Tersenyum dan Tertawalah Agar Anda Sehat

27 01 2009

Oleh : Esmet Untung Mardiyatmo*

Dalam bukunya The Happy Hyprocite Max Beerhohm menokohkan Lord George Hell seorang yang jahat dan keji yang jatuh cinta pada seorang gadis cantik dan muda. Namun, gadis itu tak akan jatuh cinta pada siapapun, apalagi terhadap George Hell yang buruk rupa seperti setan. Gadis itu bercita-cita mempunyai suami yang berwajah seorang alim dan suci. Karena cintanya yang amat sangat terhadap gadis tersebut, George membeli topeng dengan wajah yang alim dan suci. Ketika topeng itu dikenakannya tiba-tiba topeng itu bersatu dengan kulitnya dan tak bisa dilepaskan kembali.

Ketika George menemui putri pujaannya sang puteri langsung jatuh cinta. Mereka hidup bahagia di sebuah desa yang tenteram. Suatu hari, mantan kekasih Lord George marah-marah. Ia mengetahui siapa sebenarnya di balik topeng. Ia merobek-robek topeng untuk melihat wajah asli Lord George, dan Lord George juga takut kalau wajah sucinya hilang dan rusak.Namun ketika Lord George mengenakan topeng orang alim dan suci, wajahnya juga mengalami perubahan mendasar. Wajah aslinya berubah persis dengan topeng yang dikenakannya. Tentu saja setelah lama mengenakannya ia tak perlu lagi mengenakan topeng. Topeng itu telah menyatu dengan dirinya.

Meskipun hanya pura-pura pada awalnya, Lord George berubah menjadi pribadi yang baik dan makin baik sesuai wajah topeng yang dinekanannya. Tentu saja cerita ini hanya fantasi Max Beerbohm saja. Tetapi itu benar.

Bukti-bukti ilmiah kini makin menguatkan bahwa ekspresi wajah mempengaruhi hati. Seorang ahli fisiologi Perancis Israil Waynbaum mengemukakan bahwa saat otot- otot wajah digerakkan, maka mekanisme hormonal di otak akan dipengaruhi dan diaktifkan. Beberapa otot wajah wajah yang berbeda beda yang digunakan untuk tersenyum, menunjukkan kemarahan, menghina dll semuanya berhubungan dengan neurotransmitter yang berbeda-beda di otak. Transmitter itu kemudian mengirimkan sinyal-sinyal kimia ke seluruh tubuh. Waynbaum yakin bahwa tersenyum mempengaruhi hormon secara positif. Sementara ekspresi-ekspresi seperti marah, jengkel mempunyai efek yang negatif. Bahkan ekspresi wajah mempunyai pengaruh yang besar terhadap bagaimana kita berpikir dan merasakan.

Dalam sebuah penelitian, kelompok aktor disuruh untuk memperagakan berbagai ekspresi yang berkaitan dengan berbagai emosi. Mereka disuruh untuk memperagakan ekspresi bahagia, sedih, jijik dan terkejut. Ketika mereka sedang mengekspresikan diwajah mereka perasaan tersebut, beberapa instrumen dipasang untuk mengukur detak jantung, suhu kulit dan tekanan darah. Penilaian itu ternyata membuktikan bahwa ekspresi wajah mempengaruhi perubahan-perubahan fisiologis. Ketika emosi sedang negatif, semua sistim tubuh kacau. Sebaliknya ketika orang mulai tersenyum , maka detak jantung lebih lambat, tekanan darah menurun dan sistem tubuh rileks. Dengan tersenyum, banyak manfaat yang diperoleh, Sebaliknya ekspresi wajah negatif membuat tubuh bereaksi negatif. Padahal kita tahu bahwa subyek penelitian tersebut bukanlah benar-benar merasa bahagia, sedih atau jijik, tetapi mereka hanya membuat otot-otot wajah sesuai dengan emosi tersebut.

Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa tersenyum dan tertawa bukanlah pepesan kosong tanpa makna. Tertawa dan tersenyum selain membuat senang dalam pergaulan ternyata sangat bermanfaat bagi diri sendiri untuk menjaga kesehatan dan menghindari penyakit. Jika kita terus tersenyum m eskipun di dalam emosi sedang tidak karuan, kita sedang membantu sistem tubuh kita untuk tetap tenang dan rileks. Dengan tersenyum dan tertawa kita dapat mengurangi stres dan ketegangan, perusak terbesar kesehatan kita di abad 21.

Tersenyum dan tertawa berperan dalam memelihara kesehatan dan menghindari sakit. Ketika kita terus tersenyum, meskipun dalamnya runyam, akan membantu tubuh rileks dan tenang. Dan ini akan mengurangi stres dan ketegangan.

