang hawa dingin yang menusuk, mereka lawan dengan guyonan antar mereka.

Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Fry dan Savin (1999) menemukan bahwa tertawa dapat memperbaiki tekanan darah sistolik dan diastolik, menstimulasi sirkulasi udara, mentransformasi darah dalam sel, serta melindungi diri dari penyakit. Tersenyum dan tertawa juga mampu meningkatkan sekresi catecholamines dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasa segar, penuh semangat dan senang. Pada gilirannya sekresi kortisol dan kecepatan pengendapannya akan menurun, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tertawa juga melatih otot dada, pernapasan, wajah, kaki dan punggung. Oleh karena itu tidak mengeherankan bila kita merasa lelah setelah banyak tertawa. Karena pada dasarnya kita sama saja baru melakukan oleh raga cukup berat.

Tertawa juga berdampak positif terhadap kualitas kerja kardiovaskulair dan pernapasan. Pada waktu orang tertawa, temperatur kulit akan naik sebagai akibat dari meningkatnya sirkulasi peripheral. Bagi orang yang relaksasi ototnya sudah payah, humor adalah obatnya. Para ahli fisiologis seperti Adams yang dikutip Chesworth (1996) membuktikan bahwa respon relaksasi setelah tertawa terbahak-bahak dapat bertahan dalam waktu 40-50 menit. Jangan terkejut, tertawa satu menit sama dengan bersepeda 15 menit.

Pengalaman Norman Cousins, seorang pengarang terkenal membuktikan bahwa ternyata tertawa dapat menjadi obat yang mujarab. Sebelumnya ia diberitahu telah menderita kanker yang mematikan yaitu ankylosing spondilitis, di mana tulang belakangnya tidak bisa bergerak dan pelan-pelan ia menjadi lumpuh. Kondisi seperti ini biasanya tidak dapat disembuhkan dan pasien akan mengalami penderitaan yang hebat.

Tetapi Cousins bukanlah tipe orang yang yang mudah menyerah oleh keadaan. Ia mencoba sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain: mencoba kekuatan humor dan tawa. Dia mulai mengakrabi humor, kartun, film, lelucon dan bergaul dengan orang-orang humoris. Yang mengagetkannya ternyata kanker yang diidapnya berangsung angsur berkurang. Ia memutuskan keluar dari rumah sakit dan tinggal di hotel. Ia menjadi merasa lebih bahagia, lebih sehat dan lebih bugar. Dalam buku yang ditulisnya Anatomy of an illness as perceived by the patients, ia menulis afirmasi positif yang ia katakan pada dirinya telah meningkatkan kimia tubuhnya. Dan setiap kali ia tertawa rasa sakit yang dideritanya berkurang. Tertawa menciptakan semacam anastesia, pengurang rasa sakit. Dengan tertawa maka pelan-pelan perasaan takut, depresi, kepanikannya berkurang secara drastis. Cousins menemukan bukti-bukti bahwa tertawa telah mengurangi sakit di tulangnya, dan tertawa telah menghasilkan endorphin –pengurang rasa sakit alami di otaknya.

TERSENYUMLAH, HATI ANDA JUGA AKAN TERSENYUM
Menjadi pribadi yang murah senyum dan humoris tidaklah semudah mengatakannya. Bagi banyak orang perlu proses yang panjang dan komitmen yang tak pernah henti.Apabila belum bisa tulus tersenyum sampai lubuk hati, biasakan saja tersenyum meskipun Cuma lahiriahnya. Ini sesuai dengan saran Stephen Covey dalam bukunya the Seven habits of highly effective people. Covey mengatakan bahwa untuk mempunyai karakter tertentu kita bisa mulai dengan membiasakannya. Dari kebiasaan yang berulang-ulang itu lahirlah karakter.

Jika kita terus tersenyum, apapun yang terjadi pada perasaan dan emosi kita, lama kelamaan kitapun akan bahagia. Sebaliknya jika penampilan fisik kita kelihatan marah dan kacau, maka di dalam hati kita juga menjadi seperti itu. Ekspresi wajah akan mempengaruhi kepribadian seseorang.

* Penulis Anekdot Manajemen diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta





The Power of Yes: A Simple Way to Get More Out of Life

20 01 2009

For much of my adult life I’ve been shackled by fear. I’ve been afraid to try new things, afraid to meet new people; afraid of doing anything that might lead to failure. This fear confined me to a narrow comfort zone. Recently, however, I made a single small change that has helped me to overcome my fear, and allowed me to get more out of life.

Last fall somebody at Ask Metafilter posted a question looking for books about self-confidence. One person recommended Impro by Keith Johnstone. Intrigued, I borrowed it from the public library. It blew my mind. Though it’s a book about stage-acting, several of the techniques it describes are applicable to everyday life.

I was particularly struck by the need for improvisational actors to accept whatever is offered to them on stage. In order for a scene to flow, an actor must take whatever situation arises and just go with it. (Watch old episodes of Whose Line is It Anyway to see this principle in action.) Johnstone writes:

Once you learn to accept offers, then accidents can no longer interrupt the action. […] This attitude makes for something really amazing in the theatre. The actor who will accept anything that happens seems supernatural; it’s the most marvellous thing about improvisation: you are suddenly in contact with people who are unbounded, whose imagination seems to function without limit.

[…]

These ‘offer-block-accept’ games have a use quite apart from actor training. People with dull lives often think that their lives are dull by chance. In reality everyone chooses more or less what kind of events will happen to them by their conscious patterns of blocking and yielding.

That passage had a profound effect on me. I thought about it for days. “What if I did this in real life?” I wondered. “Is there a way I could adapt this to help me overcome my fear?” I began to note the things that I blocked and accepted. To my surprise, I blocked things constantly — I made excuses not to do things because I was afraid of what might happen if I accepted.

I made a resolution. I decided that instead of saying “no” to things because I was afraid of them, I would “just say yes”. That became my working motto: “Just say yes”. Any time anyone asked me to do something, I agreed to do it (as long as it wasn’t illegal and didn’t violate my own personal code of conduct). In the past six months, I’ve put this philosophy into practice in scores of little ways. But the power of “yes” has made larger changes to my life, too, has exposed me to things I never would have done before.

  • Soon after I started saying “yes”, a GRS reader offered to provide free wellness coaching. My gut reaction was to say “no”. But I caught my negative thinking. “Just say yes,” I said to myself. So I did. Working with Lauren, my wellness coach, has been an amazingly positive experience.
  • Ramit at I Will Teach You to Be Rich asked me to contribute to his eBook. I had all kinds of reasons for saying “no” — none of them good — but I forced myself to say “yes”. As a result, this site gained new readers, and I got to correspond with Ramit about how to produce a PDF book.
  • Last winter, Sally shared a guest article about eating vegetarian on the cheap. A few weeks later she wrote that she and her husband would be in town, and asked if Kris and I would like to have dinner. In the past I would have said “no” out of fear of meeting a stranger. I said yes, and I’m glad I did.
  • One of my friends works as a career counsellor at a nearby university. Recently he asked me to present a talk to graduating seniors about the basics of personal finance. Normally I would refuse out of hand, but only because I am afraid. I said yes. Though the presentation fell through, the copious notes I made will serve as the basis for many future articles.
  • A close friend asked me to go see a band I’d never even heard of. On a Thursday. At midnight. This was totally outside my comfort zone, but I said yes. The experience was fantastic. We had a great conversation, and then I got to discover The Black Angels and their wall of sound.
  • I don’t know anything about table tennis, but when my former soccer coach stopped by to recruit me for a local club, I agreed to join. It’s been fun learning the sport, and getting re-acquainted with his family. (I was once good friends with his son.)

These things will seem minor to the extroverts here. But for me, these were big steps. These experiences were new, and I wouldn’t have had them if I hadn’t forced myself to just say yes.


Most of my experiences from my “just say yes” campaign have been positive, but not all of them. I’ve had some failures, too. Surprisingly, I’ve learned more from the bad experiences than I have from the good.

