Tujuh Dosa Trainer

26 07 2012

Sahabat trainer,
Seberapapun mumpuninya kita sebagai seorang trainer dengan jam terbang yang cukup tinggi, kesalahan bisa terjadi baik disengaja ataupun tidak. Sebagai trainer, sudah selayaknya kita selalu mencari dan menerima feedback and membenahi diri. Semoga pendapat sederhana dibawah ini tidak menyentil Anda dengan cara yang menyakitkan, karena bukanlah itu tujuannya. Tulisan ini hanya sebagai pengingat bagi kita, para trainer untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan diri.

Nah, inilah 7 dosa kecil kita sebagai trainer:

  • Lupa membawa prinsip ‘memberi contoh’.

Trainer tidak hanya menyampaikan tapi juga harus mencontohkan. Yang saya maksudkan disini bukan cuma mencontohkan suatu kasus atau peristiwa. Misalnya memberi training tentang manajemen waktu, tetapi tidak mengakhiri rangkaian training tepat waktu malah molor tanpa mengindahkan masukan dari peserta.

Contoh lainnya, kita menyampaikan training ketrampilan berkomunikasi dan berpresentasi tapi gaya presentasi kita membosankan. Nah, bagaimana profesi kita sebagai trainer akan sustain dan berkembang? Apakah kita akan di hire lagi? Kesempatan memberikan training bukan hanya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga kesempatan untuk merekatkan prestasi, dan reputasi. Masa depan keberlangsungan kita sebagai trainer juga ditentukan dari kepuasan para peserta terhadap fasilitasi yang kita berikan.

  • Lupa prinsip WII-FM (What’s In It For Me)- the audience, pada saat mempersiapkan dan memfasilitasi training.

Tugas kita adalah membantu peserta untuk empower dan re-discover potensi mereka. Training bukanlah ajang mempamerkan kehebatan dan kepintaran kita. Think of audience every time, sehingga kita tak terpeleset pada ‘Me Time’ disaat memberikan fasilitasi. Para peserta tak perlu mengetahui daftar riwayat hidup kita, atau daftar kehebatan kita sebagai trainer. Boleh saja sampaikan beberapa cerita pengalaman sendiri selama berkaitan dengan isi training, sehingga kita bisa terhubung dengan audiens. Tapi semestinya yang tepat takaran.

  • Dismissive (cuek, masa bodoh) terhadap respon, komen, pertanyaan dan pernyataan peserta.

Mungkin kita tak menyadarinya. Kita bisa saja menyatakan ‘saya terbuka jika ada pertanyaan, atau komen’, tapi begitu peserta membuka mulut, bahasa non-verbal kita mesti kompak dengan pernyataan kita. Sikap, bahasa tubuh, bisa menghianati pernyataan kita. Bisa menunjukkan perasaan tak sabar melalui kegelisahan sikap, memotong pernyataan peserta, menyindir dan lainnya. Peserta bisa merasakan energi seperti ini dan membaca bahasa non-verbal kita yang tidak simpatik. Berhati hatilah.

  • Tidak customize training untuk peserta di kelas itu pada hari itu.

Penting untuk mengetahui sedikit latar belakang para peserta sebelum training dimulai. Bisa juga dengan mengirimkan email dahulu untuk membuka salam, bertanya objektif mereka mengikuti training, atau memberikan pernyataan selamat datang. Bila tak ada respond dan tak ada kesempatan untuk mengetahui jauh hari sebelum training, setidaknya kita sudah harus mengetahui sedikit demography dan psychography dari training form yang diisi oleh para peserta.

  • Kemampuan berpresentasi dan berkomunikasi yang kurang memadai.

Tidak peduli kita ahlinya di suatu bidang khusus, sebagai seorang trainer, salah satu keahlian kunci yang harus kita miliki adalah menyampaikan secara baik , mengikat audience, mempesona mereka, membantu mereka menggali potensi mereka, dan menciptakan ruang dan suasana kelas yang asyik. Sebagai trainer kita harus humble dan memberikan ruang untuk peningkatan, tidak malu belajar lagi, bukan hanya dari buku, tapi juga sebagai trainee di kelas. Ikutilah kursus-kursus untuk lebih mengasah keterampilan Anda contohnya misalnya menggunakan trik multimedia, menggunakan humor dalam presentasi, bagaimana menggunakan props secara effective, dan belajar komunikasi interpersonal skill.

  • Pelit memberi.

Contohnya memberi jawaban yang seadanya kepada peserta, enggan membagi sumber dan referensi training. Hidup di dunia dimana segala macam informasi bisa didapat dengan mudah dan murah, tidak selayaknya kita pelit dalam memberi. Jangan lupa prinsip ‘abundance’ =keberlimpahan. Apa yang kita berikan, terutama ilmu, akan kembali ke kita berlipat lipat ganda.

  • Membuat para peserta training dongkol dan berkhayal mencekik Anda.

Pasalnya Anda mencoba membunuh mereka pelan pelan karena bosan dengan presentasi Anda baik isi dan gaya.
Sahabat trainers, untuk mengajar kita mesti belajar. Apakah kita termasuk pengajar yang mau, rela dan berhasrat untuk terus belajar? Bagaimana caranya meningkatkan kemampuan diri, ketrampilan dan profesionalisme trainer? Evaluasi dan testimoni dari peserta training saja, belum jaminan kualitas performance kita. Seberapa sering kita meminta evaluasi dari trainer lain pada saat training berlangsung? Beranikah kita mengundang trainer lain untuk duduk di training kita dan menerima kritik yang paling pedas sekalipun, demi peningkatan kompetensi kita?

Sahabat trainers, rasanya masih banyak lagi dosa dosa kecil kita sebagai trainer. Silakan carilah sendiri dan jika mungkin, berbagi disini. ***

7 DOSA KECIL PARA TRAINER ditulis oleh: Imung Hikmah


Actions

Information

One response

1 12 2014
Luki Tantra

Menaarik sekali,

Terima kasih sharingnya.
Saya akan bookmark halaman ini supaya saya bisa sering kembali kemari untuk melakukan “Kaizen” kepada diri saya

salam,
LT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: