Tujuh Dosa Trainer

26 07 2012

Sahabat trainer,
Seberapapun mumpuninya kita sebagai seorang trainer dengan jam terbang yang cukup tinggi, kesalahan bisa terjadi baik disengaja ataupun tidak. Sebagai trainer, sudah selayaknya kita selalu mencari dan menerima feedback and membenahi diri. Semoga pendapat sederhana dibawah ini tidak menyentil Anda dengan cara yang menyakitkan, karena bukanlah itu tujuannya. Tulisan ini hanya sebagai pengingat bagi kita, para trainer untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan diri.

Nah, inilah 7 dosa kecil kita sebagai trainer:

  • Lupa membawa prinsip ‘memberi contoh’.

Trainer tidak hanya menyampaikan tapi juga harus mencontohkan. Yang saya maksudkan disini bukan cuma mencontohkan suatu kasus atau peristiwa. Misalnya memberi training tentang manajemen waktu, tetapi tidak mengakhiri rangkaian training tepat waktu malah molor tanpa mengindahkan masukan dari peserta.

Contoh lainnya, kita menyampaikan training ketrampilan berkomunikasi dan berpresentasi tapi gaya presentasi kita membosankan. Nah, bagaimana profesi kita sebagai trainer akan sustain dan berkembang? Apakah kita akan di hire lagi? Kesempatan memberikan training bukan hanya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga kesempatan untuk merekatkan prestasi, dan reputasi. Masa depan keberlangsungan kita sebagai trainer juga ditentukan dari kepuasan para peserta terhadap fasilitasi yang kita berikan.

  • Lupa prinsip WII-FM (What’s In It For Me)- the audience, pada saat mempersiapkan dan memfasilitasi training.

Tugas kita adalah membantu peserta untuk empower dan re-discover potensi mereka. Training bukanlah ajang mempamerkan kehebatan dan kepintaran kita. Think of audience every time, sehingga kita tak terpeleset pada ‘Me Time’ disaat memberikan fasilitasi. Para peserta tak perlu mengetahui daftar riwayat hidup kita, atau daftar kehebatan kita sebagai trainer. Boleh saja sampaikan beberapa cerita pengalaman sendiri selama berkaitan dengan isi training, sehingga kita bisa terhubung dengan audiens. Tapi semestinya yang tepat takaran.

  • Dismissive (cuek, masa bodoh) terhadap respon, komen, pertanyaan dan pernyataan peserta.

Mungkin kita tak menyadarinya. Kita bisa saja menyatakan ‘saya terbuka jika ada pertanyaan, atau komen’, tapi begitu peserta membuka mulut, bahasa non-verbal kita mesti kompak dengan pernyataan kita. Sikap, bahasa tubuh, bisa menghianati pernyataan kita. Bisa menunjukkan perasaan tak sabar melalui kegelisahan sikap, memotong pernyataan peserta, menyindir dan lainnya. Peserta bisa merasakan energi seperti ini dan membaca bahasa non-verbal kita yang tidak simpatik. Berhati hatilah.

  • Tidak customize training untuk peserta di kelas itu pada hari itu.

Penting untuk mengetahui sedikit latar belakang para peserta sebelum training dimulai. Bisa juga dengan mengirimkan email dahulu untuk membuka salam, bertanya objektif mereka mengikuti training, atau memberikan pernyataan selamat datang. Bila tak ada respond dan tak ada kesempatan untuk mengetahui jauh hari sebelum training, setidaknya kita sudah harus mengetahui sedikit demography dan psychography dari training form yang diisi oleh para peserta.

  • Kemampuan berpresentasi dan berkomunikasi yang kurang memadai.

Tidak peduli kita ahlinya di suatu bidang khusus, sebagai seorang trainer, salah satu keahlian kunci yang harus kita miliki adalah menyampaikan secara baik , mengikat audience, mempesona mereka, membantu mereka menggali potensi mereka, dan menciptakan ruang dan suasana kelas yang asyik. Sebagai trainer kita harus humble dan memberikan ruang untuk peningkatan, tidak malu belajar lagi, bukan hanya dari buku, tapi juga sebagai trainee di kelas. Ikutilah kursus-kursus untuk lebih mengasah keterampilan Anda contohnya misalnya menggunakan trik multimedia, menggunakan humor dalam presentasi, bagaimana menggunakan props secara effective, dan belajar komunikasi interpersonal skill.

  • Pelit memberi.

Contohnya memberi jawaban yang seadanya kepada peserta, enggan membagi sumber dan referensi training. Hidup di dunia dimana segala macam informasi bisa didapat dengan mudah dan murah, tidak selayaknya kita pelit dalam memberi. Jangan lupa prinsip ‘abundance’ =keberlimpahan. Apa yang kita berikan, terutama ilmu, akan kembali ke kita berlipat lipat ganda.

  • Membuat para peserta training dongkol dan berkhayal mencekik Anda.

Pasalnya Anda mencoba membunuh mereka pelan pelan karena bosan dengan presentasi Anda baik isi dan gaya.
Sahabat trainers, untuk mengajar kita mesti belajar. Apakah kita termasuk pengajar yang mau, rela dan berhasrat untuk terus belajar? Bagaimana caranya meningkatkan kemampuan diri, ketrampilan dan profesionalisme trainer? Evaluasi dan testimoni dari peserta training saja, belum jaminan kualitas performance kita. Seberapa sering kita meminta evaluasi dari trainer lain pada saat training berlangsung? Beranikah kita mengundang trainer lain untuk duduk di training kita dan menerima kritik yang paling pedas sekalipun, demi peningkatan kompetensi kita?

Sahabat trainers, rasanya masih banyak lagi dosa dosa kecil kita sebagai trainer. Silakan carilah sendiri dan jika mungkin, berbagi disini. ***

7 DOSA KECIL PARA TRAINER ditulis oleh: Imung Hikmah

Advertisements




Kambing… harganya berapa

13 05 2008

Pailul menjual anak kambing kesayangannya dengan harga murah. Dia menjual dengan harga Rp. 75.000. Pailul meminta tolong Jabrik untuk menjualkannya ke Pasar Kambing. Di seretnya kambing kecil itu oleh Jabrik ke Pasar Kambing. Kenapa ngak digendong aja… Pailul bergumam.

Sesampai di pasar Kambing, Tiga orang anak yatim mushalla Darussalam melihat kambing itu dan berkeinginan untuk membelinya. Kebetulan ustadz barusan memberinya uang jatah zakat maal dari warga. Masing-masing mendapat Rp. 25.000. Mereka rencananya ingin makan enak. Habis selama ini mereka hanya mendapat makanan jatah dari warga, yang seringnya itu-itu saja, membosankan.

Karena melihat anak kambing yang lucu, mereka mengubah rencana. Si Jaka, yang paling tua, bilang, “Teman-teman, lebih baik kita beli kambing itu, bisa buat tabungan kita nanti. Setidaknya kita juga ada kesibukan lain, yaitu pelihara kambing. Nanti kalau sudah besar kita bisa jual apalagi kalau Idul Qurban.”

Ternyata otak bisnis Jaka jalan juga. Dibelilah kambing itu. Pas sekali, harga kambing Rp. 75.000 dan uang mereka masing-masing Rp. 25.000. Setelah mereka patungan, lunaslah harga kambing dan di bawa pulang.

Karena Jabrik merasa kasihan, dan ingin menyumbang kepada anak yatim, dia memberikan uang Rp. 1.000 kepada setiap anak, jadi totalnya Rp. 3.000. Alangkah girangnya mereka, sudah dapat kambing, dapat uang lagi.

Jabrik kembali ke rumah Pailul dan melaporkan bahwa kambing telah terjual. Jabrik memberi Rp. 70.000 ke Pailul karena dia mengutip Rp. 2.000 sebagai komisi.

Pertanyaan yang muncul adalah, mari kita hitung. Sebetulnya anak-anak itu membayar hanya Rp. 24.000 per anak karena mereka mendapatkan kembalian. Jadi total yang dibayarkan anak-anak itu adalah Rp. 72.000. Kalau ditambah dengan komisi yang diambil Jabrik berarti total harga kambing itu adalah Rp. 74.000… Kenapa bukan Rp. 75.000, di manakah Rp. 1.000 lagi?

Tolong pecahkan masalah saya





Buat Yang Suka Makan Nasi Padang

12 03 2008

Saya pergi makan malam bersama beberapa teman kantor di sebuah restoran yang kabarnya cukup laris di daerah Ciledug. Saat memesan makanan, saya perhatikan pelayan yang melayani kami membawa sepasang sendok di saku bajunya. Sedikit aneh, tapi saya tidak begitu peduli.