In February, for example, a Seattle radio station asked me to do a telephone interview about retirement savings. “I’m not a retirement expert,” I told the woman who contacted me, but then I realized I was making excuses. I was blocking because I was scared. “But I’ll do it,” I said. Ultimately my radio appearance was a disaster. I got stage-fright and became tongue-tied. But you know what? I don’t care. I failed, but at least I tried. After the interview, I e-mailed the woman to apologize and to ask for advice. She was sympathetic, and gave me some great pointers. Next time somebody asks for a radio interview, I’ll do better.

For too long, fear of failure held me back. Failure itself didn’t hold me back — the fear of it did. When I actually try something and fail, I generally get right back up and do it again, but better the second time. I pursue it until I succeed. But often I convince myself that I can’t do something because I’m going to fail at it, so I don’t even bother to try.

Since I’ve learned the power of yes, I’ve begun to act as if I’m not afraid. Whenever I feel fear creep upon me, I act as if I’m somebody else. I act as if I’m somebody stronger and braver. Motivational speaker Brian Tracy says:

If you want to develop courage, then simply act courageously when it’s called for. If you do something over and over again, you develop a habit. Some people develop the habit of courage. Some people develop the habit of non-courage.

Tracy recommends that any time you encounter the fear of failure, you simply tell yourself, “I can do it.” Say it again and again and then do it. What’s more, he says, tell others that they can do the things they’re frightened of. How many times have you seen somebody excited about a new project become totally deflated when others tell him or her why it won’t work? Don’t be like that. Tell the person, “You can do it.” Be supportive.

Tracy is famous for asking the question: What would you dare to dream if you knew you wouldn’t fail? This is a powerful concept. What could you do if you stopped telling yourself “no” and simply tapped into the power of yes?

Aside from learning the power of yes, there are other ways to fight fear and develop a more courageous attitude.

  • Start small. Many people are afraid to make phone calls, or to approach a clerk in a store. Begin by practicing these little habits. A clerk in a bookstore answers hundreds of questions a month. There’s no reason to be frightened of asking yours.
  • Try one new thing each week. It doesn’t have to be big. Learn a new skill, have lunch with an acquaintance, do something for a friend. Once every week, say “yes” where you might have said “no” before.
  • Exercise mindfulness. When fear creeps into your head, name it for what it is, and let it pass by. I know this sounds new age and hokey, but it works. When somebody asks you to do something and your gut reaction is “no”, pause to examine that “no” and ask yourself, “Am I saying this simply out of fear? What would happen if I said yes?”
  • Act like you’re somebody else. Do you have a friend who is a great negotiator? The next time you negotiate, pretend you’re this person. This is more effective than you probably think!
  • Ask yourself, “What is the worst thing that could happen?” Then ask yourself, “What is the best thing that could happen?” Most of the time when I make this comparison, the upside far outweighs the downside.
  • Recognize that failures and mistakes are not the end. Often they’re the beginning. If you can pick yourself up after you do something wrong, and then learn from the experience, you’ll be a better person because of it.

Read more about conquering fear and worry:

  • The Instigator Blog offers five reasons to say yes.
  • How to Stop Worrying and Start Living by Dale Carnegie has a five-star rating on 107 reviews at Amazon, and rightly so. This is a classic book about courage in everyday life. Here’s a summary. (From the author of How to Win Friends and Influence People.)
  • Yes Man is a book by Danny Wallace that chronicles his adventures as he says “yes” to everything for an entire year. I haven’t read this, but I’d like to.
  • Impro by Keith Johnstone is a book about improvisational acting. Sharp readers will find ways to apply these techniques to everyday life, to boost self-confidence and to overcome fear of failure.

We all have dreams, but most of us make excuses for not pursuing them. Often these excuses aren’t overt. It’s more a matter of inertia, of just ignoring the dreams, of maintaining the comfortable status quo. But you can break out of your comfort zone to get more out of life through the simple power of yes.

(as written by J.D in http://www.getrichslowly.org/blog/2007/06/13/the-power-of-yes-a-simple-way-to-get-more-out-of-life/