Anda tahu bedanya anak kecil dengan orang dewasa? Coba perhatikan seberapa sering mereka tersenyum atau tertawa. Kita lebih sering melihat anak kecil tersenyum dan tertawa dibanding orang dewasa. Konon menurut sebuah penelitian tentang tertawa, anak kecil bisa tertawa 300 sampai 400 sehari. Sementara orang dewasa tertawa sekitar 15 kali sehari. Padahal kita tahu bahwa banyak sekali yang bisa membuat kita tertawa: perilaku kawan, ledekan orang lain, ucapan teman, pengalaman rekan dsb.n Yang terjadi justru sebaliknya; kita menjadi marah, emosional, jengkel, tidak suka, benci terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang lain. Anehnya, meskipun kita tahu bahwa sikap tersenyum dan tertawa itu sangat positif dan bermanfaat bagi kesehatan, tidak semua orang menerapkannya dengan baik.

MANFAATNYA
Banyak orang besar menggunakan senyum dan tawa untuk menanggulangi kesulitan-kesulitan yang mereka temui dalam perjuangan mereka. Pribadi seperti Mahatma Gandhi dan Dwight Ike Eisenhower, yang sangat terkenal itupun sangat menghargai nilai humor dalam interaksi pribadi dan dalam konteks institusional. Mahatma Gandhi pernah mengatakan ,”If I had no sense of humor, I should long ago have committed suicide.” (Jika saya tidak punya rasa kepekaan terhadap humor, sejak dahulu saya bunuh diri). Sementara Eisenhower terkenal dengan pernyataannya, ”A sense of humor is part of the art of leadership, of getting along with people, of getting things done.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin juga menggunakan humor agar anak buahnya menyayanginya dan memberi dukungan. Nampaknya, kehebatan banyak orang didorong oleh sense of humor yang ada pada diri mereka. Dengan sense of humor yang mereka miliki mereka tetap sehat dan kreatif dalam menghadapi situasi yang bagi orang lain mungkin sudah sangat membuat stress.

Tidak semua orang dapat mengamati, merasakan atau mengungkapkan humor dengan tersenyum dan tertawa. Hanya orang yang punya kepekaan terhadap humor saja yang mampu menghasilkan humor segar. Bagi yang tidak cukup peka, maka kejadian apapun tidak menyebabkan kesan lucu. Kemungkinan individu tersebut diam saja atau bahkan menjadi marah. Ketiadaan senyum dan tawa merupakan tanda-tanda kepribadian yang belum matang. Bila ada individu tidak mampu mentertawakan diri sendiri yang mengalami peristiwa lucu, adalah merupakan tanda bahwa individu tersebut mengalami gangguana kepribadian.

Laughter is the best medicine, adalah salah satu rubrik dalam majalah bulanan berbahasa Inggris Readers’ Digest. Paling tidak redaksi majalah tersebut meyakini dan menyadari akan kehebatan terapi ketawa. Meski demikian, belum semua keyakinan itu mampu meyakinkan dokter yang tetap saja mengandalkan pil, operasi dan kemoterapi untuk mengatasi sakit. Tetapi akhir-akhir ini kesadaran untuk menuju kesehatan holistik yang mempertimbangkan pengaruh pikiran tubuh makin kental. Banyak orang percaya bahwa terapi tertawa mampu membantu pasien sembuh lebih cepat. Sebaliknya wajah yang murung, berkelam durja hanya akan memperpanjang lama seseorang dirawat di rumh sakit.

Ketika orang tersenyum dan tertawa sebenarnya menandakan bahwa mereka tidak takut. Kita tertawa bila merasa enak dan rileks. Sekarang ini banyak penyakit degeneratif yang dipicu adanya stres. Stres mengganggu keseimbangan tubuh dan dapat membuat sakit. Ketika hormon stres diproduksi secara besar-besaran, maka sistem kekebalan tidak berjalan. Segala kuman dan penyakit lebih mudah menginveksi tubuh kita. Tersenyum dan tertawa adalah senjata yang sangat bagus untuk menghentikan perkembangan penyakit menuju ke tingkat yang membahayakan. Ketika orang tersenyum dan tertawa, otak akan memerintahkan tubuh untuk melepasklan hormon sehat. Tertawa atau tersenyum setiap hari sama pentingnya dengan mengkonsumsi apel setiap hari.

Diyakini bahwa orang yang lebih bahagia lebih jarang terkena penyakit daripada yang tidak. Mereka yang tetap optimis jarang sakit yang disebabkan oleh kekacauan stres. Mereka yang senang tersenyum membantu diri mereka sendiri untuk tetap tenang dan rileks. Hebatnya lagi, tertawa ini bisa menular. Tersenyum juga menular, hal itu akan mudah m enyebar ke semua orang. Tetapi sebaliknya, rasa panik, takut dsb juga membuat orang lain merasakan hal yang sama.

Tersenyum, tertawa banyak bermanfaat bagi individu yang bersangkutan dan orang lain. Bagi individu sendiri mereka biasanya mempunyai penafsiran dan perspektif yang baik tentang diri mereka. Mereka juga lebih mudah menciptakan ide-ide baru, terhindar dari kecemasan dan dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Individu yang demikian juga terhindar dari pikiran-pikiran negatif terhadap orang lain.