Namun, saat pesanan kami mulai diantar, saya melihat  pelayan lain membawa pula sepasang sendok di saku bajunya. Saya jadi tertarik untuk melihat sekeliling dan ternyata memang benar dugaan saya, semua pelayan restoran tersebut membawa sepasang sendok di saku baju masing-masing.

Saya jadi ingin bertanya. “Mas kenapa semua pelayan di sini membawa sepasang sendok di sakunya?” tanya saya yang kepada pelayan datang membawa sepiring sate.

“Oh begini, Pak,” jawab si pelayan, “pemilik restoran ini memutuskan untuk menyewa Andersen Consulting, ahli dalam hal analisis efisiensi kerja, untuk memperbaiki kinerja di restoran ini. Setelah mereka analisis selama beberapa bulan, mereka menyimpulkan bahwa pelanggan restoran ini menjatuhkan sendok makan mereka sebanyak 73,84 persen lebih sering dibandingkan peralatan makan lain yang ada dimeja.

Menurut Andersen Consulting, itu berarti rata rata 3 pelanggan menjatuhkan sendok per meja setiap jamnya. Jika saja semua karyawan restoran mengantisipasi hal itu, berarti kita bisa mengurangi waktu yang terbuang untuk pulang pergi ke dapur mengambil sendok pengganti dan menghemat waktu 1,5 jam waktu kerja per-shift.”

Saking kagumnya dengan penjelasan si pelayan, tanpa sengaja saya menyenggol salah satu sendok yang ada di meja. Segera saja si pelayan mengambil gantinya dari saku baju sambil berujar, “Betul kan Pak, saya tidak harus pergi ke dapur sekarang untuk mengambil sendok pengganti untuk Bapak!”

Saya hanya bisa melongo dengan kejadian itu.

Tapi, kisah belum berakhir di situ. Ketika pelayan lain menghidangkan pesanan tambahan, saya tetap memperhatikan sekeliling dan satu lagi hal tampak aneh.

Saya perhatikan hampir semua pelayan pria memasang benang yang menyembul di ujung ritsluiting celana mereka. Benang itu diikaitkan ke ujung kancing terbawah dari baju. Lagi-lagi rasa ingin tahu mengusik saya. Sebab, ternyata pelayan perempuan tak memakai aksesoris benang tersebut.

Ketika si pelayan tadi datang, saya menanyakan soal benang itu. “Wah Bapak ini orangnya perhatian sekali ya. Tidak semua pelanggan disini  memperhatikan hal-hal sedetail Bapak,” puji si pelayan sedikit menggombal.

Saya hanya tersenyum kecil. Apa anehnya orang suka memperhatikan detail?

“Ini juga hasil analisa Andersen Consulting Pak,” katanya melanjutkan, “Mereka menyimpulkan bahwa kami pun harus menghemat waktu yang kami habiskan di kamar kecil ketika buang air kecil.

Dengan tali yang dikaitkan ke si “adik” ini (katanya sambil menunjuk tali itu), kami tidak harus menggunakan tangan ketika mengeluarkannya.

Berarti kami akan terbebaskan dari keharusan membasuh tangan setelah buang air kecil. Dan itu menghemat waktu yang terbuang di kamar kecil sebesar 25,92 persen.

Hampir tersedak saya mendengarkan penjelasan itu.

“Memang, dengan tali itu tangan jadi terbebas untuk memegang si “adik”. Tapi, bagaimana caranya untuk memasukkannya kembali ke posisi semula?” tanya saya menyelidik.

Dengan setengah berbisik si pelayan berucap, “Andersen Consulting tidak menjelaskan secara spesifik tentang hal itu. Nggak tahu dengan yang lain, Pak. Tapi, kalau saya sih pakai sendok…”

(ah gitu aja serius amat)

Salam, Anam





WC-ne Mat Pithi: Guyonan Suroboyoan

29 02 2008

Sori ini harus pake boso Suroboyoan.. kalau gak gitu lucunya kurang 

Mat Pithi lagek pisan-pisan iki numpak montor mabur katene budal nang New York oleh undangan saka kancane. Antara stress amergo bingung durung tau numpak montor mabur
ketambahan stress mikiri bahasa inggrise sing gak patek gablek sidane wenenge munek-munek… mules wis.

Pas transit rodok suwe nang Changi, Mat Pithi mlayu nang WC. Ndilalah nepaki WC-ne rodok sepi.

Durung ae sak menit Mat Pithi olehe lungguh, wis onok suoro saka WC sebelah sing dempet-dempetan: “Piye dik? Apik-apik ae tah?”

Mat Pithi rodok nggumun, bathine: “Lho wong iki koq weruh nek aku saka Indonesia yo?”

Sidane Mat Pithi njawab ambek setengah gelagapan: “Eh… apik… apik”

Gak let suwe, wong sebelah ngomong maneh: “Wis krasa lega durung?”

“Lumayan” jarene Mat Pithi ambek garuk-garuk dengkule.

“Wah podo.. cuma aku saiki onok masalah titik…”

“Masalah opo yo pak?” jawab Mat Pithi.

“Iki lho.. onok wong gendeng ndik sebelah WC-ku sing melok-melok njawab omonganku.. yok opo nek engkok diluk engkas peno tak telpon maneh?”

Salam, Anam, entah dari mana bisa dapet ini.





Kaya karena Sederhana

29 02 2008

Menjadi orang kaya, itulah cita-cita banyak sekali orang. Hal yang sama juga pernah melanda saya. Dulu, ketika masih duduk di bangku SMA, kemudian menyaksikan ada rumah indah dan besar, dan di depannya duduk sepasang orang tua lagi menikmati keindahan rumahnya, sering saya bertanya ke diri sendiri: Akankah saya bisa sampai di sana? Sekian tahun setelah semua ini berlalu, setelah berkenalan dengan beberapa orang pengusaha yang kekayaan perusahaannya bernilai triliunan rupiah, duduk di kursi tertinggi perusahaan, atau menjadi penasehat tidak sedikit orang kaya, wajah-wajah hidup yang kaya sudah tidak semenarik dan seseksi bayangan dulu.

Penyelaman saya secara lebih mendalam bahkan menghasilkan sejumlah ketakutan untuk menjadi kaya. Ada orang kaya yang memiliki putera-puteri yang bermata kosong melompong sebagai tanda hidup yang kering. Ada pengusaha yang menatap semua orang baru dengan tatapan curiga karena sering ditipu orang, untuk kemudian sedikit-sedikit marah dan memaki. Ada sahabat yang berganti mobil termewah dalam ukuran bulanan, namun harus meminum pil tidur kalau ingin tidur nyenyak. Ada yang memiliki anak tanpa Ibu karena bercerai, dan masih banyak lagi wajah-wajah kekayaan yang membuat saya jadi takut pada kekayaan materi.

Dalam tataran pencaharian seperti ini, tiba-tiba saja saya membaca karya Shakti Gawain dalam jurnal Personal Excellence edisi September 2001 yang menulis :

‘If we have too many things we don’t truly need or want, our live become overly complicated’.

“Siapa saja yang memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul dibutuhkan, kehidupannya akan berwajah sangat rumit dan kompleks.”

Rupanya saya tidak sendiri dalam hal ketakutan bertemu hidup yang amat rumit karena memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul diperlukan. Shakti Gawain juga serupa. Lebih dari sekadar takut, pada tingkatan material yang amat berlebihan, ketakutan, kecemasan, dan bahkan keterikatan berlebihan mulai muncul.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana tidur saya amat terganggu di hari pertama ketika baru bisa membeli mobil. Sebentar-sebentar bangun sambil melihat garasi. Demikian juga ketika baru duduk di kursi orang nomer satu di perusahaan. Keterikatan agar duduk di sana selamanya membuat saya hampir jadi paranoid. Setiap orang datang dipandang oleh mata secara mencurigakan. Benang merahnya, kekayaan materi memang menghadirkan kegembiraan (kendati hanya sesaat), namun sulit diingkari kalau ia juga menghadirkan keterikatan, ketakutan dan kekhawatiran. Kemerdekaan, kebebasan, keheningan semuanya diperkosa habis oleh kekayaan materi.

Disamping merampok kebebasan dan keheningan, kekayaan materi juga menghasilkan harapan-harapan baru yang bergerak maju. Lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Demikianlah kekayaan dengan amat rajin mendorong manusia untuk memproduksi harapan (sekaligus angan-angan) yang lebih tinggi. Tidak ada yang salah dengan memiliki harapan yang lebih tinggi, sejauh seseorang bisa menyeimbangkannya dengan rasa syukur. Apa lagi kalau harapan bisa mendorong orang bekerja amat keras, plus keikhlasan untuk bersyukur pada Sang Hidup. Celakanya, dalam banyak hal terjadi, harapan ini terbang dan berlari liar. Dan kemudian membuat kehidupan berlari seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri.

Berefleksi dan bercermin dari sinilah, saya sudah teramat lama meninggalkan kehidupan yang demikian ngotot mengejar kekayaan materi. Demikian tidak ngototnya, sampai-sampai ada rekan yang menyebut saya bodoh, tidak mengerti bisnis, malah ada yang menyebut teramat lugu. Untungnya, badan kehidupan saya sudah demikian licin oleh sebutan-sebutan. Sehingga setiap sebutan, lewat saja tanpa memberikan bekas yang berarti.

Ada sahabat yang bertanya, bagaimana saya bisa sampai di sana? Entah benar entah tidak, dalam banyak keadaan terbukti kalau saya bisa berada di waktu yang tepat, tempat yang tepat, dengan kemampuan yang tepat. Ketika ada perusahaan yang membutuhkan seseorang sebagai pemimpin yang cinta kedamaian, saya ada di sana. Tatkala banyak perusahaan kehilangan orientasi untuk kemudian mencari bahasa-bahasa hati, pada saat yang sama saya suka sekali berbicara dan menulis dengan bahasa-bahasa hati. Di kala sejumlah kalangan di pemerintahan mencari-cari orang muda yang siap untuk diajak bekerja dengan kejujuran, mereka mengenal dan mengingat nama saya. Sebagai akibatnya, terbanglah kehidupan saya dengan tenang dan ringan. Herannya, bisa sampai di situ dengan energi kengototan yang di bawah rata-rata kebanyakan orang. Mungkin tepat apa yang pernah ditulis Rabin Dranath Tagore dalam The Heart of God

‘let this be my last word, that I trust in Your Love’.

Keyakinan dan keikhlasan di depan Tuhan, mungkin itu yang menjadi kendaraan kehidupan yang paling banyak membantu hidup saya.

Karena keyakinan seperti inilah, maka dalam setiap doa saya senantiasa memohon agar seluruh permohonan saya dalam doa diganti dengan keikhlasan, keikhlasan dan hanya keikhlasan. Tidak hanya dalam doa, dalam keseharian hidup juga demikian. Ada yang mau menggeser dan memberhentikan, saya tidak melawan. Ada yang mengancam dengan kata-kata kasar, saya imbangi secukupnya saja. Ada sahabat yang menyebut kehidupan demikian sebagai kehidupan yang terlalu sederhana dan jauh dari kerumitan. Namun saya meyakini, dengan cara demikian kita bisa kaya dengan jalan sederhana.

Gede Prama, 2002





Teka-teki Kehidupan Sang Maharaja

12 05 2007

[Buat Yang Lagi Kurang Kerjaan]

Di zaman yang tak bisa disebutkan kapannya, ada Maharaja Yang Sangat Kaya Raya. Saking kaya rayanya, si Maharaja menjadi gundah gulana dengan semua kekayaannya. Baginya, semua kekayaan itu nampak menjadi tidak berharga. Kadang-kadang, ia malah mencium bau tak enak dari semua bentuk kekayaannya itu. Mulai dari bau ee, bau amis ikan, bau minyak si nyong-nyong, sampai bau-bauan yang nggak jelas juntrungannya.

Iapun akhirnya menjadi nampak bete sekali. Dalam kebeteannya itulah ia tiba-tiba mempunyai gagasan yang nyleneh untuk membuat suatu teka teki (TKTQ) Tentang kehidupan. TKTQ itu ia buat sedemikian rupa sehingga bagi yang akan mampu memecahkannya akan menemukan Nama Keseratus dari Nama Yang Maha Tinggi yang hanya bisa diucapkan dengan kesucimurnian dari akal pikiran dan hati dari yang memecahkan teka teki itu.

Dengan Nama Yang Maha Tinggi itu maka siapapun yang menyebutkan NamaNya dengan benar akan memperoleh baroqah yang nilainya setara dengan Harta Kekayaan Sang Maharaja.

