Tujuh Dosa Trainer

26 07 2012

Sahabat trainer,
Seberapapun mumpuninya kita sebagai seorang trainer dengan jam terbang yang cukup tinggi, kesalahan bisa terjadi baik disengaja ataupun tidak. Sebagai trainer, sudah selayaknya kita selalu mencari dan menerima feedback and membenahi diri. Semoga pendapat sederhana dibawah ini tidak menyentil Anda dengan cara yang menyakitkan, karena bukanlah itu tujuannya. Tulisan ini hanya sebagai pengingat bagi kita, para trainer untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan diri.

Nah, inilah 7 dosa kecil kita sebagai trainer:

  • Lupa membawa prinsip ‘memberi contoh’.

Trainer tidak hanya menyampaikan tapi juga harus mencontohkan. Yang saya maksudkan disini bukan cuma mencontohkan suatu kasus atau peristiwa. Misalnya memberi training tentang manajemen waktu, tetapi tidak mengakhiri rangkaian training tepat waktu malah molor tanpa mengindahkan masukan dari peserta.

Contoh lainnya, kita menyampaikan training ketrampilan berkomunikasi dan berpresentasi tapi gaya presentasi kita membosankan. Nah, bagaimana profesi kita sebagai trainer akan sustain dan berkembang? Apakah kita akan di hire lagi? Kesempatan memberikan training bukan hanya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga kesempatan untuk merekatkan prestasi, dan reputasi. Masa depan keberlangsungan kita sebagai trainer juga ditentukan dari kepuasan para peserta terhadap fasilitasi yang kita berikan.

  • Lupa prinsip WII-FM (What’s In It For Me)- the audience, pada saat mempersiapkan dan memfasilitasi training.

Tugas kita adalah membantu peserta untuk empower dan re-discover potensi mereka. Training bukanlah ajang mempamerkan kehebatan dan kepintaran kita. Think of audience every time, sehingga kita tak terpeleset pada ‘Me Time’ disaat memberikan fasilitasi. Para peserta tak perlu mengetahui daftar riwayat hidup kita, atau daftar kehebatan kita sebagai trainer. Boleh saja sampaikan beberapa cerita pengalaman sendiri selama berkaitan dengan isi training, sehingga kita bisa terhubung dengan audiens. Tapi semestinya yang tepat takaran.

  • Dismissive (cuek, masa bodoh) terhadap respon, komen, pertanyaan dan pernyataan peserta.

Mungkin kita tak menyadarinya. Kita bisa saja menyatakan ‘saya terbuka jika ada pertanyaan, atau komen’, tapi begitu peserta membuka mulut, bahasa non-verbal kita mesti kompak dengan pernyataan kita. Sikap, bahasa tubuh, bisa menghianati pernyataan kita. Bisa menunjukkan perasaan tak sabar melalui kegelisahan sikap, memotong pernyataan peserta, menyindir dan lainnya. Peserta bisa merasakan energi seperti ini dan membaca bahasa non-verbal kita yang tidak simpatik. Berhati hatilah.

  • Tidak customize training untuk peserta di kelas itu pada hari itu.

Penting untuk mengetahui sedikit latar belakang para peserta sebelum training dimulai. Bisa juga dengan mengirimkan email dahulu untuk membuka salam, bertanya objektif mereka mengikuti training, atau memberikan pernyataan selamat datang. Bila tak ada respond dan tak ada kesempatan untuk mengetahui jauh hari sebelum training, setidaknya kita sudah harus mengetahui sedikit demography dan psychography dari training form yang diisi oleh para peserta.

  • Kemampuan berpresentasi dan berkomunikasi yang kurang memadai.

Tidak peduli kita ahlinya di suatu bidang khusus, sebagai seorang trainer, salah satu keahlian kunci yang harus kita miliki adalah menyampaikan secara baik , mengikat audience, mempesona mereka, membantu mereka menggali potensi mereka, dan menciptakan ruang dan suasana kelas yang asyik. Sebagai trainer kita harus humble dan memberikan ruang untuk peningkatan, tidak malu belajar lagi, bukan hanya dari buku, tapi juga sebagai trainee di kelas. Ikutilah kursus-kursus untuk lebih mengasah keterampilan Anda contohnya misalnya menggunakan trik multimedia, menggunakan humor dalam presentasi, bagaimana menggunakan props secara effective, dan belajar komunikasi interpersonal skill.

  • Pelit memberi.

Contohnya memberi jawaban yang seadanya kepada peserta, enggan membagi sumber dan referensi training. Hidup di dunia dimana segala macam informasi bisa didapat dengan mudah dan murah, tidak selayaknya kita pelit dalam memberi. Jangan lupa prinsip ‘abundance’ =keberlimpahan. Apa yang kita berikan, terutama ilmu, akan kembali ke kita berlipat lipat ganda.

  • Membuat para peserta training dongkol dan berkhayal mencekik Anda.

Pasalnya Anda mencoba membunuh mereka pelan pelan karena bosan dengan presentasi Anda baik isi dan gaya.
Sahabat trainers, untuk mengajar kita mesti belajar. Apakah kita termasuk pengajar yang mau, rela dan berhasrat untuk terus belajar? Bagaimana caranya meningkatkan kemampuan diri, ketrampilan dan profesionalisme trainer? Evaluasi dan testimoni dari peserta training saja, belum jaminan kualitas performance kita. Seberapa sering kita meminta evaluasi dari trainer lain pada saat training berlangsung? Beranikah kita mengundang trainer lain untuk duduk di training kita dan menerima kritik yang paling pedas sekalipun, demi peningkatan kompetensi kita?

