Tersenyum dan Tertawalah Agar Anda Sehat

27 01 2009

Oleh : Esmet Untung Mardiyatmo*

Dalam bukunya The Happy Hyprocite Max Beerhohm menokohkan Lord George Hell seorang yang jahat dan keji yang jatuh cinta pada seorang gadis cantik dan muda. Namun, gadis itu tak akan jatuh cinta pada siapapun, apalagi terhadap George Hell yang buruk rupa seperti setan. Gadis itu bercita-cita mempunyai suami yang berwajah seorang alim dan suci. Karena cintanya yang amat sangat terhadap gadis tersebut, George membeli topeng dengan wajah yang alim dan suci. Ketika topeng itu dikenakannya tiba-tiba topeng itu bersatu dengan kulitnya dan tak bisa dilepaskan kembali.

Ketika George menemui putri pujaannya sang puteri langsung jatuh cinta. Mereka hidup bahagia di sebuah desa yang tenteram. Suatu hari, mantan kekasih Lord George marah-marah. Ia mengetahui siapa sebenarnya di balik topeng. Ia merobek-robek topeng untuk melihat wajah asli Lord George, dan Lord George juga takut kalau wajah sucinya hilang dan rusak.Namun ketika Lord George mengenakan topeng orang alim dan suci, wajahnya juga mengalami perubahan mendasar. Wajah aslinya berubah persis dengan topeng yang dikenakannya. Tentu saja setelah lama mengenakannya ia tak perlu lagi mengenakan topeng. Topeng itu telah menyatu dengan dirinya.

Meskipun hanya pura-pura pada awalnya, Lord George berubah menjadi pribadi yang baik dan makin baik sesuai wajah topeng yang dinekanannya. Tentu saja cerita ini hanya fantasi Max Beerbohm saja. Tetapi itu benar.

Bukti-bukti ilmiah kini makin menguatkan bahwa ekspresi wajah mempengaruhi hati. Seorang ahli fisiologi Perancis Israil Waynbaum mengemukakan bahwa saat otot- otot wajah digerakkan, maka mekanisme hormonal di otak akan dipengaruhi dan diaktifkan. Beberapa otot wajah wajah yang berbeda beda yang digunakan untuk tersenyum, menunjukkan kemarahan, menghina dll semuanya berhubungan dengan neurotransmitter yang berbeda-beda di otak. Transmitter itu kemudian mengirimkan sinyal-sinyal kimia ke seluruh tubuh. Waynbaum yakin bahwa tersenyum mempengaruhi hormon secara positif. Sementara ekspresi-ekspresi seperti marah, jengkel mempunyai efek yang negatif. Bahkan ekspresi wajah mempunyai pengaruh yang besar terhadap bagaimana kita berpikir dan merasakan.

Dalam sebuah penelitian, kelompok aktor disuruh untuk memperagakan berbagai ekspresi yang berkaitan dengan berbagai emosi. Mereka disuruh untuk memperagakan ekspresi bahagia, sedih, jijik dan terkejut. Ketika mereka sedang mengekspresikan diwajah mereka perasaan tersebut, beberapa instrumen dipasang untuk mengukur detak jantung, suhu kulit dan tekanan darah. Penilaian itu ternyata membuktikan bahwa ekspresi wajah mempengaruhi perubahan-perubahan fisiologis. Ketika emosi sedang negatif, semua sistim tubuh kacau. Sebaliknya ketika orang mulai tersenyum , maka detak jantung lebih lambat, tekanan darah menurun dan sistem tubuh rileks. Dengan tersenyum, banyak manfaat yang diperoleh, Sebaliknya ekspresi wajah negatif membuat tubuh bereaksi negatif. Padahal kita tahu bahwa subyek penelitian tersebut bukanlah benar-benar merasa bahagia, sedih atau jijik, tetapi mereka hanya membuat otot-otot wajah sesuai dengan emosi tersebut.

Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa tersenyum dan tertawa bukanlah pepesan kosong tanpa makna. Tertawa dan tersenyum selain membuat senang dalam pergaulan ternyata sangat bermanfaat bagi diri sendiri untuk menjaga kesehatan dan menghindari penyakit. Jika kita terus tersenyum m eskipun di dalam emosi sedang tidak karuan, kita sedang membantu sistem tubuh kita untuk tetap tenang dan rileks. Dengan tersenyum dan tertawa kita dapat mengurangi stres dan ketegangan, perusak terbesar kesehatan kita di abad 21.

Tersenyum dan tertawa berperan dalam memelihara kesehatan dan menghindari sakit. Ketika kita terus tersenyum, meskipun dalamnya runyam, akan membantu tubuh rileks dan tenang. Dan ini akan mengurangi stres dan ketegangan.

Anda tahu bedanya anak kecil dengan orang dewasa? Coba perhatikan seberapa sering mereka tersenyum atau tertawa. Kita lebih sering melihat anak kecil tersenyum dan tertawa dibanding orang dewasa. Konon menurut sebuah penelitian tentang tertawa, anak kecil bisa tertawa 300 sampai 400 sehari. Sementara orang dewasa tertawa sekitar 15 kali sehari. Padahal kita tahu bahwa banyak sekali yang bisa membuat kita tertawa: perilaku kawan, ledekan orang lain, ucapan teman, pengalaman rekan dsb.n Yang terjadi justru sebaliknya; kita menjadi marah, emosional, jengkel, tidak suka, benci terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang lain. Anehnya, meskipun kita tahu bahwa sikap tersenyum dan tertawa itu sangat positif dan bermanfaat bagi kesehatan, tidak semua orang menerapkannya dengan baik.

MANFAATNYA
Banyak orang besar menggunakan senyum dan tawa untuk menanggulangi kesulitan-kesulitan yang mereka temui dalam perjuangan mereka. Pribadi seperti Mahatma Gandhi dan Dwight Ike Eisenhower, yang sangat terkenal itupun sangat menghargai nilai humor dalam interaksi pribadi dan dalam konteks institusional. Mahatma Gandhi pernah mengatakan ,”If I had no sense of humor, I should long ago have committed suicide.” (Jika saya tidak punya rasa kepekaan terhadap humor, sejak dahulu saya bunuh diri). Sementara Eisenhower terkenal dengan pernyataannya, ”A sense of humor is part of the art of leadership, of getting along with people, of getting things done.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin juga menggunakan humor agar anak buahnya menyayanginya dan memberi dukungan. Nampaknya, kehebatan banyak orang didorong oleh sense of humor yang ada pada diri mereka. Dengan sense of humor yang mereka miliki mereka tetap sehat dan kreatif dalam menghadapi situasi yang bagi orang lain mungkin sudah sangat membuat stress.

Tidak semua orang dapat mengamati, merasakan atau mengungkapkan humor dengan tersenyum dan tertawa. Hanya orang yang punya kepekaan terhadap humor saja yang mampu menghasilkan humor segar. Bagi yang tidak cukup peka, maka kejadian apapun tidak menyebabkan kesan lucu. Kemungkinan individu tersebut diam saja atau bahkan menjadi marah. Ketiadaan senyum dan tawa merupakan tanda-tanda kepribadian yang belum matang. Bila ada individu tidak mampu mentertawakan diri sendiri yang mengalami peristiwa lucu, adalah merupakan tanda bahwa individu tersebut mengalami gangguana kepribadian.

Laughter is the best medicine, adalah salah satu rubrik dalam majalah bulanan berbahasa Inggris Readers’ Digest. Paling tidak redaksi majalah tersebut meyakini dan menyadari akan kehebatan terapi ketawa. Meski demikian, belum semua keyakinan itu mampu meyakinkan dokter yang tetap saja mengandalkan pil, operasi dan kemoterapi untuk mengatasi sakit. Tetapi akhir-akhir ini kesadaran untuk menuju kesehatan holistik yang mempertimbangkan pengaruh pikiran tubuh makin kental. Banyak orang percaya bahwa terapi tertawa mampu membantu pasien sembuh lebih cepat. Sebaliknya wajah yang murung, berkelam durja hanya akan memperpanjang lama seseorang dirawat di rumh sakit.

Ketika orang tersenyum dan tertawa sebenarnya menandakan bahwa mereka tidak takut. Kita tertawa bila merasa enak dan rileks. Sekarang ini banyak penyakit degeneratif yang dipicu adanya stres. Stres mengganggu keseimbangan tubuh dan dapat membuat sakit. Ketika hormon stres diproduksi secara besar-besaran, maka sistem kekebalan tidak berjalan. Segala kuman dan penyakit lebih mudah menginveksi tubuh kita. Tersenyum dan tertawa adalah senjata yang sangat bagus untuk menghentikan perkembangan penyakit menuju ke tingkat yang membahayakan. Ketika orang tersenyum dan tertawa, otak akan memerintahkan tubuh untuk melepasklan hormon sehat. Tertawa atau tersenyum setiap hari sama pentingnya dengan mengkonsumsi apel setiap hari.

Diyakini bahwa orang yang lebih bahagia lebih jarang terkena penyakit daripada yang tidak. Mereka yang tetap optimis jarang sakit yang disebabkan oleh kekacauan stres. Mereka yang senang tersenyum membantu diri mereka sendiri untuk tetap tenang dan rileks. Hebatnya lagi, tertawa ini bisa menular. Tersenyum juga menular, hal itu akan mudah m enyebar ke semua orang. Tetapi sebaliknya, rasa panik, takut dsb juga membuat orang lain merasakan hal yang sama.

Tersenyum, tertawa banyak bermanfaat bagi individu yang bersangkutan dan orang lain. Bagi individu sendiri mereka biasanya mempunyai penafsiran dan perspektif yang baik tentang diri mereka. Mereka juga lebih mudah menciptakan ide-ide baru, terhindar dari kecemasan dan dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Individu yang demikian juga terhindar dari pikiran-pikiran negatif terhadap orang lain.

Penelitian yang dilakukan oleh Vachet dan diumumkan oleh Hudgkinson menjelaskan manfaat tertawa. Tertawa dapat mengakibatkan pengiriman oksigen ke paru-paru lebih banyak, memperlebar pembuluh darah, mempercepat penyembuhan penyakit, menstabilkan fungsi-fungsi tubuh, membantu tubuh lebih kuat menghadapi infeksi, dan mengirimkan darah lebih cepat ke organ kaki dan tangan. Manafaat yang disebut terakhir ini sering dimanfaatkan oleh para pendaki gunung. Kala mereka diserang hawa dingin yang menusuk, mereka lawan dengan guyonan antar mereka.

Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Fry dan Savin (1999) menemukan bahwa tertawa dapat memperbaiki tekanan darah sistolik dan diastolik, menstimulasi sirkulasi udara, mentransformasi darah dalam sel, serta melindungi diri dari penyakit. Tersenyum dan tertawa juga mampu meningkatkan sekresi catecholamines dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasa segar, penuh semangat dan senang. Pada gilirannya sekresi kortisol dan kecepatan pengendapannya akan menurun, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tertawa juga melatih otot dada, pernapasan, wajah, kaki dan punggung. Oleh karena itu tidak mengeherankan bila kita merasa lelah setelah banyak tertawa. Karena pada dasarnya kita sama saja baru melakukan oleh raga cukup berat.

Tertawa juga berdampak positif terhadap kualitas kerja kardiovaskulair dan pernapasan. Pada waktu orang tertawa, temperatur kulit akan naik sebagai akibat dari meningkatnya sirkulasi peripheral. Bagi orang yang relaksasi ototnya sudah payah, humor adalah obatnya. Para ahli fisiologis seperti Adams yang dikutip Chesworth (1996) membuktikan bahwa respon relaksasi setelah tertawa terbahak-bahak dapat bertahan dalam waktu 40-50 menit. Jangan terkejut, tertawa satu menit sama dengan bersepeda 15 menit.

Pengalaman Norman Cousins, seorang pengarang terkenal membuktikan bahwa ternyata tertawa dapat menjadi obat yang mujarab. Sebelumnya ia diberitahu telah menderita kanker yang mematikan yaitu ankylosing spondilitis, di mana tulang belakangnya tidak bisa bergerak dan pelan-pelan ia menjadi lumpuh. Kondisi seperti ini biasanya tidak dapat disembuhkan dan pasien akan mengalami penderitaan yang hebat.

Tetapi Cousins bukanlah tipe orang yang yang mudah menyerah oleh keadaan. Ia mencoba sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain: mencoba kekuatan humor dan tawa. Dia mulai mengakrabi humor, kartun, film, lelucon dan bergaul dengan orang-orang humoris. Yang mengagetkannya ternyata kanker yang diidapnya berangsung angsur berkurang. Ia memutuskan keluar dari rumah sakit dan tinggal di hotel. Ia menjadi merasa lebih bahagia, lebih sehat dan lebih bugar. Dalam buku yang ditulisnya Anatomy of an illness as perceived by the patients, ia menulis afirmasi positif yang ia katakan pada dirinya telah meningkatkan kimia tubuhnya. Dan setiap kali ia tertawa rasa sakit yang dideritanya berkurang. Tertawa menciptakan semacam anastesia, pengurang rasa sakit. Dengan tertawa maka pelan-pelan perasaan takut, depresi, kepanikannya berkurang secara drastis. Cousins menemukan bukti-bukti bahwa tertawa telah mengurangi sakit di tulangnya, dan tertawa telah menghasilkan endorphin –pengurang rasa sakit alami di otaknya.

TERSENYUMLAH, HATI ANDA JUGA AKAN TERSENYUM
Menjadi pribadi yang murah senyum dan humoris tidaklah semudah mengatakannya. Bagi banyak orang perlu proses yang panjang dan komitmen yang tak pernah henti.Apabila belum bisa tulus tersenyum sampai lubuk hati, biasakan saja tersenyum meskipun Cuma lahiriahnya. Ini sesuai dengan saran Stephen Covey dalam bukunya the Seven habits of highly effective people. Covey mengatakan bahwa untuk mempunyai karakter tertentu kita bisa mulai dengan membiasakannya. Dari kebiasaan yang berulang-ulang itu lahirlah karakter.

Jika kita terus tersenyum, apapun yang terjadi pada perasaan dan emosi kita, lama kelamaan kitapun akan bahagia. Sebaliknya jika penampilan fisik kita kelihatan marah dan kacau, maka di dalam hati kita juga menjadi seperti itu. Ekspresi wajah akan mempengaruhi kepribadian seseorang.

* Penulis Anekdot Manajemen diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

Advertisements




The Power of Yes: A Simple Way to Get More Out of Life

20 01 2009

For much of my adult life I’ve been shackled by fear. I’ve been afraid to try new things, afraid to meet new people; afraid of doing anything that might lead to failure. This fear confined me to a narrow comfort zone. Recently, however, I made a single small change that has helped me to overcome my fear, and allowed me to get more out of life.

Last fall somebody at Ask Metafilter posted a question looking for books about self-confidence. One person recommended Impro by Keith Johnstone. Intrigued, I borrowed it from the public library. It blew my mind. Though it’s a book about stage-acting, several of the techniques it describes are applicable to everyday life.

I was particularly struck by the need for improvisational actors to accept whatever is offered to them on stage. In order for a scene to flow, an actor must take whatever situation arises and just go with it. (Watch old episodes of Whose Line is It Anyway to see this principle in action.) Johnstone writes:

Once you learn to accept offers, then accidents can no longer interrupt the action. […] This attitude makes for something really amazing in the theatre. The actor who will accept anything that happens seems supernatural; it’s the most marvellous thing about improvisation: you are suddenly in contact with people who are unbounded, whose imagination seems to function without limit.

[…]

These ‘offer-block-accept’ games have a use quite apart from actor training. People with dull lives often think that their lives are dull by chance. In reality everyone chooses more or less what kind of events will happen to them by their conscious patterns of blocking and yielding.

That passage had a profound effect on me. I thought about it for days. “What if I did this in real life?” I wondered. “Is there a way I could adapt this to help me overcome my fear?” I began to note the things that I blocked and accepted. To my surprise, I blocked things constantly — I made excuses not to do things because I was afraid of what might happen if I accepted.

I made a resolution. I decided that instead of saying “no” to things because I was afraid of them, I would “just say yes”. That became my working motto: “Just say yes”. Any time anyone asked me to do something, I agreed to do it (as long as it wasn’t illegal and didn’t violate my own personal code of conduct). In the past six months, I’ve put this philosophy into practice in scores of little ways. But the power of “yes” has made larger changes to my life, too, has exposed me to things I never would have done before.