Selain itu, bagi siapapun yang mampu memecahkan TKTQ itu maka ia secara otomatis akan melompat ke alam yang tak terbayangkan, alam dimensi 11 yang sampai hari inipun masih dicari-cari oleh orang-orang pandai di seluruh penjuru jagat raya dengan harapan bisa masuk kesana. Tanpa pikir panjang, dengan Pena Ajaibnya yang diberi gelar “Light Sabre”, Sang Maharaja pun menuliskan TKTQ nya yang diberinya Judul “Teka Teki Kehidupan”. Begini teka tekinya:
Sebuah rumah mempunyai empat buah kamar dengan sepuluh pintu. Empat pintu menghubungkan bagian dalam ruang di dalam rumah, enam pintu menghubungkan bagian luar rumah dengan bagian dalamnya.

  • Bagaimanakah cara membuat denah rumah itu dengan jumlah kamar ada empat dan jumlah pintu ada sepuluh buah?
  • Bagaimanakah caranya seseorang dapat melalui kesepuluh pintu itu dengan hanya melalui satu kali untuk setiap pintu yang ada dalam sekali jalan, mulai dari pintu masuk sampai pintu keluar?
  • Berapa sebenarnya jalan yang bisa dilalui oleh seseorang untuk melewati ke sepuluh pintu itu dengan hanya sekali jalan saja untuk setiap pintu?
  • Sebutkan urutan nomor pintu yang harus dilalui mulai dari pintu masuk sampai pintu keluar?
  • Berapa banyak jalan yang mungkin dilalui selain jalan yang disebutkan dari pertanyaan kedua?
  • Sebenarnya berapakah jumlah pintunya?
  • Dimanakah sebenarnya lokasi rumah itu?
  • Apa nama rumah itu?
  • Lantas, siapakah pemilik rumah itu?
  • Dan terakhir, siapakah penghuninya?

Selama beribu-ribu tahun, TKTQ Sang Maharaja mendapatkan berbagai tanggapan dari berbagai makhluk yang ada di kerajaan Si Maharaja. Peserta TKTQ pun bermacam-macam mulai dari makhluk berjenis cahaya, api, air, tanah, udara, gas berbau maupun yang tidak berbau, maupun makhluk campuran yang asal muasalnya dari tanah liat yang digarang oleh api. Dari yang mulai dinamai sebagai malaikat, iblis, setan, wewe gombel, kolong wewe, merkayangan, kadal, naga, komodo, ular, laba-laba, lebah, laler ijo, babi, anjing, kecoa, kutu busuk, kutu buku, dan berbagai binatang lainnya sampai manusia dengan berbagai rupa warna kulit dan bentuk tubuh mulai dari phytecanthrpus erectus, manusia neanderthal, hominid, manusia flores, manusia mdoern, baik yang kaya, miskin, lelaki, wanita, anak-anak, dewasa, kakek kakek, nenek-nenek, bencong, homoseks, lesbian, filsuf, kaum arifin, ilmuwan, sastrawan, prajurit, pahlawan, dukun, tukang sihir, tukang tenung, tukang tipu, pendongeng, koruptor, maling, copet, bajak laut, petani, nelayan, pedagang, ahli bangunan, nakoda kapal, budak, tuan, majikan, pembantu, yang biasa saja, yang indigo, yang cerdas, yang jenius, dan berbagai rupa manusia lainnya dari berbagai latar belakang karakter, profesi maupun bangsa. Bahkan, tidak jarang hanya karena ngotot mencari jawaban teka teki itu, berbagai makhluk telah melakukan perdamaian, percintaan, peperangan, penipuan, penyalahgunaan wewenang, dan tingkah polah terpuji maupun tercela lainnya, yang korbannya kalau dikalkulasikan di masa kini benar-benar sangat buanyakk sekali. Meskipun dampaknya nampak mengerikan bagi manusia, bagi Si Maharaja semua itu tidak ada harganya. Lha, wong yang jadi peserta adalah para penghuni kerajaannya sendiri, yang berhutang semua kepadanya. Baginya, semuanya hanya test case untuk melihat Kemahaagungan dan Kemahaindahannya Sendiri. Sifat dan karakter Si Maharaja memang misterius. Sama misteriusnya dengan semua penghuni kerajaannya yang luasnya tak terhitung itu.

Namun, sepanjang sejarah yang telah dikenal oleh penghuni kerajaan Si Maharaja, baru dua makhluk saja yang dapat menjawab TKTQ Maharaja dengan mendekati kebenaran.