Sahabat trainers, rasanya masih banyak lagi dosa dosa kecil kita sebagai trainer. Silakan carilah sendiri dan jika mungkin, berbagi disini. ***

7 DOSA KECIL PARA TRAINER ditulis oleh: Imung Hikmah





Five Factors for Favoring Silver

15 10 2010

Five Factors for Favoring Silver

by Robert T. Kyosaki

Posted on Monday, May 1, 2006, 12:00AM

URL: http://finance.yahoo.com/expert/article/richricher/4027

bunch of silver coin, collected by me

One of the reasons so many people get burned in the market is because they start buying as they see prices going up. Most of us remember the insanity of the dot-com bubble in the late 1990s. From 2000 and 2005, it was the real estate bubble. Today as I write, it’s oil, gas, gold, and silver.Once gold passed $600 an ounce and silver broke $10 an ounce, many of my friends came to me and said, “Oh, now I understand what you’ve been saying about gold and silver.

Tell me where I can buy some.” I’m afraid the only thing they understand is that the metals’ prices are going up — and as famed investor Warren Buffett says, “The dumbest reason in the world to buy a stock [or gold, silver, oil, Barbie dolls, or Mickey Mantle cards] is because the price is going up.”

Understand or Walk Away

One of the key words Buffett often uses is the word understand: “Investment must be rational. If you can’t understand it, don’t do it.”

Currently, I’ve been recommending that people look at oil, gas, gold, and silver (see “Investing: Go for Gold and Silver, Not Green” and “The Coming Oil Crisis“). I’m excited about silver because as I write, it’s relatively inexpensive. I’m also excited about silver because — unlike real estate, which can require a lot of money, some finance skills, lots of due diligence and property management skills to do well — silver is affordable to the masses, and management skills are minimum. Just buy some silver, put it in a safety deposit box at a bank, and your management nightmares are over.

Today, for less than $20, anyone can get into the silver speculation game. On top of that, silver is easy to buy and somewhat liquid. All you have to do is find your neighborhood coin dealer and start trading.

My question is: Do you understand silver? Do you know why silver is a good investment? Do you also know why it’s a bad investment? If you don’t know the answers to these questions, I would recommend that you stick with what you understand.

Although not a silver expert, I’ll share with you the reasons why I’m bullish on the asset:

  1. Silver is a consumable precious metal. Unlike gold, which is hoarded, silver is used industrially. For years, before digital photography, it was used in film for cameras and movies. Today, silver is used extensively in electronics. The reason this is a good fundamental reason to get into the metal today is because silver stockpiles are dwindling, so its price is driven by supply and demand.
  2. It’s a precious metal. Silver has been used as real money for centuries. We humans have an ancient fascination with this metal, as we do with gold. For years, I have visited gold and silver mining sites all over the world. That’s something that has always amazed me, regardless of whether I was in China, South America, Mexico, Africa, or Canada. I still remember standing on a mountaintop in Peru, doing my due diligence on a gold mine and looking at tiny caves dug into the side of a mountain. The caves were the mines of ancient Incas who were seeking gold, long before the Spaniards came and stole their wealth and country from them. Standing on a 14,000-foot mountain, where I could hardly breathe, I wondered what motivated those ancients to live in such an arid and hostile environment and delve for gold. Then I realized I was there for the same reason, only centuries later.
  3. The primary reason I’m in real estate, oil, gold, and silver is because the U.S. dollar has become the peso the world. It’s becoming more and more worthless as the U.S. is the world’s biggest debtor nation. Just how badly is the U.S. borrowing money? According to the Treasury Department, America’s first 42 Presidents (from George Washington to Bill Clinton) borrowed a combined total of $1.01 trillion from 1789 to 2000, Between 2000 and 2005, President George W. Bush has borrowed $1.05 trillion — and he’s got a few more years left to go. I’m not confident that our political leaders have the guts to do what’s required to put the U.S. back on a sound economic footing. This is not to blame either Republicans or Democrats. I blame Americans for wanting their Social Security cake and Medicare ice cream, too. It’s the entitlement mentality that grips the U.S., from the President on down, that needs to be changed. Too many Americans have come to expect the government to solve our personal problems (see “Why Many Aren’t Securing Their Financial Future“). So if you think America’s politicians and citizens are willing to make the changes necessary to strengthen the U.S. dollar, then don’t buy silver. But if you’re like me and don’t expect us, as a nation, to take our medicine, then short the dollar — and the way you short the currency is by going long on gold and silver.
  4. Equities (stocks) and commodities (gold, copper, oil, and silver) are counter-cyclical. On average, equity prices go up for 20-year periods, and commodities go down. Then they reverse directions. Looking back in time, equities (stocks) began their run-up in 1980 and imploded in 2000. In 2000, commodities began their run-up, and equities headed down. In other words, around 2016 to 2020, start getting back into stocks and out of commodities. A silver exchange traded fund (SLV) was launched on Apr. 28. That means silver, the commodity, can be traded as a paper asset. This makes silver easier for the masses to buy. They don’t have to take delivery of the physical metal. Millions of pensions can now hold silver as a paper asset. The ETF will have to actually buy the silver and store it for the investor. This should add to the scarcity of the metal, which should reduce supply and increase prices.