  • Soon after I started saying “yes”, a GRS reader offered to provide free wellness coaching. My gut reaction was to say “no”. But I caught my negative thinking. “Just say yes,” I said to myself. So I did. Working with Lauren, my wellness coach, has been an amazingly positive experience.
  • Ramit at I Will Teach You to Be Rich asked me to contribute to his eBook. I had all kinds of reasons for saying “no” — none of them good — but I forced myself to say “yes”. As a result, this site gained new readers, and I got to correspond with Ramit about how to produce a PDF book.
  • Last winter, Sally shared a guest article about eating vegetarian on the cheap. A few weeks later she wrote that she and her husband would be in town, and asked if Kris and I would like to have dinner. In the past I would have said “no” out of fear of meeting a stranger. I said yes, and I’m glad I did.
  • One of my friends works as a career counsellor at a nearby university. Recently he asked me to present a talk to graduating seniors about the basics of personal finance. Normally I would refuse out of hand, but only because I am afraid. I said yes. Though the presentation fell through, the copious notes I made will serve as the basis for many future articles.
  • A close friend asked me to go see a band I’d never even heard of. On a Thursday. At midnight. This was totally outside my comfort zone, but I said yes. The experience was fantastic. We had a great conversation, and then I got to discover The Black Angels and their wall of sound.
  • I don’t know anything about table tennis, but when my former soccer coach stopped by to recruit me for a local club, I agreed to join. It’s been fun learning the sport, and getting re-acquainted with his family. (I was once good friends with his son.)

These things will seem minor to the extroverts here. But for me, these were big steps. These experiences were new, and I wouldn’t have had them if I hadn’t forced myself to just say yes.


Most of my experiences from my “just say yes” campaign have been positive, but not all of them. I’ve had some failures, too. Surprisingly, I’ve learned more from the bad experiences than I have from the good.

In February, for example, a Seattle radio station asked me to do a telephone interview about retirement savings. “I’m not a retirement expert,” I told the woman who contacted me, but then I realized I was making excuses. I was blocking because I was scared. “But I’ll do it,” I said. Ultimately my radio appearance was a disaster. I got stage-fright and became tongue-tied. But you know what? I don’t care. I failed, but at least I tried. After the interview, I e-mailed the woman to apologize and to ask for advice. She was sympathetic, and gave me some great pointers. Next time somebody asks for a radio interview, I’ll do better.

For too long, fear of failure held me back. Failure itself didn’t hold me back — the fear of it did. When I actually try something and fail, I generally get right back up and do it again, but better the second time. I pursue it until I succeed. But often I convince myself that I can’t do something because I’m going to fail at it, so I don’t even bother to try.

Since I’ve learned the power of yes, I’ve begun to act as if I’m not afraid. Whenever I feel fear creep upon me, I act as if I’m somebody else. I act as if I’m somebody stronger and braver. Motivational speaker Brian Tracy says:

If you want to develop courage, then simply act courageously when it’s called for. If you do something over and over again, you develop a habit. Some people develop the habit of courage. Some people develop the habit of non-courage.

Tracy recommends that any time you encounter the fear of failure, you simply tell yourself, “I can do it.” Say it again and again and then do it. What’s more, he says, tell others that they can do the things they’re frightened of. How many times have you seen somebody excited about a new project become totally deflated when others tell him or her why it won’t work? Don’t be like that. Tell the person, “You can do it.” Be supportive.

Tracy is famous for asking the question: What would you dare to dream if you knew you wouldn’t fail? This is a powerful concept. What could you do if you stopped telling yourself “no” and simply tapped into the power of yes?

Aside from learning the power of yes, there are other ways to fight fear and develop a more courageous attitude.

  • Start small. Many people are afraid to make phone calls, or to approach a clerk in a store. Begin by practicing these little habits. A clerk in a bookstore answers hundreds of questions a month. There’s no reason to be frightened of asking yours.
  • Try one new thing each week. It doesn’t have to be big. Learn a new skill, have lunch with an acquaintance, do something for a friend. Once every week, say “yes” where you might have said “no” before.
  • Exercise mindfulness. When fear creeps into your head, name it for what it is, and let it pass by. I know this sounds new age and hokey, but it works. When somebody asks you to do something and your gut reaction is “no”, pause to examine that “no” and ask yourself, “Am I saying this simply out of fear? What would happen if I said yes?”
  • Act like you’re somebody else. Do you have a friend who is a great negotiator? The next time you negotiate, pretend you’re this person. This is more effective than you probably think!
  • Ask yourself, “What is the worst thing that could happen?” Then ask yourself, “What is the best thing that could happen?” Most of the time when I make this comparison, the upside far outweighs the downside.
  • Recognize that failures and mistakes are not the end. Often they’re the beginning. If you can pick yourself up after you do something wrong, and then learn from the experience, you’ll be a better person because of it.

Read more about conquering fear and worry:

  • The Instigator Blog offers five reasons to say yes.
  • How to Stop Worrying and Start Living by Dale Carnegie has a five-star rating on 107 reviews at Amazon, and rightly so. This is a classic book about courage in everyday life. Here’s a summary. (From the author of How to Win Friends and Influence People.)
  • Yes Man is a book by Danny Wallace that chronicles his adventures as he says “yes” to everything for an entire year. I haven’t read this, but I’d like to.
  • Impro by Keith Johnstone is a book about improvisational acting. Sharp readers will find ways to apply these techniques to everyday life, to boost self-confidence and to overcome fear of failure.

We all have dreams, but most of us make excuses for not pursuing them. Often these excuses aren’t overt. It’s more a matter of inertia, of just ignoring the dreams, of maintaining the comfortable status quo. But you can break out of your comfort zone to get more out of life through the simple power of yes.

(as written by J.D in http://www.getrichslowly.org/blog/2007/06/13/the-power-of-yes-a-simple-way-to-get-more-out-of-life/





The Real Face Of Confidence (Wajah Asli Sebuah Keyakinan)

5 09 2008

Ribuan orang jatuh miskin setiap tahun karena upayanya untuk menghindari kelihatan miskin. Jangan ijinkan orang lain menentukan apa yang bisa membuat anda merasa yakin, selain kesungguhan anda untuk mencapai titik ledak keberhasilan pribadi.

Kalau anda merasa nyaman dan yakin dengan diri anda sendiri, itu karena anda sedang menunggu titik dimana nanti anda akan’meledak’.

Titik ledak itu berada didepan setiap orang yang bekerja keras, yang akan menjadi awal dari ledakan-ledakan keberhasilan selanjutnya, yang disebabkan oleh konstribusi anda bagi kebaikan orang banyak.

Kalau kita melihat sekeliling dengan teliti, akan kita temui disemua sudut jalan, upaya-upaya orang untuk meyakinkan bahwa kita harus merasa kurang yakin dengan apa yang telah kita miliki sekarang.

Mereka seolah-olah memberitahu kita untuk merasa kurang yakin, karena yang kita kenakan atau yang kita miliki belum sesuai dengan standar yang mereka tetapkan.

Bagi Bill Gates, perhiasan mahal tidak akan berguna untuk mengesankan kekayaannya dikalangan orang-orang yang mengenalnya, karena mereka sangat mengetahui kemampuan Bill Gates mencetak uang.

Sebaiknya, bagi orang-orang yang tidak mengenalnya, perhiasan yang mahal pun tidak akan ada gunanya. Karena mereka memang tidak mengenalnya.

Seperti juga, orang yang membawa sebuah buku tebal yang tidak pernah dibacanya, dan menggunakannya sebagai alat untuk mengesankan kepandaian dimuka umum; membutuhkan kulit muka setebal bukunya itu.

Karena kualitas hidup ini bergantung sekali kepada ketepatan pilihan-pilihan kita,marilah kita memilih wajah yang tepat untuk mewakili keyakinan pribadi kita.

1. Target-target Anda Jelas

Dia yang tahu kemana dia sedang menuju, dan tahu tahapan yang telah dan harus dilaluinya; tidak bisa dibuat ragu oleh orang yang mengecilkan nilai dirinya.

Bila anda yang mengatakan bahwa dia akan sulit berhasil, dia tersenyum dalam hati dan mengatakan: “Lihat saja nanti….”

Bila ada orang lain yang membaca tangannya, dan mengatakan bahwa dia tidak mungkin bisa menjadi orang kaya, karena ada celah-celah diantara jari-jarinya yang dirapatkan; dia berkata dalam hati: “Ooh, tidak usah khawatir. Celah-celah jari itu akan hilang, kalau nanti saya lebih gemuk…”

2. Alasan-alasan Anda adalah untuk kebaikan orang banyak.

Memang kita tidak bisa bekerja untuk diri kita sendiri, untuk kesejahteraan diri sendiri; tetapi itu baru aktivitasnya saja.

Bila kita menginginkan aktivitas itu menghasilkan kesejahteraan yang kita cita-citakan, kita tidak bisa lepas dari keharusan untuk mendatangkan kebaikan bagi banyak orang.

Sangat sulit dibayangkan bahwa seseorang dapat menjadi kaya dengan jujur, tanpa dia sendiri memperkaya orang lain.

Marilah kita ingat, bahwa orang yang meninggikan orang lain, akan ditinggikan.

3. Anda memiliki sebuah rencana yang matang

Memang tidak ada satu orang-pun yang mengetahui dengan pasti apa yang akan dilakukannya besok, tetapi kelihatannya Dia Yang Menentukan hal itu, memberikan kemudiahan kepada mereka yang merencanakan jenis dan urutan dari upayanya.

Memang agak menyederhanakan kesimpulan; tetapi bukankah orang yang tidak menyusun rencana untuk berhasil, seperti orang yang merencanakan kegagalan.

4. Anda mempunyai kemampuan untuk melakukannya dengan lebih baik

Apapun pilihan karir atau bisnis yang akan kita tekuni, pilihlah seorang terbaik atau sebuah bisnis terkemuka dalam bidang pilihan kita, untuk dijadikan patokan dalam upaya kita membangun kualitas kemampuan pribadi dan perusahaan.

Dengan tetap menjaga pikiran dan hati untuk tidak mendekati kesombongan; upayakanlah untuk menjadi pribadi yang lebih tahu, lebih terampil, dan lebih luwes dalam pendekatan pribadi, dari pada pribadi patokan tadi.

Atau, jadikanlah bisnis yang kita bangun ini; menjadi bisnis yang lebih baik melayani kebutuhan pelanggan, dari pada perusahaan patokan tadi.

Setelah itu, bukankah selanjutnya hanya masalah waktu?

5. Biaya-biaya Anda rendah

Satu-satunya komponen yang pasti dalam bisnis adalah biaya. Sedangkan pendapatan adalah sesuatu yang bergantung kepada banyak hal, dan sering masih belum tentu.

Itu sebabnya kita harus mengelola biaya kita dengan baik. “Baik” disini bukan berarti sesedikit mungkin atau bahkan sama sekali. Baik disini adalah besaran biaya yang memaksimalkan kemampuan pribadi dan bisnis kita untuk mencapai kualitas yang membuat pelanggan membeli, membeli lagi, membeli lebih banyak, dan membeli lebih sering.

Bukan asal murah. Karena orang yang maunya hanya murah, akan menjadikan dirinya dan bisnisnya murahan.

6. Anda memiliki kepribadian yang mudah mendapatkan bantuan

Tidak ada orang besar, yang dulunya bukan orang kecil yang banyak menerima bantuan.

Jadi, pastikan diri kita ini menjadi pribadi-pribadi yang mudah dibantu. Dan pastikan bahwa kita tidak mempersulit mereka yang ingin membantu kita.

Mungkin karena mencurigai niat baik orang baik, atau terlalu bangga dengan kemampuan diri sendiri, atau karena memang malas; tidak sedikit orang yang mempersulit orang lain yang ingin membantunya.

Pastikan, bahwa kita jauh dari perilaku yang merugikan diri sendiri seperti itu.

7. Hasil kerja Anda membawa Anda menuju titik ledak

Orang yang berjalan membawa dinamit di depan badannya, dengan sumbu menghadap ke depan; suatu ketika akan bertemu dengan sesuatu yang akan membuatnya meledak.

Api….

Apapun yang sekarang sedang anda lakukan adalah sebuah dinamit, yang bila bertemu dengan api itu, akan meledak, akan membuat anda berjaya.

Yang perlu anda pastikan adalah bahwa anda memilih satu jenis kemampuan yang penting bagi orang lain; dan itu adalah bahan peledaknya.

Pastikanlah bahwa anda bekerja keras membangun kualitas kemampuan pribadi setinggi mungkin, yang akan menjadikan ukuran dinamit anda besar. Karena bila anda meledak nanti, bukankah sebuah bonus yang baik, bila yang meledak adalah dinamit yang berukuran besar?

Lalu pastikanlah bahwa anda bergaul luas, sehingga anda dikenal luas,dengan reputasi yang baik; dan itulah sumbu dinamitnya.

Lalu tabahkanlah diri anda dalam menghadapi masalah dan kesulitan, karena itu adalah perjalanannya.

Lalu, pastikanlah bahwa anda bersikap baik dalam perjalanan itu, dan itu adalah hal yang menjaga agar sumbu dinamit itu tetap menghadap kedepan.

Itulah alasan mengapa anda harus mempunyai tujuan perjalanan yang jelas, mempunyai alasan yang kuat mengenai mengapa perjalanan itu penting dan mengapa harus diselesaikan dengan baik, alasan mengapa anda harus menjaga semangat untuk bekerja keras, dan membangun hubungan baik dengan sebanyak mungkin orang, dan kemudian hadir dan berinteraksi dengan orang lain dengan pendekatan pribadi yang layak bagi seorang yang cemerlang dan santun seperti Anda.

Dengan itu semua, semoga keyakinan yang baik akan datang memenuhi hati ini, dan mewarnai wajah kita dengan kebaikan yang memudahkan.

Itulah wajah asli sebuah keyakinan diri.

Sumber: Mario Teguh, Personal Excellence Series.





3 Kaleng Minuman Soft Drink

3 09 2008

Ada 3 kaleng coca cola, ketiganya diproduksi dari pabrik yang sama.

Ketika tiba hari distribusi, sebuah truk datang ke pabrik mengangkut kaleng-kaleng coca cola
dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal.
Kaleng coca cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya dan diberi harga Rp. 4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar, tepatnya di sebuah restoran makanan cepat saji. Di sana , kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana . Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika dikeluarkan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah : Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?

Lingkungan  mencerminkan harga. Lingkungan berbicara tentang  RELATIONSHIP. Apabila  berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari dalam diri, maka akan menjadi cemerlang.
Tapi bila berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri maka akan menjadi kerdil.

(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda =
NILAI YANG BERBEDA 

Anam





Catatan kecil untuk para Trainer: Melatih dengan Hati

7 08 2008

Pernahkah Anda, sebagai trainer, mendapatkan kritik baik selama maupun pasca memberikan training? Jika jawabannya ya, beruntunglah Anda! Karena feedback, baik itu positif maupun negatif, menggambarkan tingkat kepedulian dan apresiatif peserta. Jika jawabannya tidak, justru para trainer patut bertanya dan mengkoreksi diri dan tanya kenapa.

Dalam setiap training, apalagi public training, sangatlah penting bagi trainer untuk mengenali kapasitas peserta dan menyesuaikan diri bagaimana trainer beraksi dan berinteraksi dalam menanggapi dinamika intelektual dan psikis peserta. Sebab tidak jarang trainer terjebak dalam dinamika aksi psikis yang subjektif menurutnya sendiri baik, tapi ’tidak berkenan’ dan ’mengganggu’ peserta, terutama bagi mereka yang cukup paham akan pentingnya ’bahasa hati’ kendati mereka menghargai sepenuhnya kualitas intelektual trainer.

Soal kualitas intelektual trainer, hampir semua trainer, terutama yang telah berani masuk dalam percaturan public trainer tentu tidak perlu diragukan lagi. Kapasitas intelektual pribadi, kekayaan pengalaman dan berbagai persiapan cukuplah membuat para trainer siap berinteraksi aktif dan meyakinkan di hadapan peserta. Tapi soal ’bahasa hati’, tidak jarang sebagai trainer kita terjebak dalam bahasa tubuh yang berkesan ’tidaktulus’, sekurangnya di mata peserta yang cukup matang memahami bahasa non-kata, non verbal.

Dalam hal ini peringatan Mehrabian bahwa non-verbal memiliki pengaruh dominan, yaitu di atas 50%, menjadi penting untuk diangkat ke permukaan. Maka dalam tulisan ini, sebagai sesama trainer, saya menghimbau agar para trainer untuk memperhatikan bahasa tubuh, non-verbal, sebagai langkah menghadirkan bahasa hati dalam setiap training yang kita bawakan.

Perhatikan non verbal Anda.

Selain sebagai public trainer beberapa kali saya mengikuti publik training dan menjadi peserta. Saya ingin mendapatkan masukan dan penyegaran untuk training-training saya bahkan saya sangat merindukan pengkayaan dengan mengikutinya. Tapi sekian kali mengamati, spontan saya terperanjat, atau tepatnya, terganggu dengan bahasa tubuh para trainer. Ungkapan non-verbal ini membuat saya tidak nyaman, padahal saya menikmati pengayaan intelektual, materi dan metode yang disampaikan selama interaksi training. Saya sangat menghargai kekhasan metode dan inovasi materi maupun pendekatan para trainer dalam setiap training dan public training yang saya ikuti. Tapi pada saat yang sama sekaligus saya terganggu dengan komunikasi non-verbal para trainer selama interaksi pelatihan dan di sela-sela jeda jam santai bersama peserta.

Ada trainer sambil berkomentar betapa bagus dan hebatnya pengalaman peserta sambil menggosok telinga, atau, mata atau hidung tanpa terkontrol. Memang komunikasi non verbal itu muncul saat peserta bercerita agak panjang dan/atau beruntun tentang permasalahan perusahaan atau pengalaman pribadi yang relevan dengan training itu. Di sisi lain, ada pula trainer yang cukup pandai mengontrol non-verbal tapi tetap nampak dipaksakan atau gagal atau terkesan ’tidak tulus’ dalam menyampaikan beberapa pesan sebagai berikut:

– Saya jujur, terbuka, dan terus terang tentang hebatnya kapasitas dan keahlian saya di bidang ini dan itu.

  • Saya lebih tahu daripada anda atau saya lebih tahu dari apa yang anda bayangkan.
  • Pendapat Saya pasti benar tentang Anda dan persoalan Anda.
  • Saya bisa menjawab setiap persoalan Anda.
  • Persoalan Anda dengan mudah akan saya tuntaskan dengan jawaban simple.
  • Keahlian saya adalah jawaban atas semua persoalan yang Anda hadapi.
  • Dan pesan-pesan lain yang serupa…

Di satu sisi memang perlulah meyakinkan peserta dengan berbagai potensi yang kita miliki sebagai trainer, problem solver, dan penasihat yang berpengalaman. Tapi di sisi lain, penting juga memahami intisari persoalan secara benar dan proporsional secara empatik; sama pentingnya memakai ’bahasa hati’ dalam berinteraksi dan bereaksi terhadap ungkapan, keluhan, dan opini para peserta yang khas dan bahkan termasuk yang kadang ’tidak berkenan’ bagi trainer atau yang tanpa disengaja seolah ’mengancam’ otoritas para trainer.

Mengapa bahasa hati penting diterapkan dalam setiap training yang kita bawakan?

Hati adalah intisari dari kehidupan dan sentral manusiawi. Hampir semua orang memakai hatinya untuk menjalani hidupnya, untuk menilai persoalan, untuk mengukur orang lain bahkan untuk memutuskan sesuatu yang cukup sulit dan crusial. Ketika problem merumit dan dilema meruncing, hatilah sumber jawaban dan ’pelabuhan terakhir’. Dengan hatinya pula orang memahami diri sendiri dan orang lain, juga untuk menghargai relasi dan mengevaluasi hasil-hasil dialog, yang nota bena adalah pertemuan dua hati yang berbeda.

Jika kita semua percaya dan meyakini semua itu, mengapa justru kita mengabaikan ’bahasa hati’ ketika berdialog dengan orang lain? Mengapa pula ’bahasa hati’ kita abaikan ketika berusaha memahami dan mencarikan solusi atas persoalan peserta? Atau ketika mendelivery training? Bahkan ketika mengevaluasi training-training kita?

Memang bahasa hati dan bahasa tubuh tidaklah identik. Tapi justru lewat ekspresi bahasa tubuh nampaklah di mata peserta bahwa kita, para trainer, memakai bahasa hati secara tulus atau tidak. Kita satu bahasa atau tidak dengan mereka ketika memahami, menilai, dan menanggapi ungkapan masalah dan memahami kerinduan mereka. Itulah inti masalahnya.

Persoalan mendasar dalam setiap training adalah menyelaraskan bahasa hati melalui ketulusan bahasa tubuh dalam berinteraksi dengan peserta. Sebab kepercayaan akan kekayaan intelektual, kualitas pengalaman dan superioritas para trainer sudah diandaikan diakui bahkan sebelum training berlangsung. Maka yang kurang dan perlu ditekankan adalah pentingnya bahasa hati. Persoalannya kemudian berkembang ke arah bagaimana implemenasinya.

Bagaimana menerapkan bahasa hati dalam setiap training kita?

Untuk mempermudah, pertanyaan bisa diformat ulang dengan pertanyaan berikut: bagaimana menyelaraskan bahasa hati melalui ketulusan bahasa tubuh dalam berinteraksi dengan peserta?

Jika kita dan ketika kita bisa menjawab pertanyaan di atas, persoalan sebenarnya sudah terjawab dan masalah terselesaikan. Namun untuk melengkapi tulisan ini saya merasa perlu menghimbau para trainer tentang beberapa prinsip berikut ini perlu dicermati dan dicermati ulang:

1.Bangunlah ketulusan sebagai dasar bangunan kompetensi sebagai trainer

Otoritas trainer sebenarnya bekal utama untuk berintegritas. Himbauan ini untuk memngantisipasi jangan sampai para trainer justru terjebak dalam dua kutub ekstrem: terlalu pede sehingga terkesan menafikkan atau meremehkan peserta. Atau terlalu ’grogi’ dan kurang pede sehingga berujung sama: ditutupi dengan kesombongan berlebihan. Keduanya ’mengurangi’ ketulusan dan jauh dari prinsip bahasa hati. Padahal justru ketulusan itulah yang menjadi bangunan utama kompetensi kita sebagai trainer selain kompetensi-kompetensi lainnya.

Dalam situasi modern yang serba pamrih dan serba tidak tulus, bukankah kita akan menjadi oase dan role model ketika kita berupaya menghadirkan bahasa hati dengan mengedepankan ketulusan?

2.Memformat ulang disposisi trainer dan perjelas batas-batasnya

Dalam konteks panggilan (vocation) sebagai trainer, sangatlah perlu kita memformat dan memformat ulang disposisi dasar sebagai trainer. Sebab dari disposisi atau sikap dasar inilah muncul berbagai manifestasi, yang bisa muncul kapan saja dan pada kondisi tertentu tak terkontrol. Bagaimana caranya?

Kita bisa bertanya, misalnya, manakah peran yang kupilih sebagai trainer? Seperti apa peran sejati yang ingin kupilih-terapkan sebagai trainer?

Perbedaan-perbedaan akan muncul sesuai dengan peran, pendekatan, dan metode yang dipilih oleh trainer dalam mendelivey training. Pendekatan dosen berbeda dengan pendekatan pembimbing, posisi helper berbeda dengan posisi solver, dan seterusnya.

Jika kondisi menuntut kita untuk memformat dan mereformat disposisi kita sebagai trainer, apa salahnya jika kita mulai dari sekarang?
3.Tekankan dengan bukti, bukan dengan klaim untuk menunjukkan kualitas trainer dan training Anda

Ujian sebagai trainer sebenarnya bukan hanya saat ’jam tayang’ (show time), ketika kita melakukan publik speaking saja, melainkan juga dalam kesempatan break-time (coffe break, tea time, makan siang atau waktu jeda lainnya) ketika peserta berkerumum mencecar trainer dengan pertanyaan protes, debat, dan berbagai bentuk tanggapan lainnya. Dalam konteks inilah trainer harus menunjukkan kualitasnya, terutama kualitas bahasa hatinya.

Namun kualitas itu tidak boleh hanya diungkapkan dengan klaim semata, seyogyanya kualitas jawaban, respon dan feedback kita lengkapi juga dengan bukti-bukti pendukung. Mengajukan bukti jangan ragu untuk mencantumkan sumber jika memang itu bukan bersumber dari pengalaman dan pengetahuan dan riset yang kita miliki. Mencantumkan keterangan sumber justru mengangkat martabat kita selain bisa juga sebagai bentuk pertanggungjwaban intelektual kita bahwa kita juga menghargai karya dan hasil jerih payah orang lain.

Ide dasar semua ini adalah dari model pendidikan jawa kuno, yang diistilahkan dengan ”nyantrik”. Ketika nyantrik (bukan nyentrik lo!), seorang murid belajar dari gurunya bukan hanya apa yang diucapkan saja melainkan juga dan terutama mengafirmasikannya dengan tindakan dan hidup nyata dalam keseharian. Para cantrik belajar dari totalitas dan integritas gurunya.

Pola yang sama terjadi dalam setiap training, dan setiap hubungan trainer dan peserta. Ingin bukti? Setelah dan di luar training, masih ada beberapa peserta yang berhubungan secara intensif dengan para trainernya kan?

4.Sesuaikan dan Kembangkan kompetensi trainer menurut dinamika kebutuhan peserta

Tidak jarang bahasa tubuh yang tidak tulus muncul karena trainer berusaha menutupi ketidakmampuannya. Untuk itu perlulah trainer setiap kali mengevaluasi dan mengantisipasi kesesuaian delivery training yang dibawakan dengan kebutuhan peserta. Jika kebingungan amati aja bahasa tubuhnya. Pesan yang kaya dan intens terungkap semua dari bahasa tubuh peserta, tinggal kita sebagai trainer cukup jeli dan peduli atau tidak dengan semua itu.

5.Saran terakhir, last but not least, kembangkan kompetensi Anda tentang apapun dan lewat media apapun.

Salah satunya: Belajarlah dan berlatihlah mengontrol bahasa tubuh Anda. Niscaya training kita makin mantap dan kompetensi kita sebagai trainer makin kredibel.

Sekian saja. Semoga berguna. Viva Trainer! Salam sukses Selalu!

Sumber: Yohanes Bosco Hariyono – Training Ass & People Dev. Manager Sun Motor Group

Kiriman Memetz





Just Imagine, Be Focus, and Do Your Action!

18 07 2008

Sebagai entrepreneur, kita harus terus memotivasi diri sendiri untuk melangkah lebih maju dalam usaha kita.

Dalam sesi motivasi dalam acara Milad (Peringatan hari jadi) suatu Komunitas Bisnis di Malang, yang diberikan dalam bentuk games, ada hal-hal yang perlu direnungi. Dalam sesi tersebut, metode nya disebut IFA KONEK (IFA diambil dari nama anak Bpk. Mei Hendra Dharma, sang motivator)

  1. I = IMAGINE, sebagai entrepreneur, kita harus mempunyai imaginasi secara detail seperti apa bisnis kita nantinya. Bagaimana kita mengembangkannya dan bagaimana bisnis kita di masa depan. Sesi ini dilakukan dengan menggambar apa yang di sebutkan oleh motivator dengan mata tertutup. Hal ini menunjukkan bahwa imajinasi terhadap sesuatu akan membentuk kita seperti apa yang kita pikirkan
  2. F = FOCUS, sesi ini dilakukan dengan menyambung 4 buah sedotan plastik, dan diletakkan di atas telapak tangan sampai berdiri, pakai joget pula. Mereka yang berhasil melakukan itu adalah mereka yang memandang ujung sedotan, dan mempertahankannya agar tetap berdiri.  Sebagai Entrepreneur, kita harus fokus terhadap bisnis kita. Lihatlah TUJUAN kita, FOKUS ke arah tujuan yang sudah kita tetapkan
  3. A= ACTION Sudah punya gambaran bisnis kita, sudah punya rencana, dan fokus. Apalagi? Do your Action! Sesegera mungkin! Hal ini digambarkan dengan saling melempar bola pingpong dan menangkapnya, mudah. Tapi kalau bola pingpong diganti dengan telur? hehehe… yang dilempar jadi takut….
  4. KONEK = KOMITMEN DAN NEKAT. Gambaran ini dilakukan dengan mematahkan pinsil dengan 1 jari? Bisa? Bisa! asal kita komitmen dan just do it!

Salam,

Vivi Damayanti
Bizmart Mods





Peluang Bisnis Politik 2009

1 07 2008

Salam buat semuanya

2008 sudah setengah jalan. 2009, tepatnya Mei, jadi kurang dari setahun, ada perhelatan besar yaitu Pemilihan Umum. Banyak politisi mau investasi… salah satunya kaos, spanduk, dan produk kampanye lainnya. Ada bisnis lain yaitu bisnis survei dan jajak pendapat, bisnis EO dan tim sukses, dst…dst…

Ayo ikutan