Makhluk pertama berasal dari kalangan manusia. Namanya pun sangat aneh yaitu TABIBA JUHA (TABIB IDIOT), seseorang yang sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang muncul di kalangan kaumnya. Namun, lama kelamaan, karena karakter si Tabib yang rada aneh, namanya pun seringkali membuat orang keliru menilai dirinya karena dikiranya ia Tabib yang Idiot, padahal ia Tabib yang mengobati orang-orang idiot. Begitulah, namanya juga nama-nama dan kata-kata yang suka diucapkan dengan lidah tak bertulang, orang pun seringkali salah menyebutkan namanya maupun salah mengartikan dirinya, apalagi memahami karakternya yang eksentrik.

Makhluk kedua berasal dari kelompok binatang yang mempunyai ketangguhan untuk menempuh perjalanan panjang di kawasan yang panas terik dan berpasir, namanya UNTA. Akan tetapi, kedua tokoh yang pernah mendekati kebenaran menjawab TKTQ Maharaja ini malah tidak mau ketika ditawarkan kepadanya untuk menyebutkan Nama Yang Maha Tinggi yang bisa membuat si Tabib dan Si Unta ini Kayaraya, bahkan dibolehkan untuk memiliki Kerajaan Si Maharaja sebagai hadiah.

Entah kenapa, si Tabib lebih memilih cara hidupnya sendiri dan si Unta juga demikian. Walhasil, karena Kemahapemurahan Sang Maharaja, maka kedua tokoh inipun akhirnya dipindahkan ke wilayah dalam. Selain itu, kedua tokoh itu bebas keluar masuk seluruh wilayah kerajaan tanpa perlu pemeriksaan lagi, termasuk memasuki Wilayah Terlarang yaitu alam dimensi 11 yang misterius.

Nah, tugas Anda, para pembaca yang tertarik dengan TKTQ diatas adalah menjawab pertanyaan TKTQ Kehidupan dari Si Maharaja yang masih menggantung sampai hari ini. Hadiah dari Si maharaja sampai hari ini masih berlaku. Siapapun yang bisa menjawab sepuluh pertanyaan diatas dengan mendekati kebenaran, baik teknis maupun maknanya, logika maupun ungkapannya akan bisa menyebutkan Nama Yang Maha Tinggi, yang sejauh ini masih terlarang untuk diucapkan oleh orang yang bukan penjawab Teka-teki Kehidupan diatas. (KIT – Solo).





Brainteaser & Dynamic

5 04 2007

Orang Jepang suka sekali makan ikan segar (sushi). Ikan segar dari laut ini betul-betul segar, dan dimakan mentah-mentah. Tetapi kehidupan industrial perkotaan Jepang yang super-super sibuk menjadikan mencari ikan segar yang betul-betul segar sangatlah langka. Kalaupun ada ikan laut, biasanya sudah mati dan dieskan. Sehingga tidak segar lagi. Sebuah toko ikan berusaha menyajikan ikan segar dengan akuarium dengan isi air laut, sehingga ikan tetap hidup… tapi air menggenang dalam akuarium yang terbatas, menjadikan ikan kurang segar juga.

Kapal-kapal penangkap ikan akhirnya berusaha membuat kolam di dalam kapal dan membawa air di dalamnya, dan bukan es. Alhasil ikan tangkapan tetap hidup hingga dibawa ke darat, dan ditempatkan dalam akuarium-akuarium untuk dijual hidup-hidup. Tetapi seperti dikatakan di depan, kenyataan air yang menggenang menjadikan kesegaran ikan berkurang. Berbeda dengan air laut itu sendiri… yang segar dan selalu dinamis, bergerak bergelombang pindah dari sisi satu ke sisi yang lain, dari tekanan kuat ke tekanan rendah, berputar-putar, terkena matahari dan kadang terkena rembulan, terkadang pasang terkadang surut. Air laut yang dinamis menjadikan ikan yang tinggal di dalamnya tetap segar. Ikan segar inilah yang menjadi santapan sushi paling lezat dan bergizi protein sangat-sangat tinggi.

Tetapi semakin hari ikan segar semakin langka… karena setelah ditangkap dari laut dia harus mati dan dieskan. Kalaupun hidup… dia kehilangan dinamitas dan kesegaran. Di antara teman pernah mengalami atau mendengar cerita ini. Saya ingin bertanya pada teman-tema, bagaimana jika anda menjadi penangkap ikan dan ingin menyajikan ikan yang paling segar untuk warga Jepang… atau warga Indonesia… Kira-kira kiat apa yang akan anda lakukan untuk menyajikan ikan sushi paling segar dan berprotein tinggi. Saya tunggu!

Anam