So that’s a simple explanation of what I understand about silver — and why I’m bullish. I’m not buying silver because the price is going up, I’m buying it because I believe I understand why its price is rising.

I could also be wrong — but at under $20 an ounce, silver is a good buy, in my opinion. I believe it’s the last great affordable investment for the masses. And when the masses find out, another bubble will inflate and, of course, at some point burst.

 





Tersenyum dan Tertawalah Agar Anda Sehat

27 01 2009

Oleh : Esmet Untung Mardiyatmo*

Dalam bukunya The Happy Hyprocite Max Beerhohm menokohkan Lord George Hell seorang yang jahat dan keji yang jatuh cinta pada seorang gadis cantik dan muda. Namun, gadis itu tak akan jatuh cinta pada siapapun, apalagi terhadap George Hell yang buruk rupa seperti setan. Gadis itu bercita-cita mempunyai suami yang berwajah seorang alim dan suci. Karena cintanya yang amat sangat terhadap gadis tersebut, George membeli topeng dengan wajah yang alim dan suci. Ketika topeng itu dikenakannya tiba-tiba topeng itu bersatu dengan kulitnya dan tak bisa dilepaskan kembali.

Ketika George menemui putri pujaannya sang puteri langsung jatuh cinta. Mereka hidup bahagia di sebuah desa yang tenteram. Suatu hari, mantan kekasih Lord George marah-marah. Ia mengetahui siapa sebenarnya di balik topeng. Ia merobek-robek topeng untuk melihat wajah asli Lord George, dan Lord George juga takut kalau wajah sucinya hilang dan rusak.Namun ketika Lord George mengenakan topeng orang alim dan suci, wajahnya juga mengalami perubahan mendasar. Wajah aslinya berubah persis dengan topeng yang dikenakannya. Tentu saja setelah lama mengenakannya ia tak perlu lagi mengenakan topeng. Topeng itu telah menyatu dengan dirinya.

Meskipun hanya pura-pura pada awalnya, Lord George berubah menjadi pribadi yang baik dan makin baik sesuai wajah topeng yang dinekanannya. Tentu saja cerita ini hanya fantasi Max Beerbohm saja. Tetapi itu benar.

Bukti-bukti ilmiah kini makin menguatkan bahwa ekspresi wajah mempengaruhi hati. Seorang ahli fisiologi Perancis Israil Waynbaum mengemukakan bahwa saat otot- otot wajah digerakkan, maka mekanisme hormonal di otak akan dipengaruhi dan diaktifkan. Beberapa otot wajah wajah yang berbeda beda yang digunakan untuk tersenyum, menunjukkan kemarahan, menghina dll semuanya berhubungan dengan neurotransmitter yang berbeda-beda di otak. Transmitter itu kemudian mengirimkan sinyal-sinyal kimia ke seluruh tubuh. Waynbaum yakin bahwa tersenyum mempengaruhi hormon secara positif. Sementara ekspresi-ekspresi seperti marah, jengkel mempunyai efek yang negatif. Bahkan ekspresi wajah mempunyai pengaruh yang besar terhadap bagaimana kita berpikir dan merasakan.

Dalam sebuah penelitian, kelompok aktor disuruh untuk memperagakan berbagai ekspresi yang berkaitan dengan berbagai emosi. Mereka disuruh untuk memperagakan ekspresi bahagia, sedih, jijik dan terkejut. Ketika mereka sedang mengekspresikan diwajah mereka perasaan tersebut, beberapa instrumen dipasang untuk mengukur detak jantung, suhu kulit dan tekanan darah. Penilaian itu ternyata membuktikan bahwa ekspresi wajah mempengaruhi perubahan-perubahan fisiologis. Ketika emosi sedang negatif, semua sistim tubuh kacau. Sebaliknya ketika orang mulai tersenyum , maka detak jantung lebih lambat, tekanan darah menurun dan sistem tubuh rileks. Dengan tersenyum, banyak manfaat yang diperoleh, Sebaliknya ekspresi wajah negatif membuat tubuh bereaksi negatif. Padahal kita tahu bahwa subyek penelitian tersebut bukanlah benar-benar merasa bahagia, sedih atau jijik, tetapi mereka hanya membuat otot-otot wajah sesuai dengan emosi tersebut.

Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa tersenyum dan tertawa bukanlah pepesan kosong tanpa makna. Tertawa dan tersenyum selain membuat senang dalam pergaulan ternyata sangat bermanfaat bagi diri sendiri untuk menjaga kesehatan dan menghindari penyakit. Jika kita terus tersenyum m eskipun di dalam emosi sedang tidak karuan, kita sedang membantu sistem tubuh kita untuk tetap tenang dan rileks. Dengan tersenyum dan tertawa kita dapat mengurangi stres dan ketegangan, perusak terbesar kesehatan kita di abad 21.

Tersenyum dan tertawa berperan dalam memelihara kesehatan dan menghindari sakit. Ketika kita terus tersenyum, meskipun dalamnya runyam, akan membantu tubuh rileks dan tenang. Dan ini akan mengurangi stres dan ketegangan.

Anda tahu bedanya anak kecil dengan orang dewasa? Coba perhatikan seberapa sering mereka tersenyum atau tertawa. Kita lebih sering melihat anak kecil tersenyum dan tertawa dibanding orang dewasa. Konon menurut sebuah penelitian tentang tertawa, anak kecil bisa tertawa 300 sampai 400 sehari. Sementara orang dewasa tertawa sekitar 15 kali sehari. Padahal kita tahu bahwa banyak sekali yang bisa membuat kita tertawa: perilaku kawan, ledekan orang lain, ucapan teman, pengalaman rekan dsb.n Yang terjadi justru sebaliknya; kita menjadi marah, emosional, jengkel, tidak suka, benci terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang lain. Anehnya, meskipun kita tahu bahwa sikap tersenyum dan tertawa itu sangat positif dan bermanfaat bagi kesehatan, tidak semua orang menerapkannya dengan baik.

MANFAATNYA
Banyak orang besar menggunakan senyum dan tawa untuk menanggulangi kesulitan-kesulitan yang mereka temui dalam perjuangan mereka. Pribadi seperti Mahatma Gandhi dan Dwight Ike Eisenhower, yang sangat terkenal itupun sangat menghargai nilai humor dalam interaksi pribadi dan dalam konteks institusional. Mahatma Gandhi pernah mengatakan ,”If I had no sense of humor, I should long ago have committed suicide.” (Jika saya tidak punya rasa kepekaan terhadap humor, sejak dahulu saya bunuh diri). Sementara Eisenhower terkenal dengan pernyataannya, ”A sense of humor is part of the art of leadership, of getting along with people, of getting things done.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin juga menggunakan humor agar anak buahnya menyayanginya dan memberi dukungan. Nampaknya, kehebatan banyak orang didorong oleh sense of humor yang ada pada diri mereka. Dengan sense of humor yang mereka miliki mereka tetap sehat dan kreatif dalam menghadapi situasi yang bagi orang lain mungkin sudah sangat membuat stress.

Tidak semua orang dapat mengamati, merasakan atau mengungkapkan humor dengan tersenyum dan tertawa. Hanya orang yang punya kepekaan terhadap humor saja yang mampu menghasilkan humor segar. Bagi yang tidak cukup peka, maka kejadian apapun tidak menyebabkan kesan lucu. Kemungkinan individu tersebut diam saja atau bahkan menjadi marah. Ketiadaan senyum dan tawa merupakan tanda-tanda kepribadian yang belum matang. Bila ada individu tidak mampu mentertawakan diri sendiri yang mengalami peristiwa lucu, adalah merupakan tanda bahwa individu tersebut mengalami gangguana kepribadian.

Laughter is the best medicine, adalah salah satu rubrik dalam majalah bulanan berbahasa Inggris Readers’ Digest. Paling tidak redaksi majalah tersebut meyakini dan menyadari akan kehebatan terapi ketawa. Meski demikian, belum semua keyakinan itu mampu meyakinkan dokter yang tetap saja mengandalkan pil, operasi dan kemoterapi untuk mengatasi sakit. Tetapi akhir-akhir ini kesadaran untuk menuju kesehatan holistik yang mempertimbangkan pengaruh pikiran tubuh makin kental. Banyak orang percaya bahwa terapi tertawa mampu membantu pasien sembuh lebih cepat. Sebaliknya wajah yang murung, berkelam durja hanya akan memperpanjang lama seseorang dirawat di rumh sakit.

Ketika orang tersenyum dan tertawa sebenarnya menandakan bahwa mereka tidak takut. Kita tertawa bila merasa enak dan rileks. Sekarang ini banyak penyakit degeneratif yang dipicu adanya stres. Stres mengganggu keseimbangan tubuh dan dapat membuat sakit. Ketika hormon stres diproduksi secara besar-besaran, maka sistem kekebalan tidak berjalan. Segala kuman dan penyakit lebih mudah menginveksi tubuh kita. Tersenyum dan tertawa adalah senjata yang sangat bagus untuk menghentikan perkembangan penyakit menuju ke tingkat yang membahayakan. Ketika orang tersenyum dan tertawa, otak akan memerintahkan tubuh untuk melepasklan hormon sehat. Tertawa atau tersenyum setiap hari sama pentingnya dengan mengkonsumsi apel setiap hari.

Diyakini bahwa orang yang lebih bahagia lebih jarang terkena penyakit daripada yang tidak. Mereka yang tetap optimis jarang sakit yang disebabkan oleh kekacauan stres. Mereka yang senang tersenyum membantu diri mereka sendiri untuk tetap tenang dan rileks. Hebatnya lagi, tertawa ini bisa menular. Tersenyum juga menular, hal itu akan mudah m enyebar ke semua orang. Tetapi sebaliknya, rasa panik, takut dsb juga membuat orang lain merasakan hal yang sama.

Tersenyum, tertawa banyak bermanfaat bagi individu yang bersangkutan dan orang lain. Bagi individu sendiri mereka biasanya mempunyai penafsiran dan perspektif yang baik tentang diri mereka. Mereka juga lebih mudah menciptakan ide-ide baru, terhindar dari kecemasan dan dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Individu yang demikian juga terhindar dari pikiran-pikiran negatif terhadap orang lain.

Penelitian yang dilakukan oleh Vachet dan diumumkan oleh Hudgkinson menjelaskan manfaat tertawa. Tertawa dapat mengakibatkan pengiriman oksigen ke paru-paru lebih banyak, memperlebar pembuluh darah, mempercepat penyembuhan penyakit, menstabilkan fungsi-fungsi tubuh, membantu tubuh lebih kuat menghadapi infeksi, dan mengirimkan darah lebih cepat ke organ kaki dan tangan. Manafaat yang disebut terakhir ini sering dimanfaatkan oleh para pendaki gunung. Kala mereka diserang hawa dingin yang menusuk, mereka lawan dengan guyonan antar mereka.

Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Fry dan Savin (1999) menemukan bahwa tertawa dapat memperbaiki tekanan darah sistolik dan diastolik, menstimulasi sirkulasi udara, mentransformasi darah dalam sel, serta melindungi diri dari penyakit. Tersenyum dan tertawa juga mampu meningkatkan sekresi catecholamines dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasa segar, penuh semangat dan senang. Pada gilirannya sekresi kortisol dan kecepatan pengendapannya akan menurun, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tertawa juga melatih otot dada, pernapasan, wajah, kaki dan punggung. Oleh karena itu tidak mengeherankan bila kita merasa lelah setelah banyak tertawa. Karena pada dasarnya kita sama saja baru melakukan oleh raga cukup berat.

Tertawa juga berdampak positif terhadap kualitas kerja kardiovaskulair dan pernapasan. Pada waktu orang tertawa, temperatur kulit akan naik sebagai akibat dari meningkatnya sirkulasi peripheral. Bagi orang yang relaksasi ototnya sudah payah, humor adalah obatnya. Para ahli fisiologis seperti Adams yang dikutip Chesworth (1996) membuktikan bahwa respon relaksasi setelah tertawa terbahak-bahak dapat bertahan dalam waktu 40-50 menit. Jangan terkejut, tertawa satu menit sama dengan bersepeda 15 menit.

Pengalaman Norman Cousins, seorang pengarang terkenal membuktikan bahwa ternyata tertawa dapat menjadi obat yang mujarab. Sebelumnya ia diberitahu telah menderita kanker yang mematikan yaitu ankylosing spondilitis, di mana tulang belakangnya tidak bisa bergerak dan pelan-pelan ia menjadi lumpuh. Kondisi seperti ini biasanya tidak dapat disembuhkan dan pasien akan mengalami penderitaan yang hebat.

Tetapi Cousins bukanlah tipe orang yang yang mudah menyerah oleh keadaan. Ia mencoba sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain: mencoba kekuatan humor dan tawa. Dia mulai mengakrabi humor, kartun, film, lelucon dan bergaul dengan orang-orang humoris. Yang mengagetkannya ternyata kanker yang diidapnya berangsung angsur berkurang. Ia memutuskan keluar dari rumah sakit dan tinggal di hotel. Ia menjadi merasa lebih bahagia, lebih sehat dan lebih bugar. Dalam buku yang ditulisnya Anatomy of an illness as perceived by the patients, ia menulis afirmasi positif yang ia katakan pada dirinya telah meningkatkan kimia tubuhnya. Dan setiap kali ia tertawa rasa sakit yang dideritanya berkurang. Tertawa menciptakan semacam anastesia, pengurang rasa sakit. Dengan tertawa maka pelan-pelan perasaan takut, depresi, kepanikannya berkurang secara drastis. Cousins menemukan bukti-bukti bahwa tertawa telah mengurangi sakit di tulangnya, dan tertawa telah menghasilkan endorphin –pengurang rasa sakit alami di otaknya.

TERSENYUMLAH, HATI ANDA JUGA AKAN TERSENYUM
Menjadi pribadi yang murah senyum dan humoris tidaklah semudah mengatakannya. Bagi banyak orang perlu proses yang panjang dan komitmen yang tak pernah henti.Apabila belum bisa tulus tersenyum sampai lubuk hati, biasakan saja tersenyum meskipun Cuma lahiriahnya. Ini sesuai dengan saran Stephen Covey dalam bukunya the Seven habits of highly effective people. Covey mengatakan bahwa untuk mempunyai karakter tertentu kita bisa mulai dengan membiasakannya. Dari kebiasaan yang berulang-ulang itu lahirlah karakter.

Jika kita terus tersenyum, apapun yang terjadi pada perasaan dan emosi kita, lama kelamaan kitapun akan bahagia. Sebaliknya jika penampilan fisik kita kelihatan marah dan kacau, maka di dalam hati kita juga menjadi seperti itu. Ekspresi wajah akan mempengaruhi kepribadian seseorang.

* Penulis Anekdot Manajemen diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta





The Power of Yes: A Simple Way to Get More Out of Life

20 01 2009

For much of my adult life I’ve been shackled by fear. I’ve been afraid to try new things, afraid to meet new people; afraid of doing anything that might lead to failure. This fear confined me to a narrow comfort zone. Recently, however, I made a single small change that has helped me to overcome my fear, and allowed me to get more out of life.

Last fall somebody at Ask Metafilter posted a question looking for books about self-confidence. One person recommended Impro by Keith Johnstone. Intrigued, I borrowed it from the public library. It blew my mind. Though it’s a book about stage-acting, several of the techniques it describes are applicable to everyday life.

I was particularly struck by the need for improvisational actors to accept whatever is offered to them on stage. In order for a scene to flow, an actor must take whatever situation arises and just go with it. (Watch old episodes of Whose Line is It Anyway to see this principle in action.) Johnstone writes:

Once you learn to accept offers, then accidents can no longer interrupt the action. […] This attitude makes for something really amazing in the theatre. The actor who will accept anything that happens seems supernatural; it’s the most marvellous thing about improvisation: you are suddenly in contact with people who are unbounded, whose imagination seems to function without limit.

[…]

These ‘offer-block-accept’ games have a use quite apart from actor training. People with dull lives often think that their lives are dull by chance. In reality everyone chooses more or less what kind of events will happen to them by their conscious patterns of blocking and yielding.

That passage had a profound effect on me. I thought about it for days. “What if I did this in real life?” I wondered. “Is there a way I could adapt this to help me overcome my fear?” I began to note the things that I blocked and accepted. To my surprise, I blocked things constantly — I made excuses not to do things because I was afraid of what might happen if I accepted.

I made a resolution. I decided that instead of saying “no” to things because I was afraid of them, I would “just say yes”. That became my working motto: “Just say yes”. Any time anyone asked me to do something, I agreed to do it (as long as it wasn’t illegal and didn’t violate my own personal code of conduct). In the past six months, I’ve put this philosophy into practice in scores of little ways. But the power of “yes” has made larger changes to my life, too, has exposed me to things I never would have done before.

  • Soon after I started saying “yes”, a GRS reader offered to provide free wellness coaching. My gut reaction was to say “no”. But I caught my negative thinking. “Just say yes,” I said to myself. So I did. Working with Lauren, my wellness coach, has been an amazingly positive experience.
  • Ramit at I Will Teach You to Be Rich asked me to contribute to his eBook. I had all kinds of reasons for saying “no” — none of them good — but I forced myself to say “yes”. As a result, this site gained new readers, and I got to correspond with Ramit about how to produce a PDF book.
  • Last winter, Sally shared a guest article about eating vegetarian on the cheap. A few weeks later she wrote that she and her husband would be in town, and asked if Kris and I would like to have dinner. In the past I would have said “no” out of fear of meeting a stranger. I said yes, and I’m glad I did.
  • One of my friends works as a career counsellor at a nearby university. Recently he asked me to present a talk to graduating seniors about the basics of personal finance. Normally I would refuse out of hand, but only because I am afraid. I said yes. Though the presentation fell through, the copious notes I made will serve as the basis for many future articles.
  • A close friend asked me to go see a band I’d never even heard of. On a Thursday. At midnight. This was totally outside my comfort zone, but I said yes. The experience was fantastic. We had a great conversation, and then I got to discover The Black Angels and their wall of sound.
  • I don’t know anything about table tennis, but when my former soccer coach stopped by to recruit me for a local club, I agreed to join. It’s been fun learning the sport, and getting re-acquainted with his family. (I was once good friends with his son.)

These things will seem minor to the extroverts here. But for me, these were big steps. These experiences were new, and I wouldn’t have had them if I hadn’t forced myself to just say yes.


Most of my experiences from my “just say yes” campaign have been positive, but not all of them. I’ve had some failures, too. Surprisingly, I’ve learned more from the bad experiences than I have from the good.

In February, for example, a Seattle radio station asked me to do a telephone interview about retirement savings. “I’m not a retirement expert,” I told the woman who contacted me, but then I realized I was making excuses. I was blocking because I was scared. “But I’ll do it,” I said. Ultimately my radio appearance was a disaster. I got stage-fright and became tongue-tied. But you know what? I don’t care. I failed, but at least I tried. After the interview, I e-mailed the woman to apologize and to ask for advice. She was sympathetic, and gave me some great pointers. Next time somebody asks for a radio interview, I’ll do better.

For too long, fear of failure held me back. Failure itself didn’t hold me back — the fear of it did. When I actually try something and fail, I generally get right back up and do it again, but better the second time. I pursue it until I succeed. But often I convince myself that I can’t do something because I’m going to fail at it, so I don’t even bother to try.

Since I’ve learned the power of yes, I’ve begun to act as if I’m not afraid. Whenever I feel fear creep upon me, I act as if I’m somebody else. I act as if I’m somebody stronger and braver. Motivational speaker Brian Tracy says:

If you want to develop courage, then simply act courageously when it’s called for. If you do something over and over again, you develop a habit. Some people develop the habit of courage. Some people develop the habit of non-courage.

Tracy recommends that any time you encounter the fear of failure, you simply tell yourself, “I can do it.” Say it again and again and then do it. What’s more, he says, tell others that they can do the things they’re frightened of. How many times have you seen somebody excited about a new project become totally deflated when others tell him or her why it won’t work? Don’t be like that. Tell the person, “You can do it.” Be supportive.

Tracy is famous for asking the question: What would you dare to dream if you knew you wouldn’t fail? This is a powerful concept. What could you do if you stopped telling yourself “no” and simply tapped into the power of yes?

Aside from learning the power of yes, there are other ways to fight fear and develop a more courageous attitude.

  • Start small. Many people are afraid to make phone calls, or to approach a clerk in a store. Begin by practicing these little habits. A clerk in a bookstore answers hundreds of questions a month. There’s no reason to be frightened of asking yours.
  • Try one new thing each week. It doesn’t have to be big. Learn a new skill, have lunch with an acquaintance, do something for a friend. Once every week, say “yes” where you might have said “no” before.
  • Exercise mindfulness. When fear creeps into your head, name it for what it is, and let it pass by. I know this sounds new age and hokey, but it works. When somebody asks you to do something and your gut reaction is “no”, pause to examine that “no” and ask yourself, “Am I saying this simply out of fear? What would happen if I said yes?”
  • Act like you’re somebody else. Do you have a friend who is a great negotiator? The next time you negotiate, pretend you’re this person. This is more effective than you probably think!
  • Ask yourself, “What is the worst thing that could happen?” Then ask yourself, “What is the best thing that could happen?” Most of the time when I make this comparison, the upside far outweighs the downside.
  • Recognize that failures and mistakes are not the end. Often they’re the beginning. If you can pick yourself up after you do something wrong, and then learn from the experience, you’ll be a better person because of it.

Read more about conquering fear and worry:

  • The Instigator Blog offers five reasons to say yes.
  • How to Stop Worrying and Start Living by Dale Carnegie has a five-star rating on 107 reviews at Amazon, and rightly so. This is a classic book about courage in everyday life. Here’s a summary. (From the author of How to Win Friends and Influence People.)
  • Yes Man is a book by Danny Wallace that chronicles his adventures as he says “yes” to everything for an entire year. I haven’t read this, but I’d like to.
  • Impro by Keith Johnstone is a book about improvisational acting. Sharp readers will find ways to apply these techniques to everyday life, to boost self-confidence and to overcome fear of failure.

We all have dreams, but most of us make excuses for not pursuing them. Often these excuses aren’t overt. It’s more a matter of inertia, of just ignoring the dreams, of maintaining the comfortable status quo. But you can break out of your comfort zone to get more out of life through the simple power of yes.

(as written by J.D in http://www.getrichslowly.org/blog/2007/06/13/the-power-of-yes-a-simple-way-to-get-more-out-of-life/





Just Imagine, Be Focus, and Do Your Action!

18 07 2008

Sebagai entrepreneur, kita harus terus memotivasi diri sendiri untuk melangkah lebih maju dalam usaha kita.

Dalam sesi motivasi dalam acara Milad (Peringatan hari jadi) suatu Komunitas Bisnis di Malang, yang diberikan dalam bentuk games, ada hal-hal yang perlu direnungi. Dalam sesi tersebut, metode nya disebut IFA KONEK (IFA diambil dari nama anak Bpk. Mei Hendra Dharma, sang motivator)

  1. I = IMAGINE, sebagai entrepreneur, kita harus mempunyai imaginasi secara detail seperti apa bisnis kita nantinya. Bagaimana kita mengembangkannya dan bagaimana bisnis kita di masa depan. Sesi ini dilakukan dengan menggambar apa yang di sebutkan oleh motivator dengan mata tertutup. Hal ini menunjukkan bahwa imajinasi terhadap sesuatu akan membentuk kita seperti apa yang kita pikirkan
  2. F = FOCUS, sesi ini dilakukan dengan menyambung 4 buah sedotan plastik, dan diletakkan di atas telapak tangan sampai berdiri, pakai joget pula. Mereka yang berhasil melakukan itu adalah mereka yang memandang ujung sedotan, dan mempertahankannya agar tetap berdiri.  Sebagai Entrepreneur, kita harus fokus terhadap bisnis kita. Lihatlah TUJUAN kita, FOKUS ke arah tujuan yang sudah kita tetapkan
  3. A= ACTION Sudah punya gambaran bisnis kita, sudah punya rencana, dan fokus. Apalagi? Do your Action! Sesegera mungkin! Hal ini digambarkan dengan saling melempar bola pingpong dan menangkapnya, mudah. Tapi kalau bola pingpong diganti dengan telur? hehehe… yang dilempar jadi takut….
  4. KONEK = KOMITMEN DAN NEKAT. Gambaran ini dilakukan dengan mematahkan pinsil dengan 1 jari? Bisa? Bisa! asal kita komitmen dan just do it!

Salam,

Vivi Damayanti
Bizmart Mods





Positive Thinking Attitude

6 06 2008

Our attitudes control our lives. Attitudes are a secret power working twenty-four hours a day, for good or bad. It is of paramount importance that we know how to harness and control this great force” (Tom Bland)

Realitanya, optimal tidaknya suatu hasil yang ingin dicapai, kitalah penentunya. Tetapi tidak semua orang “mampu” menerima kerealitaan ini atau mau menyadarinya. Umumnya, alih alih menyadari atau menerima kerealitaan ini, seseorang lebih cenderung menyalahkan atau menuding pihak – pihak lain atas kekurangberuntungan yang dialami. Akhirnya, bukannya kondisi konstruktif yang diraih tetapi adalah sebaliknya yaitu destruktif.

Orang yang bertipe demikian, sampai kapanpun tidak akan bisa memperbaiki “performance” atau potensinya. Seyogianya, haruslah disadari bahwa apapun kondisi yang terjadi atau keadaan apapun yang berlaku, penyebabnya dan bukanlah orang lain. Tetapi adalah diri sendiri. Menyadari akan kerealitaan ini, sudah seyogianya kapan dan dimanapun berada, sikap hidup positif senantiasa dipertahankan. Caranya, tiada lain adalah dengan memiliki :

STANDARD DIRI, mis. : Pekerjaan di hari ini, tidak akan dikerjakan untuk keesokan harinya. Atau pekerjaan hari ini, haruslah tuntas di hari ini juga. Apapun program kerja yang direncanakan, siapnya haruslah “on time”. Tidak akan lari dari kenyataan dan senantiasa bertanggung jawab terhadap apapun yang telah dikerjakan atau didelegasikan. Senang menerima tantangan, pantang menyerah dan berkeyakinan diri yang mantap serta kokoh. Tidak akan tergoyahkan, baik dikala dicela maupun dipuji. Tidak diskriminasi dan berwawasan universal.

KERJA KERAS. Yang dimaksud dengan kerja keras adalah kerja keras dalam batas – batas yang tegas dan jelas sehingga menghasilkan hasil yang optimal dan berkwalitas. “Do a little more each day than you think you possibly can” (Lowell Thomas)

CEKATAN. Apapun yang dikerjakan, baik kwantitas aupun kwalitasnya, haruslah senantiasa baik dan progresif. “Ability is what you’re capable of doing. Motivation determines what you do. Attitude determines how well you do it” (Lou Holtz)

EMOSI TERKONTROL. Baik dalam kondisi senang maupun susah, emosi terkontrol dengan baik sehingga apapun kebijaksanaan yang diterapkan, arahnya adalah konstruktif. Logikanya, emosi yang tidak terkontrol, dampaknya adalah destruktif. Karena disaat tersebut, yang paling dominan berperanan adalah hal – hal yang arahnya irrasional. “Emotion turning back on itself, and not leading on to thought or action, is the element of madness” (John Sterling)

PANDANGAN OPTIMIS, misalnya : Where there is a will, there is a way  While there is a life, there is a hope. Realitanya, pandangan yang optimis sangatlah signifikan kontribusi dalam pencapaian kesuksesan. Contoh kasus, jika si A optimis bahwa produknya akan mudah diserap oleh pasar maka kesuksesanlah buahnya. Tetapi jika sebaliknya maka sampai kapanpun juga, produknya akan tetap menumpuk di gudang. “An optimist sees an opportunity in every calamity; a pessimist sees a calamity in every opportunity” (Winston Churchill)

MORAL BAIK, yang mencakupi : Tidak melakukan tindakan yang illegal, baik yang dibuat oleh pemerintah maupun yang berlaku pada adat istiadat setempat. Tindakan apapun yang diperbuat, tidak merugikan atau menyengsarakan orang lain. Apapun yang dilakukan, semuanya adalah legal, yang selain menguntungkan diri sendiri tetapi juga orang lain. Suka dan senang melakukan perbuatan perbuatan terpuji, misalnya : beramal. Ramah tamah, sopan dan jujur kepada siapapun juga. “The personal life deeply lived always expands into truths beyond itself” (Anais Nin)

BIJAKSANA, misalnya : Apapun yang dilakukan, dasarnya adalah netral dan adil serta tidak merugikan pihak yang manapun juga. Setiap tutur kata dan tindakan badan jasmani, arahnya adalah positif, yang tanpa adanya batasan batasan etnis, agama, suku dan lain sebagainya. Apapun yang dilakukan, dampaknya adalah positif, yang selalu memberikan ketenangan, keteduhan, kedamaian dan ketentraman. Mampu dan mau menerima apapun kerealitaan yang terjadi serta mengevaluasinya.

TEPAT JANJI. Setiap ungkapan yang diutarakan, selalu ditepati. Baginya, yang namanya janji adalah hutang dan sudah seharusnya dilunasi.

Peter Lim





Kambing… harganya berapa

13 05 2008

Pailul menjual anak kambing kesayangannya dengan harga murah. Dia menjual dengan harga Rp. 75.000. Pailul meminta tolong Jabrik untuk menjualkannya ke Pasar Kambing. Di seretnya kambing kecil itu oleh Jabrik ke Pasar Kambing. Kenapa ngak digendong aja… Pailul bergumam.

Sesampai di pasar Kambing, Tiga orang anak yatim mushalla Darussalam melihat kambing itu dan berkeinginan untuk membelinya. Kebetulan ustadz barusan memberinya uang jatah zakat maal dari warga. Masing-masing mendapat Rp. 25.000. Mereka rencananya ingin makan enak. Habis selama ini mereka hanya mendapat makanan jatah dari warga, yang seringnya itu-itu saja, membosankan.

Karena melihat anak kambing yang lucu, mereka mengubah rencana. Si Jaka, yang paling tua, bilang, “Teman-teman, lebih baik kita beli kambing itu, bisa buat tabungan kita nanti. Setidaknya kita juga ada kesibukan lain, yaitu pelihara kambing. Nanti kalau sudah besar kita bisa jual apalagi kalau Idul Qurban.”

Ternyata otak bisnis Jaka jalan juga. Dibelilah kambing itu. Pas sekali, harga kambing Rp. 75.000 dan uang mereka masing-masing Rp. 25.000. Setelah mereka patungan, lunaslah harga kambing dan di bawa pulang.

Karena Jabrik merasa kasihan, dan ingin menyumbang kepada anak yatim, dia memberikan uang Rp. 1.000 kepada setiap anak, jadi totalnya Rp. 3.000. Alangkah girangnya mereka, sudah dapat kambing, dapat uang lagi.

Jabrik kembali ke rumah Pailul dan melaporkan bahwa kambing telah terjual. Jabrik memberi Rp. 70.000 ke Pailul karena dia mengutip Rp. 2.000 sebagai komisi.

Pertanyaan yang muncul adalah, mari kita hitung. Sebetulnya anak-anak itu membayar hanya Rp. 24.000 per anak karena mereka mendapatkan kembalian. Jadi total yang dibayarkan anak-anak itu adalah Rp. 72.000. Kalau ditambah dengan komisi yang diambil Jabrik berarti total harga kambing itu adalah Rp. 74.000… Kenapa bukan Rp. 75.000, di manakah Rp. 1.000 lagi?

Tolong pecahkan masalah saya