Penelitian yang dilakukan oleh Vachet dan diumumkan oleh Hudgkinson menjelaskan manfaat tertawa. Tertawa dapat mengakibatkan pengiriman oksigen ke paru-paru lebih banyak, memperlebar pembuluh darah, mempercepat penyembuhan penyakit, menstabilkan fungsi-fungsi tubuh, membantu tubuh lebih kuat menghadapi infeksi, dan mengirimkan darah lebih cepat ke organ kaki dan tangan. Manafaat yang disebut terakhir ini sering dimanfaatkan oleh para pendaki gunung. Kala mereka diserang hawa dingin yang menusuk, mereka lawan dengan guyonan antar mereka.

Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Fry dan Savin (1999) menemukan bahwa tertawa dapat memperbaiki tekanan darah sistolik dan diastolik, menstimulasi sirkulasi udara, mentransformasi darah dalam sel, serta melindungi diri dari penyakit. Tersenyum dan tertawa juga mampu meningkatkan sekresi catecholamines dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasa segar, penuh semangat dan senang. Pada gilirannya sekresi kortisol dan kecepatan pengendapannya akan menurun, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tertawa juga melatih otot dada, pernapasan, wajah, kaki dan punggung. Oleh karena itu tidak mengeherankan bila kita merasa lelah setelah banyak tertawa. Karena pada dasarnya kita sama saja baru melakukan oleh raga cukup berat.

Tertawa juga berdampak positif terhadap kualitas kerja kardiovaskulair dan pernapasan. Pada waktu orang tertawa, temperatur kulit akan naik sebagai akibat dari meningkatnya sirkulasi peripheral. Bagi orang yang relaksasi ototnya sudah payah, humor adalah obatnya. Para ahli fisiologis seperti Adams yang dikutip Chesworth (1996) membuktikan bahwa respon relaksasi setelah tertawa terbahak-bahak dapat bertahan dalam waktu 40-50 menit. Jangan terkejut, tertawa satu menit sama dengan bersepeda 15 menit.

Pengalaman Norman Cousins, seorang pengarang terkenal membuktikan bahwa ternyata tertawa dapat menjadi obat yang mujarab. Sebelumnya ia diberitahu telah menderita kanker yang mematikan yaitu ankylosing spondilitis, di mana tulang belakangnya tidak bisa bergerak dan pelan-pelan ia menjadi lumpuh. Kondisi seperti ini biasanya tidak dapat disembuhkan dan pasien akan mengalami penderitaan yang hebat.

Tetapi Cousins bukanlah tipe orang yang yang mudah menyerah oleh keadaan. Ia mencoba sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain: mencoba kekuatan humor dan tawa. Dia mulai mengakrabi humor, kartun, film, lelucon dan bergaul dengan orang-orang humoris. Yang mengagetkannya ternyata kanker yang diidapnya berangsung angsur berkurang. Ia memutuskan keluar dari rumah sakit dan tinggal di hotel. Ia menjadi merasa lebih bahagia, lebih sehat dan lebih bugar. Dalam buku yang ditulisnya Anatomy of an illness as perceived by the patients, ia menulis afirmasi positif yang ia katakan pada dirinya telah meningkatkan kimia tubuhnya. Dan setiap kali ia tertawa rasa sakit yang dideritanya berkurang. Tertawa menciptakan semacam anastesia, pengurang rasa sakit. Dengan tertawa maka pelan-pelan perasaan takut, depresi, kepanikannya berkurang secara drastis. Cousins menemukan bukti-bukti bahwa tertawa telah mengurangi sakit di tulangnya, dan tertawa telah menghasilkan endorphin –pengurang rasa sakit alami di otaknya.

TERSENYUMLAH, HATI ANDA JUGA AKAN TERSENYUM
Menjadi pribadi yang murah senyum dan humoris tidaklah semudah mengatakannya. Bagi banyak orang perlu proses yang panjang dan komitmen yang tak pernah henti.Apabila belum bisa tulus tersenyum sampai lubuk hati, biasakan saja tersenyum meskipun Cuma lahiriahnya. Ini sesuai dengan saran Stephen Covey dalam bukunya the Seven habits of highly effective people. Covey mengatakan bahwa untuk mempunyai karakter tertentu kita bisa mulai dengan membiasakannya. Dari kebiasaan yang berulang-ulang itu lahirlah karakter.

Jika kita terus tersenyum, apapun yang terjadi pada perasaan dan emosi kita, lama kelamaan kitapun akan bahagia. Sebaliknya jika penampilan fisik kita kelihatan marah dan kacau, maka di dalam hati kita juga menjadi seperti itu. Ekspresi wajah akan mempengaruhi kepribadian seseorang.

* Penulis Anekdot Manajemen diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta


Actions

Information

One response

1 04 2010
disease

Memang tersenyum itu banyak sekali manfaatnya terutama buat kesehatan kita dan pergaulan..hidup terasa indah dengan banyak tersenyum, senyum itu ibadah…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: